
"Nona maaf apakah Nona baik-baik saja?" tanya Mely khawatir namun tidak dijawab oleh Davina.
Sedangkan Orkan sudah kembali melaksanakan tugasnya yaitu menjadi pengawal bayangan Davina. Melindungi dan mengawasi Davina dari kejauhan.
"Nona kita mau kemana?" tanya Mely saat menyadari dirinya sudah mengikuti Davina berjalan cukup jauh sejak keluar dari hotel.
Davina menghentikan langkahnya, pertanyaan Mely membuatnya tersadar.
"Astaga kenapa aku jadi tidak fokus begini?" gumam Davina.
"Nona baik-baik saja?" tanya Mely sekali lagi ingin memastikan keadaan majikannya.
Davina menatap Mely kemudian menampakkan senyum yang dipaksakan.
"Aku baik-baik saja." jawab Davina.
Mely dapat melihat dengan jelas bahwa majikannya itu sedang tidak baik-baik saja. Lalu munculah ide dipikiran Mely untuk membantu menghilangkan kemarahan Davina.
Mely berlari menuju pangkalan ojek yang tidak jauh berada didepannya. Mely menghampiri salah satu tukang ojek dan berbicara dengannya.
"Ojek Neng? Mau kemana?" tanya tukang ojek pria yang mungkin berusia 40 tahun.
"Maaf Pak, saya mau pinjam motor Bapak boleh? Nanti saya akan membayar sewanya." pinta Mely memberikan penawaran.
Dari kejauhan Davina hanya mengerutkan keningnya melihat Mely yang tiba-tiba berlari ke pangkalan ojek.
"Aduh Neng, tapi ini hanya motor butut. Neng bawa saja tapi jangan lupa dikembalikan ya." pesan pria itu dengan nada bercanda.
Mely terkekeh kemudian menerima kontak yang diberikan kepada bapak ojek kemudian menaiki motor bebek jadul itu. Mely memakai helm terlebih dahulu kemudian mengendarai motor menuju Davina.
"Ada apa ini, Mel? Kau mau kemana?" tanya Davina heran.
"Nona pakailah ini, aku akan mengajak Nona berkeliling." jawab Mely bersemangat sembari memberikan sebuah helm kepada Davina.
"Apakah ini termasuk caramu menghiburku?" tanya Davina.
"Bisa dianggap begitu. Ayo Nona naiklah." ajak Mely yang dituruti oleh Davina.
Mely mengendarai motor dengan kecepatan pelan dan hati-hati.
"Kau tidak bisa naik motor ya?" tanya Davina mencibir Mely.
"Tentu saja aku bisa Nona." jawab Mely tak terima.
"Lalu kenapa kecepatanmu seperti sedang memboncengkan orangtua saja? Bisa-bisa punggungku sakit kalau kelamaan diatas motor." sindir Davina membuat Mely terkekeh.
"Baiklah sesuai permintaan Nona." ucap Mely langsung menambah kecepatan laju motornya.
Davina tersenyum tipis. Davina bisa merasakan angin yang menerpa wajahnya. Meskipun hari sudah terik namun pepohonan besar dipinggir jalan membuat udara siang dikota itu tetap sejuk.
"Apakah Nona merasa lebih baik?" tanya Mely sembari menatap Davina dari kaca spion.
__ADS_1
"Hem.. Lumayan." jawab Davina yang hatinya merasa lebih baik.
"Baiklah kita harus kembali ke pangkalan ojek. Pasti bapak itu sudah menunggu terlalu lama." ajak Mely membuat Davina terkekeh.
"Oke." sahut Davina.
Terlihat raut wajah bapak ojek yang gembira saat mendengar suara motornya sudah kembali.
"Akhirnya Neng kembali. Aku pikir Neng akan membawa kabur motor kesayanganku ini." ucap pria itu khawatir namun dengan nada bercanda.
"Maafkan teman saya ya, Pak." kata Davina tak enak hati.
"Oh tidak apa-apa Neng santai saja." sahut pria itu sambil tertawa.
"Terimakasih Pak. Ini uang sewanya." ucap Davina kemudian memberikan beberapa lembar uang kertas.
"Ini terlalu banyak Neng. Cukup 1 lembar saja." tolak pria itu.
"Tidak Pak. Anggap saja ini rejeki untuk istri dan anak bapak." ucap Davina dengan senyum manis diwajahnya.
"Terimakasih Neng cantik. Semoga diberikan rejeki yang berlimpah dan dipertemukan jodoh yang baik ya." kata pria itu penuh haru serta mendoakan kebaikan untuk Davina.
"Terimakasih banyak Pak." sahut Davina kemudian mengajak Mely melanjutkan perjalanannya.
"Jodoh yang baik." batin Davina tertawa miris.
"Nona kita mau kemana?" tanya Mely.
Mely menggandeng tangan Davina membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"Nona baik-baik saja? Nona bisa bercerita padaku." ucap Mely penuh perhatian.
Davina tersenyum tipis kemudian melirik sebuah kafe sederhana diseberang jalan.
"Ayo kita mampir ke kafe itu." ajak Davina yang diangguki oleh Mely.
Setelah memesan minuman, Davina dan Mely memilih tempat duduk yang masih kosong.
"Nona maukan bercerita padaku? Apa yang sebenarnya terjadi antara Nona dan Tuan Marvin?" tanya Mely yang sudah tidak sabar ingin tahu permasalahan majikannya.
"Memangnya terlihat begitu jelas ya?" tanya Davina.
"Iya. Setelah bertemu dengan Tuan Marvin, Nona terlihat sangat marah." jawab Mely jujur.
Davina menatap Mely sejenak kemudian menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Davina mulai menceritakan kejadiannya dengan Marvin membuat Mely akhirnya mengerti permasalahan majikannya.
"Sebenarnya hanya salah paham saja. Tapi entah kenapa aku sangat marah saat dia menuduhku. Bahkan aku tidak mau membela diri dan mengatakan yang sebenarnya." ucap Davina yang juga menyadari kesalahannya.
Davina bisa memaklumi tuduhan Marvin. Mungkin orang lain juga akan berpikiran yang sama saat melihat Davina mengingat statusnya yang sengaja disembunyikan.
"Sepertinya Nona tidak benar-benar marah dengan Tuan Marvin." ucap Mely membuat Davina terdiam.
__ADS_1
"Kau benar. Aku tidak bisa menyalahkannya sepenuhnya. Wajar kalau dia menuduhku seperti itu." kata Davina sadar.
"Lalu apakah Nona benar-benar tidak ingin bertemu dengan Tuan Marvin lagi?" tanya Mely memastikan.
"Entahlah, Mel." jawab Davina bingung.
"Sepertinya Nona sudah memiliki perasaan kepada Tuan Marvin." ucap Mely membuat Davina memicingkan matanya.
"Bagaimana bisa kau seenaknya menebak isi hatiku?" tanya Davina memberikan tatapan tajam.
"Maafkan aku Nona. Tapi aku bisa melihatnya dengan jelas. Sebenarnya saat ini Nona menyesali perkataan Nona kepada tuan Marvin kan?" kata Mely yang tidak bisa dipungkiri Davina bahwa tebakan Mely benar.
"Dalam sebuah hubungan, salah paham merupakan hal yang wajar Nona. Namun emosi sesaat hanya akn membuat permasalahan itu semakin rumit." ucap Mely bijak.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Davina.
"Nona tidak perlu berbuat apa-apa. Lebih baik Nona menenangkan diri terlebih dahulu. Aku yakin Tuan Marvin juga pasti sangat menyesal." jawab Mely.
"Tuan Marvin pasti akan berusaha untuk menebus kesalahannya. Nona tenang saja." tambah Mely lagi.
"Kau yakin sekali." cibir Davina.
"Aku bisa menilai karakter Tuan Marvin, Nona. Terlebih lagi sepertinya Nona Davina wanita pertama yang berhasil menarik perhatiannya. Aku yakin Tuan Marvin tidak akan menyerah begitu saja." kata Mely penuh keyakinan.
"Sebenarnya kau itu bekerja untuk siapa? Kenapa kau membela orang lain dihadapan majikanmu?" tanya Davina membuat Mely tersadar.
"Maaf Nona aku tidak bermaksud begitu. Tolong Nona jangan marah padaku." ucap Mely ketakutan.
"Kau ini! Memangnya aku orang yang berpikiran sempit? Aku tidak masalah." kata Davina terkekeh.
"Terimakasih, Mel. Aku merasa lebih baik." ucap Davina membuat Mely tersenyum puas.
"Sama-sama Nonaku." sahut Mely antusias.
Hari menjelang sore, Davina yang sudah mengambil pakaian ganti ke kos saat ini sedang perjalanan kembali ke hotel. Davina tidak mengajak Mely karena dirinya akan menginap bersama orangtuanya dan membiarkan Mely beristirahat di kos saja. Awalnya Mely menolak dan akan ikut menyewa kamar dihotel yang sama namun Davina tidak mengizinkannya. Akhirnya Mely hanya pasrah mematuhi perintah Davina.
"Sayang, kau ingin makan malam dimana?" tanya Adam menawarkan Davina.
"Aku ikut saja, Yah. Yang penting identitasku aman." jawab Davina santai.
"Baiklah. Aku akan meminta Orkan mengaturnya." sahut Adam kemudian menelpon dan memberikan perintah kepada Orkan.
"Oh iya, Ibu membawakan sebuah gaun untukmu. Bagaimana kalau kau menggunakannya malam ini?" ucap Sera bergegas mengambil sebuah kantong yang berada didalam kopernya.
"Ibu untuk apa repot-repot? Ini kan makan malam biasa. Aku pakai baju santai saja." tolak Davina.
"Oh tidak. Ibu dan Ayah akan berdandan, kau juga harus menyesuaikan." kata Sera tidak mau dibantah.
"Astaga kenapa aku harus ikut-ikut sih? Aku lelah harus menjadi obat nyamuk Ayah dan Ibu." gerutu Davina.
Adam dan Sera saling melempar pandang lalu terkekeh mendengar perkataan putri kesayangannya.
__ADS_1
-BERSAMBUNG