
"Siapa yang menyuruhmu untuk bertindak?" tanya Anton marah.
"Maafkan saya, Tuan." jawab Robert.
"Aku hanya memintamu menugaskan orang mengikutinya bukan membunuhnya!" ucap Anton geram.
BUG!
Tubuh Robert seketika terpental saat Anton meninju perutnya.
Robert meringis kesakitan memegangi perutnya.
"Maafkan saya, Tuan. Saya sudah bertindak tanpa persetujuan Tuan." ucap Robert bersalah.
"Kau pikir semudah itu memaafkan kesalahanmu? Bodoh sekali! Kali ini Carlos pasti tidak akan melepaskanku dengan mudah. Kau sengaja melakukan ini, ha? Kau ingin mencelakaiku?" tanya Anton semakin emosi.
"Maaf, Tuan. Sa-saya tidak berpikir panjang. Saya siap menerima hukuman Tuan." jawab Robert menundukkan wajahnya.
Robert tidak berani menatap wajah Anton yang terlihat sangat mengerikan saat marah.
"Kau sudah melakukan percobaan pembunuhan. Bisakah kau menanggung resikonya? Bagaimana kalau kedua anak itu tidak selamat? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu." kata Anton memijat keningnya.
"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin membantu Tuan." sahut Robert.
"Membantuku? Haha kau lucu sekali. Benar kau sudah membantu. Membantu Carlos semakin benci padaku dan menunggu dia akan menghabisiku." ucap Anton tertawa ngeri.
"Bukan begitu Tuan." elak Robert mencoba membela diri.
"Kau pikir kau siapa? Seenaknya bertindak dengan namaku! Selama ini aku selalu percaya padamu. Tapi ini yang kau lakukan padaku?" kata Anton kecewa.
"Tolong maafkan saya, Tuan. Biarkan saya menebus kesalahan saya." ucap Robert memelas.
"Menebusnya? Dengan cara apa? Kali ini Carlos pasti sedang mencariku. Dan akupun tidak tahu bagaimana keadaan dua anak muda itu. Kau benar-benar sangat mengecewakanku." kata Anton menghembuskan nafas kasar.
"Bagaimana jika mereka tidak terselamatkan? Apa yang harus kulakukan? Mereka tidak ada hubungannya dengan permasalahanku dan Carlos. Kau benar-benar bodoh!" kata Anton lagi.
Anton masih bisa berpikir rasional. Anton tidak akan melibatkan orang yang tidak bersalah dalam konfliknya dengan Adam Carlos. Meskipun Anton meminta bawahannya untuk mengawasi Davina dan Marvin namun dalam hati kecilnya tidak ada niat sedikitpun untuk melukai keduanya.
"Tuan, gawat! Tuan Carlos sudah menutup semua akses dikota ini." bisik salah satu pengawalnya.
"Haha.. Lihatlah yang kau lakukan! Kau benar-benar sudah membangunkan singa yang sedang tidur. Aku ingin tahu bagaimana caranya kau mengatasi kemarahan Carlos!" sindir Anton memberikan tatapan tajam kepada Robert.
__ADS_1
Robert menelan salivanya, ia sendiri sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya karena sudah berani menyinggung seorang Carlos. Kali ini nyawa Robert sudah menggantung.
"Cepat atau lambat dia pasti akan menemukan kita. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Kalian bersiaplah untuk menyambutnya." titah Anton dingin setelah itu meninggalkan Robert begitu saja.
Robert bisa merasakan hawa dingin dan tatapan menusuk yang diberikan Anton.
"Aku tidak bisa lari. Aku harus menanggung akibatnya." batin Robert sadar diri.
...****************...
"Istrimu pasti akan baik-baik saja." ucap Julia menggenggam tangan Marvin.
"Iya, Nek." sahut Marvin memaksakan senyumnya.
Julia dan Sera bisa merasakan kekhawatiran Marvin sekaligus melihat betapa dalamnya cinta pria itu kepada Davina.
"Aku merasa pilihanku tidak salah. Aku berharap anak ini benar-benar bisa diandalkan." gumam Sera dalam hati.
"Keluarga sudah bisa melihat pasien. Tapi pasien masih belum sadar jadi saya harap bisa menyesuaikan." ucap dokter Faris.
"Baik, Dok." sahut Julia, Sera dan Marvin bersamaan.
"Kau lihatlah istrimu. Kami akan menunggu diluar." ucap Sera mempersilahkan.
Suasana didalam ruangan itu membuat Marvin tak kuasa menahan airmatanya. Sekilas bayangan beberapa tahun silam kembali memenuhi pikirannya. Dengan hati-hati Marvin duduk dikursi dan menggengam tangan Davina yang terasa dingin dan terlihat pucat.
"Sayang, kau pasti akan baik-baik saja kan?" ucap Marvin lirih.
"Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku masih sangat ingat, saat itu kau bertanya padaku akan melindungimu kan? Tapi kenapa kau tidak mengizinkan aku melakukannya. Lagi-lagi kau berkorban untukku." kata Marvin lagi.
"Apa aku tidak layak untuk menjagamu?" tanya Marvin lagi.
Marvin mengecupi wajah Davina yang masih terpejam dan sesekali memeluk istrinya.
"Kau harus baik-baik saja, Sayang. Cepatlah sadar, aku sangat merindukanmu." kata Marvin menelusupkan wajahnya dibahu istrinya.
"Aku tidak akan membiarkan orang yang melukaimu lolos. Aku pasti akan membuat orang itu membayar apa yang telah ia lakukan padamu." batin Marvin bertekad.
Marvin membelai wajah cantik istrinya yang masih terlelap.
"Baru saja aku merasa sangat bahagia karena kau sudah menerimaku sepenuhnya. Tapi kenapa sesingkat ini, Sayang. Harusnya aku yang terbaring diranjang ini, bukan dirimu." ucap Marvin sedih.
__ADS_1
"Cepatlah pulih. Masih banyak hal yang belum kita lakukan berdua." kata Marvin lagi sembari mengecup kening Davina cukup lama.
Setelah puas berbicara dengan Davina, Marvin pun keluar dari ruangan itu.
"Nek, aku ingin menjenguk Ayah dan Ibu. Titip Davina ya." bisik Marvin lirih.
"Kau baik-baik saja, cucuku?" tanya Julia khawatir.
"Nenek tenang saja, aku baik-baik saja." jawab Marvin.
"Bawa Johan bersamamu." ucap Julia.
"Baik, Nek." sahut Marvin patuh.
Julia menatap sedih kepergian Marvin, ia bisa merasakan luka lama yang diderita cucunya.
"Ayo sekarang kita temani Vina, Nek." ajak Sera mencoba mengalihkan perasaan sedih Julia.
"Ah, kau benar." sahut Julia setelah itu mengikuti Sera memasuki ruangan dimana Davina dirawat.
"Ini yang selalu aku takutkan, Nak." gumam Sera dalam hati.
Julia menggenggam erat tangan Sera dan disambut hangat oleh Sera. Seolah-olah kedua wanita itu sedang berusaha menyalurkan kekuatan masing-masing.
"Sayang, Ibu dan Nenek sudah datang." ucap Sera membelai lembut wajah putrinya.
"Ibu sangat takut melihatmu seperti ini. Kau pasti akan baik-baik saja, kan?" tanya Sera dengan suara bergetar.
Julia mengelus punggung Sera dengan lembut.
"Ibu tahu kau gadis yang kuat. Ibu percaya kau pasti bisa melalui ini. Cepatlah sadar, Nak. Kami semua merindukanmu." ucap Sera lagi dengan menyeka airmatanya.
"Nenek juga merindukanmu, Nak." sela Julia.
Sera menggeser tubuhnya memberikan ruang kepada Julia untuk berinteraksi dengan putrinya.
"Kumohon bertahanlah, Nak. Kau adalah kebahagiaan cucuku. Nenek bisa melihat senyumannya kembali cerah sejak bertemu denganmu. Meskipun anak itu terlihat dingin, tapi sebenarnya hatinya sangat rapuh. Kau hadir memberikan warna baru dihidupnya. Kau harus cepat pulih ya, Sayang. Terimakasih sudah mau berkorban demi cucuku." ucap Julia yang tak kuasa menahan tangisnya.
Dengan sigap Sera mengusap punggung Julia untuk memberikan kekuatan. Julia tersenyum kemudian menarik Sera kedalam pelukannya. Kedua wanita itu saling berpelukan dan tak terasa menitikkan airmata melihat kondisi Davina yang masih tak sadarkan diri.
"Nenek pasti akan membalas perbuatan orang yang berani mencelakai cucu-cucuku." tekad Julia dalam hati.
__ADS_1
-BERSAMBUNG