Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 91 Punya Saingan


__ADS_3

"Kenapa kau diam saja? Apakah makanannya tadi tidak sesuai dengan seleramu?" tanya Marvin yang fokus dengan kemudinya.


"Tidak, aku hanya merindukan orangtuaku saja." jawab Davina.


"Kau ingin menemui mereka? Aku akan mengantarkanmu." tanya Marvin.


"Emm.. Sebaiknya aku telfon Ayah dulu." sahut Davina mengeluarkan ponselnya dan memanggil nomor ayahnya.


"Ada apa, Nak?" tanya Adam.


"Ayah masih lama disini kan?" tanya Davina.


"Hem.. Apakah putriku akhirnya merindukanku?" tanya Adam menggoda Davina.


"Ayah.. Vina serius." sahut Davina membuat Adam terkekeh.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan dengan Ayah?" tanya Adam mengerti isi hati putrinya.


"Iya, Yah." jawab Davina jujur.


"Kemarilah. Ayah akan menunggumu." pinta Adam.


"Baik, Yah. Vina dan Marvin sedang dalam perjalanan." ucap Davina.


"Berhati-hatilah. Ayah dan Ibu akan menunggu kalian." kata Adam setelah itu panggilan suara terputus.


"Bagaimana?" tanya Marvin.


"Kita ke hotel yang kemarin." jawab Davina.


"Baik." sahut Marvin bersemangat.


Davina menatap Marvin dengan mengerutkan keningnya.


"Kenapa dia terlihat aneh lagi? Apa yang sebenarnya ia pikirkan?" gumam Davina.


...****************...


"Sial, aku tidak bisa menemukan apapun! Kenapa identitas Davina tidak terdeteksi sama sekali begitu juga tentang keluarga Harris." gerutu Amel kesal.


"Sia-sia aku membayar orang untuk mencari informasi tentang mereka." ucap Amel kecewa.


"Apa aku harus bertanya pada Nathan? Tidak. Aku tidak ingin dia mengingat mantannya lagi. Tapi apa mungkin Nathan mengetahui sesuatu?" tanya Amel dalam hati.


"Ah, besok saja aku tanyakan langsung saat aku pulang. Untunglah Nyonya Harris masih mau berbaik hati kali ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan kalau dia masih menekan keluargaku. Sepertinya dimasa depan aku tidak boleh lagi menyinggungnya." gumam Amel.


"Tapi aku masih sangat penasaran apa hubugan Davina dengan keluarga Harris? Penjaga itu mengatakan Tuan dan Nona Muda. Apa jangan-jangan Davina adalah istri Marvin Harris?" tanya Amel lagi yang masih sangat penasaran.


"Tapi kalau itu benar kenapa tidak ada berita pernikahan mereka? Mengingat status Marvin Harris bukan sembarangan. Atau jangan-jangan Davina menjadi wanita simpanan?" tebak Amel curiga.


"Mungkin saja itu benar. Aku tidak menyangka ternyata dia serendah itu." gumam Amel membenarkan prasangkanya sendiri.


Ring Ring


Amel terkejut saat tiba-tiba ponselnya berdering. Terlihat dilayar nomor suaminya dengan segera ia mengangkat panggilan itu.


"Hallo..." sapa Amel.


"Sayang, sedang apa?" tanya Nathan lembut.


"Aku sedang bersantai saja. Ada apa?" tanya Amel.


"Aku merindukanmu." jawab Nathan membuat Amel tersipu.


"Aku juga." sahut Amel.

__ADS_1


"Perusahaan keluarga kita sudah stabil. Kau segera pulanglah." ucap Nathan.


"Besok pagi tiket penerbanganku." kata Amel memberitahu.


"Tidak bisakah malam ini?" tanya Nathan.


"Ada apa denganmu, Sayang? Biasanya tidak manja seperti ini." tanya Amel heran.


"Entahlah. Dua hari tidak melihatmu aku benar-benar rindu." jawab Nathan manja.


"Haha baguslah kau masih tahu untuk merindukanku." sahut Amel terkekeh.


"Apa maksud perkataanmu itu?" tanya Nathan.


"Hem.. Tidak, aku hanya merasa akhir-akhir ini hubungan kita tidak begitu baik." jawab Amel jujur.


"Iya, kau benar. Maka dari itu cepatlah pulang." sahut Nathan tak sabar.


"Bersabarlah, besok kita akan kembali bertemu." ucap Amel.


"Baiklah, aku akan menjemputmu." kata Nathan.


"Oke." sahut Amel setelah itu panggilan suara terputus.


"Apakah hubunganku dengan Nathan akan baik-baik saja?" gumam Amel.


"Sudahlah, aku lelah dari kemarin harus berdiri didepan pagar rumah Harris. Sepertinya aku butuh istirahat." batin Amel lalu merebahkan tubuhnya.


Tak berselang lama, ia pun seketika terlelap.


...****************...


"Masuklah." ucap Adam menyambut kedatangan Davina dan Marvin.


"Ada yang ingin Vina tanyakan, Yah." kata Davina to the point.


"Sepertinya penting sekali. Baru saja sampai kau langsung ingin membahasnya." ucap Adam.


"Aku akan menunggu diluar." kata Marvin tidak ingin mengganggu privasi istri dan mertuanya.


"Tidak perlu, kau tetap disini dan mendengarnya." cegah Davina.


Marvin menatap Davina dan Adam bergantian. Ketika Adam menganggukkan kepalanya, Marvin pun patuh dan kembali duduk.


"Ini tentang Anton." ucap Davina membuat Adam dan Marvin saling beradu pandang.


"Dia masih mengganggumu?" tanya Adam.


"Orang-orangnya masih mengawasi kami." jawab Davina membuat Marvin terkejut.


"Kau menyadarinya?" tanya Marvin.


"Tentu saja." jawab Davina.


Marvin menatap Davina serius, dia tidak menyangka kalau gadis yang dihadapannya sangat peka. Marvin kira hanya dirinyalah yang tahu kalau orang suruhan Anton masih mengikuti mereka.


"Kenapa menatap putriku seperti itu? Kau kaget kenapa dia bisa menyadarinya?" tanya Adam melihat ekspresi Marvin.


"Iya, aku kira dia tidak tahu. Maka dari itu aku tidak memberitahunya." jawab Marvin sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dia sudah terlatih sejak dini untuk membaca segala situasi." ucap Adam.


Marvin mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju dengan ucapan ayah mertuanya. Marvin sadar siapa orang yang ada dihadapannya saat ini. Mereka bukanlah orang sembarangan dan selalu waspada dengan gerakan musuh.


"Kembali ke topik." sela Davina serius.

__ADS_1


"Baiklah. Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Adam mempersilahkan.


"Apakah Ayah mempunyai masalah dengannya? Maksudku sepertinya ia menargetkanku lagi karena ia sudah mengetahui siapa diriku sebenarnya." kata Davina.


"Sebenarnya masalah diantara kami hanyalah kesalahpahaman dimasa lalu. Aku sudah memberikan peringatan kepadanya." ucap Adam.


"Ayah sudah bertemu dengannya?" tanya Davina penasaran yang dijawab anggukan kepala Adam.


"Lalu kenapa dia masih mengintai kami?" tanya Davina.


"Mungkin dia belum ingin meluruskan kesalahpahaman itu." jawab Adam.


"Maksud Ayah?" tanya Davina kebingungan.


"Ayah sudah mencoba untuk mengungkapkan kebenaran padanya. Tapi mengingat sifatnya, ia pasti tidak akan mudah percaya begitu saja." jawab Adam.


"Apa masalahnya begitu sulit?" tanya Davina.


"Tidak, hanya sedikit salah paham. Masalah hati." jawab Adam.


"Apakah persaingan cinta?" tebak Davina.


"Bisa dibilang begitu." sahut Adam tersenyum tipis.


"Ayah merebut Ibu darinya?" tanya Davina seketika membuat Adam tertawa kecil.


Davina mengerutkan keningnya memberikan tatapan aneh kepada ayahnya.


"Apa yang kau pikirkan, Nak? Ayah memiliki ibumu tidak perlu dengan cara seperti itu." jawab Adam terkekeh.


"Lalu? Bukannya perkataan Ayah tadi artinya begitu?" tanya Davina heran.


"Sudah-sudah, nanti dilanjutkan lagi. Ini kalian minumlah sebelum dingin." sela Sera yang datang membawa teh pappermint.


"Ibu, apa maksud perkataan Ayah?" tanya Davina yang semakin penasaran.


"Lihatlah putrimu sangat penasaran." ucap Sera mengadu kepada suaminya.


"Hahaha.. Baiklah Ayah akan menceritakan yang sebenarnya." kata Adam.


Davina dan Marvin seketika memasang wajahnya serius dan membuka telinganya lebar-lebar. Dengan seksama keduanya mendengarkan cerita Adam dan sesekali menyesap teh yang sudah dibuatkan oleh Sera.


"Jadi? Ayah tidak bersalah sama sekali kan? Tapi kenapa orang itu membenci Ayah?" tanya Davina saat Adam sudah selesai menceritakan kebenarannya.


"Maka dari itu, Ayah menyebutnya kesalahpahaman." jawab Adam santai.


"Kenapa Ayah tidak langsung memberikan buktinya saat itu?" tanya Davina.


"Setelah kejadian itu, dia menghilang tanpa jejak. Bahkan Ayah hanya mendengar kehancuran keluarga Millano. Ayah baru menyadari kemunculannya kembali saat ia berani menemuimu secara paksa." jawab Adam jujur.


"Sepertinya dia bukan orang yang mudah." ucap Davina.


"Kau tenang saja, Ayah tidak akan membiarkan dia melukaimu sedikitpun." kata Adam tegas.


"Begitupun denganku, aku pasti akan melindungimu." tambah Marvin.


"Rupanya kau ingin bersaing denganku, anak muda?" tanya Adam dengan tatapan dingin.


"Ayah!" panggil Davina protes dengan tingkah ayahnya.


Keempat orang diruangan itu akhirnya tertawa bersamaan.


"Aku harus mengutus orang lebih banyak untuk memastikan keselamatan istriku." tekad Marvin dalam hati.


-BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2