
"Responmu lumayan cepat." ucap Adam menyeringai.
"Namun itu tak cukup membuktikan kemampuanmu untuk melindungi putriku." tambah Adam lagi.
Marvin mengangkat wajahnya memberikan tatapan datar kepada ayah mertuanya.
"Jika suatu saat musuh tiba-tiba menyerang, akankah kau siap mengorbankan nyawamu demi putriku?" tanya Adam serius.
"Apakah Ayah meragukanku?" tanya Marvin tak kalah serius.
Adam terkekeh pelan kemudian menepuk pundak Marvin membuat pria itu meringis kesakitan karena mengenai lukanya.
"Dia adalah putriku satu-satunya. Meskipun kau akan melindunginya namun aku belum bisa sepenuhnya yakin akan kemampuanmu. Kau ingat kejadian beberapa waktu lalu kan?" kata Adam seketika membuat Marvin terdiam.
Marvin tak keberatan jika ayah mertua mengujinya dengan cara seperti itu. Marvin sadar kemampuannya belum cukup kuat dibandingkan Carlos.
"Apa yang ingin Ayah aku lakukan?" tanya Marvin memberanikan diri.
"Kau cukup peka juga." kata Adam menyeringai.
"Kau akan menjalani masa pelatihan selama 1 bulan. Dengan begitu baru aku yakin menyerahkan putriku kepadamu sepenuhnya. Aku tak ingin kejadian yang lalu terulang kembali." ucap Adam.
"Baik, aku setuju." sahut Marvin yakin.
"Tidak boleh!" seru Davina seketika membuat Adam dan Marvin terkejut.
"Ayah tidak bisa memperlakukan Marvin seperti itu. Ayah sudah melukainya, sekarang malah mau mengirimnya ketempat pelatihan. Vina tidak ingin Ayah melanjutkan lelucon ini!" protes Davina tak terima.
Adam menghembuskan nafas kasar kemudian membelai lembut kepala putrinya.
"Haisshh... Putriku sudah bisa memberontak rupanya. Marvin bicaralah dengan istrimu." ucap Adam setelah itu meninggalkan anak dan menantunya.
Baru saja menutup pintu kamar, Adam dibuat terkejut mendapati tatapan tajam dari istrinya.
"Sayang, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Adam.
"Masih tanya kenapa? Apa yang kau pikirkan sebenarnya? Hah?" tanya Sera geram menarik telinga Adam.
"Aaww.. Istriku apa salahku? Kenapa kau tega berbuat seperti ini pada suamimu?" tanya Adam memasang wajah memelas.
"Jangan bersandiwara lagi. Kau tahu putri kita sudah mencintai suaminya, kau malah sengaja melukainya. Apa yang ada dipikiranmu sebenarnya?" tanya Sera marah.
"Aku hanya ingin mengetes kemampuan menantuku saja. Apa aku salah?" tanya Adam polos.
"Memang harus dengan cara seperti itu? Kau bisa mengujinya tanpa membahayakan nyawanya. Kau mau membuat anak kita sedih?" tanya Sera kesal.
"Baik-baik, aku salah. Maafkan aku, Sayang?" ucap Adam bersalah.
"Minta maaf pada putri dan menantumu bukan kepadaku." kata Sera tegas.
"Baiklah, nanti aku akan meminta maaf pada mereka. Sekarang kita istirahat dulu bagaimana?" ajak Adam menggandeng tangan istrinya.
__ADS_1
"Malam ini kau tidurlah dikamar lain." sahut Sera meninggalkan Adam begitu saja.
"Istriku jangan lakukan ini padaku!" teriak Adam namun tak dipedulikan Sera.
"Apa ini yang disebut senjata makan tuan?" tanya Adam.
"Kedua wanitaku sudah membela cecunguk itu. Sepertinya aku harus memberinya pelajaran." gumam Adam menyeringai.
Didalam kamar, terjadi perdebatan singkat antara Davina dan Marvin.
"Kenapa kau setuju dengan permintaan konyol Ayah?" tanya Davina penuh selidik.
"Aku rasa aku memang butuh meningkatkan kemampuan. Aku belum bisa melindungimu sepenuhnya." jawab Marvin jujur.
"Apa kau belum mengenaliku? Aku bukan wanita yang mengandalkan perlindungan seorang pria." ucap Davina.
"Aku sangat memahami dirimu, Sayang. Aku juga tahu istriku ini wanita yang tangguh." kata Marvin mengecup pipi istrinya lembut.
"Lalu?" tanya Davina heran.
"Tapi aku adalah suamimu, aku bertanggungjawab atas keselamatanmu. Kita tidak tahu musuh seperti apa yang akan kita hadapi dimasa depan. Aku hanya bisa meningkatkan kemampuan dan kekuatan sebelum itu terjadi." ucap Marvin.
"Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi karena kecerobohanku." tambah Marvin yang suaranya berubah sendu.
Davina menghela nafas kemudian mengangkat wajah suaminya membuat netra keduanya saling bertemu.
"Kau masih menyalahkan dirimu atas kejadian yang lalu?" tanya Davina seketika Marvin menganggukkan kepalanya.
"Itu saat aku berhadapan dengan musuh. Tapi denganmu, aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku takut kau terluka, aku tak ingin melihatmu menangis. A-aku...."
CUP!
Davina mengecup bibir suaminya lalu tersenyum manis.
"Terimakasih sudah mencintaku, Mas." ucap Davina.
Marvin menarik tengkuk Davina kemudian memagut bibir ranum istrinya itu.
"Aku tidak keberatan dengan cara Ayahmu mengujiku. Jika aku diposisinya, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Aku tidak akan menyerahkan putriku kepada pria lain begitu saja." kata Marvin membuat Davina terkekeh.
"Perkataan ini seolah-olah kau sudah siap menjadi seorang ayah saja." ucap Davina.
"Aku memang sudah siap. Bagaimana kalau kita membuatnya malam ini?" bisik Marvin seketika desiran aneh mengalir dalam tubuh Davina.
"Terluka saja masih memikiran hal-hal begini." cibir Davina.
"Yang terluka hanya lenganku. Bagian yang lain tidak ada masalah." bisik Marvin lagi.
"Kau ini! Mesum sekali." umpat Davina.
"Ayolah, Sayang. Bukankah Nenek sudah mengharapkan cicit? Ibu dan Ayah juga ingin segera menggendong cucu." kata Marvin.
__ADS_1
"Ssshhh..." ringis Marvin ketika lengannya tak sengaja tersenggol sandaran dipan.
"Hemm.. Baru tahu sakit?" sindir Davina membuat Marvin menyengi menampakkan giginya.
"Berapa lama pelatihannya?" tanya Davina mengalihkan pembicaraan.
"Satu bulan." jawab Marvin membuat Davina mendengus.
"Kau tidak rela aku tinggal selama itu?" tanya Marvin.
Mau tak mau Davina menganggukkan kepalanya membuat Marvin tersenyum senang.
"Akhirnya istriku takut berjauhan denganku. Pasti menyenangkan sekali bisa dirindukan olehmu." kata Marvin.
"Mas, seriuslah." kata Davina.
"Sayang, hanya satu bulan. Pasti akan cepat berlalu, kau bisa menghabiskan waktumu untuk berlibur jika kau bosan menungguku." ucap Marvin.
"Benarkah? Kau tidak takut aku mencari pria lain untuk melampiaskan rasa rinduku?" tanya Davina menggoda suaminya.
"Hemm.. Jika itu terjadi maka aku akan membunuh pria itu." ancam Marvin sontak mengundang tawa Davina.
"Tuan Muda Harris menakutkan sekali. Bisa membunuh orang lain demi istrinya." goda Davina.
"Hemm.. Seru ya menggoda suamimu ini? Sepertinya aku terlalu bersikap lembut padamu." ucap Marvin.
"A-pa yang mau kau lakukan?" tanya Davina panik.
"Memberimu sedikit pelajaran." bisik Marvin seketika mendorong tubuh Davina dan berada dalam kungkungannya.
"Mas, jangan macam-macam. Nanti lukamu bisa terbuka." kata Davina memperingatkan.
"Hemm.. Hanya luka ringan saja. Bukankah ada istriku yang akan merawatku?" ucap Marvin tak kalah.
"Mas! Baik aku mengaku salah. Aku tidak akan menggodamu lagi." berontak Davina.
"Oh, sudah tahu salah? Tapi maaf, Sayang... Sudah terlambat." kata Marvin.
Marvin melakukan penyerangan membuat Davina hampir kewalahan. Suasana kamar menjadi panas beriringan dengan adegan berkeringat pasangan yang sedang dimabuk cinta.
"Kau keterlaluan, Mas!" gerutu Davina yang tenaganya habis terkuras karena ulah Marvin.
"Maaf Sayang. Siapa suruh kau menggodaku?" ucap Marvin mendekap tubuh istrinya yang polos.
"Haih.. Lain kali aku takkan bermain-main denganmu lagi." batin Davina kapok.
"I love you, Sayang." ucap Marvin lembut mengecupi wajah istrinya.
Tak berselang lama keduanya pun tertidur dalam posisi saling berpelukan.
-BERSAMBUNG
__ADS_1