
"Kenapa kau diam saja?" tanya Marvin.
Davina hanya memberikan tatapan sendu tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Hem.. Kau tenang saja, aku tidak akan memaksamu untuk mengungkapkan identitasmu. Aku menghargai keputusanmu, istriku." ucap Marvin dengan menyentuh kepala Davina dan membelainya dengan lembut.
Davina bisa merasakan ketulusan Marvin. Davina tahu ada rasa kecewa yang merasuki hati Marvin. Tapi untul saat ini Davina belum bisa mengatakan yang sebenarnya karena belum bisa memastikan keamanan dirinya. Davina tidak ingin Marvin terlibat dengan permasalahan keluarganya.
"Kau tidak marah padaku?" tanya Davina lirih.
"Marah padamu? Aku rasa itu tidak perlu. Aku yakin kau pasti punya alasan besar kenapa kau menyembunyikan dirimu. Aku akan menunggumu menceritakannya sendiri padaku." jawab Marvin membuat Davina tertegun.
"Apakah benar masih ada ketulusan pria seperti ini?" tanya Davina dalam hati.
"Aku takut kau akan kecewa jika mengetahui siapa diriku sebenarnya." sahut Davina.
"Dari awal aku tidak pernah mempermasalahkan siapa dirimu dan darimana asalmu. Aku telah memilih untuk menikahimu maka aku juga harus menerima semua tentangmu." ucap Marvin penuh keyakinan.
"Itu mungkin tidak akan menjadi masalah besar kalau aku berasal dari keluarga biasa saja. Bagaimana kalau identitasku tidak seperti yang kau pikirkan?" tanya Davina penasaran.
"Kau pikir aku bodoh? Aku sudah mencoba menyelidikimu tapi aku tidak bisa menemukan apapun. Sangat mudah bagi kekuatan keluarga Harris untuk membongkar identitasmu jika kau gadis biasa. Tapi apa yang aku dapat? Aku sama sekali tidak bisa mengetahui latar belakangmu." jawab Marvin membuat Davina terkejut.
"Jadi kau sudah menyelidiki aku?" tanya Davina tak percaya.
"Iya, dari awal aku sudah merasa penasaran denganmu. Kau hebat dalam ilmu bela diri, insting dan sifat telitimu menandakan kau sudah sangat terlatih. Mana mungkin aku tidak curiga padamu?" ucap Marvin membuat Davina tersadar bahwa apa yang dikatakan Marvin benar.
"Jadi kau sudah bisa menebak siapa aku?" tanya Davina penasaran.
"Aku hanya menduga-duganya saja." jawab Marvin jujur.
"Jadi menurutmu siapa diriku sebenarnya?" tanya Davina lagi.
"Aku rasa mungkin identitasmu lebih kuat dan lebih berkuasa dariku. Nenek juga pernah bilang kalau dia pernah melihatmu menggunakan jurus yang hanya diwarisi oleh empat keluarga terkuat di negara ini saat kau menyelamatkannya dari pencopet. Aku yakin kau mungkin salah satu keturunan dari keluarga itu." jawab Marvin membuat Davina terperanjat.
"Ternyata Nenek juga sudah curiga padaku?" tanya Davina panik.
"Nenek tidak curiga padamu. Dia hanya menebaknya saja. Nenek tidak pernah mempermasalahkan latar belakangmu sama sepertiku." jawab Marvin lembut.
Davina menatap lekat wajah Marvin, manik mata keduanya saling bertemu.
"Jangan khawatir. Aku akan selalu berada disisimu dan menjagamu. Jangan ragu untuk berbagi cerita denganku." ucap Marvin semakin menambah rasa bersalah dihati Davina.
"Kenapa kau begitu baik padaku, Mas?" tanya Davina lirih.
"Kau istriku. Bukankah sudah seharusnya aku bersikap baik padamu?" sahut Marvin.
"Tapi kau bahkan tidak mengenalku sebelumnya. Kau juga tidak tahu siapa identitasku sebenarnya. Bagaimana kalau aku hanya memanfaatkanmu? Apa kau tidak mengkhawatirkan hal itu sama sekali?" tanya Davina penasaran.
"Haha.. Kau lucu sekali, Vina. Aku tahu gadis seperti apa dirimu. Kau ingatkan saat pertama kali kita bertemu? Bukankah kau selalu menghindariku? Kalau kau punya rencana lain pasti kau tidak akan menolakku pada waktu itu." ucap Marvin mengingatkan perlakuan brutal Davina kepada pria itu.
"Bagaimana kalau aku hanya bersandiwara untuk menarik perhatianmu?" tanya Davina lagi mengundang tawa kecil dari mulut Marvin.
__ADS_1
"Kau bukanlah gadis seperti itu. Aku bisa melihat kejujuran dari kedua matamu." jawab Marvin.
"Sungguh?" tanya Davina tak percaya.
"Ya, aku sudah dipertemukan dengan banyak wanita yang berusaha merayuku sebelum bertemu denganmu. Aku bisa membedakan mana mata wanita licik dan mana yang tulus." jawab Marvin jujur.
"Jadi kau sedang memberitahuku bahwa banyak wanita yang mengejarmu? Kau sedang pamer padaku?" gerutu Davina dengan bibir yang sudah manyun lima senti.
"Apakah aku salah bicara? Kenapa kau terdengar sangat kesal? Aku hanya mengatakan yang sejujurnya." ucap Marvin panik.
"Tidak ada. Aku mengantuk, aku mau tidur dulu." kata Davina yang langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Marvin.
"Aneh? Apa ada yang salah?" tanya Marvin bingung.
Marvin mencoba memahami perubahan sikap Davina. Marvin tersenyum menyeringai saat menyadari sesuatu.
"Kau cemburu?" tanya Marvin hati-hati.
"Jangan berpikir sembarangan." elak Davina ketus.
"Haish.. Jangan marah, Sayang. Aku sudah pernah mengatakannya padamu, hanya kau satu-satunya wanita yang menarik perhatianku. Aku tidak pernah jatuh cinta kepada wanita manapun selain dirimu." ucap Marvin mencoba merayu Davina.
Tidak bisa dipungkiri Davina puas dengan perkataan Marvin. Davina tersenyum simpul mendengar kejujuran suaminya.
"Sayang, maafkan aku ya?" ucap Marvin memelas.
"Apakah yang kau katakan benar? Hanya aku wanita yang menarik perhatianmu? Bukankah banyak wanita cantik dan seksi yang dengan sukarela melemparkan tubuhnya kepadamu." kata Davina masih dengan suara yang dingin.
"Kau memang benar. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang membuatku tertarik, justru membuatku merasa jijik." jawab Marvin jujur.
"Hemm.. kali ini aku akan percaya padamu." jawab Davina.
"Kau harus mempercayaiku sekarang dan seterusnya. Aku tidak akan mengkhianatimu." ucap Marvin percaya diri.
"Aku akan memegang perkataanmu itu." sahut Davina.
"Jadi apakah aku harus tidur dengan menatap punggungmu?" goda Marvin.
"Tidak masalah bukan? Aku tidak ingin melihatmu." sahut Davina.
"Perkataanmu sungguh menyakiti hatiku. Tadi kau bilang sudah memaafkanku, jadi kenapa kau masih mengacuhkanku?" ucap Marvin dengan nada sedih.
"Hentikan aktingmu itu. Bukankah kau Tuan Muda Harris yang terkenal kejam dan tidak berperasaan? Sejak kapan kau bertingkah alay seperti ini?" tanya Davina yang membalikkan tubuhnya.
Kini hanya tersisa sedikit jarak diantara keduanya.
"Kenapa kau begitu dekat? Bukankah tempatmu masih luas?" protes Davina terkejut.
"Kau bilang aku alay? Ya, kau benar. Sejak bertemu denganmu aku jadi tidak bisa mengendalikan diriku sendiri." ucap Marvin.
"Bagaimana jika karyawanmu tahu sifatmu seperti ini? Pasti mereka akan menertawakanmu." kata Davina.
__ADS_1
"Mereka tidak akan tahu aku yang seperti ini. Aku hanya akan bersikap manis saat berduaan denganmu." sahut Marvin membuat Davina tersipu.
"Hentikan gombalanmu itu." ucap Davina yang langsung menutupi wajahnya dengan selimut.
"Hei, kenapa kau menyembunyikan wajahmu? Apakah kau sedang tersipu?" goda Marvin.
"Marvin hentikan. Ayo tidur, ini sudah malam." ucap Davina yang masih belum menampakkan wajahnya.
"Baiklah aku tidak akan menggodamu. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Marvin.
"Apa itu?" tanya Davina.
"Bolehkah aku tidur dengan memelukmu?" pinta Marvin hati-hati.
"Tidak boleh." tolak Davina.
"Kau curang sekali. Bukannya tadi malam kau sudah tidur dengan memelukku? Aku hanya ingin kita impas." ucap Marvin dengan nada memelas yang disengaja.
"Jadi kau perhitungan?" tanya Davina gugup dengan setengah mengintip dari balik selimut.
"Yasudah kalau kau tidak mau. Aku tidak akan memaksamu." ucap Marvin setelah itu membalikkan tubuhnya membelakangi Davina.
"Eh? Apakah dia marah?" gumam Davina heran.
"Mas?" panggil Davina namun tak ada jawaban.
"Kau marah ya?" tanya Davina namun masih saja tak mendapat jawaban dari Marvin.
"Astaga bagaimanakah caranya membujuk pria dewasa yang sedang merajuk?" tanya Davina kebingungan dalam hati.
"Maaf. Apakah begini saja bisa?" bisik Davina lirih dengan menggeser tubuhnya dan memeluk Marvin dari belakang.
Marvin kaget saat tiba-tiba tubuh Davina menyentuh punggungnya, ia tidak berpikir jika Davina berani melakukan itu padahal dirinya hanya menggoda istrinya itu. Marvin tersenyum licik karena merasa dirinya sudah menang.
"Jangan marah lagi, oke? Selamat malam, Mas." ucap Davina lembut.
"Aaaa...!!" pekik Davina terkejut saat tiba-tiba Marvin membalikkan tubuhnya.
Kini hidung mancung keduanya hampir saja bersentuhan.
"Kenapa kau berbalik?" tanya Davina gugup.
"Bukankah kau semalam memelukku seperti ini? Aku hanya menirukan apa yang kau lakukan padaku." jawab Marvin tak bersalah.
"Ta-tapi aku kan tidak sengaja. Ini kau juga memelukku terlalu erat, aku tidak bisa bernafas." ucap Davina mencoba melepaskan diri.
"Diamlah kalau kau tidak ingin sesuatu terjadi. Aku sangat lelah, bisakah kita tidur sekarang?" pinta Marvin seketika membuat tubuh Davina terpaku.
"Ba-baik." sahut Davina tergagap.
Marvin memejamkan matanya dengan seringai licik diwajahnya.
__ADS_1
"Malam ini aku menang." batin Marvin puas.
-BERSAMBUNG