
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Sri lalu menghampiri tempat tidur. Sean tersentak kaget ketika menyadari bahwa Sri mulai mendekat ke arahnya.
"Mau apa kamu?!" pekiknya dengan mata melotot menatap Sri.
"Aku ingin beristirahat, Tuan! Aku juga lelah dan butuh tidur," jawab Sri dengan ketus.
"Tidur di mana?" tanya Sean lagi.
"Ya, di sini lah! Di mana lagi?" Sri mendengus kesal.
"Enak saja! Hush, sana-sana! Apa kamu ingin mengulangi kejadian memalukan itu? Hhh, aku sih ogah!" celetuknya sambil menjauh dari Sri.
Sri kesal. Tanpa peduli dengan reaksi lelaki bermata biru itu, ia langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Ia berbaring dengan posisi membelakangi Sean.
"Memangnya siapa yang ingin mengulangi kejadian pada malam itu? Hhh, amit-amit jabang bayi," gumam Sri pelan sambil bergidik ngeri.
"Lagi pula, ini rumah mamangku, jadi ya terserah aku mau tidur di mana. Jika Anda tidak suka, ya Anda tidur saja di lantai!"
Sean mendengus kesal. Ia melirik ke arah lantai kamar yang terbuat dari keramik tersebut. Tanpa menyentuh pun, Sean tahu bagaimana hawa dinginnya. Sean kembali membuang napas kasar lalu meletakkan guling di antara mereka.
"Jangan pernah menyentuhku!" ucap Sean dengan tegas.
"Tidak akan, Tuan Sean! Tidak akan, ingat itu!" jawab Sri yang masih pada posisinya.
Dengan ragu-ragu, Sean kembali merebahkan tubuh besarnya di atas kasur tersebut. Sesekali ia melirik Sri yang sama sekali tidak bergerak hingga akhirnya ia pun tertidur dengan lelapnya.
Keesokan harinya.
Sri terbangun karena merasakan ada sesuatu yang berat tengah menindih bagian perutnya hingga membuat ia kesusahan untuk bernapas. Sri perlahan membuka mata lalu melihat ke arah perutnya.
Betapa terkejutnya Sri setelah mengetahui bahwa yang menindih perutnya adalah kaki besar Sean. Kaki berukuran besar dengan dipenuhi oleh bulu-bulu keriting yang membuat Sri bergidik ngeri melihatnya.
__ADS_1
"Akhh!" pekik Sri sembari mencoba menepis kaki besar yang berada di atas perutnya tersebut. Namun, karena kaki itu terlalu besar dan berat, Sri pun kesusahan menyingkirkannya.
Samar-samar Sean mendengar suara pekikan seorang wanita. Ia terkejut lalu membuka mata. Bukan hanya Sri yang syok menyaksikan pemandangan itu, Sean pun kaget bukan kepalang. Dengan cepat ia menyingkirkan kakinya dari perut Sri.
"Apa yang kamu lakukan?!" pekik Sean dengan mata membulat menatap Sri.
"Hei, Tuan! Seharusnya akulah yang bertanya seperti itu padamu. Apa yang dilakukan oleh kakimu di atas perutku, ha?!" balas Sri tidak mau kalah.
Sean menekuk wajahnya dengan kesal. Sementara Sri bergegas pergi lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Aku harus segera pulang. Aku tidak ingin berlama-lama tinggal di sini, bisa-bisa aku gila dibuatnya," gumam Sean dengan wajah frustrasi.
Beberapa jam kemudian.
"Serius, kalian akan pulang sekarang? Tidak bisakah kalian tinggal di sini untuk beberapa hari lagi?" tanya Mang Udin dengan mata berkaca-kaca menatap Sri dan Sean secara bergantian.
Pria paruh baya itu seakan tak rela melepas kepergian Sri. Baru beberapa hari ia bisa berkumpul bersama keponakannya itu dan sekarang mereka harus kembali terpisah.
Mang Udin menghembuskan napas berat. "Ya, sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, Nak. Jangan ngebut. Biar lambat asal selamat," ucap Mang Udin mengingatkan.
"Dan jangan lupa untuk berkunjung lagi ke sini ya, Nak," lanjutnya.
Tanpa terasa setetes buliran bening meluncur begitu saja dari pelupuk mata pria paruh baya itu. Ia begitu menyayangi Sri seperti ia menyayangi anak kandungnya sendiri, walaupun Sri hanyalah keponakannya.
Bukan hanya kali ini ia merasa berat melepaskan kepergian Sri. Dulu, untuk pertama kali Sri merantau ke kota, ia pun tidak bisa membendung kesedihannya. Ia menangis sambil memeluk Sri dan bibirnya terus memanjatkan doa untuk keselamatan serta kebahagiaan keponakannya itu. Dan sekarang hal itu terulang lagi.
"Ya, Mang. Sri akan sering berkunjung ke sini."
Bukan hanya Mang Udin yang bersedih dengan kepergian Sri, kedua sepupunya pun ikut bersedih karena mereka belum puas melepaskan rindu bersama kakak sepupunya itu.
"Nanti, kalo aku udah tamat sekolah, aku juga ingin merantau ke kota, Mbak. Aku ingin mengikuti jejaknya Mbak Sri, siapa tahu aku bisa menemukan pekerjaan yang bagus di sana," ucap sepupunya yang tertua.
__ADS_1
"Iya, nanti kalau kamu mau ke kota, hubungi saja Mbak. Mbak akan jemput kamu," jawab Sri.
"Sebaiknya kita pulang sekarang," sela Sean yang sudah tidak sabar ingin pergi meninggalkan kampung itu. Sudah berkali-kali ia melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya dan dari raut wajahnya, tampak lelaki itu sudah sangat bosan.
"Baiklah."
Sri tersenyum kecut lalu berpamitan kepada Paman, Bibi, serta kedua sepupunya.
"Sri pamit dulu, ya. Terima kasih atas semuanya," ucap Sri dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama, Sri. Moga kalian selalu bahagia dan cepat diberikan momongan," jawab Mang Udin.
Sean menggaruk tengkuknya. Di dalam hati ia berdoa agar doa yang diucapkan oleh pria paruh baya tersebut tidak terkabulkan. Ia tidak ingin menua bersama wanita kampung itu, apalagi sampai memiliki momongan bersamanya.
"Nak Sean," ucap Mang Udin sambil menatap lekat kedua netra Sean.
"Tolong jaga Sri dan berjanjilah bahwa kamu akan selalu bahagiakan dia," lanjutnya dengan tatapan penuh harap.
Sean tersenyum kecut. "Ya, aku berjanji, Pak."
Setelah selesai berpamitan, Sean pun bergegas masuk ke dalam mobil dan Sri segera menyusulnya. Setelah Sri siap, Sean lalu melajukan kendaraan beroda empat itu meninggalkan kediaman sederhana Mang Udin.
Di perjalanan.
"Berlama-lama tinggal di sana, bisa-bisa aku gila dibuatnya," gumam Sean dengan tatapan yang masih fokus ke arah jalan.
"Itu hanya karena Anda tidak terbiasa tinggal di sana," jawab Sri, pun tanpa melihat ke arah lelaki itu.
"Aku terbiasa di sana? Hah, yang benar saja! Sudah sunyi sepi seperti kuburan, tempat hiburan pun tak ada di sana. Hhh, tempat macam apa itu," gumamnya lagi sambil tersenyum sinis.
Sri menghembuskan napas berat dan tak ingin menimpali ucapan lelaki itu lagi.
__ADS_1
...***...