Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 76 Mulai Beraksi


__ADS_3

Davina tersenyum tipis melihat ekspresi Marvin yang tak berkedip. Sebenarnya Davina juga sangat malu karena baru kali ini ia menggunakan pakaian renang dihadapan seorang pria. Tapi karena status mereka sudah suami istri, maka Davina tidak keberatan sama sekali.


Davina melompat membuat Marvin tersadar.


"Sabar Marvin. Kau harus bisa menahannya." batin Marvin.


Marvin tidak menyangka jika tubuh istrinya begitu menggoda. Untung saja dia sudah menyewa tempat itu, kalau tidak maka Marvin akan sangat menyesal. Marvin sungguh tidak akan rela bila tubuh seksi istrinya dilihat oleh pria lain. Hanya dia yang boleh melihat kemolekan Davina.


SPLASH!


Davina mencipratkan air kearah Marvin membuat pria itu terkejut.


"Istriku nakal sekali." ucap Marvin setelah itu bergegas melompat ke arah Davina.


"Aaaa!" teriak Davina kaget.


"Kau yang menggodaku ya. Jangan salahkan aku kalau aku lepas kendali." kata Marvin menyeringai.


"Hei, apa maksudmu?" tanya Davina dengan mendelik.


"Apakah kau takut sekarang?" ledek Marvin dengan menyunggingkan sudut bibirnya.


"Heh takut? Apa yang perlu kutakutkan? Bagaimana kalau kita bertaruh?" tantang Davina.


"Bertaruh?" tanya Marvin mengerutkan keningnya.


"Iya, siapa yang bisa selesai berenang 2 kali bolak balik lebih dulu maka dia boleh meminta apapun yang dia mau." jawab Davina.


"Kau yakin?" tanya Marvin memastikan.


"Tentu saja." jawab Davina percaya diri.


"Yang kalah akan menuruti apapun permintaan yang menang?" tanya Marvin lagi.


"Hanya satu permintaan." sahut Davina memperjelas.


"Baiklah, perkataanmu tidak boleh ditarik kembali. Aku harap kau tidak menyesalinya." ucap Marvin dengan tatapan nakal.


"Kita lihat saja nanti." sahut Davina.


"Siap?" tanya Davina.


Saat ini keduanya sudah berada di pinggir kolam dan akan memulai taruhan mereka.


"1, 2, 3... Go!" teriak Marvin dan Davina bersamaan keduanya mulai berenang dengan cepat.


Marvin berenang dengan penuh percaya diri dan yakin akan memenangkan petaruhan ini. Sedangkan Davina hanya fokus menggerakkan tangan dan kakinya untuk mengarungi kolam renang itu.


"Yeaaah!" seru Davina dengan mengangkat kedua tangannya karena ia berhasil lebih dulu.


"Hah? Aku kalah?" tanya Marvin tak percaya.


"Hahaha kau sudah meremehkanku." ucap Davina puas.


"Kau gesit sekali. Apakah kau pernah ikut kompetisi berenang?" tanya Marvin penasaran.


Kemampuan berenang Marvin tidak perlu diragukan lagi. Demi melanjutkan kejayaan keluarga Harris ia telah berulang kali dilatih militer. Semua itu untuk memperkuat fisik dan bersiap menghadapi bahaya apapun yang akan terjadi. Namun dibandingkan dengan Davina, ternyata kemampuan Marvin masih tidak ada apa-apanya.


"Haha.. Mana sempat aku melakukan itu. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian." jawab Davina santai.

__ADS_1


"Lalu? Kemampuanmu benar-benar hebat." puji Marvin.


"Haih.. Dari kecil ayah sudah memaksaku. Bahkan kami juga sering berenang dilaut lepas." jawab Davina membuat Marvin takjub.


"Ayahmu benar-benar menyayangimu." ucap Marvin.


"Tentu saja. Tapi kadang aku juga sangat lelah. Ingin rasanya aku terlahir dari keluarga biasa saja. Tidak perlu bersembunyi dan waspada setiap hari. Benar-benar melelahkan." kata Davina menghela nafas.


Marvin tersenyum kemudian membelai kepala istrinya.


"Kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan." ucap Marvin menyadarkan.


"Kau benar. Dan sekarang aku juga menikah denganmu, orang yang berpengaruh dikota ini. Haih... Benar-benar tidak bisa hidup tenang." keluh Davina.


"Jangan mengeluh, istriku. Tetaplah jadi dirimu sendiri. Jangan terbebani dengan statusmu sekarang disisiku." ucap Marvin.


Davina tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya ke lengan suaminya. Marvin sedikit terkejut namun ia tersenyum puas. Iya, sejak Davina mulai menerimanya perlahan sentuhan fisik diantara keduanya menjadi hal biasa dan lebih sering terjadi. Tanpa pikir panjang Marvin melingkarkan tangannya dipinggang Davina yang polos tak ingin melewatkan kesempatan sedikitpun. Davina tidak menolak bahkan ia pun sudah mulai nyaman dengan kontak fisik suaminya.


"Kira-kira apa yang diinginkan istriku?" tanya Marvin berbisik.


"Hemm.. Belum kupikirkan." jawab Davina membuat Marvin mendadak lesu.


"Hei, ada apa denganmu?" tanya Davina panik.


"Aku pikir kau sudah ada permintaan. Setidaknya kau bisa menginginkan tubuhku. Aku akan menyerahkannya dengan senang hati." jawab Marvin kecewa.


TUK!


Davina mengetuk kening suaminya.


"Apa hanya itu yang kau pikirkan dalam otakmu? Bisa tidak kau berpikiran yang normal saja?" tanya Davina.


Davina menelan salivanya. Mana mungkin ia tidak tergoda dengan tubuh Marvin. Seketika wajahnya memerah membuat Marvin menyeringai tipis.


"Aku jadi penasaran apa yang dipikirkan istriku? Kenapa tiba-tiba wajahmu memerah saat melihat tubuhku? Apa yang kau inginkan, Sayangku?" bisik Marvin menggoda.


Davina bisa merasakan hembusan nafas Marvin menerpa wajahnya seketika membuat tubuhnya meremang.


"Hentikan. Jangan menggodaku!" kata Davina.


"Apa salahnya menggoda istriku? Lagipula aku memang sengaja agar kau tergoda padaku. Tenang saja tidak akan ada orang yang berani mengganggu kita. Apakah kau ingin melakukannya sekarang?" tanya Marvin membuat Davina mendelik.


"Kau gila!" seru Davina setelah itu melepaskan diri dan berenang kesudut lain.


"Sial! Kenapa mulut pria itu manis sekali. Hampir saja aku tergoda karenanya." batin Davina mengatur nafasnya yang mulai memburu.


GREP!


"Aaaa!" teriak Davina kaget saat kedua tangan kekar melingkar dipinggingnya.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" berontak Davina.


"Sayang.. Tubuhmu benar-benar menggodaku. Tidakkah kau ingin melakukannya?" tanya Marvin memelas.


"Mas.. jangan begini. A-aku bukannya tidak ingin tapi untuk saat ini aku masih belum siap." jawab Davina gugup.


Marvin tersenyum, hatinya lega karena istrinya ternyata tidak menolaknya. Marvin tahu Davina memang butuh waktu dan itu hal wajar bagi pengantin baru. Terlebih lagi usia Davina yang masih sangat muda, Marvin bisa memakluminya.


Marvin menelusupkan kepalanya ke tengkuk Davina dan semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Baiklah.. Aku akan menunggumu. Terimakasih tidak menolakku." ucap Marvin lirih.


Davina bisa merasakan kehangatan dari pelukan suaminya. Davina menyentuh tangan Marvin dan membelainya lembut.


"Beri aku waktu lagi, Mas." kata Davina.


"Iya.. Tenang saja, aku adalah pria penyabar." sahut Marvin.


"Haha.. Selalu saja menyanjung diri sendiri." cibir Davina membuat Marvin dengan cepat membalikkan tubuh istrinya itu.


"Astaga.. Selalu saja mengagetkanku!" protes Davina yang saat ini berhadapan dengan Marvin.


Marvin menarik Davina sehingga membuat tubuh keduanya menempel.


"A-apakah harus sedekat ini?" tanya Davina gugup.


"Hemm.. Apakah istriku tidak suka? Atau kau takut aku memakanmu hari ini?" tanya Marvin dengan tatapan menggoda.


"Simpan wajahmu itu! Kau menggelikan!" umpat Davina segera menutupi wajah Marvin dengan kedua telapak tangannya.


Marvin tertawa karena sikap lucu istrinya.


"Tampan." puji Davina seketika menghentikan tawa Marvin.


"Kau bilang apa?" tanya Marvin.


"Kau terlihat lebih tampan kalau tertawa seperti tadi. Kedepannya sering-seringlah seperti itu." jawab Davina jujur.


"Apakah kau menyukainya?" tanya Marvin.


Davina terdiam sejenak kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya malu-malu.


"Baiklah, kedepannya aku akan lebih sering tertawa didepanmu. Ingat hanya ketika bersamamu." kata Marvin membuat Davina terkekeh.


"Baiklah suamiku." sahut Davina membuat Marvin tertegun.


"Barusan kau panggil aku apa?" tanya Marvin kembali memastikan.


"Emm.. Suamiku." jawab Davina malu-malu dengan menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.


Marvin menarik dagu Davina dan ******* bibir ranum milik istrinya itu. Davina yang awalnya terkejut namun akhirnya menikmati permainan bibir Marvin dan mulai mengikutinya. Marvin tersenyum puas dan semakin buas menyerang istrinya.


Kali ini bukan hanya bibir namun tangan Marvin sudah mulai meraba kesana kemari tanpa melepaskan pagutannya. Davina merasakan ada sesuatu yang aneh yang mengalir dalam darahnya saat merasakan setiap sentuhan Marvin.


Marvin melepaskan pagutannya kemudian memandangi wajah cantik istrinya yang mulai terbuai dengan aksinya. Marvin tersenyum puas setelah itu ia menciumi leher jenjang istrinya.


"Mas.. Ja-jangan..." lirih Davina namun tak digubris oleh Marvin dan terus melanjutkan aksinya.


Hasrat Marvin semakin memuncak saat matanya tertuju pada benda kenyal milik Davina yang menyembul keluar.


"Sial! Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi." batin Marvin.


"Ah... Mas... Jangan." lirih Davina lagi namun tak bisa mendorong tubuh Marvin.


Davina tahu kali ini hasrat suaminya sudah tidak terbendung lagi.


"Apakah dia benar-benar ingin melakukannya disini?" tanya Davina dalam hati.


-BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2