
Sean menghembuskan napas berat. "Baiklah. Aku memilih bertanggung jawab. Tapi, ada syaratnya."
Ck! Gail berdecak sebal. "Di sini Sri adalah korbanmu, Sean. Masa iya kamu meminta syarat kepadanya?" ucap Gail dengan setengah kesal.
"Bukan itu maksudku, Gail. Begini, aku bersedia menikahi Sri, tapi dengan syarat pernikahan kami dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Aku butuh waktu, Gail! Aku butuh waktu untuk menjelaskannya kepada mommy. Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana kondisi kesehatan mommy? Aku takut dia syok dan malah mempengaruhi kondisi kesehatannya," jelas Sean.
Gail menghembuskan napas berat. Apa yang dikatakan oleh Sean memang ada benarnya. Selama ini Nyonya Helena memiliki riwayat penyakit jantung dan Sean takut pernikahannya dengan Sri akan membuat sang mommy syok lalu mempengaruhi kesehatannya.
"Sekarang bagaimana, Sri? Semua keputusan ada di tanganmu," ucap Gail sembari menatap lekat gadis berambut ikal tersebut.
Sri tampak berpikir keras. Seandainya bukan karena kejadian memalukan itu, mungkin ia pun akan berpikir jutaan kali menikah dengan lelaki sekelas Sean. Terlebih Sri sadar bahwa perbedaan di antara mereka bagaimana bumi dan langit.
"Aku ... ikut saja, Tuan," sahut Sri dengan lirih.
"Serius, kamu bersedia menikah dengan Sean walaupun secara sembunyi-sembunyi?" Lea mencoba memastikan keputusan gadis itu.
Sri mengangguk pelan. Walaupun terlihat jelas keraguan di raut wajah pucatnya. "Ya, Mbak. Saya bersedia. Tapi ...."
Sri menghentikan ucapannya lalu menatap lelaki berdarah campuran itu dengan lekat.
"Tapi apa, Sri?" tanya Lea.
"Aku ingin pernikahan kami dilangsungkan di kampung kelahiranku, Mbak. Setidaknya dengan begitu, orang-orang di kampung tahu bahwa aku sudah menikah," tutur Sri dengan lirih.
"Bagaimana, Sean?" Gail melirik Sean.
"Ya, aku setuju!" sahut Sean dengan mantap.
"Nah, sebaiknya segera hubungi seluruh keluarga besarmu di kampung. Katakan kepada mereka bahwa kami akan datang melamarmu," ucap Lea.
__ADS_1
"Baik, Mbak." Sri pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Setelah kesepakatan diraih, kini Sri terlihat sedikit lebih tenang. Setidaknya ia tidak perlu khawatir lagi dengan statusnya yang sudah tidak perawan karena Sean bersedia mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Sri? Sudah agak mendingan?" Lea tersenyum sembari mengelus lembut pundak Sri yang masih duduk di sampingnya. Sementara Sean dan Gail sudah pergi dengan urusan mereka masing-masing.
"Sedikit lebih tenang, Mbak. Terima kasih," jawabnya sambil tersenyum kecil.
"Sama-sama, Sri."
"Jujur, aku tidak peduli bagaimana nasibku setelah pernikahan ini, Mbak. Jika seandainya tuan Sean meminta perceraian, maka aku pun akan menyetujuinya."
"Hush! Jangan bilang begitu, Sri. Tidak baik," sahut Lea. "Kita tidak tahu bagaimana nasib seseorang nantinya, Sri. Siapa tahu, setelah menikah Sean akan berubah lalu mencintaimu sama seperti Gail mencintaiku," lanjut, mencoba mengingatkan.
Sri tersenyum kecut. "Entahlah, aku merasa hal itu sangat mustahil."
Sementara itu.
"Ehm, aku baik-baik saja, Sayang. Aku hanya mengantuk karena tadi malam kurang tidur," jawab Sean sambil tersenyum kecut membalas tatapan kekasihnya itu .
Wanita bertubuh seksi itu tersenyum manja sembari meraih tangan Sean lalu menggenggamnya dengan erat. "Apa yang kamu pikirkan, Sean? Aku?"
"Selalu, Anya. Kamu akan selalu berada di pikiranku," jawabnya.
"Oh ya, hampir saja aku lupa mengatakan hal ini," lanjut Sean.
"Apa itu, Sayang?" Wanita itu menatap lekat Sean. Berharap sesuatu yang akan dikatakan oleh Sean adalah sebuah kabar bahagia.
"Mungkin sebentar lagi aku akan kembali ke negaraku. Ada sesuatu yang penting, yang harus aku kerjakan di sana," ucap Sean yang berhasil membuat wanita cantik bernama Anya Vanessa itu terlihat kecewa.
__ADS_1
"Lalu bagaimana denganku?" rengek Anya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hanya sebentar saja, Anya. Jika seandainya bukanlah hal yang penting, mungkin aku tidak akan meninggalkanmu di sini," ucap Sean meyakinkan.
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan di sana?" tanya Anya yang mulai penasaran.
"Ada sedikit masalah di perusahaan dan mommy memintaku untuk mengurusnya," sahut Sean bohong.
"Tapi kamu tenang saja, Anya. Aku berjanji akan kembali secepatnya," lanjut Sean, lalu mencium punggung tangan wanita cantik itu dengan penuh perasaan.
"Baiklah, Sayang. Aku pegang janjimu," sahut Anya.
Di antara banyaknya wanita yang menjalin hubungan dengannya, Anya adalah wanita pertama yang membuat Sean benar-benar jatuh cinta. Sean berniat serius dan ingin meresmikan hubungan mereka.
Namun, sayang impiannya harus kandas karena sebentar lagi Sean harus menikahi wanita lain. Wanita sederhana yang berasal dari kampung.
Jika Anya adalah wanita cantik berkulit putih mulus, tubuh tinggi semampai dan berasal dari keluarga yang cukup terpandang, berbanding terbalik dengan Sri–calon istrinya yang sederhana, berkulit sawo matang, tubuh mungil dan rambut hitam bergelombang. Sri benar-benar bukan tipikal cewek idaman Sean.
"Sayang," panggil wanita cantik itu.
"Ya?"
"Pernahkah terlintas di pikiranmu untuk membuat hubungan kita menjadi lebih serius, Sean?" tanya Anya sambil membelai lembut lengan Sean.
Sean menarik napas dalam lalu menghembuskannya kembali. "Jujur, aku ingin sekali melamarmu, Anya. Tapi tidak sekarang. Aku butuh waktu untuk meyakinkan mommy terlebih dahulu," jawab Sean.
"Hmmm." Anya kembali mengerucutkan bibirnya dengan manja. "Kenapa harus nanti sih, Sayang? Bukankah mommy memang menginginkan agar kamu secepatnya menikah?"
"Ya, itu memang benar. Tapi tetap saja, aku butuh waktu untuk mengatakannya sama mommy," jawab Sean.
__ADS_1
...***...