Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 93 Luka Lama


__ADS_3

"Bagaimana keadaan cucu-cucuku?" tanya Julia panik yang datang bersama dengan Johan.


"Nona Davina masih dalam penanganan dokter di ruang ICU, Tuan Marvin sedang menunggunya." jawab Orkan memberitahu.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Julia khawatir kemudian bergegas menjenguk cucunya.


"Sudah ada hasil pemeriksaan?" tanya Johan.


"Kami masih menunggu." jawab Orkan.


"Cucuku." panggil Julia seketika Marvin menoleh dan berhambur ke pelukannya.


"Nenek, Marvin gagal, Nek. Marvin tidak bisa melindungi istriku." ucap Marvin terisak.


Julia bisa merasakan kesedihan Marvin, ia pun membelai punggung cucunya yang bergetar.


"Tenanglah, istrimu pasti baik-baik saja." kata Julia menenangkan.


"Marvin takut, Nek." ucap Marvin lirih seketika membuat hati Julia mencelos.


Julia kembali teringat saat Marvin kehilangan kedua orangtuanya. Kepedihan yang cucunya rasakan saat itu sama persis dengan hari ini. Julia mendekap erat cucunya dan tak terasa ikut menitikkan airmatanya.


Pemandangan haru itu tak luput dari Adam, Sera, Johan dan Orkan. Mereka bisa merasakan rasa bersalah dan kekhawatiran Marvin.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Julia saat Marvin sudah mulai tenang.


"Ada yang mengikuti kami lalu menabrak kami, Nek. Saat itu aku sudah memeluk istriku dan melindunginya namun tanpa kusadari saat mobil kami hendak menabrak mobil yang datang dari arah berlawanan, Vi-vina..." jawab Marvin terjeda dengan suara yang bergetar.


"Di-dia menarikku sehingga posisi kami berbalik dan dia yang menerima hantaman itu demi melindungiku. A-aku melihat darah keluar dari pelipisnya lalu tak sadarkan diri. Nenek, aku gagal, Nek." lanjut Marvin membuat orang-orang yang mendengarnya ikut menangis.


"Jangan salahkan dirimu. Kau sudah melakukan yang terbaik begitu juga dengan istrimu. Dia juga ingin melindungimu." ucap Julia.


"Tapi harusnya aku sebagai suami yang melindunginya, Nek. Harusnya aku yang terbaring diruangan itu, bukan istriku." ucap Marvin histeris.


"Sudah cukup! Seorang pria harus tangguh. Jika begini saja kau lemah, bagaimana kau bisa melindungi putriku kedepannya?" sela Adam tak ingin kesedihan semakin berlarut-larut.


"Ayah, maafkan aku." ucap Marvin.


"Tidak ada yang menyalahkanmu. Bersihkan dirimu, kau juga butuh perawatan. Saat ini kita hanya bisa mendoakan Davina baik-baik saja." kata Adam melihat lengan Marvin yang berdarah.


Marvin menatap Julia yang menganggukkan kepalanya. Seorang perawat pun segera mengajak Marvin ke ruang pemeriksaan.


"Kau Sera Carlos? Ibu Davina?" tanya Julia mendekati Sera.


"Iya, Nyonya." jawab Sera sopan.


"Aku Julia, Nenek Marvin. Ayo duduklah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ajak Julia.

__ADS_1


"Baik, Nyonya." sahut Sera patuh.


"Jangan memanggilku Nyonya. Panggil saja aku ibu. Mungkin menantuku jika masih hidup juga seumuran denganmu." ucap Julia.


"Terimakasih sudah melahirkan Davina, gadis yang sangat baik dan pemberani." kata Julia.


"Ibu jangan berkata begitu." ucap Sera.


"Aku sudah lama tidak melihat Marvin begitu bahagia sejak kedua orangtuanya pergi meninggalkannya. Sampai suatu hari ia bertemu dengan putrimu. Aku bisa melihat wajahnya yang kembali cerah dan jiwanya bersemangat." kata Julia mengawali ceritanya.


"Dan hari ini, aku kembali melihat ketakutannya. Marvin begitu takut kehilangan orang yang dicintainya. Meskipun bagi orang luar ia terkenal kejam dan dingin namun sebenarnya dia memiliki hati yang sangat rapuh." tambah Julia kali ini dengan terisak.


"Bu.. Aku tahu maksud Ibu. Kami sebagai orangtua tahu betul bagaimana perasaan mereka. Aku juga bisa melihat kebahagiaan diwajah putriku saat bersama Marvin. Sebelumnya dia pernah dikecewakan dan Marvin datang menyembuhkan lukanya. Dan terbukti hari ini bagaimana dia melindungi suaminya, begitulah perasaannya." ucap Sera.


"Kau benar-benar sangat pengertian. Pantas saja Davina bisa memiliki karakter seperti itu." puji Julia.


"Ibu berlebihan. Sudah lama putriku hidup dengan menyembunyikan identitasnya. Kami sebagai orangtua merasa sangat bersalah. Terlebih lagi hari ini, dia harus menderita bukan karena kesalahannya. Tapi karena latar belakangnya anak dari Carlos. Banyak musuh yang mengincarnya." ucap Sera bersedih.


Julia menggenggam tangan Sera erat.


"Tidak ada anak yang bisa memilih ingin terlahir dari keluarga mana. Seandainya aku bisa memilih, aku juga tidak ingin melibatkan cucuku dengan urusan keluarga Harris. Aku juga tidak ingin membahayakan nyawanya, namun itu tidak mungkin kan?" kata Julia.


"Ibu benar." sahut Sera menghela nafas panjang.


Orkan menerima panggilan suara setelah itu mendekati Adam dan membisikkan sesuatu.


"Ayo kita temui dia." ajak Adam.


"Jangan terbawa emosi. Jaga dirimu." ucap Sera berpesan.


"Baiklah. Kabari aku jika dokter sudah selesai menangani putri kita." kata Adam mengecup kening Sera sekilas.


Setelah itu Adam pergi bersama Orkan.


Suasana dilorong rumah sakit semakin hening.


"Nenek, Ibu.. Apakah dokter belum keluar?" tanya Marvin yang datang dengan lengan yang sudah terbalut perban.


Julia dan Sera menggelengkan kepalanya serempak.


CEKLEK!


Mata mereka menuju pada pintu ruangan yang terbuka.


"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Marvin tak sabar.


"Pendaharan dikepalanya sudah berhenti. Kami masih harus menunggu pasien sadar untuk memastikan kondisinya karena benturan dikepalanya cukup keras." jawab dokter.

__ADS_1


"Apakah itu berbahaya?" tanya Julia.


"Nyonya tenang saja, pasien sudah melewati masa kritisnya. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan pasien." jawab dokter itu yakin.


"Baik, kami percaya padamu." sahut Julia.


"Terimakasih, Nyonya." ucap dokter pria paruh baya yang bernama Faris.


"Apakah aku bisa melihatnya?" tanya Marvin.


"Kami akan memindahkannya ke kamar inap lebih dulu. Setelah itu barulah kalian bisa menjaganya." jawab Faris.


"Baiklah." sahut Marvin lega.


Kedua orang perawat mendorong ranjang Davina. Marvin tidak tega melihat istrinya yang terbujur lemah dengan perban dikepalanya.


"Aku pasti akan membuat perhitungan dengannya." batin Marvin bertekad.


...****************...


"Jadi benar ini semua perbuatan Anton?" tanya Adam marah.


"Benar Tuan, kami sudah memberikan pelajaran pada orang suruhannya." jawab Orkan.


"Ayo cepat, aku sudah tidak sabar memberikan pelajaran padanya. Peringatanku benar-benar diabaikan maka jangan salahkan aku bertindak kejam sekarang." ucap Adam.


Dengan segera Adam menelpon orang kepercayaannya.


"Hallo, Tuan." sapa Darwin.


"Buat keluarga Millano hancur tak tersisa. Kalau bisa buat namanya hilang selama-lamanya." perintah Adam.


"Baik, Tuan." sahut Darwin.


"Kali ini Tuan benar-benar marah." batin Orkan merinding.


"Akan aku tunjukkan bagaimana nasib orang yang berani melawan Carlos." gumam Adam menyeringai.


Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, sampailah Adam dan Orkan didepan markas Anton.


"Tuan, sepertinya mereka sudah melarikan diri." ucap Orkan melihat markas yang sangat sepi.


"Heh.. Rupanya dia ingin bermain denganku. Baiklah kali ini aku tidak akan segan lagi." kata Adam.


"Maaf Riana, aku tidak bisa menepati janjiku. Dia sudah berani mengancam nyawa putriku, aku tidak akan berbelas kasihan lagi padanya." batin Adam.


Adam kembali menghubungi Darwin.

__ADS_1


"Blokir semua penerbangan, pelabuhan dan seluruh akses keluar masuk kota A." perintah Adam tegas.


-BERSAMBUNG


__ADS_2