Istri Terabai Tuan Sean

Istri Terabai Tuan Sean
Bab 6


__ADS_3

Keesokan harinya.


Tidak seperti biasa, yang selalu semangat menyambut paginya, hari ini Sri masih meringkuk di atas tempat tidur dengan air mata yang terus mengalir. Ia terus saja teringat akan kejadian di malam itu. Di mana kesuciannya sudah direnggut secara paksa oleh lelaki yang sama sekali tak ia kenal.


Jangankan beraktivitas seperti biasa, untuk mengisi perutnya yang kosong saja Sri tidak mau melakukannya. Bayang-bayang kejadian itu, membuat perut Sri yang lapar menjadi kenyang dan tak ingin melakukan apa pun lagi selain meringkuk dan menangis di atas tempat tidurnya.


Sementara itu di tempat lain.


"Sayang, sebaiknya butikmu itu serahkan saja sama yang lain. Kamu di rumah saja, fokus sama bayi kita. Bagaimana?" tanya Gail yang saat itu sedang berjalan bersama Lea menuju halaman depan.


Lea mengerucutkan bibirnya. "Tidak bisa begitu, Sayang. Mencari karyawan yang sesuai dengan kriteria itu sangatlah sulit. Apalagi jika harus menyerahkan butik dan mempercayakannya begitu saja," sahut Lea menjelaskan.


"Tapi 'kan masih ada Sri, Sayang. Bukankah dia karyawan terbaikmu?"


"Ya, itu memang benar. Tapi aku tidak yakin Sri bersedia menerima tawaran itu," jawab Lea.


Kini pasangan itu sudah berada di halaman depan. Gail bergegas masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya hingga ke kantor, begitu pula Lea. Wanita itu duduk di samping Gail dan bersiap menuju butiknya yang masih satu arah dengan kantornya Gail.


Beberapa menit kemudian.


Mobil yang ditumpangi oleh pasangan itu kini tiba di depan butik milik Lea. Lea bergegas ke luar, sementara Gail tetap diam di posisinya sambil menatap sang istri.


"Bye, Sayang! Emmuahh ...." Gail melambaikan tangan lalu memberikan ciuman jarak jauh dan melemparkannya ke arah Lea. Lea terkekeh melihat tingkah Gail yang terlihat seperti anak kecil yang baru berusia beberapa tahun.


"Bye!" Lea membalas lambaian tangan Gail seraya melempar senyum.


Setelah mobil yang membawa Gail melesat pergi, Lea pun segera memasuki pekarangan butiknya.


"Loh, kok tumben butik masih tutup? Sri ke mana, ya?" gumam Lea dengan alis yang saling bertaut.

__ADS_1


Ia membuka tempat itu lalu mempersiapkan semua pekerjaannya sama seperti biasa sambil menunggu kedatangan Sri. Namun, hingga berjam-jam berlalu, Sri masih belum kelihatan batang hidungnya dan hal itu berhasil membuat Lea merasa khawatir.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Sri, ya?" gumam Lea lagi.


Lea meraih ponsel lalu menghubungi anak buahnya itu. Beberapa kali Lea mencoba, tetapi Sri tetap tidak menerima panggilan darinya.


"Ya Tuhan, kenapa perasaanku jadi tidak enak begini, ya?" gumam Lea sambil mengelus dadanya.


Karena hati dan pikirannya terus berkecamuk memikirkan Sri, Lea pun memutuskan untuk menyusul wanita muda itu di kediamannya. Ia takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan dan sebelum berangkat menuju kontrakan sederhana milik Sri, Lea menutup butiknya terlebih dahulu.


Memang sebelumnya Lea pernah mengunjungi kontrakan sederhana Sri hingga beberapa kali. Jadi, dia sudah cukup hapal dengan arah jalan serta kondisi di sekitar tempat itu.


Setelah beberapa menit kemudian, Lea sudah berdiri tepat di depan pintu kontrakan yang ditempati oleh Sri. Ia mengetuk daun pintu sembari memanggil nama wanita muda itu hingga berkali-kali.


"Sri, apa kamu di dalam?" tanya Lea sambil memperhatikan sekeliling.


Namun, tak ada satu jawaban pun dari gadis yang memiliki rambut bergelombang itu. Bahkan, suara langkah kakinya pun sama sekali tak terdengar di dalam ruangan sempit tersebut.


"Nyari siapa, Mbak?" Tiba-tiba pemilik kontrakan itu datang menghampiri Lea. Lea tersentak kaget dan langsung berbalik menatap wanita paruh baya berperawakan semok tersebut.


"Yang tinggal di kontrakan ini ke mana ya, Bu?"


"Sri?"


"Ah, ya, Sri." Lea tersenyum.


"Ada kok, di dalam. Tapi, ya itu. Entah kenapa Sri terlihat murung aja dari kemarin. Padahal biasanya dia sudah pergi bekerja di jam-jam seperti ini. Apa mungkin dia dipecat dari tempat dia bekerja?"


"Ah, itu tidak mungkin, Bu," sanggah Lea. "Aku adalah pemilik butik tempat dia bekerja dan kami tidak memiliki masalah apa pun soal pekerjaan. Dia karyawan yang rajin serta bertanggung jawab dan baru kali ini dia bolos tanpa memberitahu aku," jelas Lea kemudian.

__ADS_1


"Lah, trus kenapa, ya?"


Lea pun menggelengkan kepalanya bingung. "Entahlah. Coba saya panggil lagi! Seandainya masih tidak ada respon dari dalam, bisakah Ibu membantuku membuka pintu ini?"


"Iya, Neng. Tentu saja," jawab wanita paruh baya itu sambil mengangguk setuju.


Lea kembali memanggil nama Sri sambil mengelilingi kontrakan sempit itu. Ia juga memanggil Sri melalui celah-celah jendela, berharap wanita muda itu mendengar panggilan darinya.


"Sri, kamu di dalam?"


Sri yang masih tenggelam dalam lamunannya, samar-samar mendengar suara Lea yang terus memanggilnya dari luar. Sri tersadar kemudian perlahan-lahan bangkit dari posisinya.


Ia duduk di tepian tempat tidur sambil mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.


"Sri?" panggil Lea untuk yang kesekian kalinya.


Sri menghembuskan napas panjang. Ia kemudian melangkah keluar dari kamar sempit itu lalu menghampiri pintu utama.


Ceklek!


Pintu terbuka dan tampaklah Sri yang sedang berdiri di balik pintu dengan wajah yang tampak memucat.


"Sri? Oh, syukurlah." Lea refleks memeluk tubuh wanita muda itu. Yang selama ini sudah ia anggap seperti adik sendiri.


"Masuklah, Mbak. Sebaiknya kita bicara di dalam saja," ucap Sri.


Lea pun mengangguk lalu mengikuti langkah Sri yang menuntunnya masuk ke dalam kontrakan berukuran kecil itu.


"Sri, kamu kenapa? Kamu tidak sedang sakit, 'kan?" tanya Lea dengan wajah cemas memperhatikan Sri.

__ADS_1


"M-Mbak Lea!" Tangis Sri kembali pecah dan membuat Lea semakin kebingungan.


...***...


__ADS_2