Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 24 Kelinci Imut


__ADS_3

"Vina, jangan tinggalkan aku." teriak Marvin yang terus mengejar Davina.


Davina justru semakin mempercepat langkahnya tidak memperdulikan teriakan Marvin.


"Vina!" panggil Marvin sekali lagi namun Davina tidak menoleh sedikitpun.


Marvin menghembuskan nafas kasar kemudian bergegas berlari dan menghadang langkah Davina.


"Aaaww!" pekik Davina terkejut.


"Kau gila? Kenapa berhenti tepat dihadapanku? Dadamu itu keras sekali! Keningku tadi saja masih terasa sakit." gerutu Davina kesal.


"Maaf. Maafkan aku." ucap Marvin lembut.


Davina menengadahkan kepalanya dan bisa melihat wajah tampan Marvin dihadapannya.


DEG!


Tatapan mata keduanya saling bertemu. Jantung Marvin dan Davina berdetak semakin cepat.


"Maafkan aku. Jangan marah padaku ya?" pinta Marvin dengan tatapan lembut.


Davina merasakan desiran aneh yang mengalir dihatinya saat melihat ekspresi Marvin.


"Kenapa kau diam?" tanya Marvin saat tidak mendapat respon dari Davina.


Davina tersadar kemudian menghela nafas pendek.


"Hem. Aku terima maafmu. Sekarang menyingkirlah dari hadapanku." jawab Davina datar.


"Sepertinya kau belum tulus memaafkanku." ucap Marvin lirih.


Davina kembali menghela nafas panjang. Davina sudah menebak pasti pria dihadapannya itu akan mendramatisir keadaan jika dirinya tidak memaafkan Marvin.


"Aku memaafkanmu." kata Davina dengan tersenyum tipis.


Marvin ikut tersenyum saat melihat senyuman Davina.


"Cantik." ucap Marvin.


"Kau barusan bilang apa?" tanya Davina yang mendengar ucapan tidak jelas dari Marvin.


"Terimakasih. Aku bilang terimakasih karena kau sudah memaafkan aku." jawab Marvin kikuk.


"Oh oke." sahut Davina.


"Yasudah, kosku tinggal beberapa meter saja dari sini. Kau bisa memberitahu asistenmu untuk menjemputmu sekarang." kata Davina.


"Kau mengusirku?" tanya Marvin memelas.


"Lalu?" kata Davina balik bertanya.


"Baiklah. Tapi kelak kalau kita sudah menikah, aku akan selalu berada disampingmu. Kau tidak boleh mengusirku." ucap Marvin membuat Davina melongo.


"Mimpi saja!" sahut Davina ketus kemudian menggeser langkahnya dan berjalan meninggalkan Marvin.


"Sial! Lagi-lagi aku ditinggalkan." gumam Marvin.


"Tunggu aku, aku pasti bisa menaklukanmu kelinci kecilku." ucap Marvin percaya diri didalam hati.


Diam-diam Davina menyunggingkan senyuman tipis diwajahnya. Saat bersama Marvin walaupun sering membuatnya kesal namun bisa mengembalikan moodnya yang sudah tidak karuan seharian.


"Tuan, sepertinya Nona sudah mulai menerima tuan muda Harris." lapor Orkan kepada majikannya, Adam Carlos melalui panggilan suara.

__ADS_1


"Hem. Bagaimana dengan pendapatmu?" tanya Adam.


"Saya belum bisa memastikan motif tuan muda Harris mendekati Nona Davina, Tuan." jawab Orkan.


"Baiklah kau pantau saja terus hubungan mereka. Jika kau menemukan sesuatu yang mencurigakan dari Marvin segera laporkan padaku." titah Adam.


"Baik Tuan." sahut Orkan patuh.


"Apa sebenarnya niatmu Marvin? Kalau kau sampai menyakiti putriku maka aku tidak akan tinggal diam." gumam Adam.


"Ada apa Ayah? Apakah terjadi sesuatu dengan Vina?" tanya Sera melihat wajah suaminya yang berkerut.


Adam menghembuskan nafas kasar kemudian memeluk istrinya erat.


"Ada apa Ayah?" tanya Sera semakin penasaran.


"Kalau putri kita menikah dalam waktu dekat, bagaimana menurutmu?" tanya Adam membuat Sera membulatkan kedua bola matanya.


"Menikah? Dengan siapa?" tanya Sera melepaskan pelukan suaminya.


Sera memberikan tatapan tajam kepada Adam.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Adam heran.


"Ayah sudah berjanji tidak akan melibatkan putri kita dalam perjodohan." jawab Sera mengingatkan.


"Iya, aku tidak akan mengingkarinya." sahut Adam.


"Lalu?" tanya Sera bingung.


"Saat ini ada seorang pria yang mendekati Davina." jawab Adam memberitahu.


"Benarkah? Siapa pria itu?" tanya Sera penasaran.


"Apakah yang Ayah maksud itu Marvin? Marvin Harris?" tanya Sera memastikan.


"Iya, siapa lagi? Hanya Marvin satu-satunya penerus keluarga Harris." jawab Adam.


"Tidak mungkin." ucap Sera tak percaya.


"Awalnya aku juga begitu. Tapi Orkan selalu melaporkan padaku kalau akhir-akhir ini Davina menjadi lebih sering berinteraksi dengan Marvin." kata Adam menjelaskan.


"Terlebih Davina pernah menyelamatkan Marvin dari kecelakaan beberapa hari yang lalu." tambah Adam.


"Bagaimana ini, Yah?" tanya Sera.


"Bagaimana apanya?" Adam balik bertanya.


"Keluarga Harris memang kekuatannya tidak sebanding dengan keluarga Carlos. Tapi kemampuan Marvin itu tidak bisa diremehkan. Aku takut kalau pria itu punya motif tersembunyi kepada putri kita." jawab Sera khawatir.


"Atau jangan-jangan dia sudah tahu identitas asli Vina?" tanya Sera panik.


Adam memeluk Sera lalu memberikan belaian lembut pada punggung istrinya.


"Kau tidak perlu panik. Kekuatan Harris tidak akan bisa menemukan identitas putri kita." jawab Adam yakin.


Sera menghembuskan nafas lega kemudian menyusupkan wajah ke dada bidang suaminya.


"Sepertinya aku harus memastikannya sendiri." ucap Adam mantap.


"Tidak Ayah. Itu akan membuat Marvin curiga dan membongkar identitas Vina." cegah Sera.


"Lalu harus bagaimana? Aku tidak ingin putri kesayanganku dipermainkan oleh pria. Cukup si tikus kecil itu yang pernah menyakiti Vina." kata Adam mengingat mantan kekasih Vina, Nathan.

__ADS_1


"Ayah minta tolong Orkan dan Mely saja untuk menyelidiki niat Marvin Harris yang sesungguhnya." ucap Sera.


"Jangan membuat pergerakan yang mencurigakan. Kita belum bisa memastikan apakah dia kawan atau lawan." kata Sera mengingatkan membuat Adam tersenyum.


"Kau memang istri yang bisa kuandalkan. Selalu saja mengingatkan aku untuk tidak gegabah. Terimakasih istriku." ucap Adam mengeratkan pelukannya.


"Tentu." sahut Sera.


Kembali ke kota A.


"Aku sudah sampai." ucap Davina memberitahu.


"Iya, masuklah dan segera beristirahat. Angin malam tidak terlalu baik untuk kesehatan." kata Marvin penuh perhatian.


"Dimana asistenmu?" tanya Davina yang belum melihat mobil datang untuk menjemput Marvin.


"Dia dalam perjalanan." jawab Marvin.


"Oh, yasudah." sahut Davina.


"Terimakasih Vina." ucap Marvin dengan senyum tampannya.


Tak bisa dipungkiri senyuman Marvin membuat Davina terpukau. Tapi bukan Davina kalau dirinya tidak bisa menjaga image dan tetap memasang wajah dingin.


Davina hanya menganggukan kepalanya.


"Lain kali bolehkah aku mengajakmu berkencan?" tanya Marvin hati-hati.


Davina tidak langsung menjawab, ia menatap Marvin cukup lama.


"Kalau kau tidak setuju katakan saja. Aku tidak akan memaksa." kata Marvin sadar diri karena tidak mendapat jawaban dari Davina.


Davina terkekeh membuat Marvin mengernyitkan keningnya.


"Kenapa kau malah tertawa? Apa yang lucu?" tanya Marvin heran.


"Kau itu serius sekali. Kabari saja, kalau aku bisa maka akan aku pertimbangkan." jawab Davina yang masih terkekeh.


Marvin tersenyum, dirinya terpesona mendapati tawa kecil Davina yang memperlihatkan kecantikannya. Baru pertama kali Marvin bisa menyaksikan ekpsresi yang berbeda dari Davina yang membuatnya semakin jatuh hati.


"Aku suka tawamu. Benar-benar cantik." puji Marvin tulus dari lubuk hati yang paling dalam.


BLUSH!


Davina segera menghentikan tawanya lalu menundukkan wajahnya. Marvin bisa melihat wajah Davina yang bersemu merah.


"Kenapa tiba-tiba wajahmu memerah? Apa kau sakit?" tanya Marvin sengaja menggoda Davina.


"Ti-tidak." jawab Davina gugup.


"Lalu? Apakah kau baru saja tersipu?" goda Marvin lagi.


"Aku masuk dulu. Selamat malam." pamit Davina bergegas masuk ke kos meninggalkan Marvin.


"Selamat malam. Semoga mimpi indah cantik." balas Marvin yang membuat Davina semakin salah tingkah dan segera masuk ke kamar kosnya.


Marvin terkekeh melihat tingkah Davina yang berbeda dari biasanya.


"Kelinciku kalau malu ternyata imut sekali." batin Marvin menatap kepergian Davina.


"Aku semakin penasaran dan menantikan hal yang berbeda dari dirimu, Davina." gumam Marvin tersenyum menyeringai.


"Sial! Kenapa aku bisa salah tingkah begini? Aaarrggghhh semua gara-gara pria aneh itu!" gerutu Davina yang sudah berada didalam kamarnya.

__ADS_1


-BERSAMBUNG


__ADS_2