
"Nak, untuk menebus kesalahanku aku akan mengubah semua asetku atas namamu. Semua berkas sedang diurus, Neo akan memberikannya padamu jika sudah siap." ucap Anton.
"APA?!"
"Ti-tidak perlu, Paman. Aku rasa itu sangat berlebihan. Lagipula aset Ayah saja aku belum tentu sanggup mengurusnya." tolak Davina sopan.
"Anggap saja ini sebagai permintaan maafku. Kau bisa menyimpannya dan memberikannya kepada anak-anakmu kelak." kata Anton lagi.
"Paman, aku sungguh keberatan untuk menerimanya. Jika semua aset Tuan berikan kepadaku lalu bagaimana Tuan melanjutkan hidup?" tanya Davina serius.
"Kau tidak perlu khawatir dengan orangtua sepertiku. Aku sudah menyimpan sendiri untuk kebutuhanku." jawab Anton santai.
"Sebenarnya apa tujuan Paman?" tanya Davina curiga.
"Haha bagus sekali, kau begitu waspada. Tenang saja, aku tidak memiliki niat jahat padamu, Nak. Sudah aku katakan ini sebagai tanda permintaan maafku atas kesalahpahaman yang terjadi. Kalaupun aku ingin memberikan kompensasi kepada Ayahmu, aku rasa dia tidak membutuhkan itu. Jadi aku mengubahnya atas namamu." jawab Anton menjelaskan.
"Kau cukup sadar diri juga ternyata." cibir Adam.
"Jangan merendahkanku dihadapan putrimu." protes Anton.
"Ini sudah keputusanku jadi tolong terima ya, Nak?" pinta Anton lagi.
Davina menatap Adam sejenak kemudian Marvin untuk meminta persetujuan. Kedua lelaki itu hanya tersenyum kepadanya.
"Baiklah, aku menerima niat baik Paman." ucap Davina memancing senyum diwajah Anton.
"Baguslah, aku lega sekarang." sahut Anton puas.
"Paman harap kau dan suamimu bisa saling mencintai dalam suka dan duka. Paman akan mendoakan kebahagian kalian." kata Anton penuh harap.
"Terimakasih Paman." sahut Davina.
"Kau ingin pergi sekarang?" tanya Adam.
"Tentu. Aku ingin menikmati masa tuaku sendiri." jawab Anton.
"Apakah kita akan bertemu lagi?" tanya Adam.
"Heh.. Apa kau akan merindukanku?" tanya Anton.
"Jaga mulutmu!" seru Adam tak terima.
"Hahaha aku rasa tidak akan kembali ke negara ini lagi. Tapi kalau kalian ada masalah dan membutuhkan bantuanku, aku pastikan siap siaga untuk kalian." kata Anton terkekeh.
"Kau pikir aku selemah itu hingga butuh bantuanmu?" tanya Adam meremehkan.
"Lihatlah Nak, mulut Ayahmu itu tajam sekali." kata Anton mengadukannya kepada Davina.
Marvin dan Davina yang mendengar perdebatan pria tua itu hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.
"Tuan jadwal penerbangan Anda 1 jam lagi." bisik Neo mengingatkan.
"Baiklah waktuku sudah tidak banyak lagi. Aku harap kalian sekeluarga berbahagialah." pamit Anton.
"Aku akan mengantarmu." ucap Adam.
"Aku sangat tersanjung." sahut Anton.
"Haih.. Ayo!" ajak Adam ketus.
"Haha Ayah kalian ini pemarah sekali." ucap Anton.
__ADS_1
"Paman berhati-hatilah. Sampai jumpa lagi." ucap Davina.
Anton menganggukkan kepalanya lalu menyeringai tipis kepada Marvin.
Davina menghembuskan nafas kasar setelah kepergian Anton.
"Ada apa? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Marvin.
"Hah aku saja belum tentu bisa menghandle semua urusan Ayahku. Ini ditambah lagi, aku benar-benar tidak siap." gerutu Davina.
"Hahaha.. Suamimu ini pasti akan mengajarimu." kata Marvin.
"Aku benar-benar tidak tertarik." sahut Davina.
"Baiklah jangan memaksakan dirimu. Kau pilih saja apa yang kau sukai maka aku akan selalu mendukungmu." kata Marvin.
"Benarkah?" tanya Davina.
"Tentu saja." sahut Marvin yakin.
"Kesalahpahaman ayahku sudah terselesaikan. Kira-kira apa lagi rintangan yang akan kita hadapi setelah ini?"
"Aaww!!" ringis Davina saat Marvin menjetikkan jari didahinya.
"Jangan memikirkan hal-hal yang belum terjadi." ucap Marvin memperingatkan.
"Aku hanya ingin kita berjaga-jaga." kata Davina membela diri.
"Daripada berpikir hal buruk bagaimana kalau kita merencanakan bulan madu?" bisik Marvin.
"Apa?! Tidak-tidak aku masih harus menyelesaikan kuliahku." tolak Davina spontan.
Melihat Marvin yang hanya terdiam membuat Davina merasa bersalah.
Marvin menghela nafas kemudian tersenyum kepada istrinya.
"Kau tenang saja, suamimu ini akan menunggumu sampai kapapun. Kalaupun tidak bisa pergi bulanmadu, kita tetap bisa melakukannya dirumah." bisik Marvin dengan nada menggoda.
"Hentikan! Jangan menggodaku lagi." protes Davina menutupi wajahnya yang memerah.
"Haha istriku pemalu sekali. Lihatlah wajahmu sudah memerah. Apakah istriku ingin melakukannya disini?" goda Marvin lagi.
"Diam!" seru Davina membuat Marvin terkekeh.
"Aku tidak akan menggodamu lagi. Istirahatlah." ucap Marvin mengecup lembut kening istrinya.
"Aku bosan sekali hanya berbaring disini. Bukannya aku boleh pulang hari ini?" tanya Davina.
"Seharusnya begitu. Tapi karena kau yang memaksakan diri tadi membuat dokter harus kembali memantau kondisimu 1x24jam." jawab Marvin.
"Ah baiklah." sahut Davina.
"Lain kali jangan membahayakan dirimu lagi, mengerti?" kata Marvin memperingatkan.
"Emm.. Aku tidak janji." ucap Davina.
"Aku sungguh ingin mengurungmu saja dirumah." kata Marvin.
"Jika kau berani melakukan itu maka aku akan kabur dan aku pastikan kau tidak akan pernah bisa menemukanmu." ancam Davina.
"Astaga istriku ini tega sekali mengancam suaminya sendiri. Benar-benar menyakiti hatiku." ucap Marvin memasang ekspresi sedih.
__ADS_1
"Singkirkan ekspresi anehmu itu. Kau benar-benar tidak pantas terlihat menyedihkan!" kata Davina geli.
"Aku masih bisa menunjukkan ekspresiku yang lain. Apakah istriku mau melihatnya?" ucap Marvin mendekatkan bibirnya ke telinga Davina.
"Cukup! Aku akan marah jika kau terus bertingkah aneh seperti ini!" kata Davina.
"Oke oke, aku akan bersikap baik kali ini. Aku tiba-tiba mengantuk, biarkan aku tidur memelukmu ya?" pinta Marvin.
"Hem..." sahut Davina.
Marvin menaiki ranjang dan berbaring disamping Davina lalu memeluknya. Tak berselang lama pria itu pun terlelap.
"Kau pasti sangat lelah. Maaf sudah membuatmu khawatir. Namun lain kali aku akan tetap melakukan hal yang sama." gumam Davina.
...****************...
Hari-hari berlalu, Davina sudah berangsur pulih setelah beristirahat selama satu minggu dirumah. Tentu saja hal yang membosankan bagi Davina. Sedangkan orangtuanya sudah kembali ke kota K.
"Sepertinya aku sudah lama tidak menemui Mely. Aku harus memintanya kemari." gumam Davina langsung mendial nomor pengawal pribadinya itu.
"Hallo Nona, akhirnya Nona mengingatku. Aku pikir Nona sudah mempunyai orang baru dan melupakanku." sapa Mely heboh.
"Maaf-maaf, bisakah datang kemari?" tanya Davina.
"Kemana Nona?" tanya Mely.
"Kerumah suamiku." jawab Davina.
"Ke-kediaman Tuan Harris?" tanya Mely memastikan.
"Tentu saja. Memangnya kemana lagi." jawab Davina.
"Baik Nona. Saya akan segera meluncur kesana." sahut Mely bersemangat.
"Oke aku menunggumu." ucap Davina setelah itu panggilan pun terputus.
Tanpa pikir panjang, Mely bergegas bersiap untuk menemui Davina. Setelah itu menunggu taxi dipinggir jalan.
"Semenjak Nona menikah, aku menjadi kesepian." gumam Mely.
"Aku rindu Nona yang mengomeliku. Apakah semua orang yang mempunyai pasangan akan seperti itu? Bagaimana denganku? Apa aku juga bisa memiliki hubungan seperti itu?" tanya Mely dalam hati.
TIN TIN!
Suara klakson mobil mengagetkan Mely.
"Mobil siapa ini?" tanya Mely dalam hati.
Mata Mely menyipit saat kaca mobil terbuka.
"Kau? Sepertinya aku pernah melihatmu." gumam Mely mencoba mengingat.
"Naiklah. Nona Davina memintaku untuk menjemputmu." ucap pria itu.
"Ah aku ingat sekarang. Kau asisten setia Tuan Marvin kan? Tapi aku tidak tahu namamu." kata Mely jujur.
"Johan. Kau harus mengingatnya." sahut Johan dingin.
"Cih.. Baiklah aku akan mengingat namamu tapi tidak perlu memasang wajah jelek seperti itu." protes Mely.
"Masuklah." kata Johan yang hanya memberikan tatapan datar.
__ADS_1
"Haih kenapa Nona mengirim orang yang tidak bersahabat seperti ini." gumam Mely dalam hati.
-BERSAMBUNG