
"Selamat pagi Nyonya Harris. Ada keperluan apa yang membuat Nyonya datang ke kampus?" sambut Pak Radit, dekan universitas Y.
"Aku hanya ingin mendapatkan informasi salah satu mahasiswi. Bisakah kau membantuku?" pinta Julia.
"Dengan senang hati Nyonya." sahut Radit ramah.
"Namanya Davina, aku ingin mengetahui dimana ia tinggal dan juga keluarganya." ucap Julia.
"Baik Nyonya, silahkan tunggu sebentar." kata Radit kemudian memerintahkan bawahannya untuk mengumpulkan data sesuai permintaan Julia.
"Aku tidak salah dengar kan? Nyonya menyebut nama Nona Davina?" gumam Johan tak percaya.
"Jangan-jangan Nyonya sudah tahu kalau Tuan muda sedang mengejar gadis itu? Gawat! Aku harus segera memberitahu Tuan Marvin." batin Johan khawatir.
"Kenapa wajahmu panik begitu?" tanya Julia menyadari perubahan ekspresi Johan.
"Tidak Nyonya, mungkin saya butuh menghirup udara segar. Saya permisi dulu Nyonya." jawab Johan sekaligus mencari alasan.
"Apakah kau mendengar nama gadis yang aku maksud? Jangan katakan apapun kepada Marvin. Anggap saja kau tidak pernah mendengarnya." ancam Julia.
"Ba-baik Nyonya." sahut Johan gugup lalu segera undur diri.
"Aku harus bagaimana ini? Haruskah aku tidak memberitahu Tuan muda? Tapi bagaimana kalau Nyonya punya niat buruk kepada Nona Davina? Kalau aku memberitahu Tuan pasti Nyonya akan menghukumku." gumam Johan kebingungan.
"Semoga saja itu hanya nama yang sama bukan Nona yang Tuan sukai." batin Johan menenangkan diri.
"Nyonya ini informasi tentang mahasiswi yang bernama Davina." ucap Radit menyerahkan sebuah berkas kepada Julia.
Julia menerima berkas itu dan membacanya dengan teliti. Julia tersenyum melihat foto yang menunjukkan kalau benar itu gadis yang ia maksud.
"Ternyata dia berasal dari kota K. Sepertinya gadis itu tidak memiliki latar belakang yang spesial." gumam Julia yang fokus membaca informasi yang ada ditangannya.
"Bisakah kau memberitahuku dimana ia tinggal?" tanya Julia kepada Radit.
"Mungkin di kos sekitar kampus Nyonya." jawab Radit tidak yakin karena memang dirinya tidak mengetahui. Baginya itu merupakan privasi mahasiswinya dan bukan ranahnya.
"Bisakah kau meminta bawahanmu untuk mencaritahu dia kos dimana?" pinta Julia.
"Baik Nyonya." sahut Radit patuh.
"Kalau begitu informasikan saja melalui pesan. Aku akan menunggunya hari ini." ucap Julia kemudian keluar dari ruangan Radit.
"Baik Nyonya akan segera saya lakukan." kata Radit menyanggupi kemudian mengantar Julia keluar ruangan dan memberikan hormat perpisahan.
"Ayo pulang." ajak Julia kepada Johan yang menunggu diluar ruangan.
__ADS_1
"Baik Nyonya." sahut Johan tanggap.
"Nyonya bolehkah saya bertanya?" ucap Johan hati-hati.
"Ada apa? Katakan." kata Julia.
"Siapa yang sedang Nyonya selidiki?" tanya Johan memberanikan diri.
"Kenapa kau ingin tahu? Memangnya itu urusanmu?" kata Julia heran.
"Maaf atas kelancangan saya Nyonya. Saya hanya ingin tahu saja, mungkin saya bisa membantu." ucap Johan.
Julia menatap Johan dengan intens.
"Yang kau katakan benar juga." kata Julia setuju.
"Aku sedang mencari informasi gadis yang pernah menyelamatkanku beberapa hari yang lalu. Awalnya aku harap dengan datang ke kampus bisa menemukannya tapi ternyata aku tetap saja tidak tahu dimana tempat tinggalnya." cerita Julia.
"Boleh saya tahu gadis itu Nyonya?" tanya Johan.
"Davina. Aku merasa tertarik dengan gadis itu. Aku ingin mengenalnya, sepertinya dia gadis yang baik." jawab Julia membuat Johan terdiam.
"Aku sempat berpikir kalau ingin menjodohkan gadis itu dengan Marvin. Tapi rupanya Marvin memilih untuk mencari calon sendiri." tambah Julia dengan nada kecewa.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau tahu siapa gadis yang membuat cucuku yang anti perempuan itu tergila-gila?" tanya Julia penasaran.
"Maaf Nyonya, saya tidak tahu. Tuan muda selalu punya cara sendiri saat berinteraksi dengan gadis itu. Tuan tidak pernah melibatkan saya." jawab Johan memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
"Haih.. Kau ini. Yasudah aku ingin istirahat. Semoga saja aku bisa bertemu dengan gadis itu lagi." ucap Julia berharap.
Johan merasa tak enak hati namun disisi lain dirinya juga ingin memastikan lebih dulu apakah gadis yang dimaksud Julia adalah benar Davina yang sedang dikejar oleh Marvin atau tidak.
"Maafkan saya Nyonya." batin Johan merasa bersalah.
*
*
*
Kali ini Marvin datang ke perusahaan diantar oleh Thomas. Mau tidak mau Marvin meminta bantuan Thomas untuk menemaninya bertemu dengan klien. Bukan Marvin tidak mampu menghadapinya sendiri tapi hanya untuk berjaga-jaga. Karena ada rumor yang mengatakan kalau klien yang akan Marvin temui kali ini cukup berbahaya. Maka Marvin harus waspada agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Kau cukup menemaniku didalam ruangan dan biarkan anak buahmu berjaga diluar." titah Marvin.
"Baik Tuan." sahut Thomas.
__ADS_1
Dengan sigap Thomas memberikan perintah kepada anak buahnya sesuai dengan instruksi Marvin.
Tak berselang lama, klien yang ditunggu Marvin sudah datang dengan penjagaan ketat. Suasana diruangan itu tiba-tiba menjadi mencekam.
"Selamat pagi, Tuan Anton." sapa Marvin ramah mempersilahkan tamunya duduk.
"Selamat siang Tuan Marvin." balas Anton dengan senyuman aneh.
"Bagaimana perjalanan Anda? Saya harap kedatangan Anda ke kota ini mempunyai kesan yang baik." ucap Marvin basa-basi.
"Terimakasih atas perhatian Anda, tetapi aku tidak ingin bicara omong kosong. Langsung saja membahas urusan bisnis karena aku bukanlah orang yang suka membuang-buang waktu." kata Anton remeh.
"Baik sesuai dengan permintaan Anda." sahut Marvin dingin.
Marvin melakukan presentasi tentang rencananya dan menjelaskan dengan sangat rinci.
PLOK PLOK PLOK!
"Ternyata benar yang dikatakan orang-orang. Tuan muda Harris memang sangat cerdas. Aku lega karena bisa membuktikannya sendiri hari ini." puji Anton memberikan tepuk tangan.
"Terimakasih Tuan." sahut Marvin tanpa ekspresi.
"Baiklah aku akan melakukan investasi dalam proyek ini. Tapi aku ingin selama proyek berlangsung setiap minggu harus melaporkan progresnya melalui emailku. Aku bukan orang yang suka dengan omong kosong dan tidak akan mengambil sebuah proyek yang tidak menguntungkan." ucap Anton terus terang.
"Anda tidak perlu khawatir, saya akan melakukan sesuai dengan kesepakatan bersama." sahut Marvin tegas.
"Serahkan kontraknya kepada asistenku." pinta Anton yang disetujui oleh Marvin.
Setelah selesai membaca kontrak, Anton menandatanginya dan menyerahkannya kepada Marvin.
"Aku harap kerjasama ini menghasilkan keuntungan yang besar. Sampai jumpa lagi Tuan muda Harris." pamit Anton dengan menjabat tangan Marvin.
"Terimakasih, saya juga berharap demikian." sahut Marvin menerima jabatan tangan Anton.
Marvin mengerutkan keningnya saat merasakan cengkeraman Anton yang begitu kuat. Marvin menangkap seringai diwajah Anton. Namun Marvin hanya membalasnya dengan tatapan dingin.
Setelah Anton dan anak buahnya keluar, Marvin menghembuskan nafas dengan kasar.
"Ada apa Tuan?" tanya Thomas mendapati ekspresi aneh diwajah Marvin.
"Suruh seseorang untuk menyelidiki Anton. Aku curiga kenapa dengan mudah dia menyetujui kerjasama ini. Aku ingin tahu apa alasannya." perintah Marvin.
"Baik Tuan." sahut Thomas kemudian menghubungi seseorang untuk menyelidiki Anton.
-BERSAMBUNG
__ADS_1