Istri Terabai Tuan Sean

Istri Terabai Tuan Sean
Bab 7


__ADS_3

"Sri, kamu kenapa, Sri?" Lea panik lalu menangkap wajah gadis berkulit eksotis itu dengan kedua tangannya.


"Mbak, aku ...." Sri menghentikan ucapannya, sementara tangisnya semakin tak terbendung.


"Kenapa, Sri? Kamu kenapa?"


"Aku sudah kehilangan kesucianku, Mbak! Kesucianku sudah direnggut olehnya!" pekik Sri yang menangis di dalam pelukan Lea.


"A-apa yang kamu katakan, Sri? Apa aku tidak salah dengar?" Lea tersentak kaget mendengar pengakuan Sri.


"Ya, Mbak. Dia sudah memperkosaku! Sekarang aku harus bagaimana, Mbak? Aku malu! Aku tidak ingin menampakkan wajahku di depan siapa pun lagi." Tangis Sri semakin menjadi-jadi.


"Dia siapa, Sri? Katakan padaku, apa aku mengenalnya?" Lea memegang kedua pundak Sri dan menatap ke dalam netra gadis berambut ikal tersebut.


Tiba-tiba terlintas di pikiran Lea, sosok Sean yang pada hari itu bersikap sangat aneh. Terlebih ketika ia menatap Sri. Seolah ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.g.


"Jangan katakan kalau dia itu Sean? Katakan padaku, Sri? Apa lelaki itu Sean?!" Lea menggoyang-goyangkan tubuh lemah Sri hingga akhirnya wanita muda itu pun menganggukkan kepalanya.


"Ya, Tuhan!" Lea menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan sebelah tangan. Matanya membulat sempurna dan ia benar-benar syok mendengar pengakuan dari anak buahnya itu.


"Sekarang aku harus bagaimana, Mbak?" tanya Sri dengan lirih.


"Keterlaluan Sean! Ta-tapi, bagaimana bisa, Sri? Kapan dia melakukan itu?" tanya Lea yang masih belum mengerti bagaimana kejadian itu bisa terjadi.


Sri pun menceritakan semuanya kepada Lea. Dari awal kejadian hingga ia bertemu dengan Lea di pagi harinya. Lea benar-benar meradang setelah mendengar penuturan dari Sri.


Ia tidak habis pikir kenapa Sean begitu bejat. Walaupun sebenarnya Lea sudah tahu bagaimana sifat Sean, tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa lelaki itu mampu melakukan hal yang menjijikan seperti itu.


"Sebentar!" Lea teringat akan pil setan milik Gail yang tiba-tiba menghilang dan diyakini bahwa Sean lah yang sudah mengambilnya.


"Ya, Tuhan!" Lagi-lagi Lea memekik.


"Kamu tenang saja, Sri. Aku berjanji padamu bahwa aku akan selalu berada di sisimu. Apa pun yang terjadi, aku pastikan bahwa Sean akan tetap bertanggung jawab dan menikahimu," ucap Lea dengan serius.

__ADS_1


Sri menggelengkan kepalanya. "Rasanya itu sangat tidak mungkin, Mbak. Waktu kejadian itu, tuan Sean bahkan memintaku untuk menutup mulut dan tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun. Aku bingung, Mbak! Aku malu, aku sudah tidak suci lagi!" tutur Sri yang kemudian mengamuk.


Sri berteriak histeris sambil memukul-mukul tubuhnya. Sri juga tanpa kontrol, menjambak rambut ikalnya yang tergerai panjang hingga menjadi tak beraturan.


"Aku kotor! Aku kotor! Aku sudah kotor!" ucap Sri berulang-ulang.


Lea kembali menangkap tubuh Sri lalu memeluknya dengan sangat erat. "Tidak, Sri. Jangan katakan itu! Bukan kamu yang kotor, tetapi Sean! Lelaki itulah yang kotor karena sudah merenggut mahkota berhargamu," tutur Lea, mencoba menenangkan.


Beberapa saat kemudian.


Setelah puas berbincang bersama Sri, Lea pun kembali ke kediamannya. Ia berjalan dengan cepat menelusuri ruangan demi ruangan yang ada di bangunan nan megah itu.


"Di mana Sean?" tanya Lea kepada salah satu pelayan yang tidak sengaja berpapasan dengannya.


"Ada di kamar, Nona."


Setelah mengetahui bahwa Sean masih berada di dalam kamarnya, Lea pun bergegas menuju ruangan itu.


Tok ... tok ... tok!


Saat itu Sean masih uring-uringan di atas kasur empuknya. Kejadian pada malam itu ternyata juga mempengaruhi mood-nya. Lelaki itu jadi malas melakukan sesuatu. Yang ia inginkan hanyalah tidur dan tidur. Dengan begitu ia berharap bisa membuatnya melupakan masalah itu walaupun hanya sejenak.


Setelah mendengar suara ketukan serta panggilan dari Lea, Sean pun bergegas bangkit dari posisinya. Ia duduk di tepian ranjang dengan tatapan yang tertuju pada daun pintu.


"Lea? Mau ngapain dia ke sini? Jangan-jangan dia ingin membahas soal kejadian pada malam itu? Ah, tidak-tidak! Itu tidak boleh terjadi," gumamnya pelan.


"Sean! Aku tahu kamu di dalam. Sekarang bukalah! Aku ingin bicara padamu!" teriak Lea lagi sembari mengetuk pintu kamar itu.


Sean menghembuskan napas berat lalu berdecak sebal. "Ck! Ya, sebentar, Lea!"


Dengan malas, Sean berjalan menghampiri pintu. Ia membuka pintu tersebut lalu berdiri di tengah-tengahnya.


"Ya, ada apa, Lea?" tanya Sean sambil berpura-pura menguap. Seolah-olah ia masih mengantuk dan butuh tidur.

__ADS_1


"Aku ingin bicara padamu!" Lea mencoba mendorong daun pintu yang terhalang tubuh besar Sean, tetapi tidak bisa. Sean sudah menahannya dari dalam.


"Bisakah kita bicaranya nanti saja, Lea? Aku masih mengantuk," sahut Sean. Lagi-lagi menutup mulutnya dengan tangan, seolah-olah sedang menguap.


"Tidak bisa sebab ini sangat penting!" sahut Lea dengan mata melotot menatap Sean.


Melihat tatapan maut Lea, Sean pun akhirnya gentar. Ia membuka pintu lebih lebar dan membiarkan istri dari sepupunya itu memasuki kamarnya.


"Ada apa, Lea?" tanya Sean sembari memperhatikan punggung Lea yang melewati tubuhnya begitu saja.


Lea berbalik lalu menatap Sean dengan wajah memerah. "Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Sri, Sean?"


"Sri? Siapa itu?" Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lagi-lagi ia lupa siapa nama wanita yang sudah ia renggut kesuciannya.


Lea mendengus kesal. "Ck! Sri, wanita yang sudah kamu renggut kesuciannya pada malam pesta! Apa kamu sudah lupa akan hal itu, Sean?!"


Deg!


Tiba-tiba jantung Sean berdetak dengan sangat cepat. Aliran dalam darahnya memanas dan menjalar ke seluruh tubuh lelaki itu.


"A-apa maksudmu, Lea? A-aku tidak mengerti," jawab Sean dengan terbata-bata dan seolah tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Lea barusan.


"Tidak usah berbohong, Sean! Sri sudah menceritakan semuanya kepadaku! Sekarang akui saja, malam itu kamu sudah memperkosanya, 'kan?" geram Lea sambil menunjuki wajah lelaki itu.


"Apa? Aku memperkosa anak orang? Yang benar saja, Lea. Memangnya kamu pikir aku ini lelaki apaan? Tanpa diperkosa pun, para wanita itu pasti dengan senang hati menyerahkan kesuciannya kepadaku. Jadi buat apa aku melakukan hal yang tidak berguna seperti itu," celetuk Sean sambil tersenyum sinis.


"Jadi kamu tidak mau mengakui hal itu, Sean?" Lea menggelengkan kepalanya, bingung melihat sikap Sean yang sama sekali tidak merasa bersalah.


"Aku tidak melakukannya, jadi buat apa aku mengakuinya?" Sean bersikeras mempertahankan egonya.


"Selama Sri bekerja denganku, sekalipun ia tidak pernah berbohong padaku. Apalagi dalam hal sebesar ini, Sean! Tidak mungkin ia berbohong padaku!" geram Lea.


"Terserah jika kamu tidak percaya. Tapi seperti itulah kenyataannya. Mungkin saja 'kan itu hanya akal-akalannya Sri, biar dia bisa memintaku untuk bertanggung jawab kepadanya?"

__ADS_1


...***...


__ADS_2