
"A Ahmad? bagaimana Aa bisa tahu Ana ada di sini!?"Ana cukup terkejut dengan kedatangan Ahmad ke kantor polisi tempat ia di tahan.
"Guru ku yang memberitahukan semuanya! bagaikan keadaan mu di sini An,kamu baik baik saja kan?maaf aku tak bisa berbuat banyaknya untuk menolong mu,tapi aku bantu sebisa mungkin,An,aku akan sewakan pengacara untuk mu!"Ahmad yang terlihat begitu mengkhawatirkan Ana langsung menyodorkan makanan kesukaan Ana untuk di makan bersama.
Ana malah menangis terharu, kenapa Ahmad begitu baik dan perhatian padanya, seakan ia terlalu memberi harapan kosong, padahal Ana tahu mereka tak mungkin bersatu.
"Aku yakin kamu wanita yang kuat An, bertahan lah, Allah selalu ada bersama mu, begitu pun Aku,,,!"Ucapan Ahmad semakin menyayat hati Ana, padahal bukan itu yang membuat nya sedih.
"Aa gak usah khawatir,,Ana bebas hari ini, kebetulan sekali AA datang,Ana sudah mau keluar!"Jawab Ana dengan senyuman nya yang manis di balik cadar nya.
"Kamu serius An!?"Ahmad seakan masih tak percaya dengan kabar bahagia yang baru saja Ana sampaikan.
Ana mengangguk penuh keyakinan dan terlihat begitu antusias.
"Alhamdulillah Ya Allah, engkau mengabulkan doa hamba mu hari ini!"Ucap Ahmad sambil sujud syukur,dia terlihat begitu bahagia.
Ana semakin terharu, sampai sebahagia itu kah Ahmad, hati nya semakin sakit, andai ia boleh berharap agar ia bisa memilih Ahmad untuk menjadi Imam nya.
"kok bisa An,,ada yang bantu kamu?!"
Tanya Ahmad.
"Allah yang membantu ku A,, entah lah majikan ku itu tiba tiba saja mencabut laporan nya,tapi Ana bersyukur akhirnya bisa bebas lagi!"Ucap Ana sambil tak henti hentinya mengucapkan rasa syukurnya.
"Lalu sekarang kemana tujuan mu,An?! gak mungkin kan kembali ke rumah majikan mu itu?!"
"Gak tahu A, Ana belum memiliki rencana!"
"Ya sudah ikut Aa pulang ke pesantren, pesantren selalu terbuka menerima mu, Umi kangen kata nya, beliau sering menanyakan mu!"
Ana mengangguk senang,
"Tapi mungkin Ana ingin pulang dulu ke rumah orang tua Angkat ku A, sudah lama juga Ana tak pulang kesana!"Kata Ana, mereka mengobrol sambil berjalan menuju mobil Ahmad yang selalu ditemani supir pribadi nya.
"Ya sudah,ayo AA antar, tapi sebaiknya kita makan dulu An,Aa lapar, kamu juga pasti sangat kelaparan bukan?!"
Ana pun mengangguk, mereka pun berjalan ke arah kantin yang berada tak jauh dari kantor polisi tersebut.
Mereka selalu berjalan beriringan bertiga,tak pernah berduaan kemanapun, untuk menghindari fitnah.
__ADS_1
Tanpa Ana sadari, ternyata dari tadi Raden sudah ada disana, ia berniat menjemput Ana untuk dipertemukan dengan Nyonya Lidia, namun ia keduluan oleh Ahmad, akhirnya ia hanya mendengarkan percakapan mereka dan mengikuti Ana tanpa ana ketahui,dia ingin tahu sejauh apa hubungan antara Ana dan Ustadz muda itu.
Raden pun sampai mengikuti mereka ke kantin tersebut.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan An,aku tak nyaman jika nanti memberitahu kan mu setelah di pesantren!"
Kata Ahmad sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Apa itu A, katakan saja,gak usah sungkan!"Jawab Ana begitu penasaran.
"Aku akan berangkat lagi ke Kairo An, untuk menyelesaikan studi ku yang tinggal satu tahun lagi,,,"
Ahmad menghentikan sementara perkataannya karena seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka, kemudian ia kembali berbicara setelah pelayan itu pergi .
"Tapi sebelum itu aku akan di nikahkan dulu dengan putri dari guru ku, maksudnya agar ia bisa ikut serta kesana bersama ku,,,"
Ana masih belum menyahut, mendekati nya saja membuat ia tak enak hati,k
Pria pujaan nya akan menikah, apakah ia harus ikut senang?
"Makan makanan mu An, nanti keburu dingin!"Kata Ahmad menyela arah pembicaraannya sendiri.
"Dalam waktu dekat An, karena aku harus ke Kairo akhir bulan ini! Namun ternyata ia tak bisa ikut An,dia memiliki pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan disini,
ummm,An ,jika dia mengizinkan aku menikahimu untuk jadi istri kedua ku,apa kamu bersedia dan mau ikut aku ke Kairo!?"
"Uhuk uhuk uhuk!"Ana langsung tersedak begitu mendengar apa yang dikatakan Ahmad,ia sama sekali tak menyangka Ahmad akan berkata seperti itu.
"Pelan pelan An, minum lah dulu! maaf kan aku seharusnya kita tidak makan sambil berbicara!"Ahmad segera memberikan Ana minum yang ada di hadapannya.
"Aa sudah gila ya?!"semprot Ana setelah ia sudah tidak tersedak lagi.
"Mana ada perempuan yang mau di madu A,se shalihah apapun dia!"
"Dia pasti akan setuju An,dia adalah wanita yang shalihah ,dia pasti akan mengerti!"Ahmad tetap pada pendiriannya yang bahkan Ana tak memahami pikiran Ahmad kini.
"Stop A, jangan diteruskan lagi, Ana tidak mau menyakiti siapapun pokoknya, sekarang Ana pulang saja, terimakasih atas makanan nya!"Ucap Ana sambil berdiri dan berniat segera pergi dari hadapan Ahmad.
"An, tunggu dulu An!Aa serius dengan ucapan Aa,Aa tidak baju waktu karena minggunya Aa sudah akan menikah,,!"
__ADS_1
Ahmad mencegah Ana untuk segera pergi.
"Ya sudah Ana tidak akan melarang AA untuk menikah dengan siapapun,Ana ucap kan selamat dan terimakasih atas kebaikan AA selamat ini kepada Ana!"
Kata Ana dengan tegas,ia benar benar pusing hari ini,baru saja selesai dengan satu masalah, datang lagi masalah lain nya,ia memang menyukai Ahmad dan ingat ia menjadi Imam nya, tapi jika harus berpoligami,Ana bahkan tidak kepikiran sampai kesana.
"An,Aku menikahi nya karena Allah,dia putri dari guru ku ,jadi aku tak dapat menolak perjodohan ini,Ibu nya sakit dan beliau yang menginginkan pernikahan ini, sedangkan Aku hanya mencintaimu karena Allah An, makanya aku memberanikan diri untuk mengatakannya ini secepatnya kepada mu!"Sebisa mungkin Ahmad meyakinkan Ana jika ia benar benar mencintai nya.
"Ana tidak tahu A, Ana pusing,dan Ana ingin istirahat saja dulu,Ana pulang sekarang!"
Jawab Ana sambil beranjak dari duduknya.
"Ayo Aa antar!"
"Gak usah,Ana naik taksi saja!"
"Tapi Aa
memaksa!"
Ana tak ingin lagi berdebat, kepalanya benar benar pusing saat ini, akhirnya ia menurut saja dan naik ke dalam mobil milik Ahmad.
Raden yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka merasa geram dan marah setelah mendengarkan perkataannya Ahmad yang berniat menikahi Ana dan menjadikannya istri yang kedua.
Sedari tadi ia menahan diri agar tidak melabrak ustadz muda yang akan merebut gadis kecilnya itu.
Bagaimana Raden tak geram,Ana adalah gadis pujaan hatinya yang telah lama ia tunggu tunggu, meskipun kenyataannya ternya kini Ana sudah tumbuh menjadi gadis yang liat dan pembangkang dan ia pun sempat marah dan kesal karena kejadian kemarin,tapi perasaan nya tetap tidak berubah, bahkan ambisi ingin memiliki nya semakin menggebu setelah Ibu nya sangat menyayangi Ana melebihi dirinya .
Raden membiarkan Ana pergi diantar Ahmad, mungkin nanti setelah Ahmad pergi ia akan menemui Ana di rumah angkat nya dan menjemput nya untuk kembali bersama nya merawat sang Ibu.
"An, segera kasih kabar jika kamu sudah memiliki jawaban ya,Aa benar benar butuh jawaban kamu segera sebelum AA berangkat! besok AA jemput kamu untuk segera kembali ke pesantren!"
Ucap Ahmad setelah mereka sampai di rumah orang tua angkat Ana yang sederhana.
"Jangan besok A,Ana masih mau disini dulu kayaknya, mau nenangin pikiran, nanti kalo Ana sudah siap Ana akan berangkat sendiri,AA fokus aja ke acara pernikahan Aa, terimakasih sudah mengantarku, Assalamualaikum!"Kata An sambil segera masuk ke dalam rumah nya dan menutup pintu sebelum Ahmad pergi,ia benar benar sedang dilanda kegalauan yang hebat.
"Waalaikum salam,,!"Jawab Raden terlihat agak kecewa.
"Wah bener bener hebat dan pemberani Ajeungan Anom ini,,sat set sat set! gak banyak basa basi langsung dapat dua sekaligus!"Goda Ridho, supir sekaligus assisten pribadi nya, sebenarnya usia mereka tidak beda jauh namun karena ilmu yang dimiliki Ahmad lebih tinggi, Ridho lebih menghormati Ahmad karena ia seorang ulama.
__ADS_1