Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 36 Perjanjian


__ADS_3

Davina sudah tiba di pusat perbelanjaan kota. Davina langsung menuju sebuah restoran yang dimaksud Marvin.


"Pasti dia belum sampai." gumam Davina melihat restoran yang masih sepi pengunjung.


"Davina!" teriak seorang wanita.


Davina menoleh kearah sumber suara lalu mengerutkan keningnya. Davina melihat seorang wanita paruh baya memanggil namanya.


"Apakah Nenek itu memanggilku? Tapi sepertinya aku tidak mengenalnya." gumam Davina.


Melihat Davina hanya diam, Julia bergegas menghampiri gadis itu yang masih mematung.


"Kau sudah melupakan Nenek?" tanya Julia semakin membuat Davina kebingungan.


"Maaf, Nek. Aku benar-benar tidak ingat. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Davina sopan.


Julia tersenyum kemudian mengajak Davina duduk disalah satu kursi yang kosong.


"Tentu kau tidak akan mengingatku. Tapi kau tidak mungkin lupa seorang nenek yang pernah kau selamatkan dari serangan pencopet beberapa waktu lalu kan?" ucap Julia seketika ingatan Davina berfungsi.


"Astaga ternyata Nyonya. Maaf saya benar-benar lupa." kata Davina tak enak hati.


"Kenapa gaya bicaramu berubah menjadi sangat formal begitu? Santai saja, anggap aku nenekmu sendiri." ucap Julia ramah.


"Baik, Nek. Nenek dengan siapa kesini? Mana cucu Nenek?" tanya Davina sambil menoleh kekanan dan kekiri mencoba mencari keberadaan keluarga nenek Julia.


"Aku bersama asisten cucuku. Dia menungguku dimobil. Cucuku itu sangat sibuk jadi tidak punya waktu untuk menemaniku." jawab Julia memancing rasa iba dihati Davina.


"Kau sendiri bersama siapa? Apa kau punya janji temu dengan seseorang disini?" tanya Julia penasaran.


"Oh anu, itu Nek..." jawab Davina gugup.


"Kenapa kau bicara tidak jelas? Apa orang yang sedang kau tunggu adalah kekasihmu?" tanya Julia lagi membuat Davina semakin tersipu.


"Kalau begitu Nenek duluan saja. Nenek tidak ingin mengganggu waktu kencan kalian." ucap Julia hendak berlalu namun segera ditahan oleh Davina.


"Nenek disini saja dulu. Lagipula orangnya belum datang." kata Davina malu-malu.


"Jadi benar kau sedang menunggu kekasihmu?" tanya Julia kembali ingin memastikan.


"Belum bisa disebut kekasih sih, Nek. Tapi entah kedepannya." jawab Davina tersipu.


Julia terkekeh melihat ekspresi lucu calon cucu menantunya.


"Padahal Nenek berniat menjodohkanmu dengan cucu Nenek. Sayang sekali ternyata Nenek sudah kalah start dengan orang lain." kata Julia dengan memasang ekspresi sedih.


"Maaf, Nek." ucap Davina merasa bersalah.


"Bagaimana kalau kau pertimbangkan cucu Nenek? Dia adalah pria yang tampan dan pandai berbisnis. Nenek yakin kau akan menyukainya." kata Julia mencoba mempromosikan cucunya.


"Maaf Nek, tapi Vina sudah punya pilihan sendiri." tolak Davina tegas.


"Baru kali ini ada gadis yang menolak cucuku dengan tegas. Padahal diluar banyak sekali gadis-gadis yang ingin mendekati cucuku." kata Julia yang hanya mendapatkan respon senyuman tipis dari Davina.


"Sepertinya pria yang kau pilih itu benar-benar istimewa ya? Apakah kau sudah jatuh hati padanya?" tanya Julia kepo.


"Ehm.. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku kepadanya, Nek. Kami saja baru bertemu dan berinteraksi hanya beberapa kali." jawab Davina jujur.


"Hah? Kau serius?" tanya Julia pura-pura terkejut.


Davina menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.


"Sepertinya perasaan kalian juga belum terlalu dalam. Jadi bagaimana kalau sebaiknya kau mempertimbangkan untuk menikah dengan cucu Nenek saja? Nenek yakin kau pasti akan jatuh hati padanya." ucap Julia kembali menawarkan cucunya.

__ADS_1


"Sekali lagi Vina minta maaf, Nek. Meskipun kami hanya bertemu beberapa kali tapi didalam hatiku, aku yakin untuk memilihnya." kata Davina tegas.


"Jadi kau setuju menikah denganku?" tanya seorang pria yang suaranya terdengar sudah sangat familiar ditelinga Davina.


Davina segera menoleh dan dirinya terkejut saat melihat Marvin sudah berdiri dibelakangnya.


"Kau? Sejak kapan kau datang?" tanya Davina gugup.


"Aku sudah berdiri disini cukup lama. Aku juga sudah mendengar semua ucapanmu." jawab Marvin dengan senyum menyeringai.


BLUSH!


Seketika wajah Davina berubah memerah seperti kepiting rebus.


Julia terkekeh melihat interaksi menggemaskan diantara Davina dan Marvin.


"Jadi ini pria yang kau pilih?" tanya Julia.


Davina menganggukkan kepalanya dengan malu-malu sebagai jawaban.


Marvin dan Julia saling berpandangan kemudian keduanya tersenyum bersamaan.


"Ternyata Tuhan memang sudah menakdirkan kalian berjodoh." ucap Julia membuat Davina mengerutkan keningnya.


"Perkenalkan nama Nenek, Julia Harris. Nenek dari Marvin Harris." kata Julia memperkenalkan diri.


Kedua mata Davina membulat sempurna. Davina menatap Marvin dan Julia secara bergantian dengan tatapan tak percaya.


"Jadi Nenek adalah neneknya Marvin? Berarti cucu yang Nenek maksud itu adalah Marvin?" tanya Davina masih tak percaya.


"Ya benar. Marvin adalah cucuku satu-satunya. Kau baru saja menolaknya bukan? Tapi tidak kusangka ternyata cucuku ini punya caranya sendiri untuk menaklukanmu." kata Julia sembari menyentil telinga cucunya.


"Jadi kehadiran Nenek disini bukan sebuah kebetulan?" tanya Davina menatap Marvin penuh selidik.


"Nenek yang memaksa Marvin untuk mengatur pertemuan denganmu. Karena tidak ingin kau terkejut makanya Nenek berakting seolah-olah tidak sengaja bertemu denganmu." jawab Julia jujur.


Suasana antara Marvin dan Davina tiba-tiba berubah menjadi hening. Tidak ada percakapan diantara keduanya setelah Nenek Julia pergi. Marvin bisa melihat Davina yang terus menyembunyikan wajahnya.


"Kelinciku ternyata pemalu sekali." gumam Marvin dengan senyuman nakal.


Marvin memanggil seorang pelayan lalu meminta untuk menyiapkan ruangan privat.


"Kenapa harus ruangan privat?" tanya Davina heran.


"Bukankah kita butuh privasi?" tanya Marvin dengan senyuman aneh diwajahnya.


Davina kembali menundukkan kepalanya membuat Marvin terkekeh dalam hati.


"Ternyata kau punya sisi menggemaskan seperti ini. Aku jadi semakin tidak sabar untuk lebih mengenalmu." kata Marvin dalam hati.


Pelayan sudah kembali dan menunjukkan ruangan privat untuk Marvin dan Davina.


"Jadi bagaimana jawabanmu? Apakah kau sudah setuju untuk menikah denganku?" tanya Marvin tidak sabar.


Davina menatap wajah tampan Marvin dengan lekat. Davin mencoba meyakinkan hatinya atas jawaban yang akan ia berikan kepada Marvin. Dalam hati kecil Davina, ia sangat berharap bahwa jawabannya adalah keputusan yang tepat.


"Ya aku setuju." jawab Davina.


"Bisakah kau mengatakannya sekali lagi?" pinta Marvin untuk memastikan kembali bahwa ia tidak salah dengar.


"Ya aku mau menikah denganmu." ulang Davina seketika membuat Marvin melompat kegirangan.


Davina sempat terkejut dengan reaksi Marvin lalu barulah ia terkekeh. Untung saja mereka sudah berada diruangan privat, kalau tidak mereka pasti akan menjadi pusat perhatian banyak orang.

__ADS_1


"Maaf.. Apa bagimu aku terlihat sangat konyol?" tanya Marvin dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Davina menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Aku hanya terkejut. Tidak kusangka ternyata seorang Marvin Harris yang terkenal dingin dan menyeramkan memiliki sisi seperti tadi." ucap Davina yang sudah menghentikan tawanya.


"Ya.. hanya kau yang bisa melihatku seperti ini." kata Marvin.


"Benarkah?" tanya Davina tak percaya.


"Ya. Dan setelah kau menikah denganku, kau akan lebih banyak mendapatkan kejutan karena sifatku tidak seperti yang orang-orang rumorkan." jawab Marvin percaya diri.


"Oh.. Aku jadi penasaran dan sangat menantikannya." sahut Davina memunculkan senyuman diwajah Marvin.


"Jadi karena kau sudah menerimaku, besok kita akan langsung menikah " kata Marvin seketika mengejutkan Davina.


"Besok? Kau serius?" tanya Davina kaget.


"Tentu saja. Apalagi yang kita tunggu? Bukankah lebih cepat lebih baik? Kau tidak sedang berniat untuk mengubah keputusanmu kan?" kata Marvin membuat Davina tidak bisa berkata-kata.


"Baiklah, terserah kau saja." sahut Davina, Marvin pun tersenyum puas.


"Taoi sebelum menikah kau masih ingat tentang perjanjian pernikahan yang pernah kita bahas sebelumnya bukan?" kata Davina yang dijawab anggukan kepala oleh Marvin.


"Aku sudah mengetiknya, kau bisa membacanya terlebih dahulu." ucap Davina sembari menyerahkan selembar kertas kepada Marvin.


Marvin menerima kertas itu dan mulai membaca poin-poin yang tertulis dengan sangat teliti.


"Kau tidak mengizinkanku menyentuhmu? Dan kau tidak ingin melakukan hubungan suami istri sebelum kita saling jatuh cinta?" tanya Marvin dengan mengernyitkan kedua alisnya.


"Ya. Aku tidak ingin melakukannya karena paksaan. Aku ingin kita melakukannya dengan sukarela dan atas dasar suka sama suka." jawab Davina dengan sorotan mata tegas.


"Baik aku setuju. Jadi besok kita menikah, oke?" kata Marvin tak kalah tegas.


"Kau semudah itu menyetujui semua persyaratanku? Kau tidak keberatan sama sekali?" tanya Davina memastikan.


"Lalu bagaimana dengan persyaratanmu? Apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan setelah menikah denganmu?" tanya Davina lagi dengan penasaran.


"Aku tidak mempunyai syarat, kau bisa melakukan apapun yang kau mau selama menjadi istriku." jawab Marvin seketika Davina tertegun dibuatnya.


"Bagiku kau setuju menikah denganku itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak masalah kalau sekarang kau masih memberiku jarak. Tapi aku tidak akan pernah menyerah sampai kau bisa menerimaku sepenuhnya." tambah Marvin lagi.


"Kau benar-benar membuatku takjub." ucap Davina dengan menampakkan senyuman manis diwajahnya.


Tidak bisa dipungkiri senyuman Davina mampu menghipnotis Marvin. Marvin benar-benar terpesona dengan senyuman diwajah cantik Davina.


"Aku harap bisa selalu membuatmu tersenyum seperti itu setiap hari." batin Marvin dalam hati.


"Ada satu hal lagi yang perlu kusampaikan kepadamu." kata Davina serius.


"Katakan." sahut Marvin santai.


"Orangtuaku sudah memberi restu atas pernikahan kita. Tapi karena status ayahku, untuk sementara waktu mereka tidak bisa bertemu denganmu." Davina menjeda sejenak ucapannya.


"Dan aku ingin pernikahan kita disembunyikan terlebih dahulu sampai situasinya tepat untuk mengumumkan hubungan kita." kata Davina menjelaskan.


"Sepertinya kau benar-benar bukan gadis biasa. Aku jadi penasaran siapa kau sebenarnya sampai-sampai identitasmu harus disembunyikan dengan rapat." ucap Marvin.


"Maaf.. Aku belum bisa mengatakan yang sebenaranya kepadamu. Aku harap kau bisa bersabar." kata Davina merasa bersalah.


"Jangan khawatir. Aku pasti akan bersabar. Aku sungguh menantikan kejutan tentang identitasmu, calon istriku." sahut Marvin memancing senyuman tipis diwajah Davina.


"Aku harap kau akan tetap menerimaku saat kau telah mengetahui siapa aku sebenarnya, Marvin." gumam Davina dalam hati penuh harap.

__ADS_1


...----------------...


-BERSAMBUNG


__ADS_2