
"Gay?? Raden seorang Gay?! benarkah itu?! rasanya aku tidak percaya!"Sarah masih tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Ningsih, madunya itu.
"Aku serius Sar! Bagas sendiri yang mengatakan nya, awalnya dia bilang dirinya lah yang seorang Gay, makanya sampai saat ini dia masih melajang, lalu aku curiga jika Raden juga seorang gay,dan aku terkejut karena ternyata Bagas mengiyakan dugaan ku!"
"Raden seorang Gay?!"
Mirna yang sedari tadi mendengarkan percakapan kedua madu nya itu tak kalah terkejutnya mendengar kabar tersebut.
"Aku tak yakin, bisa saja itu akal akalan Bagas dan Raden untuk menghindari tuntutan nafkah batin dari ku, Sarah dan Ningsih!kita lihat saja nanti, pokok nya malam ini aku harus membuktikan kebenaran nya!"
Batin Mirna sambil segera beranjak dari depan ruangan Sarah.
...----------------...
"Ana meminta ku mencarikan ahli terapis untuk Ibu mu, bagaimana menurutmu!"Bagas perlu menanyakan segala sesuatunya kepada Raden sebelum mengambil keputusan.
"Ya Carikan lah yang terbaik, apapun yang dia minta jika itu untuk kebaikan Ibu ku, berikan lah!"Jawab Raden dengan rasa kecewa, sepertinya Ana masih sangat membencinya gara gara kejadian tempo hari,ia lebih sering berinteraksi dengan Bagas ketimbang dengan nya, bahkan mereka masih tak bertegur sapa meskipun hanya sebagai atasan dan bawahan saja.
"Den, sebaiknya segera mungkin Lo harus bertemu dan meminta maaf langsung kepada Ana, capek juga gue kalau harus bolak balik nanyain segala sesuatu sama Lo tentang urusan Nyonya besar, ribet gue!"Kata Bagas memberi saran.
"Males gue! gengsi lah!liat tampang nya aja udah jutek duluan gitu tiap berpapasan sama dia!bodo amat lah,suka suka dia aja!"Jawab Raden, padahal hati kecilnya ia merasa tersiksa dengan kondisi yang seperti ini dengan Ana,dia lebih menyukai Ana yang galak dan suka mendebat nya seperti awal mereka bertemu.
"Ya harusnya Lo bersyukur dia masih mau stay di rumah Lo, Gue yakin sih itu demi Ibu Lo! dia sangat care dan bertanggung jawab, salut gue sama dia!dia sangat profesional!"
"Bukannya Lo menentang saat gue mohon mohon pengen dia tetap stay di rumah?!"Sindir Raden.
"Ya melihat bagaimana ia sekarang sangat membantu kita,ya wajar dong kalau gue berubah pikiran!"
"Awas saja kalau kau sampai jatuh cinta pada nya!"Ancam Raden.
"Ya gue gak bisa jamin jika dia yang jatuh cinta sama gue! lagian sepertinya dia semakin membenci Lo,dan semakin dekat sama gue!"goda Bagas.
"Sialan Lo, berani Lo ngambil dia dari gue! Gue gak akan segan-segan buat bunuh Lo!"Raden menendang kaki sahabat nya karena kesal.
"Mirna pingsan katanya, sebaiknya Lo pulang sekarang juga!"Ucap Bagas sambil memperlihatkan chat dari orang rumah.
"Ah males gue! biarin aja, paling itu akal akalan dia aja buat caper sama gue!"Jawab Raden acuh tak acuh.
"Serius Den,liat nih!dia sampai di infus di rumah gitu!Lo mau di bilang laki yang gak bertanggung jawab, kalau sampai dia nyebarin di media habislah nama baik Lo, Den!"
"CK, bawel Lo!ya udah hayo!"Akhirnya Raden mengalah, mereka pun pulang menuju rumah utama.
...****************...
__ADS_1
"Sayang,,,,,?"
Sapa Mirna begitu melihat Raden datang.
"Kenapa?!"
Tanya Raden begitu datar.
"Kepala ku pusing,Sayang! badan ku juga rasanya lemes banget!"Jawab Mirna sambil meringis dengan wajahnya yang memelas.
"Ya udah, istirahat saja!"Ucap Raden sambil berniat kembali beranjak dari kamar Mirna.
"Sayang,mau kemana lagi? please temenin aku malam ini!"Mirna memohon dengan merengek manja.
"Sebentar aja ya,aku gak punya banyak waktu soalnya,aku harus cari ahli terapi buat Mamah!"
"Kan ada Bagas sayang!kamu gak perlu repot-repot kayak gitu!aku kan lagi sakit,lagi butuh kamu banget!"Rengek Mirna.
Raden hanya diam saja.
"Minum lah, sayang!kamu pasti lelah kan??"Kata Mirna sambil menyodorkan air minum yang sudah ia siapkan dari tadi.
Tanpa rasa curiga, Raden pun meminum air tersebut karena memang ia merasa haus dari tadi.
"Kenapa sayang?gerah ya! sini aku bukain bajunya ya!" Kata Mirna sambil ia pun membuka bajunya dan hanya menyisakan lingerie seksi berwarna merah menyala.
Benar saja, entah kenapa Raden merasa sangat kegerahan dan tubuhnya terasa berdesir panas, apalagi melihat Mirna dengan pakaiannya yang seksi, ingin rasanya ia memeluk nya dan bergumul dengan nya saat itu juga.
Namun bukan Raden namanya jika ia tak mampu mengendalikan diri.
Sebagai Raja dari dunia hitam,dia sangat berpengalaman dalam segala hal,ia sadar Mirna sudah memberikan nya obat perangsang.
Ia meraih ponsel dari saku jas nya dan segera menghubungi Bagas.
Namun sayang nya Bagas tak menjawab panggilan telpon nya, mungkin ia sudah terlelap tidur.
"Sayang, kenapa?! sini tidur lah di samping ku,aku akan memuaskan mu malam ini!"Mirna semakin menjadi,ia menyentuh area area sensitif dari tubuh Raden.
Raden Bingung harus bagaimana lagi, sebenarnya jika ia pun sampai tidur dengan Mirna malam ini,itu sih sah sah saja,toh mereka sudah menjadi sepasang suami istri, bahkan sudah hampir dua bulan mereka satu atap dan Raden belum pernah sekalipun menyentuh ketiga istrinya.
Entah apa yang membuat nya enggan, yang jelas Raden tak mencintai satu pun dari mereka, bahkan Raden agak sedikit jijik kepada mereka, karena Raden tahu mereka bukan lah wanita baik baik, mereka bertiga Raden temukan di tempat hiburan malam dan suka hura hura, meskipun Raden bukan pria yang baik,tapi selama ini ia belum pernah melakukan **** evil dengan sembarangan perempuan, tubuhnya terkenal masih suci dan perjaka, makanya tersiar kabar jika ia adalah seorang gay.
Raden mendorong tubuh Mirna dengan cukup keras hingga ia terpental ke atas ranjang.
__ADS_1
Berharap Raden akan memulai permainan mereka,Mirna malah memasang pose pose yang hot untuk menggoda suami nya itu.
Namun bukan nya melayani keinginan Mirna, Raden malah berlari ke arah pintu dan berniat keluar dari kamar Mirna segera, namun sayang nya Mirna sudah mengunci pintu kamar nya dan entah ia sembunyikan dimana kunci pintu tersebut,
Raden terlihat semakin frustasi,ia berusaha menahan dirinya dan kembali berlarian menuju kamar mandi dan mengunci diri di sana.
Ia segera menyalakan air dan merendam dirinya di bathtub, berusaha menghilangkan efek dari obat perangsang tersebut, karena lelah akhirnya ia ketiduran tanpa memperdulikan teriakan Mirna yang sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi agar Raden segera keluar.
"Juragan! bangun juragan! Bukan kah hari ini Anda mau menemani Nyonya besar melakukan terapi?!ini sudah pukul 9 pagi!"Bagas berusaha membangun kan bos nya itu yang masih tertidur di kamar Mirna.
"Hemm, apakah hari ini aku tidak ada jadwal?!"Raden balik bertanya tanpa membuka matanya.
"Dari tadi aku sudah berusaha membangun kan dia, Gas! tapi sepertinya dia masih sangat kelelahan, maklum semalam kita bersenang-senang sampai dini hari!iya kan sayang!?"Ucap Mirna sambil mengecup mesra kepala Raden dan mengusap usap nya.
Mendengar suara Mirna berada disampingnya, Raden langsung tersentak kaget, seketika ia langsung bangun dan bangkit dari tidurnya.
"Apa yang sedang kau lakukan disini!"Bentak Raden sambil melotot ke arah Mirna.
"Lho ini kan kamar aku!kamu lupa ya, semalam kan Kamu yang nyamperin aku kesini! jangan bilang kalau kamu lupa dengan apa yang sudah terjadi semalam di antara kita!"
Kata Mirna menjelaskan.
Raden segera memeriksa tubuhnya yang terbalut selimut tebal,dan benar saja, tubuhnya kini telanjang tanpa sehelai benang pun.
"Arghhh sial!"
Teriak Raden kesal,ia segera menyuruh Bagas mengambil kan pakaian nya, tanpa memperdulikan Mirna lagi,ia pun segera keluar dari kamar Mirna,dan di luar ternyata kedua istrinya tengah menunggu nya juga di depan pintu.
Raden melewati mereka begitu saja tanpa rasa peduli,saat ia berjalan menuju lift untuk ke lantai empat, ternyata Ana sudah berada di dalam lift tersebut sambil membawakan makanan untuk Ibunya.
Ana masih terlihat tidak memperdulikan Raden.
Bukan kedua istrinya yang ia khawatirkan karena cemburu,tapi ia malah khawatir jika ana berpikiran yang tidak-tidak.
"Aku yakin tidak terjadi apa-apa semalam dengan Mirna, Gas!aku ingat betul aku tertidur di kamar mandi dan mengunci diri disana!lalu bagaimana aku bisa terbangun di atas tempat tidurnya pagi ini! dasar perempuan licik!"
Umpat Raden di dalam lift yang hanya ada dirinya, Bagas dan Ana, sengaja ia berkata demikian untuk meyakinkan Ana.
"Telanjang lagi,,gak mungkin jika tidak terjadi sesuatu juragan!"Bagas malah membuat Raden semakin kesal.
Sedangkan Ana hanya acuh seakan tidak perduli.
"Memangnya kenapa mereka kan suami istri!"Batin Ana sambil mendengarkan percakapan keduanya.
__ADS_1