Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 8 Nasehat Mama


__ADS_3

Setelah sampai di kamar kosnya, Davina segera membersihkan dirinya.


Setelah berganti pakaian Davina merebahkan dirinya diatas kasur kemudian membuka ponselnya.


Tiba-tiba teringat dengan percakapannya bersama Luna tadi sore, Davina pun melakukan pencarian informasi tentang Marvin Harris.


"Tolong kirimkan informasi tentang Marvin Harris kepadaku segera!" perintah Davina melalui panggilan suara.


"Baik, Boss." balas wanita yang merupakan bawahan Davina yang juga seorang hacker handal.


Tidak perlu menunggu lama, sebuah notif email masuk diponsel Davina. Tanpa ragu-ragu Davina mendownload file yang berisikan informasi tentang Marvin Harris.


Bola mata Davina membulat saat melihat foto wajah seorang Marvin Harris. Davina teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu.


"Rupanya dia adalah pria mesum itu." cibir Davina.


Selama ini Davina hanya mendengar dan membaca artikel tentang keluarga Harris. Wajar saja jika malam itu, Davina tidak mengenali pria yang sedang menguntitnya.


"Dia adalah tuan muda Harris, kenapa harus menguntitku? Seperti kurang kerjaan saja." gumam Davina heran.


"Apa mungkin seorang anak konglomerat melakukan hal konyol seperti itu? Disini juga tertulis kalau dia juga punya kekuasaan didunia hitam? Tapi saat aku menendangnya saja dia kesakitan. Aneh sekali." Davina semakin bingung dengan banyaknya pertanyaan yang muncul dikepalanya.


"Sepertinya aku perlu bertanya pada Ayah. Tapi besok sajalah kalau aku pulang kerumah. Tidak terlalu penting juga membahas pria aneh itu." kata Davina hingga ia pun terlelap dalam tidurnya.


*


*


*


"Nathan, bisakah Mama bicara padamu?" tanya Bella mengetuk kamar putra semata wayangnya.


"Iya, Mah. Masuklah." sahut Nathan dari balik pintu.


Bella tersenyum kemudian menghampiri Nathan yang sedang sibuk dimeja kerjanya.


"Apakah Mama mengganggumu?" tanya Bella.


"Tidak, Mah. Ayo di balkon saja." ajak Nathan disetujui oleh Bella.


Angin dingin menyambut keduanya, bulan dan bintang yang bersinar pun ikut mendukung suasana malam itu.


"Maafkan Nathan, Mah." ucap Nathan lirih.


"Mama dan Papa sudah memaafkanmu." balas Bella dengan tersenyum hangat.


"Nathan sudah mengecewakan Mama dan Papa." kata Nathan menyesal.


"Sudahlah... semuanya sudah terjadi. Penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Kau tidak bisa mengubah masa lalu tapi bisa memperbaiki masa depan. Fokuslah mempersiapkan pernikahanmu." ucap Bella sembari membelai lembut punggung putranya.


Nathan merasakan kehangatan yang seketika membuatnya lebih tenang. Apa yang dikatakan ibunya benar, mulai saat ini Nathan akan berusaha memperbaiki semuanya.


"Mama punya pertanyaan yang masih mengganjal dihati Mama." kata Bella menatap putranya.


"Apa itu, Mah?" tanya Nathan.

__ADS_1


"Bagaimana hubunganmu dengan Davina?" tanya Bella.


DEG!


Nathan dapat melihat tatapan sendu diwajah ibunya. Selama 5 tahun menjalani hubungan, Davina memang memiliki hubungan yang baik dengan kedua orangtua Nathan.


"Apakah dia sudah mengetahuinya?" tanya Bella yang dijawab anggukan Nathan.


"Dia gadis yang baik." ucap Bella kemudian menghela nafas panjang.


"Jodoh itu memang rahasia Tuhan, Nak."


Nathan hanya terdiam mendengar ucapan ibunya. Tak bisa dipungkiri, orangtua Nathan sudah memperlakukan Davina dengan sangat baik. Begitu juga sebaliknya.


"Gadis itu pasti sangat terluka, bukan? Mama berharap Vina bisa menghabiskan hidupnya bersama pria yang baik dan setia dengannya." harap Bella yang juga diamini oleh Nathan.


Dalam lubuk hati Nathan yang terdalam, Davina merupakan orang spesial yang pernah hadir dalam hidupnya. Kenangan bertahun-tahun masih tersimpan rapi di ingatan Nathan. Sebenarnya Davina tidak pernah melakukan kesalahan apapun kepada Nathan. Memang dirinyalah yang tidak bisa menahan nafsunya dan tergoda oleh gadis yang bisa memenuhi hasratnya.


"Dia memang baik. Tidak pantas untuk pria brengsek sepertiku." gumam Nathan.


"Yasudah Nak, kalau kau sudah mengakhiri hubunganmu dengan Davina. Jangan mempermainkan perasaan orang lain lagi. Jagalah calon istri dan anakmu." pesan Bella dengan senyum tipis.


"Terimakasih Mah, sudah mengingatkan. Nathan akan berusaha menjadi lebih baik dan bertanggungjawab." ucap Nathan mengulaskan senyum diwajahnya.


"Iya, Mama dan Papa berharap begitu." kata Bella kemudian mengelus lembut kepala Nathan.


"Sudah malam, istirahatlah Nak. Besok kita akan berkunjung kerumah orangtua Amel." ucap Bella mengingatkan.


"Baik, Mah. Mama juga harus istirahat. Titip salam untuk Papa." kata Nathan.


"Tidak kusangka akan menjadi papa muda secepat ini." gumam Nathan kemudian mengacak rambutnya.


Setelah puas barulah Nathan menutup pintu balkon dan berbaring dikasurnya.


"Aku masih berharap ini mimpi. Maafkan aku Davina." ucap Nathan lirih kemudian memejamkan matanya.


*


*


*


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu membangunkan Davina yang sedang tertidur pulas. Davina melihat ponselnya menunjukkan jam 9 malam.


"Astaga ternyata aku ketiduran. Pasti itu si Mely. Berani sekali menggangguku." umpat Davina yang masih berusaha mengembalikan kesadarannya.


"Berisik sekali. Apa kau mau aku pe-" perkataan Davina terhenti saat sosok dihadapannya tidak sesuai dengan tebakannya.


"Kau!" teriak Davina kemudian bergegas menutup kembali pintunya namun dengan cepat ditahan oleh seorang pria yang tak lain adalah Marvin.


"Pergi sekarang atau aku akan berteriak agar para warga menghajarmu!" ancam Davina namun tidak digubris oleh Marvin.


"Tenangkan dirimu. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam. Aku sudah menunggumu selama 2 jam disini." ucap Marvin.

__ADS_1


"Itu bukan urusanku dan aku juga tidak lapar!" sahut Davina ketus.


KRUK KRUK


"Sepertinya perutmu tidak bisa bekerjasama denganmu." ledek Marvin yang mendapat tatapan tajam dari Davina.


"Kalaupun aku lapar aku tidak sudi makan bersama pria mesum sepertimu." kata Davina ketus.


"Galak sekali. Aku hanya mengajakmu makan tapi malah mengataiku. Sakit sekali hatiku." ucap Marvin membuat Davina mual mendengarnya.


"Menjijikan sekali." cibir Davina.


"Bagaimana apakah Nona mau menerima ajakanku?" tanya Marvin lagi.


"Tidak!" kata Davina kesal kemudian menutup dan mengunci pintunya.


"Sial! Aku lengah. Seharusnya tidak kulepaskan pertahananku tadi." ucap Marvin kecewa.


"Aih.. Rupanya kelinci kecil ini galak sekali. Tapi jadi semakin menarik. Aku lebih tertantang untuk menaklukanmu, calon istriku." gumam Marvin dengan seringai diwajahnya kemudian dengan terpaksa memacu motornya.


"Pria mesum itu berani sekali! Kenapa aku malah membiarkan dia pergi begitu saja? Harusnya aku menghajarnya lagi agar tahu diri." sesal Davina.


"Harusnya dia itu menjaga image dirinya. Tapi kenapa malah bertindak seperti seorang kriminal saja. Apa motifnya sebenarnya?" gumam Davina bertanya-tanya.


Identitas Davina sudah disembunyikan dengan baik, tidak mungkin seorang Harris bisa mengakses data pribadi Davina. Kekuatan keluarga Carlos berada jauh diatas keluarga Harris.


"Harusnya tuan muda Harris tidak tertarik dengan gadis berlatar belakang biasa-biasa saja kan?" tanya Davina dalam hati.


"Ah! Untuk apa aku peduli dengan pria mesum itu." gerutu Davina mengusap wajahnya kasar.


"Mely, kau dimana?" tanya Davina dalam telpon.


"Aku asih dikampus. Ada rapat panitia untuk kegiatan study tour 3 bulan lagi. Sebentar lagi pulang." jawab Mely menjelaskan.


"Baguslah. Tolong belikan aku makanan." pinta Davina.


"Baik. Nona mau makan apa?" tanya Mely.


"Sepertinya sate madura yang diseberang kampus itu lumayan juga." jawab Davina.


"Oke. Pesanan Nona akan sampai dalam waktu 20 menit." kata Mely kemudian panggilan pun terputus.


"Pria itu benar-benar membuatku kelaparan! Menyebalkan." umpat Davina yang masih kesal.


Benar saja dalam waktu 20 menit benar-benar datang membawa bungkusan satu porsi sate ayam madura dan juga lontong.


"Punyamu mana?" tanya Davina melihat Mely hanya membawa satu kantong plastik.


"Aku sudah makan malam bersama paniti di kampus, Nona." jawab Mely sopan.


"Hem baguslah. Yasudah aku sudah tidak sabar menghabiskan sateku ini. Kau kembalilah kekamarmu, istirahat." ucap Davina.


"Baik, Nona." sahut Mely kemudian meninggalkan Davina dan menuju kamarnya yang berada tepat disebelah kamar majikannya.


"Sepertinya Nonaku sangat kelaparan. Untung saja tadi antriannya tidak begitu banyak." gumam Mely.

__ADS_1


-BERSAMBUNG


__ADS_2