
"Pantas saja semalam dia bilang tak perlu khawatir." batin Davina.
Davina masih tak percaya jika dirinya kini berada dalam pesawat pribadi milik keluarga Harris. Tentunya ia bersama Marvin dan Julia yang sebentar akan lepas landas ke kota K.
"Jadi berapa banyak rahasia yang kau sembunyikan dariku?" tanya Davina.
"Aku tak pernah merahasiakan apapun darimu." jawab Marvin santai.
"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku kalau kita akan menggunakan pesawat pribadi milikmu?" tanya Davina lagi.
"Kau kan tidak pernah bertanya. Lagipula perjalanan kita jadi lebih nyaman." jawab Marvin membuat Davina mendengus sebal.
"Kau benar-benar menyebalkan." gerutu Davina.
"Heh, kenapa Sayang? Apa aku melakukan kesalahan lagi?" tanya Marvin kebingungan.
"Tidak-tidak." jawab Davina.
"Lalu kenapa wajahmu cemberut begitu?" tanya Marvin memastikan.
"Tidak. Sepertinya aku masih butuh banyak waktu untuk lebih beradaptasi dengan sikap anehmu itu." jawab Davina asal memancing kekehan kecil Marvin.
Davina menyipitkan matanya menatap Marvin yang malah terkekeh.
"Maafkan aku istriku. Kau benar, proses kita masih panjang. Kau harus menyiapkan kesabaran lebih untuk menghadapiku." sahut Marvin yang masih terkekeh.
"Ya ya.. Lagipula selama ini kau sudah menerima semua sikapku yang tak kalah aneh denganmu. Jadi saatnya kita saling memahami dan melengkapi demi kelanggengan pernikahan kita." ucap Davina sadar diri.
Davina ingat bagaimana berkali-kali ia menolak Marvin dengan sikapnya yang dingin dan ketus. Namun itu tak pernah membuat Marvin menyerah hingga kini mereka berduapun saling memiliki satu sama lain.
"Terimakasih sayangku. Aku akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu." ucap Marvin.
"Aku tidak setuju dengan ucapanmu." protes Davina.
"Kenapa? Apakah yang aku katakan salah?" tanya Marvin heran.
"Harusnya saling membahagiakan adalah tanggungjawab kita bersama. Diawal kau sudah berjuang sendirian untukku. Sekarang aku ingin kita berjuang bersama untuk hubungan ini, boleh ya?" kata Davina.
Marvin tersenyum lalu mendekap Davina dan mengecup pucuk kepala istrinya.
"Terimakasih sayangku." ucap Marvin harus.
"Sama-sama, Mas." sahut Davina membalas pelukan suaminya.
Julia tersenyum senang mendengar percakapan cucunya.
"Semoga kalian selalu bahagia, cucu-cucuku." batin Julia mendoakan.
Setelah dua jam perjalanan udara, akhirnya pesawat milik keluarga Harris mendarat di bandara kota K. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Adam dan Sera. Tentu saja keberadaan mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di bandara.
"Bagaimana perjalanannya? Pasti Nenek lelah kan? Ayo kita segera kerumah." tanya Sera santun.
"Tenang saja, Nak. Meskipun aku sudah tua tapi fisikku masih kuat melakukan perjalanan jauh." jawab Julia membuat keduanya terkekeh.
__ADS_1
Davina tersenyum melihat interaksi hangat kedua wanita yang sudah tidak muda lagi. Berbeda dengan Adam dan Marvin yang saling memberikan tatapan dingin. Davina hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua pria itu.
Darwin memimpin jalan menuju mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka. Davina, Sera dan Julia berada dalam satu mobil sedangkan Marvin semobil dengan mertuanya. Ada satu mobil yang mengawal mereka dibagian depan dan dua mobil dibelakang.
"Kapan kau akan mengadakan pesta pernikahan untuk putriku?" tanya Adam tiba-tiba.
Seketika Marvin menoleh dan mendapatkan tatapan dingin Adam.
"Apakah sudah saatnya aku mengumumkan identitas Davina?" kata Marvin balik bertanya.
Adam terdiam sejenak kemudian menyeringai tipis.
"Kau lumayan juga." ucap Adam membuat Marvin kebingungan.
"Mungkin dalam waktu dekat aku akan mengumumkan Davina sebagai keturunan Carlos. Hanya saja aku butuh bantuanmu beberapa hari ini." kata Adam.
"Apa yang bisa kubantu, Ayah?" tanya Marvin penasaran.
"Nanti kita bicarakan dirumah." jawab Adam semakin membuat Marvin penasaran.
...****************...
Butuh waktu 30 menit untuk sampai dimansion Carlos. Para pelayan menyambut kedatangan mereka dengan antusias. Tidak lupa mereka juga menata semua oleh-oleh yang dibawa oleh keluarga Harris.
"Nenek tidak perlu repot-repot seperti ini." ucap Sera tak enak hati.
"Aku hanya membeli beberapa barang saja. Sisanya menantumu yang menyiapkan." sahut Julia membuat Sera menoleh dan menatap Marvin.
"Kau yang menyiapkan ini, Nak?" tanya Sera lembut.
Sera mendekati Marvin lalu tersenyum.
"Mana mungkin aku menolak pemberian menantuku. Terimakasih kasih banyak, Nak." ucap Sera membuat Marvin lega.
"Marvin ikut aku." kata Adam.
"Baik, Ayah." sahut Marvin patuh.
Davina menatap curiga kepada dua pria itu.
"Bu, kira-kira apa yang akan dilakukan Ayah?" bisik Davina khawatir.
"Kau takut ayahmu melukai suamimu?" tanya Sera.
"Siapa tau. Ayah kan memang orang yang misterius." jawab Davina membuat Sera tertawa pelan.
"Kau ini curiga sekali dengan ayahmu sendiri. Tenang saja, ayahmu tidak akan menyakiti suamimu. Jika itu terjadi maka Ibu yang akan menghukumnya." kata Sera yakin.
"Baiklah, aku percaya dengan ucapan Ibu." sahut Davina.
"Ibu pasti lelah kan? Mari aku antar ke kamar." ajak Sera.
"Ya, baiklah." kata Julia.
__ADS_1
Sera dan Davina berjalan mengapit Julia menuju kamar tamu lebih dulu.
"Pantas saja nama Carlos begitu terkenal dan ditakuti. Keluarga Harris memang belum ada apa-apanya dibandingkan mereka. Kuharap cucuku itu benar-benar bisa diandalkan." gumam Julia yang sedari tadi mengamati mansion Carlos dan juga para pelayannya.
"Nenek istirahatlah disini. Jika Nenek butuh sesuatu ada pelayan yang berjaga didepan pintu, Nenek bisa memberitahunya." ucap Sera.
"Apakah kalian ingin meninggalkan aku sendiri disini?" tanya Julia membuat Sera dan Davina saling beradu pandang.
"Nenek mau kami temani?" tanya Davina menawarkan.
Julia tersenyum cerah lalu menganggukkan kepalanya. Davina dan Sera kembali berpandangan lalu tersenyum bersamaan.
"Baiklah." sahut Davina dan Sera kompak.
Ketiga wanita itu pun saling berbincang, bercanda tawa hingga tak terasa Julia pun terlelap karena kelelahan.
"Nenek sudah tidur, kau temanilah disini. Ibu mau menyiapkan makan siang untuk kalian." ucap Sera dengan nada pelan.
"Vina mau bantu Ibu." kata Davina.
Sera tersenyum lalu mengelus kepala putri cantiknya.
"Hem.. Anakku sudah mau masuk kedapur sekarang?" tanya Sera.
"Ibu jangan meledekku. Aku juga ingin belajar memasak seperti ibu." jawab Davina malu-malu.
"Baiklah.. Ibu akan mengajarimu agar suamimu semakin klepek-klepek kepadamu. Itu yang kamu inginkan bukan?" goda Sera.
"Ibu jangan menggodaku." protes Davina sembari menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
Sera terkekeh kemudian keduanya menuju dapur meninggalkan Julia yang tertidur nyenyak.
"Jika Nyonya Harris sudah bangun segera beritahu aku." pesan Sera kepada pelayan perempuan yang bertugas menjaga didepan pintu kamar Julia.
"Baik, Nyonya." sahut wanita itu patuh.
"Ibu mau masak apa?" tanya Davina penasaran.
"Tentu saja masakan favorit keluarga kita." jawab Sera.
Davina tersenyum lalu membantu mengeluarkan beberapa bahan makanan yang akan diolah.
"Bagaimana dengan Nenek dan Marvin? Apakah mereka punya alergi makanan?" tanya Sera.
"Setahuku tidak ada, Bu." jawab Davina mencoba mengingat-ingat.
"Baiklah kalau begitu." sahut Sera memulai aksinya dimeja dapur.
Tak hanya Sera dan Davina, mereka juga dibantu oleh dua pelayan yang siap sedia melaksanakan instruksi dari sang nyonya rumah.
Davina kagum dengan keahlian memasak ibunya. Ia pun dengan seksama memperhatikan pergerakan Sera didapur.
"Ibu benar-benar hebat. Aku harus belajar darinya." gumam Davina bersemangat.
__ADS_1
-BERSAMBUNG