
Esok harinya sesudah sarapan, Sera dan Julia sudah sibuk bersiap diri.
"Ibu dan Nenek mau kemana?" tanya Davina melihat penampilan kedua wanita yang sudah tidak muda lagi.
"Tentu Ibu mau ajak Nenek mengelilingi kota ini." jawab Sera seraya diangguki oleh Julia dengan senyum cerah.
"Wah itu pasti seru sekali, kenapa tidak mengajakku? Aku juga mau ikut." protes Davina.
"Tidak boleh!" sahut Sera dan Julia bersamaan.
Davina menatap Sera dan Julia bergantian dengan aneh.
"Maksud kami, kau bisa jalan-jalan dengan suamimu sendiri. Kalian anak muda harus sering menghabiskan waktu berdua untuk mengeratkan hubungan kalian." ucap Sera.
"Yang dikatakan ibumu benar. Kalian harus sering berkencan, apalagi Nenek sudah tidak sabar mau menggendong cicit." tambah Julia seketika membuat Davina tersipu.
Julia dan Sera saling berpandangan kemudian terkekeh pelan melihat reaksi malu-malu Davina.
"Kau temanilah suamimu untuk mengelilingi kota ini. Ayahmu sudah menyiapkan mobil beserta sopir dan beberapa pengawal untuk menjaga kalian." kata Sera memberitahu.
"Baiklah. Selamat bersenang-senang Bu, Nek." ucap Davina.
Julia dan Sera tersenyum lalu bergegas pergi.
"Aku harus berbicara dengan Ayah lebih dulu." gumam Davina.
TOK TOK
Davina mengetuk ruang kerja ayahnya dan disambut deheman oleh Adam.
"Kau juga disini?" tanya Davina kaget saat marvin sudah berbincang dengan ayahnya.
"Ya, ada yang perlu Ayah bahas dengan suamimu." kata Adam menjawab pertanyaan putrinya.
"Masalah pesta?" tanya Davina.
"Kau sudah tahu?" tanya Adam.
"Iya, Marvin memberitahuku semalam." jawab Davina.
"Cepat juga kerjamu." sindir Adam menatap tajam menantunya.
Marvin hanya meringis menanggapi tatapan itu.
"Kenapa Ayah tidak langsung memberitahuku saja?" tanya Davina penuh selidik.
Adam menghela nafas kemudian menghampiri putrinya.
"Kalau Ayah langsung memberitahumu, apakah kamu akan menyetujuinya?" kata Adam balik bertanya.
Davina meringis dan menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Ayah sangat tahu sifatmu. Maka dari itu Ayah meminta bantuan Marvin untuk membujukmu dan pilihan Ayah sangat tepat." ucap Adam seketika membuat Davina tersipu.
"Acaranya dua hari lagi. Apakah kau siap?" tanya Adam memastikan.
"Aku tidak keberatan, Yah. Mau sekarang atau nanti juga sama saja. Aku tidak bisa menyembunyikan identitasku selamanya. Hanya saja apakah lusa benar-benar waktu yang tepat?" tanya Davina kali ini membuat Adam sejenak berpikir.
"Selama ini yang aku khawatirkan hanyalah serangan dari keluarga Millano. Kau bisa ingat sendiri bagaimana Anton menyerah." jawab Adam.
"Apakah tidak ada musuh yang lain?" tanya Davina lagi.
"Ayah rasa mereka tidak melebihi kekuatan Anton. Ayah bisa mengatasinya." jawab Adam yakin.
"Baiklah. Vina ikut saja." sahut Davina membuat Adam lega.
Meskipun tidak bisa dipastikan seratus persen aman tapi Adam sudah punya seribu taktik pencegahan. Ia hanya ingin mengungkapkan identitas putri tunggalnya dengan bangga. Ia juga ingin mengumumkan kepada seluruh dunia kalau Davina adalah pewaris sah dari keluarga Carlos. Adam berharap dengan pengungkapan identitas putrinya bisa membuat Davina lebih disegani meskipun tidak menutup kemungkinan bahaya juga mengincarnya. Namun mengingat kemampuan putri semata wayangnya membuat Adam tidak terlalu khawatir terlebih ada Marvin disisinya.
"Maaf kalau keputusan Ayah mendadak." ucap Adam lagi.
"Ayah pasti sudah mengatur semuanya dengan baik. Vina percaya pada Ayah." sahut Davina dengan senyum manisnya.
"Terimakasih, Nak." kata Adam senang.
"Apakah Ayah sudah selesai bicara dengan Marvin?" tanya Davina.
"Ya, kau mau pergi bersamanya?" tanya Adam seketika membuat Davina terkekeh.
"Ayah bisa saja menebak isi hatiku." kata Davina.
"Ayah terlalu berlebihan." protes Davina.
"Demi keselamatanmu, Sayang. Kita tidak tahu pasti dimana keberadaan musuh. Yang kita lakukan hanyalah berjaga-jaga." kata Adam tegas.
"Baiklah. Ayah tidak ikut?" tanya Davina menawarkan.
"Tidak. Kalian berkencanlah." jawab Adam.
"Yasudah, Vina dan Marvin pergi dulu ya." pamit Davina memeluk Adam terlebih dahulu sebelum berlalu pergi.
"Lindungi putriku." titah Adam.
"Baik, Ayah." sahut Marvin lalu bergegas menyusul Davina.
Davina dan Marvin berganti pakaian santai terlebih dahulu barulah mereka menaiki mobil yang sudah tersedia dihalaman mansion Carlos. Ada dua mobil hitam dan beberapa pria berpakaian hitam yang mengawal kepergian mereka.
"Ini sih bukanlah kencan tapi patroli." gerutu Davina memancing tawa kecil Marvin.
"Kenapa kau malah tertawa? Ini tidak lucu." protes Davina mengerucutkan bibirnya.
"Istriku ini menggemaskan sekali." ucap Marvin gemas.
"Semua ini Ayah lakukan untuk memastikan keselamatan kita, Sayang." tambah Marvin lagi.
__ADS_1
"Iya aku tahu tapi tidak perlu seperti ini juga. Kalau begini malah memancing perhatian orang." kata Davina.
"Kau benar tapi kita juga tidak boleh ceroboh." sahut Marvin mengingatkan.
Davina menghela nafas kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Marvin.
"Antar kami ke villa yang ada dibukit S." titah Davina kepada pria yang mengemudikan mobilnya.
"Baik, Nyonya Muda." sahutnya patuh.
"Apakah itu jauh dari sini?" tanya Marvin penasaran.
"Mungkin butuh 1 jam perjalanan." jawab Davina.
"Apa kita tidak butuh membeli cemilan atau minuman?" tanya Marvin lagi.
"Tuan dan Nyonya bisa membuka loker yang ada dibawah kursi masing-masing. Tuan Besar sudah meminta kami menyiapkannya." sela Edwin memberitahu.
Marvin menatap Davina yang hanya tersenyum kepadanya.
"Sepertinya keluarga Harris memang tidak sebanding dengan Carlos." ucap Marvin sadar diri.
"Aku tidak mau kau berkata seperti itu lagi. Aku tidak suka mendengarnya." protes Davina menatap Marvin dingin.
"Ah, maafkan aku Sayang." ucap Marvin bersalah.
"Jangan pernah lagi merendahkan dirimu. Aku tahu kemampuanmu dan aku yakin kau mampu berdiri setara dengan Carlos." kata Davina membuat Marvin tertegun.
"Aku percaya padamu." ucap Davina lagi membuat Marvin terharu.
Marvin menarik Davina kedalam pelukannya dan mengecup lembut kening istrinya.
"Terimakasih istriku." kata Marvin.
"Sama-sama suamiku." sahut Davina.
Edwin yang bersama mereka memilih untuk menulikan telinganya agar jiwa jomblonya tidak semakin menangis menghadapi kemesraan kedua majikan mudanya itu. Edwin merupakan salah satu pengawal kepercayaan Adam yang menemani Davina selama dikota K. Meskipun usianya masih muda namun kemampuan dan kesetiaanya tidak perlu diragukan lagi. Edwin juga merupakan anak tunggal Darwin, jadi keduanya sama-sama mengabdikan diri mereka untuk keluarga Carlos.
"Kalau mengantuk, tidurlah." ucap Marvin melihat Davina yang beberapa kali menguap.
"Ah iya, entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa mudah lelah dan cepat mengantuk." kata Davina.
"Tidurlah, aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai." ucap Marvin.
"Hem.. Baiklah." sahut Davina menyandarkan kepalanya kebahu kokoh suaminya.
Tak berselang lama Davina pun terlelap. Marvin tersenyum memandang wajah cantik istrinya yang sedang tertidur dan merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kau terlihat lelah sekali." gumam Marvin kembali mengingat adegan panas mereka semalam.
"Maafkan aku istriku. Lain kali aku akan lebih lembut." batin Marvin tersenyum.
__ADS_1
-BERSAMBUNG