Istri Ke Empat Sang Juragan

Istri Ke Empat Sang Juragan
Musibah


__ADS_3

"Apaan sih Dho! Aku menyukai Ana jauh sebelum aku dijodohkan Umi dan Abah,aku hanya tak ingin menyesal kehilangan perempuan unik seperti dia,tapi selebihnya aku hanya bisa pasrah dan menyerahkan segalanya kepada keputusan Allah saja,aku harus ikhlas menerima semua keputusan nya!"Ucap Ahmad, mobilnya pun melaju menuju pesantren dimana ia akan segera melaksanakan akad nikah dengan perempuan pilihan orang tua nya.


...


"Assalamualaikum!!"


Sapa Ana begitu ia masuk ke dalam rumah orang tua angkatnya yang juga seorang ustadz.


"Waalaikum salam,,Ana?! kamu sudah kembali,Nak!?"Ustadz Imran terlihat sangat terkejut melihat Ana datang ke rumah nya.


"Iya Mang Alhamdulillah,,Ana minta maaf karena sudah membuat Mamang dan Bibi malu dengan apa yang terjadi kepada Ana!"Ucap Ana sambil mencium tangan Mamang angkat nya itu, sebenarnya An di asuh oleh orang tua Mang Imran, namun karena Ibunya sudah tua wali Ana beralih tangan kepada Ustadz Imran dan istrinya.


"Mamang percaya kok sama Kamu, namun sebaiknya kamu tidak usah berurusan dengan Juragan Raden itu lagi, berabe An!"Nasehat Ustadz Imran.


"Iya Mang!oh iya,,Bibi dan Umi kemana Mang?!"Tanya Ana sambil menyimpan tas yang ia tenteng di atas meja.


"Baru saja pergi ke bidan untuk memeriksa Umi, lutut nya sakit terus! sebentar lagi juga pasti pulang!Kamu sudah sholat Isya?!"


"Belum Mang,,!"


"Ya sudah,solat dulu sana,lalu makan dan istirahat!"


"Kalau makan sudah tadi,,ada yang mau Ana omongin,tapi besok saja,ya Mang,Ana capek!"


"Iya, istirahat saja dulu,baru kita bicarakan besok!"Ucap ustadz Imran yang sudah Ana sebagai Ayah nya sendiri itu.


"Assalamualaikum, Kang!gawat Kang!"Bi Fatma, istri dari Ustadz Imran yang baru datang langsung histeris kepada suaminya.


Ana yang baru selesai melaksanakan sholat isya segera keluar kamar menghampiri mereka.


"Ada apa Bi, ribut ribut?!"Tanya Ana ikut penasaran.


"Ana,kamu pulang?!"Bi Fatma balik bertanya begitu melihat Ana di rumah nya.


"Iya bi,,!"Ana segera mencium tangan Bibi nya itu.


"Untung kamu pulang An, barusan Bibi dapat telpon,Ibu kamu kecelakaan saat ia menuju kesini!"

__ADS_1


Bi Fatma terlihat panik , apalagi Ana.


"Apa Bi?!Ibu ku kecelakaan?!kapan?dimana?kok bisa? sekarang dia dimana Bi!?"Ana terlihat begitu panik,ia menangis sambil histeris.


Sudah lama sekali ia tak berjumpa dengan Ibunya itu, kini ia tiba-tiba dapat kabar buruk tentang nya.


"Sabar An, jangan panik!Ayo kita segera ke rumah sakit tempat Ibu kamu di tangani,Sayang,Aku dan Ana ke rumah sakit sekarang ya, Kamu jaga Ibu dan anak anak disini, nanti Aku kabari!"Kata Ustadz Imran kepada Istri nya ya juga sudah bercadar,dari beliau lah Ana pertama belajar tentang ilmu agama.


"Iya Kang, hati hati di jalan,Ana,kamu yang sabar ya! jangan lupa hubungi Bibi nanti!"Kata Fatma sambil memeluk Ana.


"Iya Bi,doakan Ibu supaya tidak kenapa kenapa ya!"Ucap Ana , memeluk Fatma begitu erat.


Imran dan Ana pun menyusul ke rumah sakit dimana mereka mendapatkan kabar jika Ibu Ana di bawa ke rumah sakit tersebut, mereka pergi menggunakan motor butut milik Imran yang sudah terlihat usang.


Sesampainya disana,benar saja,Ibu nya Ana terluka begitu parah di bagian hampir sekujur tubuh nya, mobil yang ia tumpangi dengan suami baru nya masuk ke jurang,di duga suaminya itu mengantuk karena menyetir di malam hari dan sudah kelelahan, kondisi nya pun sama seperti Bu Murni, dia pun terluka cukup parah,tapi dia masih tetap tersadar, sedangkan Bu Murni masih tak sadar kan diri.


Ana hanya bisa melihat Ibunya dari balik kaca ruang ICU,ia tak berhenti berdoa sambil menangis,ia sangat khawatir dengan kondisi ibu nya yang sangat memprihatikan seperti itu.


Tak lama dokter memanggil pihak keluarga untuk membicarakan tentang kondisi pasien saat ini.


"Lakukan yang terbaik Dok,saya ingin Ibu saya bisa sembuh kembali!"Jawab Ana dengan penuh pengharapan yang tinggi.


"Tapi kita butuh biaya yang tidak sedikit!Apa kalian sanggup, bahkan jika Bu Murni memiliki BPJS itu tak bisa membayar sampai setengah nya, ditambah biaya rumah sakit yang tidak sedikit,juga perawatan suaminya yang juga tak sedikit!"Ucap sang dokter memberikan pengarahan.


Ana dan Imran saling menatap, keduanya terlihat sangat bingung, darimana Ana mendapatkan uang yang banyak untuk pengobatan Ibunya, tabungan yang ia punya pun sudah habis dipakai biaya hidup saat ia dalam pelarian.


"Kami akan berusaha keras dok, tolong segera tangani Kakak saya !"Imran memberanikan diri berkata seperti itu, padahal ia tak memiliki bayangan sedikit pun tentang darimana ia mendapatkan uang yang banyak untuk Kakak angkat nya itu.


"Baik , segera hubungi bagian administrasi dan tanyakan berapa biaya yang harus kalian bayar untuk saat ini, mungkin ke depan nya akan semakin besar!Sang dokter berkata apa adanya, agar keluarga korban sesegera mungkin menyiapkan uang yang harus dibayarkan segera.


Dengan langkah gontai, Imran dan Ana menuju bagian administrasi untuk menanyakan biaya yang harus mereka bayar untuk sementara ini, Ibunya harus segera dioperasi.


"50 juta harus di bayar di muka Pak, sisa bisa di bayar nanti!"


Degh


"Ya Allah engkau tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan, tolonglah beri hamba mu ini jalan keluar!"Ana berdoa dalam batinnya,ia tak memiliki uang sebanyak itu.

__ADS_1


"An, coba cek tas ibu kamu, mungkin ia memiliki tabungan selama ini!"Kata Ustadz Imran mencoba tetap tenang meskipun pikiran nya pun sangat kalut.


"Hanya sedikit Mang,10 juta! tapi Alhamdulillah buat nambah nambah!"Jawab Ana setelah ia membuka tas Ibu nya,ia menemukan buku rekening yang isinya 10 jut, lumayan.


Terdengar suara ponsel Ustadz Imran berbunyi, rupanya sang istri yang menelpon.


"Mamang angkat telpon dulu ya,An!"Kata Imran sambil menunjukkan ponsel nya yang terus menyala.


"Iya Mang!"Jawab Ana,ia pun berjalan ke lobi untuk sekedar mencari angin segar, kepala nya terasa nyut nyut an.


"Ana? sedang apa disini malam malam?! Kamu mau menemui Nyonya Lidia?! syukur lah!padahal baru saja aku mau mencari mu, kondisi Nyonya lagi drop,dia nanyain kamu terus!"Tiba tiba saja Ana berpapasan dengan Bagas di lobi rumah sakit, rupanya Nyonya Lidia dirawat di rumah sakit yang sama.


"Enggak kok Pak!Saya sedang menemani Ibu saya ,dia mengalami kecelakaan dan harus di rawat di ICU!"Jawab Ana,kok bisa kebetulan seperti ini ya, padahal baru saja Ana memikirkan Nyonya Lidia sekilas,ia mengkhawatirkan keadaan nya sekarang ini.


"Astaga,,aku ikut prihatin ya An! semoga Ibu kamu cepat sembuh, nanti aku akan jenguk Ibu kamu juga, sekarang bisa kah kamu menemui Nyonya Lidia sebentar saja,dia bahkan tak mau makan dan minum juga minum obat tanpa kamu, Juragan sampai bingung harus bagaimana lagi!"Bagas memohon dengan sangat kepada Ana.


"Aku tanya sama paman aku dulu ya Pak!itu dia disana!Mang!"


Kata Ana sambil memanggil Ustadz Imran untuk meminta izin sebentar saja.


Ustadz Imran sepertinya tengah mengobrol dengan seseorang,dan setelah lebih dekat ternyata ia adalah seseorang yang Ana kenal.


"Juragan?!"


Ternyata Imran tengah mengobrol dengan Juragan Raden,dan obrolan mereka sepertinya sangat serius.


"Aku sudah mentransfer sejumlah uang untuk membantu pengobatan Ibu kamu!"Juragan Raden langsung berkata pada intinya, Ana menatap Imran penuh tanda tanya.


"Kita tidak punya pilihan lain An,Ibu kamu harus segera ditangani!"Imran seakan tahu isi dari tatapan Ana yang penuh tanda tanya.


Ana kikuk bingung harus bilang apa, antara senang dan tidak,ia masih marah kepada Juragan Raden karena sudah tidak mempercayainya,tapi ia mengakui jika Juragan tengil itu Allah kirim untuk membantu nya.


"Pak Ustadz,apa boleh saya meminjam Ana untuk menemui Ibu saya, kondisi nya sedang drop sekarang,dan dia butuh Ana disisinya,dia terus menanyakan Ana hingga tak mau makan dan minum juga menolak minum obat,,"Kata Juragan Raden, ia berbicara begitu sopan kepada Ustadz Imran.


Imran menatap Ana sekilas, lalu ia mengangguk tanda setuju.


"Ibu kamu sudah aman An, nanti Memang kabari kamu jika ada apa apa! Nyonya Lidia sedang membutuhkan kamu, tolong lah dia! lagipula ruangan nya tidak terlalu jauh!"Kata Imran, tentu mereka tidak memiliki pilihan lain,Sang juragan sudah membantu mereka kini.

__ADS_1


__ADS_2