
"Ya Allah maafkan segala dosa dosa hamba mu ini! Jika hamba pernah tak sengaja membuka aib orang lain, ampuni hamba, tutup aib ku dan aib seluruh keluarga ku, hamba tak ingin membuat mereka malu dan kecewa Ya Rob! hanya kepada mu hamba berserah diri dan memohon pertolongan!"
Ana berkeluh-kesah di dalam doanya.
Namun Ana segera teringat kepada nyonya Lidia,kemana dia selama dia pingsan tadi.
Ana segera mencari nya ke dalam kamar nya,dan ia cukup lega karena mendapatinya tengah tidur.
"Mengapa tidur nya lama sekali, padahal tadi aku pun pingsan cukup lama, ditambah interogasi dari semua orang juga cukup lama."
Gumam Ana sambil mengusap airmata Nyonya Lidia yang nampak membasahi pipinya,ia terlihat tengah menangis sambil tertidur, mungkin ia sedang bermimpi.
Merasa sangat khawatir,Ana Mencoba membangunkan nyonya Lidia dengan perlahan.
"Nyonya,, Nyonya, bangun Nyonya! sudah waktunya makan dan minum obat, Nyonya! bangunlah Nyonya!"Ana menggoyang goyangkan bahu Nyonya Lidia dengan lembut.
Tak lama ia membuka matanya dengan perlahan,lalu ia menatap Ana seakan memastikan sosok yang berada dihadapan nya, setelah ia merasa yakin, nyonya Lidia berhambur memeluk Ana dan menangis cukup lama di dalam pelukannya.
"Nyonya kenapa menangis,aku masih disini dan tak akan meninggalkan mu!"Ucap ana berusaha menenangkan nya.
Tangisan nya semakin pecah,ia semakin erat memeluk Ana.
Tak lama ia melepaskan pelukan nya, tapi kini mulut nya seperti kelu,ia tak bisa berbicara, tangannya sangat kaku, juga kaki nya.
"astaghfirullah Nyonya apa yang terjadi!?"
Ucap Ana penuh tanda tanya.
Ia memeriksa semua tubuh Nyonya Lidia dan tubuh ana seakan lemas, kondisinya kembali ke semula saat ia pertama kali bertemu dengan Nyonya Lidia, bahkan ini lebih parah.
Dia kembali menangis seolah ingin menyampaikan sesuatu, tapi ia tidak bisa melakukan nya karena kondisinya sekarang yang lumpuh.
__ADS_1
Dia hanya bisa ber isyarat , itu pun sangat sulit di mengerti.
Ana semakin frustasi,kini masalah semakin banyak berdatangan,ia mengusap wajah nya dengan kasar sambil terus beristighfar dan berdzikir semampu nya.
"Krek!"
Terdengar sesuatu yang seperti terinjak oleh kakinya.
Ana menoleh ke bawah untuk memastikan apa yang ada di bawah telapak kakinya,
ternyata sebuah bekas suntikan yang masih terbungkus tapi sudah dipakai.
Ana membaca bungkusan tersebut, namun tulisannya tidak terbaca karena itu adalah tulisan dokter yang bersifat rahasia.
"Apa ini?!"Gumam Ana penasaran bercampur was was.Kenapa alat suntik tersebut bisa ada di kamar Nyonya besar, padahal ia tidak pernah menggunakan alat suntik selama ini.
Ana pun menyimpan baik baik alat suntik tersebut di dalam saku bajunya yang rahasia.
...****************...
Akhirnya sesuai keputusan bersama,Ana akan segera dinikahkan dengan Arifin,Ana tak dapat menolaknya, padahal ia tak pernah menyetujui nya.
Satu yang membuat nya sesak, Arifin bilang saat di interogasi ulang, bahwa ia khilaf melakukan itu bersama Ana, berarti ia mengakui jika mereka melakukan hal keji tersebut, meskipun Ana mati mati an membela diri dan tidak mengakui nya , semua pihak terlanjur percaya kepada Arifin yang terkenal jujur dan tak pernah berbohong dalam hal apapun.
Ana kini curiga, kemungkinan besar semua orang sudah berada di bawah tekanan Mirna, tidak mungkin Mirna melakukan nya sendiri, bagaimana bisa ia memindahkan tubuhnya ke atas ranjang dan menyeret tubuh Arifin juga,kini ia tidak bisa mempercayai siapapun, Arifin yang terkenal jujur pun kini bisa berbohong semudah itu,dan aneh nya tidak ada sanksi bagi Arifin, mungkin ia dijanjikan sesuatu oleh Mirna Hingg ia berani mengakui kebohongan itu.
H okanya satu yang ia khawatirkan kini,Nyonya Lidia, kondisi nya semakin mengkhawatirkan setelah ia menemukan alat suntik di kamar nya waktu itu,jika ia dinikahkan paksa dengan Arifin,lalu bagaimana nasib Nyonya Lidia nanti?
Ia segera mencari kontak teman nya yang bekerja sebagai perawat, sebenarnya ia ingin menemui kenalan nya yang bekerja di rumah sakit untuk menanyakan tentang alat suntik yang ia temukan.
Namun ia hanya bisa menghubungi nya lewat pesan singkat saja.
__ADS_1
"Dari mana kamu mendapatkan ini?!ini adalah obat untuk melumpuhkan seluruh anggota tubuh secara total!"
Jawab sang perawat setelah Ana memberi gambar alat suntik tersebut dan menanyakan nya kepada sang pera
"Sungguh?! Kamu serius?!"Ana semakin khawatir, pantas saja kondisi tubuh Nyonya Lidia menjadi lumpuh seperti itu, ternyata obat tersebut di suntikan kepada nya,tapi entah oleh siapa.
"Iya, bahkan jika di lakukan secara terus-menerus,ini akan mengakibatkan kematian yang cepat, tubuhnya akan kaku seperti batu!"
Ana semakin resah,ia segera menemui Nyonya Lidia kembali,ia sudah berusaha menghubungi Raden dan Bagas, tapi sepertinya mereka menghilang begitu saja, muncul kebencian kepada Juragan nya itu,ia terkesan tidak peduli kepada nasibnya dan nasib Ibu nya sendiri.
Ia menatap nanar ke arah Nyonya Lidia yang tengah menatapnya juga dengan perasaan yang sama,ia seakan merasakan kekhawatiran dan kegundahan hati Ana, akhirnya keduanya menangis dan terus berpelukan satu sama lain seakan tak bisa terpisahkan, ikatan batin mereka begitu kuat, membuat Ana semakin bingung,ia sungguh tak ingin menikah dengan Arifin dan tak ingin juga meninggalkan Nyonya Lidia sendirian.
Hari pernikahan Ana dan Arifin pun akhirnya tiba,Ana semakin resah dengan pernikahan yang tak ia inginkan sama sekali itu,ia masih berdiam diri di kamar Nyonya Lidia, berpikir apa yang harus ia lakukan agar terbebas dari pernikahan ini.
Di hari yang sama, Raden pun kembali dari Amerika dengan segudang amarah yang ia bawa, apalagi ternyata Ana dan Arifin akan segera di nikahkan tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu darinya.
Sesampainya di bandara, ia tak sabar ingin segera tiba di rumah nya,ia ingin menggagalkan pernikahan Ana dan Arifin dan meminta kejelasan tentang masalah yang sebenarnya,tak ada satu pun telepon orang rumah dan kantor yang bisa di hubungi, sepertinya mereka semua sengaja melakukan hal itu.
"Ana,,Ana!!cepat turun,lama sekali dandan nya!"
Teriak Ningsih memanggil Ana,lama sekali Ana tak keluar, padahal para tamu sudah datang semua, bahkan petugas dari departemen agama pun sudah menunggu sejak tadi, termasuk orang tua angkat Ana yang juga ikut hadir disana.
Lama tak kunjung ada jawaban, Ningsih segera menyusul Ana ke kamar nya,dan ia sangat terkejut tak mendapati ana disana.
"Astaga,kemana perempuan itu pergi!Seru Ningsih Hingga terdengar oleh semua orang yang hadir.
"Mirna,Sarah!Ana tidak ada di kamar nya!Ibu juga tidak ada!"Teriak Ningsih kepada kedua madunya yang segera menghampiri nya untuk memastikan apa yang terjadi,dan benar saja Ana tidak ada di kamar nya juga Nyonya Lidia.
Semua orang yang hadir di acara pernikahan tersebut berdiri serentak mendengar kabar tersebut.
Di waktu yang sama Raden pun datang dengan tergesa gesa,ia pikir sudah terlambat untuk menggagalkan pernikahan Ana dan Arifin.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?!"Tanya Raden begitu melihat kondisi di rumah nya yang terlihat kacau.
"Sayang!!Ana kabur membawa Mamah Lidia!"Teriak Mirna sambil berhamburan menghampiri suami nya yang baru datang.