Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 9 Gadis Pahlawan


__ADS_3

"Tuan, ada seseorang yang mengakses informasi pribadi Tuan." suara Johan melalui panggilan suara.


"Apakah orangnya terdeteksi?" tanya Marvin.


"Tidak, Tuan. Sepertinya dia seorang hacker handal karena tidak meninggalkan jejak sama sekali. Apakah saya harus menyelidikinya lebih lanjut?" kata Johan meminta persetujuan dari Marvin.


"Tidak perlu. Kau hanya perlu memastikan bahwa citra diriku adalah pria baik-baik." ucap Marvin membuat Johan bingung.


"Maksud Tuan?" tanya Johan tak mengerti.


"Jangan sampai ada skandal apapun yang tertulis dalam informasi pribadiku." jawab Marvin menjelaskan.


"Tentu, Tuan. Saya pastikan semuanya bersih." sahut Johan mantap.


"Bagus." lalu Marvin mematikan panggilan.


Marvin tersenyum tipis, sepertinya hati Marvin sedang berbunga-bunga.


"Kelinci kecilku sudah mulai beraksi. Aku tahu kau bukan gadis biasa, Davina. Aku menantikan kejutan darimu." gumam Marvin diikuti senyuman aneh diwajahnya.


"Aku juga harus mulai bertindak. Sepertinya aku harus lebih gila untuk membuatmu tertarik." ucap Marvin yang sudah memikirkan berbagai cara untuk kembali mendekati Davina.


"Tapi kenapa aku semalam bertindak konyol seperti itu ya? Jelas saja dia mengusirku. Pasti dia mengira bahwa aku pria jahat. Dasar bodoh!" kata Marvin merutuki kebodohan dirinya sendiri.


"Rupanya pepatah cinta bisa membuat orang bodoh itu kenyataan." gumam Marvin.


Marvin membuka laptopnya untuk mencari tahu identitas Davina namun nihil. Data pribadi Davina dan orangtua Davina tidak bisa diketahui. Hanya nama, tanggal lahir dan riwayat pendidikannya saja. Mungkin bagi orang awam, mereka akan mempercayainya begitu saja. Tapi berbeda dengan Marvin, dengan sangat mudah menyadari bahwa ada yang ganjil dengan identitas Davina. Marvin tidak ingin terlalu mencolok, ia akan menulusurinya dengan perlahan sampai menemukan titik terang.


"Sepertinya ada kekuatan besar yang melindungimu. Siapa kau sebenarnya, kelinci kecilku? Aku benar-benar dibuat penasaran olehmu." gumam Marvin.


Entah apa yang membuat Marvin begitu tertarik dengan Davina. Pertemuan pertamanya saja hanya sekedar menatap gadis itu dari kejauhan. Untuk pertama kalinya Marvin begitu penasaran dengan perempuan. Bahkan Marvin tidak memperdulikan identitas dirinya saat berhadapan dengan Davina. Benar-benar bukan sosok tuan muda Harris yang dikenal oleh banyak orang.


"Setelah kau mengetahui siapa diriku, akankah kau memberiku kesempatan untuk mendekatimu?" tanya Marvin pada dirinya sendiri.


Cinta, memang aneh. Terkadang membuat seseorang berperilaku tidak wajar. Seperti yang dilakukan oleh Marvin. Sungguh lucu.


*


*


*


Hari telah berganti, cahaya matahari yang memasuki ventilasi ruangan membangunkan gadis yang masih tertidur pulas pagi itu.


"Nyenyak sekali tidurku." ucap Davina sembari meregangkan tubuhnya.


Davina sesekali masih menguap dan mengucek matanya agar tetap terbuka. Hari ini jadwal kuliah Davina mulai siang hari. Tapi Davina tidak ingin bersantai saja. Semalam Davina sudah memiliki rencana untuk berolahraga pagi ini.


Davina bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Segar sekali." ucap Davina.


Davina sudah siap dengan setelan trainingnya. Davina menguncir kuda rambutnya kemudian mengenakan topi. Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Davina bergegas keluar dan tak lupa mengunci kamarnya.


Davina melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum memulai lari paginya. Setelah dirasa cukup, Davina mengatur timer pada jam tangannya dan mulai berlari santai. Udara pagi ini cukup menyegarkan dan membuat Davina lebih rileks.


Setelah 20 menit berlari, Davina berhenti di sebuah taman kota. Davina mendapati banyak fasilitas umum olahraga yang terdapat ditaman itu. Davina memilih tiang pull up untuk bergelantungan dan meregangkan tubuhnya. Setelah itu Davina berpindah ke alat sith up, dan melakukan 25 repetisi 10 set. Lumayan juga.


Keringat Davina sudah mulai bercucuran. Davina menuju pedagang asongan dan membeli sebotol air mineral.


"Tubuhku berasa lebih segar sekarang." gumam Davina setelah meneguk setengah botol air ditangannya.


"Istirahat 10 menit, baru pulang." ucap Davina kemudian duduk bersantai disalah satu kursi taman.


Pepohonan rindang yang memberikan angin sepoi-sepoi membuat Davina semakin bersemangat untuk menjalani hari ini. Seolah Davina sudah melupakan pengkhianatan mantan kekasihnya. Tapi hidup memang begitu kan? Terus berjalan maju, apa yang terlewat tidak bisa kembali. Apa yang telah terjadi harus dihadapi.

__ADS_1


Mungkin masih ada sisa sakit dan kecewa didalam hati Davina, namun bukan berarti membatasinya untuk melanjutkan hidup. Untung saja Davina sudah terlatih mandiri sejak kecil. Pendidikan dan pengajaran yang Davina alami mengharuskan dirinya menjadi wanita yang kuat, mandiri dan tidak mudah dimanipulasi.


Meskipun seorang wanita, namun Davina adalah satu-satunya penerus keluarga Carlos. Kekuasaan dan kekayaannya pasti akan jatuh ketangannya dan Davina memiliki tanggungjawab yang sangat berat. Maka dari itu orangtua Davina sudah mempersiapkannya menjadi calon pemimpin selanjutnya.


Kehidupannya dikota A ini juga merupakan ujian untuknya. Apakah Davina mampu membuktikan kalau dirinya layak menjadi penerus Carlos atau tidak.


10 menit berlalu, Davina mulai berlari lagi untuk pulang menuju kosnya. Davina memperhatikan kendaraan yang lalu lalang, pelajar yang sedang menyeberangi jalan dan juga beberapa pedagang yang baru buka dipinggiran jalan. Hiruk pikuk aktivitas manusia dipagi hari membuat Davina tersenyum tipis.


"Tolong ada copet!" terdengar suara perempuan paruh baya meminta tolong.


Davina berlari menuju sumber suara, terlihat seorang nenek sedang berusaha mempertahankan tasnya dari seorang pria berbadan kekar.


"Hey! Hentikan itu!" teriak Davina kepada pencopet.


"Gadis jangan ikut campur kalau kau masih sayang dengan nyawamu." ucap pria itu dengan tatapan merendahkan.


"Harusnya aku yang berkata begitu." sahut Davina kemudian menarik tas dan mengamankan wanita paruh baya ke bangku pinggir jalan.


"Nenek tunggu disini ya. Aku akan memberi sedikit pelajaran untuk pria itu." bisik Davina.


"Berani sekali kau! Kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah penguasa blok ini." perkataan pencopet itu hanya mendapat senyuman tipis dari Davina.


"Kau menertawaiku? Kurang ajar!" pria itu semakin kesal dan segera memberikan serangan kepada Davina.


"Gawat gadis itu sepertinya dalam bahaya." gumam nenek yang diselamatkan oleh Davina.


Serangan yang diberikan pencopet datang bertubi-tubi namun Davina dengan santai menangkisnya.


Wanita paruh baya itu bergegas menelpon seseorang untuk meminta bantuan.


Pria yang berbadan kekar itu semakin marah karena dia sudah mengeluarkan banyak tenaga namun gadis kecil dihadapannya malah membuatnya seperti lelucon.


"Sialan! Ternyata gadis kecil sepertimu tangguh juga." ucap pencopet dengan seringai licik.


Melihat serangan yang akan diberikan oleh pencopet yang tidak tahu malu itu, Davina mundur beberapa langkah.


"Sepertinya kau sudah ketakutan ya? Tapi sudah terlambat, kau membuatku marah." cibir pria itu.


"Sial jangan lari!" teriak pencopet itu.


Davina berlari kemudian berbalik arah dan melakukan lompatan setelah itu 3 buah tendangan mengenai bagian perut, kepala dan terakhir kaki seketika membuat pria itu bertekuk lutut. Pencopet itu tidak bisa bergerak bahkan langsung ambruk tidak mampu menahan rasa sakit akibat serangan Davina. Hanya melawan sekali langsung menumbangkan lawan.


"Nenek tidak apa-apa?" tanya Davina sopan.


"Aku baik-baik saja, Nak." jawab wanita paruh baya itu.


"Apakah Nenek disini sendirian? Dimana keluarga Nenek?" tanya Davina melihat sekelilingnya.


"Aku sudah menelpon cucuku, Nak." jawab nenek itu lalu memberikan senyuman kepada Davina.


"Syukurlah kalau begitu. Maaf ya Nek, saya harus pergi karena ada kuliah. Nenek tidak apa-apa kan menunggu disini sendirian?" pamit Davina.


"Bisakah kau memberitahu namamu kepada Nenek?" tanya wanita paruh baya itu.


Davina tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


"Davina, Nek." jawab Davina kemudian meninggalkan wanita itu.


"Nenek, nenek tidak apa-apa kan?" tanya Marvin panik.


Ternyata wanita paruh baya yang diselamatkan Davina adalah nenek Marvin, Julia Harris.


Julia memukul pundak cucunya itu.


"Aduh! Kenapa nenek malah memukulku?" protes Marvin tak terima.

__ADS_1


"Lihat itu pencopetnya." ucap Julia sambil menunjuk ke arah dimana seorang pria sudah terkapar dipinggir jalan.


"Wow! Siapa yang telah menolong Nenek?" tanya Marvin kemudian meringis melihat kondisi pencopet yang menyedihkan itu.


"Untung saja seorang gadis datang tepat waktu. Kalau Nenek mengandalkanmu sepertinya Nenek yang akan berada diposisi itu sekarang." jawab Julia, ada sedikit rasa kesal karena cucunya tidak datang lebih cepat.


"Mana mungkin seorang gadis bisa menaklukan pria itu, Nek? Jangan-jangan dia juga salah satu komplotan dari pencopet itu?" tanya Marvin curiga.


BUG!


Satu tinju melayang di perut Marvin.


"Nenek kenapa memukulku lagi?" gerutu Marvin.


"Sejak kapan otakmu menjadi konslet seperti ini? Kalau dia salah satu dari mereka, Nenekmu ini pasti langsung mengetahuinya." ucap Julia yang dibenarkan oleh Marvin.


Walaupun umurnya sudah berada di usia senja, namun kemampuan membaca musuh Julia masih tetap sama seperti saat muda. Hanya saja karena kondisi fisiknya jadi sekarang tidak bisa melakukan perlawanan apabila diserang oleh seseorang.


Marvin berjalan mendekati pencopet yang masih meringis kesakitan.


"Sepertinya kau bertemu dengan lawan yang salah." ucap Marvin mengasihani.


"Johan tolong bereskan tikus ini!" perintah Marvin kepada Johan yang sedari tadi mengikuti dibelakangnya.


"Baik Tuan." sahut Johan kemudian menyeret pria itu untuk diberikan pelajaran lebih lanjut.


"Ayo kita pulang, Nek." ajak Marvin menggandeng neneknya kemudian menuju ke mobil.


10 menit berlalu, Johan sudah kembali dan mengemudikan mobilnya menuju kediaman Harris.


"Siapa sebenarnya gadis muda itu? Kenapa dia bisa menguasai teknik tendangan itu?" tanya Julia dalam hati.


Julia teringat dengan mendiang suami dan putranya saat masih muda yang berlatih keras untuk menguasai teknik beladiri seperti yang dilakukan oleh Davina.


"Teknik itu hanya bisa dikuasai oleh pemimpin mafia kelas kakap bahkan pembunuh bayaran level tertinggi. Sekali tendangan langsung melumpuhkan lawannya." gumam Julia mengingat Davina yang melakukan teknik itu dengan sangat mudah. Seperti sudah terbiasa dan benar-benar menguasainya.


"Apa mungkin dia salah satu keturunan dari empat keluarga misterius itu?" tanya Julia dalam hati.


"Tapi tidak ada informasi kalau mereka mempunyai penerus perempuan." batin Julia semakin bingung.


"Sepertinya aku harus menyelidiki siapa gadis itu." tekad Julia dalam hati.


"Nenek? Apa yang sedang Nenek pikirkan?" tanya Marvin khawatir karena sedari tadi neneknya hanya diam saja.


"Nenek berpikir bagaimana kalau kau menikahi gadis yang sudah menyelamatkan Nenek?" tanya Julia begitu saja.


"Tidak mau! Aku sudah menemukan calon istriku, Nek." tolak Marvin tegas.


"Gadis yang menolong Nenek tadi mempunyai kemampuan beladiri tingkat tinggi. Sepertinya kalian akan cocok melindungi satu sama lain." kata Julia menawarkan.


"Nenek jangan lupa perjanjian kita kemarin." ucap Marvin memperingatkan.


Julia hanya tersenyum melihat reaksi cucunya.


"Sepertinya kau benar-benar tertarik dengan gadismu itu. Kita lihat saja nanti." gumam Julia.


-BERSAMBUNG


Maaf ya Readers, episode ini di upload ulang karena tadi belum selesai tapi sudah terkirim 😅


Terimakasih antusiasnya dengan novel keduaku.


Mohon dukungannya yaa 🤗


Tinggalkan like, komen dan vote juga ya!

__ADS_1


__ADS_2