Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 101 Mulai Terkuak


__ADS_3

"Heh bisakah kau mendekat kemari dan membantuku?" kata Anton serius kepada pria berbadan kekar yang mengawasinya.


"Tenang saja aku tidak akan kabur." kata Anton lagi.


"Ambilkan surat yang ada dikantong jasku dan biarkan aku membacanya." pinta Anton lagi.


Pria itu mematuhi perkataan Anton dan melakukannya.


"Apa yang harus kutakutkan? Bukankah ini yang aku cari selama ini? Ariana..." gumam Anton teringat kembali dengan wanita yang menempati hatinya bertahun-tahun ini.


Dengan perlahan surat itu terbuka dan Anton mulai membaca satu per satu kata yang tertulis didalamnya.


Maafkan aku, Anton.


Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada didunia ini lagi.


Aku tahu mungkin kau akan menyalahkan Adam, sahabat kita atas kematianku.


Maafkan aku yang terlalu takut untuk mengakui perasaanku.


Sebenarnya orang yang kusukai adalah dirimu, bukanlah Adam.


Tapi karena aku tahu kau sudah mempunyai tunangan yang dipilihkan oleh keluargamu, aku memilih untuk mengubur perasaanku.


Kau masih ingat saat kau mabuk?


Aku rasa mungkin kau tidak mengingat apa yang sebenarnya terjadi diantara kita.


Setelah kejadian malam itu, sebenarnya aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu.


Tapi aku sungguh tidak berani, karena aku takut kau membenciku.


Bagaimanapun kau sudah memiliki tunangan, dan aku lihat kau juga menyukai wanita itu.


Akhirnya aku meminta bantuan Adam untuk bersandiwara didepanmu, tentu saja atas persetujuan Sera.


Aku masih ingat saat kau begitu marah saat aku mengatakan hubunganku dengan Adam.


Tapi sungguh aku tidak bisa menebak isi hatimu.


Saat aku ingin bertanya kepadamu, tiba-tiba kau menghilang dan meninggalkanku.


Aku sudah berusaha mencari keberadaanmu, begitu juga Adam dan Sera.


Mereka berusaha membantuku untuk menemukanmu namun semua nihil.


Sampai aku menyadari bahwa aku mengandung.


Aku sempat berharap kau kembali dan kita bisa memiliki keluarga yang bahagia.


Namun aku tidak sanggup untuk menghadapi orangtuaku ketika perutku semakin membesar.


Dan kau menghilang bagaikan ditelan bumi.


Aku putus asa, Adam dan Sera sudah mengingatkanku agar aku tetap kuat tapi aku terlalu rapuh.


Maaf aku tidak bisa lagi menunggumu.


Maaf aku juga tidak bisa menjaga buah hati kita.


Aku mencintaimu, Anton.


-Ariana


Tiba-tiba tubuh Anton bergetar hebat. Tak terasa airmatanya pun luruh.


"Tidak mungkin!" teriak Anton yang terdengar memilukan.

__ADS_1


"Tuan baik-baik saja?" tanya Neo panik.


"Bodoh! Aku benar-benar bodoh. Ternyata akulah pembunuh sebenarnya." kata Anton.


"Kenapa aku tidak pernah menyadarinya? Kenapa kau juga tidak bilang kepadaku, Riana? Apakah ini caramu menghukumku atas ketidakpekaanku?" gumam Anton.


Beribu kenangan tentang masa mudanya kembali melintas dibenaknya. Namun hanya penyesalan mendalam yang kini memenuhi hatinya.


Sebenarnya jauh didalam lubuk hatinya, Anton juga mencintai Ariana. Masalah tunangan itu adalah hal wajar yang dilakukan kedua keluarga besar untuk menjalin keuntungan. Saat itu Anton ingin menolak dan membatalkan pertunangannya secara sepihak. Namun lagi-lagi kesalahpahaman membuatnya mengira kalau wanita yang ia cintai menyukai orang lain. Anton tidak ingin berebut dan memilih mengalah. Namun kabar kematian Ariana yang tiba-tiba membuatnya terguncang dan sangat marah. Lalu ia mendengar kabar pernikahan Adam dan Sera. Anton berspekulasi kalau kematian Ariana ada kaitannya dengan pernikahan mereka. Anton berusaha menghancurkan Adam diam-diam dengan segala cara untuk membalas dendam kematian Ariana. Namun siapa sangka kalau kenyataannya, dirinyalah yang menjadi penyebab kematian wanita yang ia cintai bertahun-tahun itu.


"Bisakah kau menghubungi Tuanmu? Aku ingin bertemu dengannya." pinta Anton.


Pria berbadan kekar itu pun mengangguk.


"Ternyata semua adalah penilaianku sendiri. Kali ini aku harus menanggung semuanya." gumam Anton menghela nafas.


...****************...


"Aku sudah mempercayakanmu untuk menikahi putriku. Aku harap kedepannya kau tidak akan membiarkannya terluka seperti ini lagi." kata Adam dingin.


"Ayah tenang saja, akan aku pastikan tidak ada lain kali lagi. Aku akan melindungi istriku meski harus menggunakan nyawaku." sahut Marvin yakin.


"Kau tahu seorang pria harus bisa mempertanggungjawabkan ucapannya. Jika putriku terluka lagi maka tidak segan-segan aku membawanya kembali." ancam Adam.


"Baik Ayah." sahut Marvin.


Drt Drt


"Maaf mengganggu Tuan. Tuan Anton berkata ingin menemui Tuan."


"Baik, aku akan menemuinya." sahut Adam setelah itu mematikan ponselnya.


"Ada apa Ayah?" tanya Marvin penasaran.


"Dia ingin menemuiku." jawab Adam.


Adam memberikan tatapan tajam setelah itu menganggukkan kepalanya membuat Marvin bernafas lega.


Adam dan Marvin kembali keruang rawat Davina lebih dulu.


"Ayah dan Marvin akan menemui Anton." kata Adam memberitahu.


"Aku ingin ikut." ucap Davina.


"Kau masih belum pulih sepenuhnya, Nak. Lagipula ini sangat berbahaya, Ayah belum bisa memastikan apa tujuan pria itu." tolak Adam tegas.


"Ayah aku mohon." pinta Davina menuntut.


"Sayang, benar kata Ayahmu. Biarkan kami saja yang menemuinya." ucap Marvin.


"Tidak! Aku ingin ikut! Aku ingin tahu apa motifnya melukai kami. Aku adalah korban disini, aku juga berhak untuk mengetahuinya sendiri." paksa Davina.


Seluruh orang yang berada diruangan itu saling berpandangan. Mereka sangat hafal dengan sifat Davina. Jika menginginkan sesuatu maka tidak akan ada yang bisa mencegahnya.


"Baiklah, tapi biarkan dokter memeriksamu untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja." ucap Marvin lembut.


"Baik." sahut Davina.


Setelah dokter memeriksa dan memastikan kondisi Davina tidak membahayakan barulah mereka bersiap untuk menemui Anton. Sedangkan Johan bertugas mengantarkan Julia dan Sera ke mansion Harris.


...****************...


"Apa tujuanmu ingin bertemu denganku?" tanya Adam dingin.


"Akhirnya kau datang bersama putri dan menantumu." ucap Anton terkekeh.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Adam.

__ADS_1


Anton terdiam sejenak lalu menatap Davina lekat.


"Aku ingin minta maaf." kata Anton membuat seisi ruangan terkejut.


"Tuan, apa maksud Tuan?" tanya Neo tak terima.


"Diamlah! Biarkan aku menyelesaikan kesalahpahaman di masalaluku." jawab Anton tegas.


Neo segera menutup mulutnya.


"Heh, apa kau sudah membaca surat itu?" tanya Adam menyeringai.


"Ya ternyata akulah si penjahat selama ini. Aku selalu menuduhmu dan menyerangmu secara diam-diam tanpa mengetahui kebenarannya. Aku begitu bodoh dan tak tahu malu." jawab Anton lalu menundukkan wajahnya.


"Aku tahu kau tidak akan dengan mudah memaafkanku. Aku akui dulu pernah menargetkan menantu dan juga putrimu. Tapi jujur kejadian kemarin bukan aku yang merencanakannya, itu adalah perbuatan bawahanku. Terserah kalau kau tidak percaya padaku. Aku siap jika kau ingin menghukumku. Bahkan kalau kau menginginkan nyawaku, aku akan menyerahkannya dengan senang hati." kata Anton membuat Adam tertegun.


"Heh, apa kau sudah sangat putus asa? Kau tahu kan kalau aku bukanlah orang yang berbelas kasih?" sahut Adam menyeringai.


"Ya aku tahu. Setelah mengetahui kebenaran, rasanya aku sudah tidak punya tempat untuk hidup didunia ini lagi." ucap Anton.


"Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau menyembunyikannya?" tanya Anton sedih.


"Bukankah aku sudah mencobanya? Tapi kau tidak pernah mempercayaiku. Selama ini kau selalu percaya dengan asumsimu sendiri." sahut Adam.


"Kau benar. Aku memang bodoh. Apa hukuman yang pantas untuk orang sepertiku?" kata Anton pasrah.


"Maafkan aku, Adam. Ternyata akulah orang yang merusak persahabatan kita. Sungguh tidak tahu malu." ucap Anton lagi.


Kali ini terdengar suara isak tangis dari pria itu. Adam bisa melihat tubuh Anton yang bergetar. Perlahan Adam mendekati pria itu.


"Semua sudah berlalu tidak ada guna menyesalinya sekarang." kata Adam.


"Kau benar? Bukankah aku pria yang jahat? Membunuh ibu dan bayi yang tidak bersalah. Seandainya aku lebih peka mungkin aku tidak akan kehilangannya." ucap Anton menyalahkan dirinya sendiri.


Adam menepuk pelan pundak pria yang dulu menjadi teman dekatnya itu.


"Jangan menyalahkan dirimu. Kau sudah mengetahui kebenarannya, aku rasa Ariana juga ingin kau tetap melanjutkan hidupmu dengan baik." kata Adam.


"Kau melepaskanku?" tanya Anton.


"Itu tergantung putriku." jawab Adam.


Anton melirik Davina lalu Marvin bergantian.


"Aku tidak ingin ikut campur dengan masalah orangtua. Tapi Tuan bilang tadi kalau yang mencelakai kami adalah bawahanmu, bolehkah aku memberinya pelajaran?" tanya Davina dingin.


Anton terkekeh pelan kemudian mengangguk.


"Kau boleh melakukannya." jawab Anton tersenyum.


"Terimakasih Tuan." sahut Davina.


"Paras putrimu memang sangat mirip dengan Sera tapi sifatnya benar-benar mirip denganmu." bisik Anton.


Adam hanya tersenyum tipis.


"Maafkan aku, Dam." ucap Anton lagi.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah berlalu." sahut Adam.


"Terimakasih. Setelah ini aku tidak akan pernah mengusikmu lagi." kata Anton membuat Adam menoleh.


"Apa yang ingin kau lakukan? Bersembunyi lagi?" tanya Adam penasaran.


"Ya, umurku sudah tidak muda lagi. Aku juga harus merenungi kesalahanku. Aku akan memberikanmu kompensasi atas tindakanku selama ini." jawab Anton.


"Terserah kau saja." sahut Adam.

__ADS_1


-BERSAMBUNG


__ADS_2