Istri Terabai Tuan Sean

Istri Terabai Tuan Sean
Bab 9


__ADS_3

Setelah selesai melihat hasil rekaman CCTV, Gail mengajak Lea untuk menemui Sri di kontrakannya. Lea pun tidak menolak, ia setuju dengan permintaan suaminya itu.


Setibanya di kontrakan.


Sri tampak enggan menyambut kedatangan Gail di kontrakan sederhananya itu. Selain karena ia masih dalam kondisi yang masih buruk, ia juga malu bertemu dengan lelaki itu.


"A-ada apa, Tuan?" tanya Sri yang berdiri di ambang pintu dengan memunculkan sedikit wajahnya di sana.


"Sri, bolehkah kami masuk?" tanya Gail balik, karena Sri masih enggan membuka pintu kontrakannya lebih lebar lagi.


"Kami ingin membicarakan hal itu, Sri. Please, demi kebaikanmu," bujuk Lea yang akhirnya berhasil meluluhkan hati Sri.


Sri membuka pintu kontrakannya lebih lebar dan mempersilakan pasangan itu untuk masuk ke dalam.


"Masuklah, Tuan."


Tak lupa, Sri mempersilakan mereka untuk duduk di kursi yang ada di ruang depan.


"Silakan duduk, Tuan."


"Terima kasih, Sri."


Lea dan Gail duduk tepat di hadapan Sri kemudian menatap gadis itu lekat.


"Sebelumnya, aku minta maaf sama kamu, Sri. Aku sudah menceritakan semua yang terjadi padamu kepada Gail dan kami juga sudah mengecek hasil rekaman CCTV di sekitar ruangan itu dan semua yang kamu katakan itu benar. Sean sudah melakukan hal yang tidak senonoh padamu. Sekarang kamu maunya bagaimana, Sri? Apa pun keputusanmu, kami akan tetap berdiri di sampingmu dan mendukung semua keputusanmu," tutur Lea.


"Aku tidak tahu harus bagaimana, Mbak. Aku ingin meminta pertanggung jawaban, tapi aku takut," sahut Sri dengan bibir bergetar.


"Baiklah kalau begitu. Besok, sopirku akan menjemputmu, Sri. Kita berkumpul di kediamanku dan membicarakan hal ini bersama Sean," sambung Gail.


"Tapi, Tuan—"


"Sri, kamu tenang saja dan jangan takut. Kami akan selalu ada di sampingmu." Lea mengelus lembut pundak Sri, mencoba meyakinkan wanita muda itu.

__ADS_1


Sri pun terpaksa mengangguk dan menyetujui keinginan Lea dan Gail.


Keesokan harinya.


"Sean, ada yang ingin kami bicarakan sama kamu." Gail memecah keheningan di meja makan, pagi itu.


Sean yang tengah menikmati sarapannya, tiba-tiba tersedak setelah mendengar kata-kata Gail.


"Uhuk-uhuk!" Sean meraih segelas air minum lalu menenggaknya hingga bersisa separuh.


"Bicara masalah apa, Gail?"


Sean meletakkan kembali gelas itu sambil melirik Lea yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan sinis. Sean curiga bahwa Lea sudah menceritakan masalah itu kepada Gail dan ia yakin, Gail pasti ingin membicarakan hal itu kepadanya.


"Kita berkumpul di ruang utama setelah sarapan ini selesai." Alih-alih menjawab pertanyaan Sean, Gail malah mengatakan hal itu dengan wajah dingin, tanpa ekspresi apa pun.


"Kenapa harus di ruang utama? Di sini 'kan bisa. Katakan saja, apa yang sebenarnya ingin kamu ceritakan padaku?"


Gail tidak ingin menimpali. Ia terus saja fokus pada hidangan yang tersaji di atas piringnya. Setelah beberapa menit kemudian. Acara sarapan mereka pun selesai dan kini Gail bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.


"Ehm, aku yakin Gail pasti ingin membicarakan masalah itu 'kan?" celetuk Sean kepada Lea yang juga tengah bersiap untuk menyusul Gail di ruang utama.


Lea tersenyum tipis. "Menurutmu?" jawab Lea sembari berlalu pergi.


Sean menekuk wajahnya dengan kesal. "Hhh, dasar!"


Dengan terpaksa, Sean pun melangkah menuju ruang utama, di mana Gail dan Lea sudah duduk di sana sembari menunggu kedatangannya. Setibanya di ruangan itu, Gail langsung meminta Sean untuk duduk tepat di hadapannya. Sean menurut saja, ia pun segera menjatuhkan diri ke sofa empuk tersebut.


"Ada apa sih, Gail? Sepertinya serius sekali," ucap Sean, seolah tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh sepupunya itu.


"Tunggulah sebentar lagi," sahut Gail sembari melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Memangnya ada apa sih, Gail? Katakan saja! Aku tidak bisa menunggu lama-lama di sini. Aku ada janji dengan kekasihku," ucap Sean dengan setengah kesal.

__ADS_1


"Tidak akan lama, paling sebentar lagi."


Tepat di saat itu, sebuah mobil tiba di halaman depan kediaman mewah Gail. Mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadinya itu memang sengaja diperintahkan oleh Gail untuk menjemput Sri di kontrakannya.


Dengan ragu-ragu, Sri melangkahkan kakinya memasuki kediaman mewah itu. Menjejakkan kaki ke tempat tersebut, seakan kembali mengingatkan Sri dengan kejadian naas yang menimpa dirinya di malam itu.


Tubuh mungil Sri bergetar dengan hebat. Bahkan, keringat dingin terus keluar melalui pori-pori kulitnya. Tak butuh waktu lama, wanita muda itu pun akhirnya tiba di ruang utama.


Sean mendengus kesal ketika mengetahui bahwa Sri lah orang yang sedang ditunggu-tunggu oleh Gail. Kedatangan wanita muda itu membuat Sean makin yakin bahwa Gail memang akan membicarakan masalah kejadian itu.


"Hhh, dia lagi!" Sean menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil membuang muka.


Melihat reaksi Sean yang seperti itu, Sri pun menjadi semakin ketakutan. Terlebih ketika ia teringat bagaimana Sean memperlakukan dirinya pada malam itu. Sangat kasar dan terlihat seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya.


"Kemarilah, Sri." Lea menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya dan Sri pun segera menghampiri lalu duduk di samping majikannya itu.


"Mbak," ucap Sri dengan bibir bergetar.


"Sean," ucap Gail, mencoba membuka pembicaraan mereka.


Sean melirik Gail untuk sesaat lalu kembali melemparkan pandangannya ke arah lain.


"Aku sudah mengetahui semuanya, Sean. Aku juga sudah memeriksa hasil rekaman CCTV di sekitar kamarmu. Sebaiknya kamu akui saja lalu bertanggung jawablah terhadap Sri. Tidakkah kamu kasihan sama dia? Dia adalah korbanmu, Sean dan kamu harus segera mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu," tutur Gail sambil menatap lekat wajah Sean.


"Bertanggung jawab? Malam itu aku sedang mabuk, Gail! Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kami! Bisa saja 'kan dia sendiri yang datang padaku lalu menggodaku?"


"Tuan Sean!" Sri meradang. Ia bangkit dari posisinya lalu bersiap menyerang lelaki itu. Beruntung Lea segera menahannya. Ia menarik tangan Sri kemudian mengajaknya untuk kembali duduk di tempatnya semula.


"Sri, sabar ya."


"Tapi aku kesal, Mbak! Aku bukanlah wanita penggoda, sama seperti apa yang ia pikirkan," geram Sri, sementara Sean masih membuang muka, tak ingin melihat ke arah Sri yang memang bukan tipikal wanita idamannya.


"Ayolah, Sean. Bukti hasil rekaman CCTV sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dirimu memang bersalah. Sekarang begini saja, aku berikan dua pilihan untukmu. Bertanggung jawab kepada Sri atau memilih hukuman? Sri bisa saja melaporkan perbuatanmu ke pihak berwajib, secara ia sudah memiliki bukti-bukti yang kuat dan salah satunya hasil dari rekaman CCTV itu," tutur Gail yang berhasil membuat Sean kelimpungan.

__ADS_1


"Ta-tapi, Gail!"


***


__ADS_2