
Esok harinya, Davina pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa set pakaian. Davina memilih untuk berpergian sendiri karena dirinya akan lebih bebas. Tentunya Orkan selalu mengikuti kemanapun Davina pergi namun dengan jarak yang sudah ditentukan oleh Davina.
"Sebaiknya aku memilih pakaian yang membuatku lebih leluasa bergerak." gumam Davina menuju sebuah outlet pakaian wanita.
Davina memilih beberapa celana panjang dan t-shirt santai dengan bahan yang nyaman digunakan. Tak lupa Davina juga membeli set pakaian olahraga agar semakin bersemangat meningkatkan kebugarannya. Setelah dirasa cukup, Davina menuju kasir untuk membayarnya. Saat keluar dari toko pakaian tanpa sengaja ada seorang wanita yang menabrak dirinya. Untung saja kedua kaki Davina berdiri dengan kokoh sehingga wanita yang menabraknyalah yang terjatuh.
"Aaww! Apa kau buta? Kenapa jalan tidak lihat-lihat sih?" bentak wanita itu yang langsung marah-marah.
"Sepertinya Anda yang tidak berhati-hati." ucap Davina membuat wanita itu semakin geram.
"Tunggu!" teriak wanita itu saat mengetahui Davina hendak meninggalkannya begitu saja.
"Sudah salah malah mau kabur begitu saja. Dimana nuranimu? Aku ini wanita hamil." teriak wanita itu memancing perhatian pengunjung mall yang sedang melintas disekitarnya.
Davina hanya memutar bola matanya malas meladeni tingkah udik wanita tidak jelas dihadapannya.
"Apakah aku harus membantu orang yang telah memakiku? Bukankah sudah jelas kau yang tak berhati-hati. Sekarang malah menuduhku yang tidak-tidak untuk mempermalukanku? Wanita aneh." balas Davina malas.
"Tunggu! Sepertinya aku pernah melihatmu." ucap wanita itu mengingat wajah yang tidak asing baginya.
"Kau Davina kan?" tanya wanita itu.
Davina hanya memberikan tatapan dingin.
"Darimana kau tahu namaku?" tanya Davina datar.
"Jangan berlagak! Kau adalah mantan Nathan. Aku sudah menikah dan mengandung anaknya. Kau sengaja kan menabrakku tadi? Kau tidak senang kan aku bahagia bersama Nathan?" teriak wanita yang tak lain adalah Amelia, istri Nathan.
"Kau sudah gila? Aku sama sekali tidak mengenalmu. Lagipula mau kau menikah dengan pria itu dan mengandung anaknya bukanlah urusanku!" ucap Davina yang masih sabar meladeni Amelia.
"Tidak usah berpura-pura lagi. Aku tahu kau masih berharap Nathan kembali kepadamu kan? Dan kau menggunakan cara ini agar aku kehilangan bayiku kan?" teriak Amel yang kali ini memancing beberapa orang mulai mencibir Davina.
Amelia tersenyum senang karena bisa mempermalukan mantan kekasih suaminya.
"Terserah kau mau bilang apa aku tidak peduli." ucap Davina enggan meladeni drama Amelia yang sangat membosankan baginya.
"Kau! Jangan kira kau bisa lolos begitu saja! Kau harus memohon maaf padaku!" kata Amelia yang sudah berdiri dengan angkuh.
__ADS_1
Davina melirik Amel sekilas kemudian perlahan menghampirinya dengan tatapan dingin.
"Bagus! Kau harus minta maaf padaku sebelum kau menyesal." ucap Amel percaya diri.
Davina tersenyum meremehkan kemudian wajahnya semakin mendekati Amel.
"Kau dengar ya Nyonya Nathan yang terhormat. Aku tidak akan meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah aku perbuat. Jika dengan memperlakukanku seperti ini membuatmu mengira bisa menundukkan aku, kau salah Nyonya. Aku Davina bukanlah orang yang mudah disinggung." bisik Davina penuh penekanan membuat Amel merinding.
"Kau berani sekali mengancamku!" ucap Amel yang tidak terima dengan ucapan Davina.
"Oh iya kita sama sekali tidak saling mengenal seharusnya kau tidak mencari masalah denganku. Kalau kau mengira aku tidak terima berpisah dengan pria yang saat ini menjadi suamimu, kau salah besar Nyonya! Aku sama sekali tidak merasa sedih putus hubungan dengannya. Seorang pengkhianat memang cocok dengan penggoda!" kata Davina dengan kalimat menohok yang menyinggung perasaan Amel.
"Apa maksudmu?" tanya Amel tidak terima saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Davina.
"Tidak perlu aku perjelas. Aku doakan semoga kalian bahagia. Jangan sampai kita bertemu lagi ya. Perbuatanmu kali ini aku belum membalasnya." ucap Davina dengan tatapan yang membuat Amel ketakutan.
Davina berlalu begitu saja tanpa memperdulikan orang-orang yang berbisik membicarakan dirinya. Bagi Davina penilaian orang tidaklah penting dan tidak akan mempengaruhi siapa dirinya. Orang yang akan membencinya akan tetap membenci walaupun dirinya berbuat seribu kebaikan, begitu pula sebaliknya. Orang yang menyayangi Davina tidak perlu seribu alasan untuk tetap mendukung dan berada disisinya.
"Sial! Kenapa gadis itu bisa mempunyai aura menyeramkan seperti itu? Bukannya Nathan bilang dia adalah gadis biasa. Sepertinya aku harus menyelidiki siapa Davina sebenarnya." gumam Amelia yang semakin penasaran.
Amelia memberikan tatapan tajam kepada orang-orang yang mencemooh dirinya. Bukannya membuat malu Davina malah mempermalukan dirinya sendiri. Sepertinya Amel sudah memilih lawan yang salah.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit bosan." jawab Amel menutupi pertemuannya dengan Davina.
"Kau ingin kemana? Aku akan menemanimu." ucap Nathan menawarkan.
"Kau memang suami yang pengertian." kata Amel manja kemudian merangkul lengan Nathan.
"Kita ke kampus saja. Aku ingin segera mendapatkan cuti agar bisa segera menghabiskan waktu berdua denganmu." tambah Amel lagi membuat Nathan gemas.
"Kau ini. Baiklah ayo berangkat." ajak Nathan disetuji Amel yang penuh semangat.
"Aku akan membuatmu selalu menempel padaku agar kau tidak punya kesempatan untuk mengingat mantan kekasihmu itu." batin Amel tersenyum jahat.
Drt Drt
Ponsel Davina bergetar, ada panggilan nomor tidak dikenal membuat Davina enggan mengangkatnya.
__ADS_1
Drt Drt
Ponsel Davina kembali bergetar, kali ini panggilan ke lima dari nomor yang tak dikenal itu. Sepertinya orang itu tidak akan menyerah sebelum Davina menjawab panggilannya.
Davina menekan tombol merah tanpa sepatah katapun.
"Halo, Nona Davina ini aku Marvin." sapa Marvin khas dengan suara baritonnya.
"Oh ada perlu apa Tuan muda Harris menelponku?" tanya Davina dingin.
"Tidak perlu formal begitu, Nona. Bisakah Nona menjengukku hari ini?" tanya Marvin meminta dengan suara memelas.
"Maaf waktuku tidak senggang. Lagipula untuk apa aku menjenguk Tuan? Sepertinya Tuan tidak kekurangan pelayan." ucap Davina.
"Nona jangan begitu kaku. Kalau Nona menolak untuk menjengukku maka jangan salahkan aku memaksamu." kata Marvin sedikit mengancam.
"Oh Tuan sedang mengancamku? Sepertinya Anda telah salah menilaiku, Tuan." balas Davina tak gentar.
"Benarkah? Kita lihat saja apakah kau bisa melarikan diri Nona Davina?" kata Marvin terdengar meremehkan Davina.
Tiba-tiba enam pria berpakaian serba hitam mengepung Davina. Davina tersenyum licik kemudian mengambil ancang-ancang untuk melakukan perlawanan.
"Maaf Nona, sebaiknya Anda ikut dengan kami menemui Tuan muda tanpa perlawanan. Kami tidak ingin melukai wanita." ucap Thomas sopan.
"Oh lalu apa yang kalian lakukan ini? Enam pria mengeroyok seorang gadis yang lemah? Memalukan sekali." cibir Davina.
"Nona boleh menghina kami sepuasnya tapi mohon kerjasamanya untuk ikut dengan kami." kata Thomas.
"Aku tidak sudi!" tolak Davina ketus.
"Nyawa pengawal rahasia Nona ada ditangan kami. Saya harap Nona Davina bisa memikirkannya." ucap Thomas yang sudah melumpuhkan Orkan lebih dulu.
"Sialan kalian berani bermain denganku! Baiklah aku akan ikut dengan kalian, tapi perbuatan kali ini aku akan menghitung dan membalasnya dimasa depan." kata Davina penuh ancaman.
Bukan Davina tidak bisa melawan enam pria yang berada dihadapannya itu, Davina hanya tidak ingin membahayakan nyawa Orkan. Lagipula Davina yakin Marvin tidak akan berani berbuat macam-macam dengan dirinya. Davina mengikuti instruksi Thomas dengan patuh dan memasuki mobil hitam yang sudah menunggunya di loby.
"Aku ingin lihat permainan apa yang sudah kau persiapkan Tuan muda Harris?" gumam Davina.
__ADS_1
-BERSAMBUNG