
"Nona apakah Tuan sudah sadar?" tanya Johan yang sudah kembali kerumah sakit.
"Iya, dokter sedang memeriksanya. Bagaimana dengan hasil penyelidikanmu?" tanya Davina melihat wajah panik Johan.
Johan terdiam, sepertinya ragu-ragu menceritakannya kepada Davina.
"Sudahlah kalau kau tidak ingin memberitahuku. Kau langsung beritahu Marvin saja." ucap Davina memahami Johan.
"Terimakasih Nona." sahut Johan sopan.
Tak lama kemudian, Andre keluar dari ruangan dengan wajah yang berseri-seri.
"Kau jaga suamimu itu, aku khawatir otaknya sedikit terganggu. Kedepannya juga kau harus memiliki stok kesabaran tinggi untuk menghadapinya." ucap Andre memperingatkan Davina.
Davina menatap Andre tanpa ekspresi kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kalian benar-benar pasangan yang tidak bisa diajak bercanda." gerutu Andre kesal kemudian undur diri.
"Eh, kenapa dia bilang begitu?" gumam Davina bingung.
"Jelas saja dokter itu berkata seperti itu. Nona saja memberikan tatapan dingin kepadanya." bisik Mely.
"Astaga, memang aku semenakutkan itu?" tanya Davina tak percaya.
Mely terkekeh kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kau masuklah. Aku akan menunggu diluar dulu." ucap Davina kepada Johan.
"Baik Nona, terimakasih." sahut Johan kemudian segera masuk keruangan Marvin.
"Tuan, ada yang ingin kusampaikan kepada Tuan." kata Johan panik.
"Katakan saja." ucap Marvin santai.
"Saya sudah menyelidiki pengemudi yang ingin mencelakai Tuan. Dia benar-benar tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Tapi saya jadi curiga mungkin kejadian ini berkaitan dengan kecelakaan Tuan beberapa hari yang lalu." kata Johan menjelaskan.
"Maksudmu penyerangan ini dilakukan oleh orang yang sama?" tanya Marvin.
"Betul Tuan." jawab Johan yakin.
"Bagaimana kau bisa yakin? Apakah ada bukti yang bisa memperkuat tuduhanmu itu?" tanya Marvin memastikan membuat Johan terdiam sejenak.
"Maaf Tuan. Untuk sementara ini saya memang belum bisa menemukan buktinya." jawab Johan bersalah.
"Jadi semua ini hanya prasangkamu saja? Aku tidak membayarmu untuk sekedar menduga-duga. Sebelum kau bisa mendapatkan bukti siapa pelakunya maka jangan ceritakan prasangkamu kepadaku. Terlebih lagi saat ini keselamatan istriku juga ikut terancam, aku tidak ingin kau bekerja tidak becus. Laporkan kepadaku kalau sudah bisa menyelesaikan tugasmu." kata Marvin memberi peringatan.
"Baik Tuan. Saya akan segera menemukan pelakunya." sahut Johan kemudian pamit.
"Sepertinya Johan sudah terlalu lama bekerja diperusahaan jadi dia lupa bagaimana bekerja dilapangan. Aku harus melatihnya lebih keras lagi." batin Marvin serius.
__ADS_1
"Oh iya dimana ponselku? Kenapa daritadi aku tidak melihatnya." tanya Marvin mencari ponselnya.
"Apa kau mencari ini?" ucap Davina membuat Marvin menoleh.
"Kau benar-benar bisa membaca pikiranku. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan seutuhnya." kata Marvin.
"Hentikan omong kosongmu. Ini ponselmu, aku tadi mengambilnya saat kecelakaan. Aku menggunakannya untuk menelpon Johan meminta bantuan." ucap Davina menjelaskan.
"Maaf kalau aku lancang." tambah Davina merasa bersalah.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Kau adalah istriku. Kau bisa menggunakan semua barangku sesuai keinginanmu. Tenang saja, aku tidak mempunyai rahasia diponselku." kata Marvin membuat Davina tersenyum tipis.
"Hem.. Terimakasih." ucap Davina mengundang senyuman diwajah Marvin.
"Aku sudah meminta Andre menyiapkan ranjang tambahan untukmu." kata Marvin.
"Tidak perlu. Aku bisa tidur dikursi." tolak Davina.
"Aku tidak ingin badanmu kesakitan. Atau kau ingin tidur disampingku? Aku dengan senang hati berbagi kasur denganmu." goda Marvin.
Davina memberikan tatapan tajam kepada Marvin namun pria itu malah memberikan senyuman kepada Davina.
Tak lama dua orang perawat masuk ke ruangan Marvin mengantarkan ranjang untuk Davina.
"Letakkan disampingku." pinta Marvin yang langsung dipatuhi oleh kedua perawat itu.
Davina menatap Marvin kemudian menganggukkan kepalanya lalu mengambil sebuah kantong yang berisi pakaian ganti lengkap dengan alat mandi dan handuknya.
"Dia pria yang sangat perhatian." batin Davina kemudian bergegas masuk kekamar mandi.
"Sabar Marvin. Menaklukan hati wanita memang butuh perjuangan dan pengorbanan." gumam Marvin menguatkan dirinya sendiri.
"Sepertinya aku terlalu keras padanya. Maaf Marvin jika aku belum bisa menerimamu. Ayo Davina bukalah hatimu sedikit untuknya." batin Davina menyadari dirinya terlalu menutup diri pada Marvin.
Luka di masa lalu membuat Davina belum berani sepenuhnya kembali membuka hatinya. Sebenarnya Davina sudah mulai tertarik dengan Marvin, namun ketakutannya atas pengkhianatan membuatnya menahan diri dan tidak ingin terlalu cepat jatuh hati kepada Marvin. Terlebih lagi identitas Marvin yang bisa kapan saja menemukan gadis yang lebih baik untuknya. Davina takut jika pria yang memiliki kekuasaan dan kekayaan seperti Marvin akan sangat mudah mempermainkannya.
15 menit berlalu, Davina sudah selesai mandi.
"Kau mau langsung tidur, Sayang?" tanya Marvin.
"Iya, apakah kau belum mengantuk?" tanya Davina yang sudah duduk diranjangnya.
"Belum. Mungkin tadi siang aku terlalu lama pingsan." jawab Marvin jujur.
"Hem.. Kau ingin bercerita sesuatu?" tanya Davina.
"Kau mau berbicara denganku? Aku kira kau akan terus cuek padaku dan meninggalkanku tidur begitu saja." jawab Marvin menatap Davina lekat.
"Maaf. Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri bersamamu." ucap Davina tak enak hati.
__ADS_1
"Kau santai saja. Aku akan terus menunggumu bersedia menerimaku sepenuh hati. Aku tidak akan memaksamu." kata Marvin jujur.
"Terimakasih, Mas." ucap Davina tersenyum manis.
Kedua mata mereka saling bertemu, Marvin membalasnya dengan senyuman.
"Bolehkah aku tahu tentang hubungan asmaramu di masa lalu?" tanya Marvin hati-hati.
"Kau ingin mengetahuinya?" tanya Davina memastikan.
"Ya. Aku hanya sedikit penasaran. Tapi kalau kau tidak ingin menceritakannya, aku tidak akan memaksa." jawab Marvin.
"Kau benar-benar pria yang berbeda dari rumor yang aku dengar. Ternyata seorang Marvin Harris adalah pria yang lembut dan pengertian." kata Davina.
"Apa kau sedang memuji suamimu?" goda Marvin.
"Iya, aku tidak menyangka jika orang sepertimu memiliki sisi yang berbeda." jawab Davina jujur.
"Mungkin rumor yang kau dengar itu bisa benar bisa juga salah. Aku bersikap lembut pada orang-orang terdekatku saja. Seperti dirimu yang bisa menarik perhatianku dan juga sudah bisa menempati posisi dihatiku." ucap Marvin tulus.
Davina bisa melihat ketulusan dari sorot mata Marvin yang tanpa ia sadari sudah menyentuh hatinya.
"Terimakasih. Tolong berikan aku waktu agar bisa membuka hatiku untukmu." kata Davina bersalah.
"Tidak bisa kupingkiri ada rasa trauma yang masih membelenggu hatiku. Aku pernah memberikan hatiku kepada seseorang namun justru pengkhianatan yang aku dapatkan." ucap Davina.
Marvin bisa memahami posisi Davina karena dirinya sudah mengetahui masa lalu istrinya itu.
"Aku mengerti. Tapi jangan jadikan masa lalumu itu menghalangi masa depanmu. Hidup terus berjalan maju bukan? Kau juga harus mulai melupakannya jangan terjebak dengan luka masa lalumu." kata Marvin bijaksana.
"Iya aku mengerti. Untuk itu berilah aku waktu agar aku bisa sepenuhnya yakin menyerahkan hatiku untukmu. Meskipun diawal hubungan kita bukan karena cinta, tapi aku sangat berharap pernikahan kita untuk selamanya. Sekali seumur hidup." ucap Davina penuh harap.
Marvin tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Davina.
"Aku sepakat denganmu." kata Marvin.
"Jadi kau jangan terlalu memberiku jarak, oke?" tambah Marvin.
"Baiklah." sahut Davina setuju.
"Tidurlah." ucap Marvin lembut.
Davina menganggukkan kepalanya kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Aku tidak akan menyerah untuk menaklukanmu istriku." batin Marvin.
...----------------...
-BERSAMBUNG
__ADS_1