Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 109 Tugas dari Mertua


__ADS_3

"Apakah ini tidak masalah, Yah? Bagaimana kalau Davina menolaknya?" tanya Marvin khawatir.


"Aku tahu putriku pasti akan menolaknya. Untuk itu kau bertugas untuk membujuknya." jawab Adam.


Adam menghela nafas kemudian kembali menatap Marvin.


"Sudah terlalu lama aku menyembunyikannya. Sebagai seorang ayah, aku juga sangat ingin mengakuinya dengan bangga bahwa Davina adalah putriku pada dunia. Davina sudah cukup menderita selama ini." ucap Adam bersalah.


Marvin paham dengan kondisi keluarga Carlos. Kekuatan dan kekuasaan tentu saja menjadi rebutan bagi banyak orang. Terlebih lagi membedakan mana kawan mana lawan harus sangat teliti dan berhati-hati.


"Aku akan membujuknya, Yah." ucap Marvin menimbulkan senyum diwajah Adam.


"Aku percaya padamu." sahut Adam.


"Sewaktu Davina bercerita bahwa kau mengajaknya menikah, entah kenapa aku menjadi sangat lega." ucap Adam membuat Marvin mengerutkan keningnya.


"Sebelumnya dia pernah menjalin hubungan dengan tikus sialan. Kau pasti sudah tahu kan?" tanya Adam yang diangguki oleh Marvin.


"Untunglah Davina tidak jatuh cinta terlalu dalam dengan pria itu. Aku harap kau bisa kuandalkan karena usiaku sudah tidak muda lagi. Aku juga berharap kau bisa membantu putriku yang akan menjadi pewaris tunggal Carlos." ucap Adam membuat Marvin terdiam.


"Kenapa kau diam saja? Apa yang kau pikirkan?" tanya Adam menyipitkan kedua matanya.


"Aku rasa tidak pantas, Yah. Keluarga Carlos sangat berbeda dengan Harris." jawab Marvin jujur.


"Aku tahu. Tapi kau sudah menikah dengan putriku jadi kau juga bagian dari Carlos. Jika kau menolaknya maka aku tidak akan segan memisahkanmu dengan putriku." ucap Adam menyeringai.


"Tidak, Ayah! Jangan pisahkan kami." kata Marvin panik membuat Adam terkekeh.


"Aku hanya menggertakmu saja. Tapi kalau kau sampai berani menyakiti putriku, kau sudah tahu akibatnya bukan?" ancam Adam memberi isyarat tangan dilehernya.


"Baik, Ayah. Aku pastikan tidak akan menyakitinya." sahut Marvin mantap.


"Hem.. Aku percaya padamu. Kini kau adalah pria yang sudah mengisi hatinya, tolong jaga putriku." pinta Adam serius.


"Baik, Ayah." sahut Marvin.


Setelah berbincang cukup lama, Adam dan Marvin mencari keberadaan wanitanya. Kedua pria itu menyusul kedapur.


"Rupanya kalian disini." ucap Adam seketika membuat Davina dan Sera menoleh.


"Ayah!" seru mereka bersamaan.


"Sudah selesai? Apa yang Ayah bicarakan pada Marvin?" tanya Davina penasaran.


"Sejak kapan putriku mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi seperti ini." jawab Adam menyindir.


"Hehe... Kan Vina hanya bertanya saja." sahut Davina terkekeh.


"Tenang saja, Ayah tidak melukai suamimu." ucap Adam.


"Memang ada masalah penting?" tanya Davina yang masih sangat penasaran.


"Penasaran sekali, ya? Ini rahasia kita, para pria." jawab Adam membuat Davina kesal.


"Ayah pelit sekali." gerutu Davina sambil mengerucutkan bibirnya.


Suasana didapur menjadi ramai dan hangat. Setelah makanan siap, Adam dan Marvin ikut menyiapkannya dimeja makan.


"Nak, tolong bangunkan Nenek. Sudah waktunya makan siang." pinta Sera.


"Baik, Bu." sahut Davina bergegas.


...****************...

__ADS_1


"Sayang..." panggil Amel mesra.


Nathan memandang Amel aneh, ia baru saja pulang setelah mendapat telpon dari istrinya.


"Apa yang terjadi?" tanya Nathan penasaran.


Sebenarnya masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan diperusahaan namun karena Amel merengek mau tidak mau ia harus menuruti keinginan istrinya itu.


"Tutup matamu." ucap Amel semakin membuat Nathan kebingungan tapi ia tetap mengikuti permintaan istrinya dengan patuh.


Amel menyembunyikan sesuatu digenggaman tangannya kemudian perlahan ia menyodorkannya kepada Nathan.


"Sekarang bukalah matamu." pinta Amel seketika Nathan membuka matanya perlahan.


"Surprise!" ucap Amel.


Nathan mengernyitkan keningnya kemudian mengambil benda pipih yang ada di tangan Amel.


"Apa ini?" tanya Nathan tak mengerti.


Tanda dua garis merah jelas tertera dibenda itu.


Amel menghela nafas, sudah menduga kalau suaminya tidak mengerti arti garis itu.


"Aku hamil." jawab Amel seketika membuat Nathan membulatkan kedua bola matanya.


"Hey, Sayang? Kau baik-baik saja?" tanya Amel yang melihat Nathan termangu.


"Be-benarkah? Kau hamil lagi?" tanya Nathan tak percaya.


Amel menganggukkan kepala dengan senyum manis terukir diwajahnya.


"Oh Tuhan, syukurlah." seru Nathan langsung memeluk dan mengangkat tubuh istrinya.


"Maaf, maafkan aku Sayang." ucap Nathan bersalah dan segera menurunkan istrinya.


"Aku bahagia sekali mendengarnya. Terimakasih sayangku. Akhirnya Tuhan memberi kepercayaan kepada kita lagi." kata Nathan tak terasa menitikkan airmatanya.


"Jangan menangis dong. Untuk memastikannya besok aku akan periksa ke dokter kandungan." ucap Amel sembari menghapus airmata haru suaminya.


"Hem baiklah. Besok aku akan mengantarkanmu. Aku ingin memberitahu Papa dan Mama." kata Nathan antusias.


"Jangan dulu, Sayang. Tunggu hasil periksa besok." tahan Amel mengingatkan.


"Baiklah. Sekali lagi terimakasih istriku." ucap Nathan mengecup lembut kening Amel.


Amel tersenyum kemudian memeluk tubuh kekar suaminya.


"Aku akan menjaganya dengan baik kali ini." gumam Amel bertekad.


...****************...


"Ada apa?" tanya Davina melihat gerak-gerik Marvin yang tidak seperti biasanya.


Marvin menatap lekat wajah cantik istrinya kemudian menghela nafas panjang.


"Ada yang menganggu pikiranmu? Atau ada yang ingin kau sampaikan padaku? Bicaralah." ucap Davina memahami.


Marvin mendekati Davina lalu mengajaknya duduk diranjang.


"Emm... Ayah ingin mengungkapkan identitasmu." kata Marvin hati-hati.


"Jadi ini yang kalian bicarakan secara misterius tadi?" tanya Davina yang langsung dijawab anggukkan kepala Marvin.

__ADS_1


"Aku pikir ada masalah apa." ucap Davina membuat Marvin mengerutkan keningnya.


"Kau tidak keberatan?" tanya Marvin heran.


Davina tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


"Cepat atau lambat identitasku juga akan terungkap dengan sendirinya." jawab Davina membuat Marvin setuju.


"Apa rencana Ayah?" tanya Davina penasaran.


"Ayah ingin mengadakan pesta dengan para kolega dan mengumumkan identitasmu dipesta itu." jawab Marvin jujur.


"Kapan pestanya?" tanya Davina.


"2 hari lagi." jawab Marvin membuat Davina membulatkan matanya.


"2 hari? Astaga kenapa Ayah mendadak sekali." protes Davina menggerutu.


"Kalau kau belum siap, kita bisa meminta Ayah untuk memundurkan jadwalnya." ucap Marvin memberi solusi.


"Tidak perlu. Biarkan saja rencana Ayah berjalan sesuai keinginannya." tolak Davina.


"Kau sungguh baik-baik saja?" tanya Marvin lembut menggenggam tangan istrinya.


Davina tersenyum lalu membalas genggaman itu.


"Jangan khawatir. Selama ini bukan hanya aku yang kesulitan menyembunyikan identitasku ini. Ayah dan Ibu sudah banyak berkorban untuk memastikan keselamatanku." ucap Davina.


Marvin menganggukkan kepalanya tanda setuju. Davina menatap lekat wajah Marvin lalu merapikan rambut bagian depan pria yang dicintainya itu.


"Sekarang aku juga sudah memilkimu, kau juga akan melindungiku kan?" tanya Davina.


Marvin tersenyum lalu menarik wajah Davina dan memagut mesra bibir ranum istrinya itu.


"Aku pasti akan melindungimu dengan nyawaku, istriku. Tapi jangan korbankan dirimu lagi seperti waktu itu. Aku benar-benar tak berdaya jika harus melihatmu terluka." ucap Marvin mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.


Davina tersenyum, kali ini ia yang berinisiatif mencium suaminya sedikit liar. Awalnya Marvin sedikit terkejut namun akhirnya memilih mengikuti permainan istrinya itu sampai keduanya hampir kehabisan nafas barulah pagutan itu terlepas.


"Kau menggodaku." ucap Marvin.


Davina tersenyum nakal lalu duduk dipangkuan suaminya.


"Aku mencintaimu, suamiku." bisik Davina.


"Katakan sekali lagi." pinta Marvin.


"Aku mencintaimu, suamiku yang tampan." ulang Davina seketika Marvin mengangkat tubuh istrinya itu dan membaringkannya diranjang.


"Kau yang menggodaku, jangan harap kau bisa lolos kali ini." kata Marvin mengungkung tubuh istrinya.


Davina terkekeh kemudian melingkarkan tangannya dileher Marvin sontak membuat tubuh pria itu terjatuh tepat diatasnya.


"Apa yang kau ingin kau lakukan?" tanya Davina sengaja memancing suaminya.


"Hemm... Aku akan membuatmu tidak bisa bangun kali ini." jawab Marvin seketika Davina memelototkan matanya.


"Jangan! Kau gila!" seru Davina memberontak.


"Sudah kubilang aku tidak akan melepaskanmu. Kau yang memancingku, sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang." ucap Marvin menyeringai.


"Pelanlah sedikit." pinta Davina pasrah.


Marvin menyeringai lalu melucuti pakaiannya dan juga Davina dengan penuh semangat. Ditemani indahnya langit senja keduanya memadukan cinta.

__ADS_1


-BERSAMBUNG


__ADS_2