Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 69 Serangan Marvin


__ADS_3

"Tuan, ada yang ingin saya sam-" ucapan Johan terhenti saat melihat pemandangan dihadapannya.


"Sial! Apakah aku akan digantung hari ini?" batin Johan saat mendapati tatapan tajam dari Marvin.


"Ma-maf Tuan, Nona saya keluar dulu." pamit Johan.


"Tunggu! Lanjutkan saja. Aku ingin ke kamar mandi." ucap Davina yang juga sangat canggung dengan posisinya.


Davina bergegas ke kamar mandi sedangkan Johan merasakan aura yang sangat dingin dan tatapan membunuh dari Marvin.


"Ma-maaf Tuan. Saya tidak tahu kalau Tuan dan Nona-"


"Ada apa langsung katakan saja!" potong Marvin membuat Johan semakin ketakutan.


"Ba-baik Tuan. Ini kontrak baru dari Tuan Anton tentang kerjasama pembangunan distrik di kota selatan. Tuan bisa membacanya lebih dulu, saya rasa ada beberapa poin yang aneh dikontrak ini." ucap Johan sembari menyerahkan sebuah map kepada Marvin.


"Hm. Keluarlah." kata Marvin dingin.


"Ba-baik Tuan." sahut Johan setelah itu bergegas keluar ruangan dan menutup pintu rapat-rapat.


CEKLEK!


Johan terjingkat saat mendengar Marvin mengunci ruangan.


"Aih! Sepertinya aku benar-benar sial! Tuan pasti sangat marah kepadaku sudah mengganggunya." batin Johan yang kakinya terasa lemas karena ketakutan.


"Tapi hubungan Tuan dan Nona semakin hangat saja. Aku harap keduanya benar-benar saling mencintai dan bahagia selamanya." harap Johan dalam hati setelah itu kembali keruangannya.


"Eh, dimana Johan? Sudah selesai urusannya?" tanya Davina mendapati ruangan hanya Marvin seorang yang masih sama posisi duduknya.


Marvin menatap tak suka kemudian menarik Davina kepangkuannya lagi.


"Heh.. Bisa tidak jangan membuatku terkejut?" protes Davina.


"Aku tidak suka mendengar kau menanyakan pria lain dihadapanku." ucap Marvin sembari merangkul erat pinggang Davina.


"Astaga! Apa yang kau pikirkan?" tanya Davina tak percaya.


"Kau hanya boleh fokus kepadaku. Tidak boleh memikirkan pria selain aku." jawab Marvin penuh penekanan yang terdengar sangat lucu ditelinga Davina.


"Dasar kau ini! Benar-benar dewa pencemburu." ledek Davina sembari mencubit kedua pipi Marvin karena gemas.


"Aku tidak ingin ada pria lain dihatimu kecuali aku. Kau hanya boleh milikku seorang." ucap Marvin semakin posesif.


Davina tersenyum, ia paham dengan maksud Marvin. Wajar jika suaminya mengatakan hal itu, Davina sudah paham betul dengan sifat Marvin. Walaupun Marvin berpenampilan sempurna, memiliki kekuasaan dan kekayaan tapi pria itu bukanlah pria hidung belang. Marvin merupakan pria yang berharap cinta dan menginginkan pernikahan sekali seumur hidup.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan menuruti permintaan suami tampanku ini." sahut Davina tersenyum manis.


Marvin langsung menarik Davina kedekapannya.


"Terimakasih sudah mau menerimaku. Aku akan membuatmu bahagia. Menjaga dan melindungimu dengan nyawaku." ucap Marvin.


"Sstt! Tidak perlu berjanji apapun padaku. Asal kau selalu ada disisiku itu sudah cukup." sahut Davina membuat Marvin mendekapnya semakin erat.


"Terimakasih istriku." kata Marvin lembut.


"Diantara kita tidak perlu ada kata itu." sahut Davina.


"Oh iya, tadi Anton datang ke kampus ingin bertemu denganku tapi aku menolaknya. Thomas sudah memberitahumu kan?" tanya Davina.


"Iya. Aku tahu. Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan pria itu." jawab Marvin.


"Memang ada sesuatu yang lain terjadi?" tanya Davina heran.


"Iya dia mengajukan kontrak baru dan aku merasa janggal dengannya." jawab Marvin sambil menunjuk map yang terbuka dimejanya.


Davina meraih selembar kontrak itu dan membaca beberapa poin yang membuatnya mengernyitkan dahi.


"Apa pria tua itu sudah tidak waras? Mana ada kontrak yang lebih menguntungkan partnernya. Benar-benar tidak masuk akal." ucap Davina heran.


"Maka dari itu aku masih menyelidiki motifnya." sahut Marvin.


"Serahkan saja ini padaku. Kau tidak boleh terlibat dengannya." ucap Marvin tegas.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau tidak perlu khawatir." sahut Davina.


"Aku tahu kau memang wanita tangguh. Tapi sekarang kau adalah istriku. Aku yang bertugas melindungimu. Terlebih lagi aku juga harus membuktikan kepada Tuan Carlos bahwa aku layak menjadi suami dari putri kesayangannya." kata Marvin membuat Davina tertegun.


Davina tersenyum tipis kemudian merapikan rambut bagian depan Marvin yang sedikit berantakan.


"Kau tidak perlu menanggungnya sendirian. Aku bukanlah gadis yang hanya mengandalkan perlindungan pria. Aku lebih suka kita menghadapinya bersama. Tentang ayahku, kau tidak perlu memikirkannya. Sejak aku mengatakan bahwa pria yang mengajakku menikah adalah dirimu, ayahku dari awal sudah merestuinya." ucap Davina.


"Jadi jangan melarang dan membatasi kebebasanku. Aku juga ingin menjadi istri yang baik bagimu." tambah Davina lagi membuat Marvin tersenyum.


"Baiklah, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Kau memang keturunan Carlos dan pantas menjadi Nyonya Muda Harris. Tapi ingat, jangan pernah membahayakan dirimu. Kalau tidak, aku akan mengurungmu dimansion." ucap Marvin memperingatkan.


Davina terkekeh.


"Baiklah-baiklah. Jadi apa tujuan Tuan Muda Harris mengundangku ke perusahaan?" tanya Davina mengalihkan pembicaraan.


"Aku hanya ingin kau menemaniku disini." jawab Marvin.

__ADS_1


"Ah mengecewakan sekali. Padahal aku berharap ada kejutan yang disiapkan suami tajirku ini." sindir Davina.


"Kau ingin apa? Aku akan meminta Johan menyiapkannya." tanya Marvin membuat Davina memutar kedua bola matanya.


"Benar-benar pria tidak peka. Lupakan saja." sahut Davina memanyunkan bibirnya.


"Hey, apakah istriku marah? Katakan saja keinginanmu, aku akan menyiapkannya untukmu." bujuk Marvin.


"Haisshhh... Perutku daritadi sudah berisik, kau tidak akan membiarkan istrimu mati kelaparan kan?" ucap Davina membuat Marvin terkekeh.


"Astaga aku lupa. Maafkan aku, Sayang. Ayo kita restoran seberang, disana makanannya sangat lezat." ajak Marvin.


"Hm.." sahut Davina.


"Sayang, maafkan aku. Jangan marah lagi, oke?" bujuk Marvin lagi dengan wajah memelas namun tak digubris oleh Davina.


"Sayaang...." rengek Marvin.


"Hentikan. Kau membuatku geli." kata Davina.


"Ayo berangkat." ajak Davina bergegas berdiri namun kembali terduduk dipangkuan Marvin karena tangannya ditarik oleh pria itu.


"Hei, ayo berangkat aku sudah lapar. Jangan membuatku semakin kesal." ucap Davina yang mulai emosi.


"Kiss me, please." pinta Marvin dengan mata berbinar penuh harap.


"Astaga, kau childish sekali." kata Davina tak habis pikir dengan kelakuan aneh suaminya.


"Ayolah, istriku. Dipipi juga tidak apa-apa." pinta Marvin lagi.


Tak bisa dipungkiri Davina menjadi sangat gugup mendengar permintaan suaminya.


Davina melihat wajah penuh harap suaminya dan mengatur nafasnya yang mulai memburu. Marvin tersenyum kepadanya seolah memberi isyarat bahwa inilah saat yang tepat.


CUP!


Davina membelalakkan matanya sangat terkejut ketika kedua bibir mereka menyatu. Davina ingin melepaskan diri namun Marvin dengan cepat menekan tengkuknya dan ******* dengan ganas bibir ranumnya. Davina yang awalnya ingin memberontak justru terbuai dengan permainan Marvin membuat ciuman itu berubah menjadi ciuman panas. Tangan Marvin mulai bergerilya pada tubuh istrinya.


"Sayang, aku ingin lebih." ucap Marvin lirih.


Davina mengatur nafasnya yang kehabisan oksigen karena serangan Marvin. Davina menatap lekat wajah tampan Marvin lalu membelai lembut pipi suaminya.


"Bersabarlah suamiku. Bukan sekarang waktunya." tolak Davina lembut.


"Ayo aku sudah lapar." ajak Davina yang langsung beranjak dan sudah berdiri didekat pintu dengan cepat.

__ADS_1


"Lain kali aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah." batin Marvin menyeringai setelah itu bergegas menyusul istrinya.


-BERSAMBUNG


__ADS_2