
Johan merasa bulu kuduknya berdiri karena sejak masuk kedalam mobil, Marvin terus tersenyum. Berkali-kali Johan melirik dari kaca spion dan tetap saja Marvin senyum-senyum sendiri.
"Kapan kau akan berhenti melihatku?" tanya Marvin menyadari Johan sedang mengawasinya.
"Ma-maaf Tuan. Apakah Tuan baik-baik saja?" tanya Johan gugup.
"Memangnya aku kenapa?" kata Marvin balik bertanya.
"Itu sedari dari tadi Tuan senyum-senyum sendiri. Apakah Tuan tidak apa-apa?" jawab Johan sekaligus kembali menanyakan kondisi tuannya.
"Memangnya aku tidak boleh tersenyum?" tanya Marvin dingin.
"Bukan begitu maksudku, Tuan. Hanya saja Tuan tidak seperti biasanya." jawab Johan jujur.
"Tidak seperti biasanya? Sekarang coba jelaskan bagaimana aku biasanya." pinta Marvin.
"Ehm.. Maaf Tuan kalau saya lancang. Biasanya Tuan selalu memasang wajah dingin kalau bertemu orang lain, tapi akhir-akhir ini Tuan lebih sering tersenyum. Sepertinya suasana hati Tuan sedang bahagia apakah itu karena Nona yang sedang Tuan kejar?" ucap Johan.
Marvin terdiam sejenak kemudian menyadari ucapan Johan itu benar. Sejak bertemu dengan Davina perasaan Marvin menjadi berubah lebih hangat. Marvin lebih bersemangat untuk menjalani hari-harinya.
"Mungkin yang kau katakan itu benar. Jadi bagaimana penilaianmu tentang Nonaku?" tanya Marvin meminta pendapat Johan, orang kepercayaannya.
"Cantik dan juga baik. Sepertinya karakter Nona Davina sangat cocok dengan temperamen Tuan." jawab Johan terkekeh mengingat pertemuan kedua sejoli itu.
"Apa maksudmu? Kau berani menertawakanku?" tanya Marvin dengan suara meninggi.
"Maaf Tuan, saya tidak berani." jawab Johan yang langsung menghentikan tawanya.
"Hanya Nona Davina yang berani menghadapi Tuan." tambah Johan kemudian kembali fokus dengan kemudinya sebelum amarah Marvin memuncak.
Marvin terkekeh mendengar ucapan asisten pribadinya seketika membuat Johan merinding.
"Kau benar sekali. Gadis itu memang spesial. Aku harus bisa menaklukannya bagaimanapun caranya. Tapi bisakah kau memberitahuku cara paling ampuh?" ucap Marvin lalu meminta saran Johan.
"Tuan bertanya cara paling ampuh padaku?" tanya Johan tak percaya.
"Kalau tidak kamu lalu siapa? Memangnya dimobil ini ada siapa lagi?" sindir Marvin kesal.
"Maaf Tuan. Kalau menurut saya mengingat karakter Nona Davina, sepertinya Tuan harus mendekatinya dengan lebih berani." jawab Johan.
"Sepertinya kau memahami sekali." cibir Marvin.
"Aku hanya berkata jujur. Tuan dan Nona memiliki persamaan sifat, jika sama-sama keras dan dingin maka tidak akan ada kemajuan sama sekali.
"Maksudmu?" tanya Marvin bingung.
"Tuan harus bersifat dinamis." jawab Johan.
"Selama ini Tuan selalu mengejar tapi begitupun juga Nona selalu menghindar. Meskipun hari ini ada kemajuan dari pendekatan Tuan, tapi sepertinya Tuan harus mulai bermain trik agar Nona Davina benar-benar membuka hatinya untuk Tuan." tambah Johan menjelaskan.
"Cara apa yang kau miliki?" tanya Marvin penasaran.
"Tuan harus bermain tarik ulur." jawab Johan mantap.
"Tarik ulur? Bukannya itu sama saja aku mempermainkan perasaannya?" pikir Marvin.
"Tidak. Tuan boleh terus mendekati Nona tapi ada saatnya Tuan harus memberi jarak atau berhenti beraksi. Itu berguna untuk menimbulkan perasaan dihati Nona Davina. Terkadang kalau kita terus mengejar dia akan selalu menghindar. Tapi kalau kita berhenti maka dia akan sadar dan mulai berbalik mengejar kita." kata Johan menjelaskan.
Marvin berpikir sejenak kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kau benar juga. Tapi bagaimana kalau ternyata saat aku berhenti malah membuat dia semakin berlari meninggalkanku?" tanya Marvin khawatir.
"Nah, itu hanya Tuan yang bisa memastikannya. Tuan bisa merasakan kapan harus mengejar dan kapan harus berhenti. Menurut saya, karakter Nona yang keras memang harus diuji seperti itu." sahut Johan membuat Marvin menghembuskan nafas kasar.
"Kau benar. Dia memang gadis yang unik. Sepertinya perjuanganku tidak mudah." ucap Marvin menyandarkan punggungnya.
__ADS_1
"Semangat Tuan. Semoga Tuan dan Nona berjodoh." kata Johan mendukung dan mendoakan kebaikan untuk majikannya.
"Aku harap juga begitu." lirih Marvin.
*
*
*
Keesokan harinya, Mely mengetuk pintu kamar Davina untuk membangunkan sekaligus mengantarkan sarapan kepada majikannya.
Tok Tok Tok
Ceklek
"Astaga! Nona membuatku kaget saja." teriak Mely melihat tampilan Davina yang berantakan.
"Hem. Masuklah." ucap Davina yang belum sepenuhnya sadar.
"Apakah Nona sakit?" tanya Mely khawatir.
"Aku baik-baik saja. Hanya susah tidur saja." jawab Davina yang sesekali masih menguap.
Mely dapat melihat dengan jelas lingkaran hitam dikedua mata Davina.
"Apakah ada yang mengganggu pikiran Nona?" tanya Mely penasaran.
"Tidak. Hanya hal kecil saja. Kau bawa apa?" tanya Davina melihat dua buah kantong kresek yang ada ditangan Mely.
"Ini nasi kuning, satu untukku dan satu untuk Nona." jawab Mely sembari menyerahkan satu kantong kepada Davina.
"Aku mandi dulu. Kau tunggu disini, kita sarapan bersama." titah Davina.
"Baik Nona." sahut Mely.
15 menit berlalu, Davina keluar dengan rambutnya yang masih basah.
"Kau yang merapikan kasurku?" tanya Davina mendapati ranjangnya yang sudah rapi.
"Iya Nona." jawab Mely menganggukkan kepalanya.
"Lain kali kau tidak usah repot-repot. Lakukan sesuai dengan tugasmu saja. Aku bisa mengurusnya sendiri." kata Davina mengingatkan.
"Aku melakukannya dengan senang hati. Nona bisa memanggilku kalau butuh tenaga kebersihan." ucap Mely bersemangat.
"Tidak. Itu bukan tugasmu. Jangan merendahkan dirimu sendiri." tolak Davina.
"Tidak Nona. Justru aku merasa senang jika bisa membantu Nona. Mulai besok pagi aku akan menyiapkan sarapan dan membantu merapikan kamar Nona. Tolong Nona jangan menolakku." pinta Mely dengan wajah memohon.
Davina menghela nafas kasar kemudian menganggukkan kepalanya.
"Terserah kau saja." ucap Davina pasrah.
"Terimakasih Nona." sahut Mely bahagia.
Setelah itu keduanya sarapan nasi kuning yang telah dibeli oleh Mely. Hari ini Davina dan Mely tidak ada kuliah, jadi keduanya memutuskan untuk berjalan-jalan mencari udara segar.
"Aku sudah lama tidak ke hutan kota. Sepertinya udara pagi disana pasti sangat segar." ucap Davina.
"Ayo kita kesana." ajak Mely bersemangat.
"Ayo kita bersiap." sahut Davina tak kalah semangat.
"Aku ganti pakaian dulu Nona." pamit Mely yang bergegas menuju kamarnya.
__ADS_1
Davina juga segera menuju lemari untuk berganti pakaian yang lebih santai. Davina mengenakan t-shirt pendek berwarna hitam dan juga baggy pants 7/8 warna senada. Davina juga memadukan dengan sneakers putih. Davina menguncir rambutnya dengan gaya top knot yang memamerkan leher jenjangnya. Tak lupa Davina mengambil tas selempang warna putih dan kacamata hitam. Davina juga memakai cardigan untuk menutupi kulit putihnya.
"Wow Nona cantik sekali." puji Mely saat sedang mengunci pintu kamarnya berpapasan dengan Davina.
Davina hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Ayo mobilnya sudah menunggu." ajak Davina berjalan mendahului Mely.
"Baik Nona." sahut Mely menyusul Davina yang sudah masuk ke mobil merah yang sudah dipesan Davina secara online.
"Tujuan sesuai aplikasi ya Kak?" tanya sopir yang masih terbilang muda, mungkin seusia Davina.
20 menit berlalu Davina menyadari ada yang tidak beres dengan mobil yang ia tumpangi. Davina membuka ponselnya, benar saja rute mobil tidak sesuai dengan tujuan. Davina melirik Mely memberikan kode dan dapat dipahami oleh Mely dengan cepat.
"Maaf sepertinya kita salah arah." ucap Davina berusaha tenang.
"Iya, kita mengambil jalan alternatif agar lebih cepat sampai tujuan." sahut sopir.
Davina dapat melihat seringai diwajah pria muda dari kaca spion diatap mobil.
"Cih berani sekali kau bermain denganku. Oke ikuti permainanmu." batin Davina.
Davina dan Mely sudah mengetahui gerak-gerik mencurigakan dari pengemudi yang terus membawa mobil masuk ke jalan sepi. Tak lama kemudian mobil berhenti dipinggir hutan yang sangat sepi. Terlihat tidak ada kendaraan yang berlalu lalang dijalan itu.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Davina berpura-pura panik.
"Nona-nona cantik bagaimana kalau bermain sebentar denganku? Bukankah tujuan kalian adalah pergi ke hutan? Kalian bisa lihat kalau disini hutannya lebih indah." ucap pria muda tak tahu diri itu.
"Apa yang ingin kau lakukan?" teriak Mely.
"Aku hanya ingin bermain. Bagaimana kalau aku memulai dari kau lebih dulu? Kau terlihat sangat bersemangat." ucap pria dengan wajah mesumnya kepada Mely.
Tangan pria itu hendak menyentuh wajah Mely namun dengan cepat dicengkeram oleh Mely lalu memutarnya.
KRAK!
"Aaarrrrrggghhh!!!" pekik pria itu kesakitan.
"Tanganku, apa yang kau lakukan? Berani sekali kau! Awalnya aku akan bermain lembut denganmu tapi kau malah menantangku. Jangan salahkan aku bersikap kasar kepadamu!" ancamnya belum menyadari kekalahan.
Davina dengan cepat menarik rambut pria itu.
"Aaaarrrgghhh!" teriak pria itu lagi.
BUG BUG BUG
Secara bergantian Davina dan Mely melakukan serangan membuat pria itu kewalahan.
"Ampun tolong hentikan. Aku salah maafkan aku." kata pria itu memohon ampun.
Kondisinya nampak memprihatinkan.
"Aku hanya ingin menemani bermain. Bagaimana apakah kau masih ingin melanjutkan?" tanya Davina dengan nada dingin.
"Tidak tidak! Aku menyerah. Aku sudah salah karena memiliki niat buruk kepada kalian." ucap pria itu ketakutan.
"Aku akan mengampunimu tapi kalau sampai kau melakukan hal kotor seperti ini lagi jangan harap nyawamu itu masih ada ditubuhmu!" ancam Davina membuat pria itu merinding.
"Ba-baik Nona. Saya berjanji tidak akan mengulanginya." ucap pria itu ketakutan.
"Bagus. Sekarang kau duduk dibelakang. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit dan membayar biaya perawatanmu. Tapi kalau sampai aku bertemu denganmu melakukan hal memalukan seperti ini lagi maka aku akan meminta ganti rugi seratus kali lipat." ancam Davina dengan tatapan tajam.
"Aduh sial sekali hari ini. Baru niat pertama kali sudah babak belur seperti ini. Aku kapok." batin pria itu.
"Wajah cantik tidak menjamin wanita anggun. Kedua wanita ini mengerikan sekali. Jangan sampai aku bertemu mereka lagi." gumam pria itu penuh harap.
__ADS_1
-BERSAMBUNG