Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 116 Wanita


__ADS_3

"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Nathan memastikan.


Saat ini keduanya dalam perjalanan pulang dari kediaman Carlos.


Amel menganggukkan kepalanya meskipun tak bisa dipungkiri kalau dirinya masih terkejut dengan kejadian beberapa saat lalu.


Nathan menggenggam tangan Amel membuat wanita itu menoleh lalu tersenyum.


"Kira-kira siapa yang menyerang dalam keramaian seperti itu? Nyalinya berani sekali." gumam Nathan.


"Sayang?" panggil Amel.


"Iya?" sahut Nathan yang kembali fokus dengan kemudinya.


"Kau tidak menyesal?" tanya Amel.


"Menyesal karena apa?" tanya Nathan.


"Andai aku tak hadir diantara kau dan Davina, pasti kau sudah menjadi menantunya Carlos." jawab Amel.


Nathan menepikan mobilnya setelah itu menatap wajah Amel lekat.


"Kenapa kau selalu merasa kalau hubungan kita adalah kesalahan? Berkali-kali aku bilang kalau aku tak pernah menyesal telah memilihmu. Apakah kau pikir perasaanku kepadamu sedangkal itu?" tanya Nathan membuat Amel seketika terdiam.


"Maaf, aku salah." ucap Amel bersalah.


Nathan menghela nafas kemudian membelai kepala Amel lembut.


"Bisakah kau tidak mengungkit masa laluku dengan Davina lagi? Semuanya telah berlalu. Dan aku baru menyadari kalau hubungan kami dulu bukan didasari karena cinta." ucap Nathan.


Amel memandang Nathan bingung.


"Yang aku inginkan saat ini kau fokus dengan calon anak kita. Jangan memikirkan apapun yang bisa menggangu hatimu." kata Nathan mengingatkan.


"Apakah kau sungguh sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada Davina?" tanya Amel kembali memastikan.


Nathan menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah memiliki kamu dan dia juga sudah menemukan pasangannya. Lagipula dengan identitasnya itu aku bersyukur kami tidak berjodoh." jawab Nathan.


"Maksudmu? Bukannya harusnya kau menyesal karena sudah kehilangan kesempatan memiliki dukungan yang kuat?" tanya Amel.


"Apa yang kau pikirkan, Sayang? Memangnya semudah itu memasuki keluarga Carlos?" kata Nathan membuat Amel kebingungan.


"Kau pasti sudah mendengar nama Marvin Harris kan? Kau juga sudah tahu kemampuannya. Kau juga sudah melihat kejadian tadi dengan mata kepalamu sendiri. Kau pikir aku bisa menghadapi keadaan yang bisa mengancam nyawaku kapan saja? Carlos bukanlah tujuan untuk memiliki kehidupan yang tenang." ucap Nathan lagi.


Amel menatap lekat Nathan kemudian menganggukkan kepalanya.


"Kau benar. Sepertinya aku harus bertemu dengan Davina dan meminta maaf kepadanya karena beberapa kali menyinggungnya." kata Amel.


"Kau tidak perlu melakukan itu." sahut Nathan.


"Kenapa? Aku takut dia akan melakukan perhitungan dan membalas perbuatan yang pernah kulakukan padanya. Lebih baik aku mencegahnya." kata Amel bersikeras.


"Dia bukanlah orang pendendam. Lebih baik kau tidak mengusiknya demi keselamatan keluarga kita." ucap Nathan memperingatkan kemudian kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


Amel mengerutkan keningnya setelah itu mengalihkan pandangannya ke jendela mobil.


"Apakah kau benar-benar tidak menyesal memilihku? Benarkah kau sudah melupakannya?" tanya Amel ragu namun hanya didalam hati.


...****************...


Berita tentang Carlos seketika menjadi viral dinegeri itu. Tak terlewatkan Luna yang seketika sangat terkejut dengan berita itu. Bagaimana tidak, orang yang selama ini menjadi temannya merupakan putri mafia terkuat di negaranya.


"Aku memang curiga Davina bukan orang biasa tapi aku masih tak menyangka jika dia adalah putri Carlos." gumam Luna.


Luna mencoba mengingat kembali bagaimana keseharian Davina saat bersamanya. Gerak-gerik Davina, aura yang dimiliki gadis itu.


"Pantas saja dia tidak takut menghadapi Tuan Marvin Harris. Rupanya identitas Davina lebih kuat dari pria itu." batin Luna.


"Aku benar-benar tidak tahu harus menghadapinya bagaimana nanti." ucap Luna cemas.


Luna kembali melihat ponselnya dan lanjut membaca berita yang tengah viral itu.


"Aku jadi penasaran bagaimana reaksi teman-teman kampus yang pernah meremehkanmu, sahabatku." gumam Luna tersenyum tipis.


...****************...


Matahari mulai menyingsing, sinarnya mengusik kedua sejoli yang masih terlelap dengan mesranya.


Davina membuka matanya terlebih dahulu dan menatap Marvin yang masih terlelap dengan tenang. Tangannya membelai lembut janggut yang sudah mulai ditumbuhi rambut tipis.


"Emm..." lenguh Marvin.


"Ah, apakah aku mengganggu tidurmu? Maafkan aku." ucap Davina merasa bersalah.


"Biarkan aku memelukmu sebentar lagi." ucap Marvin lirih.


"Hemm.." sahut Davina membalas pelukan hangat suaminya.


"Mau sarapan apa pagi ini?" tanya Davina.


"Terserah istriku saja." jawab Marvin.


"Baiklah." sahut Davina.


Setelah cukup lama berpelukan, Davina mandi terlebih dahulu kemudian segera turun kedapur barulah Marvin bangun dan membersihkan diri.


"Pagi, Bu" sapa Davina.


"Pagi, Nak." balas Sera tersenyum manis.


"Dimana Nenek? Apakah belum bangun?" tanya Davina.


"Sepertinya belum. Mungkin masih shock dengan kejadian semalam. Coba kau ke kamarnya, ada Melly yang menjaga Nenek semalaman." jawab Sera.


"Nanti aku akan kekamar Nenek setelah menyiapkan sarapan, Bu." ucap Davina.


"Baiklah." sahut Sera.


Kedua wanita itu sibuk menyiapkan makan pagi dibantu dengan koki keluarga Carlos. Beberapa kali Davina bertanya kepada Sera dan juga koki untuk mendalami kemampuan masaknya.

__ADS_1


"Ada yang bisa kubantu?" suara Marvin membuat orang yang berada didapur menoleh.


"Ah, Mas tunggu dimeja makan saja. Sebentar lagi siap." jawab Davina.


"Biarkan aku membawanya." ucap Marvin mengangkat makanan yang sudah siap.


"Baik, hati-hati." kata Davina dengan senyum manisnya.


"Dimana Ayah, Bu?" tanya Davina yang tidak melihat keberadaan ayahnya.


"Entahlah." jawab Sera membuat Davina mengernyit.


"Ibu benar-benar memarahi Ayah?" tanya Davina.


"Tentu saja. Ayahmu sudah sangat keterlaluan." jawab Sera yang suaranya masih terdengar kesal.


Davina terkekeh kemudian mendekati Sera.


"Apakah Ibu dan Ayah tidak tidur sekamar?" tanya Davina berbisik.


"Tidak. Ibu mengunci pintunya." jawab Sera jujur.


"Ah.. Pasti Ayah tidak bisa tidur semalaman." tebak Davina terkekeh.


"Biarkan saja. Ayahmu memang harus diberi pelajaran. Sifatnya itu kekanakan sekali." gerutu Sera kesal.


"Haha.. Tapi aku rasa bukan hanya Ayah yang tidak bisa tidur semalam. Ibu juga kan?" tebak Davina menggoda ibunya.


"Sst... Kami sudah tua." ucap Sera malu-malu.


Davina terkekeh melihat eskpresi Sera yang tersipu.


"Hoho... Aku ingin lihat bagaimana perjuangan Ayah membujuk Ibu nanti." kata Davina penasaran.


"Sudah-sudah jangan menggoda ibumu ini. Ayo kita sarapan, suamimu sudah menunggu." ajak Sera mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ciee... Ibu salah tingkah." ledek Davina seketika mendapatkan tatapan tajam dari Sera.


Bukannya takut tapi Davina malah tertawa membuat Sera hanya menggelengkan kepalanya.


"Semoga saja Marvin tidak kewalahan menghadapi sikap anehmu itu, Nak." gumam Sera.


"Ibu tidak sedang mengutukku, kan?" tebak Davina.


"Haaih.. Kau bisa saja menebak isi hati Ibumu ini." ucap Sera.


"Ibu tenang saja, suamiku sudah sangat kebal dengan tingkahku ini, seperti Ibu dan Ayah." kata Davina membuat Sera terkekeh.


"Hem.. Ibu harap kalian berdua bahagia selalu." ucap Sera penuh harap.


"Tentu, Bu. Aku ingin hubungan kami seharmonis pernikahan Ibu dan Ayah." sahut Davina membuat Sera tersenyum.


Sera membelai lembut kepala Davina dan tak sengaja menitikkan airmata haru. Gadis yang dulu keras kepala, cengeng rupanya sekarang sudah menjadi seorang istri. Waktu benar-benar cepat berlalu.


-BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2