Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 20 Pasutri Baru


__ADS_3

"Sial! Kenapa aku tidak menemukan tentang Davina sama sekali. Nathan pernah mengatakan kalau gadis itu adalah orang biasa tapi kenapa aku tidak mempercayainya. Aura yang ditampakkan tadi menandakan kalau gadis itu bukan orang sembarangan." gumam Amel yang telah meminta seseorang untuk menyelidiki identitas Davina.


"Mungkin aku yang terlalu banyak berpikir." batin Amel mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Sayang ada apa? Sedari dari mall kau terlihat lebih pendiam. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Nathan mendekati istrinya.


"Tidak. Mungkin aku hanya kelelahan." jawab Amel menampakkan senyumnya agar suaminya tidak curiga.


"Bagaimana kalau kita tunda penerbangan kita? Agar kau bisa cukup istirahat." tawar Nathan membelai lembut rambut istrinya.


"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Besok kita harus sudah kembali ke kota K." ucap Amel menolak tawaran Nathan.


"Baiklah malam ini sebaiknya kau tidur lebih awal. Aku akan memijatmu untuk mengurangi rasa lelahmu." kata Nathan penuh perhatian.


Amel tersenyum manis dan terharu dengan perlakuan hangat Nathan namun ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.


"Sayang, bolehkah aku bertanya sesuatu?" ucap Amel.


Nathan menatap Amel kemudian menampakkan senyumnya.


"Tanyalah kenapa harus meminta izin? Kita sudah suami istri, tanyakan saja jika sesuatu ada yang mengganggu hatimu dan aku akan memberikan jawaban dengan sejujurnya." sahut Nathan.


"Emm.. Ini tentang mantan kekasihmu." kata Amel hati-hati sambil menampakkan giginya.


"Maksudmu Davina? Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentangnya? Bukankah kita sudah sepakat untuk melupakan masa lalu?" tanya Nathan heran.


"Maaf aku tidak bermaksud untuk mengungkit masalalumu. Aku hanya sedikit penasaran." sahut Amel merasa bersalah.


"Apa yang membuatmu penasaran?" tanya Nathan.


"Apakah Davina hanyalah gadis biasa? Dia tidak memiliki identitas yang spesial?" tanya Amel mencoba mencari tahu apakah Nathan menyembunyikan sesuatu darinya atau tidak.

__ADS_1


"Dia hanyalah gadis biasa. Dia berasal dari panti asuhan dan hidup sendiri. Kenapa tiba-tiba kau ingin tahu tentang dia?"


Amel dapat melihat bahwa yang suaminya mengatakan dengan jujur. Tidak ada yang disembunyikan darinya.


"Tidak. Aku hanya penasaran aja. Apa kau sudah benar-benar melupakannya? Lima tahun itu bukanlah waktu yang singkat. Mana mungkin kau menghapus dia dari hatimu begitu saja?" tanya Amel dengan menatap lekat wajah Nathan.


"Hem.. Jadi kau menganggap aku masih mengenangnya? Apa kau takut aku akan kembali padanya?" tanya Nathan.


"Mungkin saja itu akan terjadi. Bagaimanapun aku adalah orang ketiga yang tiba-tiba hadir dalam hubungan kalian yang sudah lama terjalin itu." jawab Amel menundukkan kepalanya.


Nathan tersenyum kemudian mengecup puncak kepala Amel dengan lembut.


"Wajar kalau kau berpikir begitu. Tapi akan kupastikan dihatiku saat ini hanya ada dirimu dan si bayi ini." ucap Nathan sembari membelai perut istrinya yang masih datar.


"Sungguh?" tanya Amel yang dijawab anggukan kepala Nathan.


"Kau harus mempercayaiku. Terkadang lamanya sebuah hubungan tidak menandakan dalamnya cinta seseorang. Sejak aku mengenalmu aku merasakan sesuatu yang bergetar dihatiku yang tidak aku rasakan saat bertemu dengan Davina." ucap Nathan.


"Mengapa kau berkata seperti itu?" tanya Amel penasaran.


"Terakhir saat dia mengetahui aku sudah menjalin hubungan denganmu, aku dapat menilai jika suaranya didalam telpon tidak ada tanda-tanda sedih dan terluka seperti seorang yang patah hati karena dikhianati kekasihnya." jawab Nathan sembari menatap lekat istrinya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Amel saat mendapati suaminya terus menatapnya.


"Kau harus mempercayaiku. Tuhan sudah menakdirkan kita bersama walaupun kita melalui cara yang salah. Tapi cinta tidak bisa dipaksa bukan? Hidup bersama dengan orang kita cintai adalah kebahagiaan paling sempurna." kata Nathan yang membuat perasaan Amel menjadi hangat.


"Jadi apa kau tidak pernah mencintai Davina?" tanya Amel memastikan.


"Mungkin saja tidak. Bisa dibilang rasa yang aku miliki untuknya adalah perasaan kagum dan simpati kepadanya." jawab Nathan lugas.


"Hem.. Aku bisa melihatnya. Tapi apakah hubungan kita ini kedepannya akan baik-baik saja? Bagaimanapun kita menjalin hubungan ini berawal dengan mengkhianati orang lain." ucap Amel khawatir.

__ADS_1


"Kita hanya perlu memperbaiki segalanya dimasa depan. Aku mengenal Davina bukanlah orang yang pedendam. Mungkin dia hanya sedikit kecewa denganku karena tidak memilih untuk berbicara dan mengakhiri hubungan kami dengan cara baik-baik." kata Nathan menenangkan istrinya.


"Kau yakin? Aku takut kalau kita akan mendapat karma. Maaf, aku telah menyembunyikan sesuatu darimu." kata Amel lagi.


Nathan menatap Amel dengan mengerutkan keningnya.


"Sebenarnya tadi di mall aku bertemu dengan Davina dan tidak sengaja aku menyinggungnya. Aku menuduhnya ingin mencelakakan anakku padahal jelas-jelas aku yang menabraknya dan tidak melihat jalan dengan baik." jujur Amel.


"Kenapa kau baru mengatakannya padaku sekarang?" tanya Nathan.


"Aku takut kalau kau bertemu dengannya lagi kau akan membela dan kembali mengejarnya." jawab Amel jujur.


"Kau pikir aku sepicik itu? Aku sudah memilihmu untuk menjadi istriku dan ingin membesarkan buah hati kita dengan baik. Walaupun aku pernah berpaling dari Davina, tapi akan aku pastikan hanya kau yang akan menjadi wanita terakhir untuk hidup bersamaku. Aku bukanlah pria yang mudah berpindah ke lain hati. Lagipula kalau kau melakukan kesalahan maka aku akan menegurmu tidak peduli itu dihadapan Davina atau siapapun. Aku tidak akan membela ketidakadilan." ucap Nathan tegas.


"Maafkan aku yang terlalu implusif." kata Amel bersalah.


Nathan menghela nafas kemudian mengangkat wajah istrinya dan mengecup kening Amel dengan lembut.


"Kita sudah sah menjadi suami istri, pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa kita permainkan. Aku mengenal siapa Davina, dia bukanlah orang pedendam. Lagipula kau tidak melakukan kesalahan kepadanya, akulah yang salah. Sebagai penebus kesalahan kita kepadanya mungkin lebih baik tidak mengusiknya lagi." ucap Nathan menggenggam tangan istrinya.


Amel menatap wajah suaminya dengan lekat kemudian berhambur kedalam pelukannya.


"Kau benar, Sayang. Maafkan aku, tidak seharusnya aku bertingkah konyol seperti tadi." ucap Amel lirih.


"Hem.. Tidak apa-apa, aku memahami perasaanmu. Lain kali kau harus bisa mengendalikan emosimu sebelum bertindak, oke?" pesan Nathan sambil mengusap punggung istrinya.


"Oke suamiku." sahut Amel mengecup pipi suaminya.


"Yang dikatakan Nathan benar, lebih baik kedepannya aku tidak mencari masalah dengan gadis itu. Aku harus fokus dengan calon anakku ini." batin Amel.


"Sehat-sehat ya Sayang. Kami sudah tidak sabar untuk menyambutmu lahir kedunia ini. Maafkan jika orangtuamu ini melakukan kesalahan, tapi kehadiranmu adalah anugerah terindah yang kami miliki. Kami akan merawat dan membesarkanmu setulus hati." gumam Amel sembari mengelus perutnya dengan lembut.

__ADS_1


-BERSAMBUNG


__ADS_2