
"Gimana kondisi Ibuku Mang?!"
Tanya Ana kepada Ustadz Imran, mereka sudah berada di dalam ruang rawat inap tempat Ibunya Ana dirawat.
"Begitu lah ,An,dia masih koma!kata dokter entah sampai kapan, suaminya juga begitu, kondisi nya sudah lebih baik tapi masih butuh perawatan intensif!"Jawab Ustadz Imran sambi menghela nafas berat.
"Untung nya majikan kamu mau menanggung semua biaya nya,An, Alhamdulillah Allah sudah memberikan jalan keluar!"Ucap Imran lagi.
"Mamang tidak tahu saja seperti apa dia sebenarnya!"Ucap Ana dengan wajah kesalnya.
"Memang nya kenapa An?!"Tanya Imran terlihat sedikit khawatir.
"Kita cari makan yuk Mang,Ana lapar dan haus! lagipula Ibu sudah ada suster yang merawat nya!"
Sengaja Ana mengajak Imran keluar,dia ingin membicarakan tentang masalah pribadinya yang memusingkan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 1.00 dini hari, mereka tentu tak bisa istirahat karena kejadian bertubi tubi yang membuat pikiran mereka kacau.
"Oh iya An, katanya kamu ada yang mau diomongin sama Mamang waktu tadi masih di rumah?!"Kata Imran setelah ia menghabiskan nasi goreng pesanan nya.
Ana menghela nafas berat, meskipun ia sedang banyak beban, tapi ia tak pernah kehilangan nafsu makan, justru jika ia sedang stres, nafsu makannya malah semakin bertambah.
Ia sudah menghabiskan semangkuk baso jumbo nan pedas kesukaan nya,nasi goreng pun masih ia hajar di tambah minuman penghangat di malam hari yang membuat mata nya semakin melek saja.
"Tadi siang A Ahmad ngajakin Ana nikah , mang,tapi untuk dijadikan istri nya yang kedua!"
Ana sengaja menceritakan semuanya kepada Imran,guna meminta pendapat dan solusi darinya sebagai wali.
"Uhuk uhuk uhuk!"seperti dirinya yang terkejut saat mendengar tawaran dari Ahmad tadi, begitu juga dengan Imran,ia sampai tersedak padahal makanan nya cukup pedas.
"Ahmad yang anak guru kamu itu ,An?! Yang sering di sebut ajeungan anom itu kan!?"
"Iya ,mang, yang baru pulang dari Kairo itu!"
"Kenapa jadi yang kedua,memang nya dia sudah punya Istri?!"
"Baru mau sih Mang!dia sudah dijodohkan dengan putri dari guru nya,jadi dia tidak bisa menolak,dia bilang sih, cinta nya sama Ana!"
"Terus kamu nya gimana?!"Imran ingin tahu isi hari dari Ana sendiri.
__ADS_1
"Ya Ana memang suka sih sama dia, tapi kalau gak tahu kalau di poligami, lagipula Ana gak mungkin ninggalin Ibu dalam kondisi begini,A Ahmad mau Ana ikut ke Kairo jika Ana bersedia,gak tahu deh Mang,Ana pusing!"Jawab Ana masih penuh dengan ketidakpastian.
"Kalau banyak mudharat nya ya memang gak usah,An!lalu kapan dia menikah?!"
"Minggu ini katanya !"
"Kamu mau datang?!"
"Gak tahu mang! takut gak kuat, lagipula aku gak mungkin ninggalin Ibu!"
"Terus gimana dengan majikan mu itu,dia nyuruh kamu balik kerja?!"
Pancing Imran,dia melihat Ana dan majikannya ngobrol cukup serius tadi.
"Iya Mang, bahkan dia meminta ku jadi istri nya yang ke empat, gendeng gak tuh orang!?"
Imran menatap Ana seakan tak percaya,tak lama ia tertawa tergelak memikirkan nasib Ana yang di lamar pria sekaligus dalam satu hari tapi untuk dipoligami.
"Hahaha, yang bener kamu An?!"
"Beneran Mang,Mamang malah ngetawain Aku,,gak tahu apa aku lagi pusing banget nih! kayaknya dia sengaja menempatkan Ibu di kamar VIP,agar hutang ku semakin banyak sama dia! Astaghfirullah Mang, ujian sedang datang bertubi tubi kepada Ana!"Keluh Ana.
"Gak tahu deh,Mang,jika Ana menolak dia ,darimana Ana harus mengembalikan uang yang sudah kita pakai untuk pengobatan Ibu, belum lagi ke depan nya masih butuh biaya yang sangat banyak! tapi aku benci sama dia Mang, arghhh!dia sering membuat ku naik darah,dan seperti yang Mamang bilang, agamanya sangat minus, bagaimana dia bisa jadi imam yang baik buat Ana!"
"Itu memang dilema An, rasanya seperti kamu jual diri tapi dengan status yang halal! bagaimana kalau kita pindahkan ibu kamu ke rumah sakit yang lebih murah!"
"Tetap saja Mang, hutang kita sudah terlalu numpuk, belum lagi aku masih belum bisa meninggalkan Nyonya Lidia!"
Imran mengangguk angguk an kepala nya ,dia bisa faham perasaan Ana, tapi sama bingung dengan solusinya.
"Sudah jam dua! sebaiknya kamu sholat malam An, minta petunjuk kepada Allah, dia yang berhak menentukan nasib kehidupan kamu kedepannya,dan terima dengan ikhlas apapun keputusan nya, Mamang harus pulang pagi pagi karena ada jadwal mengajar,jadi sebaiknya kita istirahat dulu!"
Ucap Imran sambil berdiri dan mengajak Ana untuk shalat malam.
"An,kok kamu susah di hubungi, gimana kamu sudah punya keputusan belum tentang pertanyaan ku kemarin!?"
Ahmad menelpon Ana setelah tiga hari Ana tidak ada kabar.
"Gak tahu A, Ibu ku kecelakaan dan sekarang aku sedang menungguinya di rumah sakit!"Jawab Ana, dia sedang merawat Nyonya Lidia padahal, sedangkan Ibunya belum kunjung sadar.
__ADS_1
"Innailaihi!kok kamu gak ngasih tahu aku An,di rumah sakit mana?aku kesana sekarang!"Ahmad terdengar begitu terkejut dan khawatir dengan keadaan Ana yang sedang di timpa ujian bertubi tubi.
"Gak usah A,Aa kan mau menikah lusa,jadi gak perlu repot-repot kesini,Ibuku masih koma pokoknya AA gak usah kesini!"
"Kamu tuh kenapa sih An,kamu sedang kesusahan,Aku gak mungkin membiarkan mu begitu saja! aku kesana sekarang!"Tut tut tut,, Ahmad langsung menutup sambungan telponnya dan langsung mencari tahu sendiri rumah sakit tempat Ibu Ana dirawat dan langsung meluncur kesana.
"Mau kemana , Mad!buru buru amat!"Tanya Umi Rahma , ibu nya Ahmad.
"Ibunya Ana kecelakaan,Umi, Ahmad ingin menjenguk nya ke rumah sakit!"
"Innailaihi, kasihan Ana!hati hati Mad,lusa kamu akan menikah,Umi gak mau mengecewakan keluarga Guru kamu!"
"Umi gak perlu khawatir, Ahmad tetap akan menikah lusa!"
"Umi percaya sama kamu ,Mad!kamu gak akan mengecewakan keluarga,Ana mungkin bukan jodoh kamu!"
degh
Bagaimana Umi nya bisa tahu tentang perasaan nya kepada Ana.
"Sejak kapan Umi tahu?!"Tanya Ahmad sambil kembali duduk menghadap Umi nya.
"Sebagai ibu yang melahirkan mu, tentu saja umi tahu segalanya tentang kamu, bukan nya umi dan Abah mu tidak setuju kepada Ana,tapi sedari kamu kecil Abah mu dan kiai Rus sudah ada ikrar untuk menikah mu dengan puteri mereka satu satunya, maafkan Umi dan Abah karena tidak bisa mengerti perasaan mu!"
"Gak apa apa Mi,ini adalah takdir yang harus Ahmad jalani, rencana nya Ahmad ingin mempertemukan Ana dan calon istri Ahmad nanti,agar tidak ada kesalahpahaman ke depannya!"
"Lakukan yang menurut agama baik saja Mad,umi percaya sama kamu!"
...****************...
"Assalamualaikum,An! bagaimana kabar ibu mu,apa beliau sudah baikan?!"Tanya Ahmad yang datang ke rumah sakit ditemani calon istrinya,dia gadis bercadar yang rasanya Ana sudah mengenal nya,tapi siapa dan dimana.
"Begitu lah A, beliau masih koma!"
"Aku turut prihatin ya An,Umi dan Abah juga mengucapkan rasa belasungkawa nya, namun mereka belum bisa menjenguk Ibu mu karena mereka sangat sibuk dengan pelaksanaan pernikahan ku lusa,kamu bisa datang kan, An!?
Oh iya An, perkenalkan ini adalah calon istri ku,,Aku sengaja mengajak nya kesini karena ingin memperkenalkan nya kepada mu!"
Kata Ahmad sambil menyuruh calon istrinya itu masuk,dia masih berdiri di depan pintu sebelum Ahmad mengajak nya ke dalam.
__ADS_1
"Dasar tidak peka, bagaimana dalam kondisiku yang sedang berkabung seperti ini,A Ahmad malah membawa calon istrinya!"Batin Ana sambil menatap lekat ke arah gadis bercadar itu yang datang menghampiri nya.