
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan saat membawa ibu ku pergi!"
Tanya Raden dengan wajah nya yang dingin dan tatapan nya yang menakutkan,dia segera menemui Ana di penjara setelah membawa Ibu nya ke rumah sakit.
Ana hanya terdiam sambil masih membelakangi mantan majikan nya itu.
"Brakk!!!Katakan!atau aku akan membungkam mulut mu itu selamanya!"Ucapnya lagi sambil menggebrak meja saking marahnya.
Ana berbalik ke arah Raden dan menatap nya dengan tatapan yang sengit.
"Lalu aku harus diam saja saat aku akan dinikahkan dengan orang yang bahkan aku tidak kenal,dan di tuduh berbuat macam macam?!"Bentak Ana,ia seakan ingin meluapkan perasaan yang ia pendam selama ini.
"Ya kenapa harus membawa ibu ku segala,kau tahu kondisi dia kan!"
"Kau pikir aku akan tega meninggalkan Ibu mu yang nyawa nya selalu terancam setiap detiknya dan bahkan putera nya sendiri tak peduli dia akan hidup atau mati!"
*Plak!*
Raden menampar Ana dengan cukup keras,Ana memegangi pipinya yang kesakitan,matanya berkaca-kaca,dan ia segera memalingkan wajahnya kembali, ia tak ingin terlihat rapuh dihadapan siapa pun.
Raden terlihat terkejut dengan apa yang ia lakukan barusan,ia hanya tidak terima di sebut putera yang tidak peduli terhadap ibunya , padahal betapa ia berusaha keras agar dapat pulanga secepatnya dari Amerika waktu.
"Pergi dari hadapanku sekarang juga,dan jangan pernah kembali ,aku tidak keberatan hidup di dalam jeruji besi selama Nyonya Lidia aman, jangan pernah tinggalkan dia dan jangan bawa dia lagi untuk satu atap dengan ketiga istri anda itu, itupun jika Anda masih ingin melihat Ibu Anda sehat wal afiat!"Ucap Ana tanpa menoleh lagi,ia pun masuk kembali ke dalam sel penjara.
"katakan apa yang sebenarnya terjadi!?"Teriak Raden sambil mengejar langkah Ana.
"Apapun yang aku katakan Anda tidak akan percaya, lakukan saja apa yang Anda mau, atau tanyakan saja kepada Ibu Anda,itu pun jika Anda mau mempercayai nya!"Jawab Ana acuh tak acuh,dia pun kemudian memberi isyarat kepada sipir penjara agar segera mengusir Raden dari hadapannya.
__ADS_1
Dengan otak penuhi tanda tanya, Raden pun kembali ke rumah sakit untuk menemui Ibunya, kini ia berharap kondisi ibu nya sudah kembali sadar, banyak yang ingin ia tanyakan tentang yang sebenarnya terjadi saat ia pergi ke luar negeri.
Sebenarnya ia ingin bertanya pada saat ia menemukan Ibunya di tempat pengobatan itu, namun sayang ia malah mengamuk dan tidak mau di evakuasi bahkan setelah melihat putera nya yang datang menjemput,ia berteriak teriak memanggil Ana dan bersikukuh ingin menunggu nya untuk pulang, hingga akhirnya terpaksa team medis memberikan nya obat penenang hingga dia dibawa paksa ke rumah sakit oleh Raden.
"Ana tidak bersalah,dia hanya berusaha menyelamatkan Ibu Anda dari kekejaman para menantu nya, tolong jangan bawa dia ke penjara!saya mohon!"
Ucap seorang gadis bercadar seusia Ana,dia terusik mengejar Raden dan memohon mohon agar tidak menghukum Ana.
Raden tak menghiraukannya dan segera pergi dari tempat itu sambil membawa Ibunya, sedangkan Ana di bawa secara terpisah ke dalam mobil polisi setelah ia berhasil kabur namun segera tertangkap kembali.
....,..
"Mah!?Syukur lah Mamah sudah sadar!"
Sapa Raden begitu ia sampai di rumah sakit dan mendapati Ibunya sudah kembali sadar,ia pun memeluk ibunya begitu erat dan menciumnya.
"Kamu penjara kan dia, Den?!Kata Bagas Ana di bawa oleh polisi untuk di periksa,apa itu benar!?"Tanya Ibunya ingin lebih meyakinkan.
"Iya mah!"Jawab Raden ragu,ia yakin jika ibu nya pasti tak akan setuju.
"Keterlaluan kamu!kamu tahu,saat Mamah hampir celaka oleh ulah ketiga Istrimu,dia lah yang menyelamatkan Mamah,kamu bahkan sama sekali tak peduli!mamah kecewa sama kamu,Den! nyawa mamah dalam bahaya jika saja tidak ada Ana,,,,
Mamah pasti tidak akan bisa bertemu lagi dengan mu ,Den!"Air mata nyonya Lidia mengalir tak tertahankan lagi,dia menceritakan semua yang ia lihat dan rasakan selama Raden pergi ke luar negeri, bahkan kejadian saat Ana di jebak oleh Mirna pun ia menyaksikan langsung saat itu, jika sebenarnya Ana tidak bersalah dan semuanya hanya rekayasa dari ketiga istri Raden saja, karena mereka menginginkan Ana pergi agar leluasanya untuk menyingkirkan dirinya dan menguasai harta Raden sepenuhnya.
Begitu juga saat dirinya di suntik dengan obat sesuatu hingga dirinya kembali lumpuh total, semuanya ia cerita kan kepada putera nya itu, meskipun perkataan Nyonya Lidia masih terdengar terbata dan kurang jelas, namun Raden bersyukur kini ibunya dapat berbicara lagi,dan semuanya berkat Ana.
Raden tertegun mendengar cerita dari Ibunya yang begitu menyayat hatinya, betapa selama ini ia sudah mengorbankan orang yang paling ia sayangi demi menambah terus kekayaan dan kejayaan nya, Ibunya ia korbankan dan hampir saja ia kehilangan dirinya.
__ADS_1
"Kemana Ana pergi,Mamah mau ikut dia saja, meskipun harus ikut menginap di penjara!"Ancam Nyonya Lidia.
"Mah! Mamah jangan seperti itu!Ana bukan siapa-siapa kita, mamah tidak bisa terus membebani dia!"Kata Raden berusaha menenangkan ibunya.
"Tapi hanya Ana yang sayang dan perhatian sama Mamah, bahkan kamu, putera Mamah satu satu nya, selalu sibuk dengan karier tanpa memperdulikan Mamah sama sekali!"Bentak Nyonya Lidia sambil terus menangis.
"Mah! Aku melakukan semuanya demi kita, Mah!demi Mamah, agar kehidupan Mamah terus terjamin!"Sanggah Raden.
"Dengan mengorbankan nyawa Ibu mu sendiri?itu yang kau sebut demi kita,demi kamu sendiri, itu lah kenyataan nya, Raden Kusuma Jaya!"Nyonya Lidia memalingkan wajahnya ke arah tembok, hatinya begitu sedih dan merasa bersalah karena Ana masuk penjara karena dirinya.
"sudah waktunya makan, Nyonya! kemudian minum obat!"Tiba tiba saja seorang perawat masuk membawa makanan dan obat-obatan.
"Aku tidak akan makan dan minum kecuali oleh Ana!"Ucapnya dengan tegas tanpa menoleh sedikitpun.
Raden memberi isyarat agar suster itu segera pergi.
"Biar saya saja!"Ucapnya pelan.
"Jangan gitu dong Mah! Raden gak mau kalau sampai kondisi Mamah kembali drop!"Rayu Raden membujuk ibunya.
Nyonya Lidia tak menggubris ucapan putera nya, dia malah menutupi kepalanya dengan selimut dan berpura-pura tidur.
Raden membuang nafas nya kasar, hanya Ana yang ada dalam pikiran Ibunya saat ini.
Ia keluar dari ruangan tempat ibunya di rawat dan segera menghubungi Bagas yang sedang mengambil alih pekerjaan nya .
"Segera cabut laporan kita ke polisi tentang kasus Ibuku,dan segera keluar kan Ana dari penjara, aku akan segera ke sana untuk menjemput nya!"Perintah Raden sambil berjalan keluar dari rumah sakit menuju kantor polisi.
__ADS_1