
"Nona sepertinya ada mobil yang mengikuti kita. Apakah Nona mengenalnya?" tanya sopir taxi.
Setelah bermalam dipantai, Davina dan Marvin dijemput Johan pada siang hari. Kebetulan Marvin langsung menuju ke perusahaan karena ada pekerjaan yang perlu dia kerjakan. Awalnya Marvin mengajak Davina untuk ikut dengannya namun gadis itu menolak karena sudah ada janji untuk bertemu Luna. Marvin juga menawarkan Johan untuk mengantarnya namun lagi-lagi Davina langsung menolaknya.
"Terus jalan saja Pak, sesuai tujuan." sahut Davina.
"Baik." ucap sopir taxi patuh namun tetap saja ada perasaan khawatir didalam hatinya.
"Heh rupanya pergerakkannya cepat sekali." gumam Davina menyimpulkan senyum tipis diwajahnya.
Davina sudah bisa menebak siapa yang sedang mengikutinya. Orkan sudah memberi tahunya tentang orang yang mengawasinya beberapa hari ini.
Saat jalanan mulai sepi mobil yang sedari tadi mengikuti Davina tiba-tiba menghadang mobil taxi yang ia tumpangi. Beruntung sang sopir mengetahui pergerakan mobil dibelakangnya melalui spion dan segera menginjak rem sehingga tidak terjadi kecelakaan.
"Apakah Nona mengenal mereka?" tanya sopir yang kira-kira berusia 40 tahunan saat melihat 2 orang berpakaian serba hitam keluar dari mobil didepannya.
"Bapak tidak usah khawatir. Biarkan saja mereka melancarkan aksinya." jawab Davina santai.
Pak sopir kaget dengan reaksi Davina yang sangat aneh baginya. Seharusnya perempuan normal pasti sudah ketakutan dalam situasi ini tapi berbeda dengan gadis yang menjadi penumpangnya itu. Tidak ada ketakutan diwajahnya bahkan terlihat kalau Davina sudah sangat siap dan tahu hal itu akan terjadi.
"Apakah Nona tidak ingin menghubungi polisi? Saya bisa membantu Nona." tawar pria itu.
"Tidak perlu." tolak Davina santai.
"Nona yakin?" tanya pria tua itu lagi.
"Iya Bapak tenang saja." jawab Davina dengan tersenyum.
Salah satu pria berbadan kekar itu mengetuk kaca mobil membuat sopir taxi ketakutan berbeda dengan Davina yang tak gentar sedikitpun. Davina sudah tidak aneh melihat pria-pria seperti itu karena kehidupannya saja dikelilingi oleh banyak pria yang berpenampilan seperti mereka.
Dengan santai Davina menurunkan kaca mobilnya.
"Apa ada masalah? Kenapa kalian menghalangi jalanku?" tanya Davina membuat kedua pria itu terkejut.
"Maaf mengganggu perjalanan Nona, tapi Tuan saya ingin bertemu dengan Anda." ucap salah satu pria itu dengan segan karena bisa melihat aura dingin yang dipancarkan oleh Davina.
"Siapa sebenarnya gadis ini? Kenapa dia tidak takut sama sekali. Aku malah menjadi sopan kepadanya." batin pria itu.
"Apakah Tuanmu itu tidak mempunyai cara yang lebih baik untuk menemuiku? Bagaimana kalau aku tidak mau?" cibir Davina.
"Kami harus membawa Nona dengan paksa." sahut pria yang satunya lagi.
__ADS_1
"Cih! Apa jaminannya kalau aku ikut kalian dengan sukarela?" tanya Davina.
Kedua pria berbadan kekar itu saling adu tatap karena bingung melihat reaksi gadis yang ada dihadapannya.
"Kami tidak akan menyakiti Nona." jawab pria yang lebih tinggi.
"Oke." sahut Davina yang hendak membuka pintu mobilnya namun ditahan oleh sopir taxi.
"Nona jangan keluar. Saya akan menghubungi polisi." ucap sopir itu khawatir.
"Tidak perlu. Bapak lanjut mencari penumpang saja. Ini ongkosnya." kata Davina sembari menyerahkan dua lembar uang kertas berwarna merah.
"Tidak Nona. Bagaimana jika mereka melakukan kejahatan dan melukai Nona? Saya akan menyesal seumur hidup saya." ucap pria itu lagi.
"Bapak tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa padaku. Jangan menghubungi polisi kalau Bapak ingin selamat. Anggap saja Bapak tidak pernah bertemu denganku. Bapak pergilah." kata Davina setelah itu dia turun dari taxi.
"Siapa gadis ini? Pemberani sekali. Kenapa dia malah mengancamku saat aku berusaha menyelamatkannya? Anak muda sekarang memang aneh." gumam sopir kemudian melajukan mobilnya sesuai instruksi Davina.
"Dimana Tuanmu?" tanya Davina santai.
"Ikutlah bersama kami." jawab kedua pria serempak.
"Apa yang sedang Nona rencanakan?" tanya Orkan dalam hati.
Orkan memilih mematuhi perintah Nonanya itu dan meminta beberapa pengawal menemaninya untuk mengikuti mobil yang membawa Davina entah kemana.
Davina hanya terdiam memandangi jalanan yang tak tahu dimana arah tujuannya.
Tak lama mobil itu berhenti disebuah mansion yang cukup luas dan mewah. Davina mengerutkan keningnya saat melihat dimana ia berhenti saat ini.
"Siapa orang ini? Apakah dia musuh Marvin atau musuh Ayah?" tanya Davina dalam hati.
"Tuan menunggu Anda didalam." ucap pria yang menghadangnya ditengah jalan sembari menunjukkan jalan memasuki mansion.
"Akhirnya tamu istimewaku datang juga." sambut Anton saat melihat kedatangan Davina diiringi dengan tawa aneh khas miliknya.
"Duduklah cantik." ucap Anton dengan menunjukkan sebuah kursi dihadapannya yang memang sudah ia siapkan untuk Davina.
"Tidak perlu basa-basi. Apa sebenarnya maksud Tuan? Apakah kita saling mengenal?" tanya Davina santai tanpa ada ketakutan sedikitpun.
Anton tersenyum mendapati keberanian gadis yang duduk dihadapannya itu.
__ADS_1
"Menarik."
"Kita mungkin tidak saling mengenal. Tapi aku mengenal suamimu." ucap Anton sembari menyerahkan foto-foto dirinya dengan Marvin.
Davina tersenyum tipis kemudian menatap datar pria yang kira-kira seumuran dengan ayahnya.
"Apakah Tuan punya masalah dengan suamiku?" tanya Davina.
"Iya, dia berani menolak tawaran kerjasamaku maka aku harus memberinya peringatan." jawab Anton menampakkan giginya.
"Dasar pengecut!" umpat Davina membuat Anton membulatkan matanya.
"Kau berani mengataiku? Kau tidak tahu siapa aku?" ucap Anton yang tersulut emosi karena gadis muda dihadapannya berani memakinya.
"Bukankah yang kukatakan benar? Tuan memiliki masalah dengan suamiku tapi malah melibatkan seorang gadis sepertiku. Tidak salah bukan bila aku menyebut Anda pengecut?" ledek Davina membuat Anton tertawa.
Tawa pria itu menggelegar mengisi ruangan membuat para bawahan yang bekerja dengannya terheran-heran.
PLOK PLOK PLOK
"Menarik sekali. Sungguh beruntung si anak muda Harris mendapatkan istri pemberani sepertimu." ucap Anton dengan bertepuk tangan.
Davina mengerutkan keningnya menatap pria itu heran.
"Aku tidak akan menyakitimu asal kau mau membantuku membujuk suamimu untuk menerima tawaranku." ucap Anton.
"Itu adalah urusan Anda dengannya. Saya tidak berhak ikut campur." sahut Davina.
"Kalau kau menolakku maka aku akan membuat suamimu kehilangan bisnisnya!" ancam Anton.
"Anda lucu sekali Tuan. Apa yang sebenarnya Anda inginkan? Kerjasama dengan suamiku atau menghancurkannya?" tanya Davina membuat Anton terkekeh.
"Rupanya kau pintar sekali gadis kecil. Aku menginginkan keduanya. Jadi maukah kau membantuku? Aku pastikan tidak akan melukaimu." kata Anton dengan senyum menyeringai.
"Aku tidak akan bekerjasama dengan musuh suamiku." tolak Davina santai.
"Kau benar-benar punya nyali. Tidakkah kau takut aku akan membunuhmu sekarang?" tanya Anton marah.
"Tidak. Lagipula itu akan membenarkan perkataanku bahwa Anda benar-benar seorang pengecut." jawab Davina lantang.
-BERSAMBUNG
__ADS_1