
Hari istimewa itu pun tiba.
Pesta pernikahan Sri dan Sean pun dilaksanakan di kediaman Mang Udin dengan begitu meriah. Ya, untuk seukuran kampung, pesta yang digelar oleh Mang Udin adalah pasta pernikahan yang paling meriah yang pernah dilaksanakan di kampungnya.
Suara musik mendayu-dayu. Beberapa artis lokal berpakaian indah, bergantian menyumbangkan suara merdu mereka untuk menghibur para tamu undangan.
Di atas meja saji sudah berjejer rapi berbagai menu hidangan. Dari menu sederhana hingga istimewa. Para tamu undangan yang merupakan warga desa kampung itu, begitu antusias menikmatinya.
Di salah satu pojok, tampak pelaminan mewah yang berdiri kokoh menghadap ke arah para tamu. Pelaminan dengan warna dominan gold itu masih kosong, tak tampak siapa pun di sana. Jika Sri masih dirias di dalam kamarnya, berbeda halnya dengan Sean yang masih di dalam perjalanan menuju tempat itu.
Lea dan Gail yang baru saja tiba di tempat itu, segera berbaur dengan para tamu lainnya. Jika Gail memilih menemani Mang Udin, Lea memilih menyusul Sri yang masih dirias di dalam kamarnya.
"Sri, kamu cantik sekali!" pekik Lea lalu duduk di samping Sri.
Sri yang sudah siap 99 persen itu pun tersenyum menatap Lea. "Apakah tuan Sean sudah tiba, Mbak?"
Lea menggeleng pelan. "Tadi kami beriringan di jalan, tetapi dia sempat berhenti untuk membeli minum. Karena dia tidak ingin ditunggu, kami pun meneruskan perjalanan kami lebih dulu."
Raut wajah Sri tiba-tiba menjadi murung. Entah kenapa ia takut Sean mengurungkan niatnya lalu membatalkan pernikahan mereka.
Lea mengelus lembut pundak Sri. "Kamu tenang saja, Sri. Sean tidak akan kabur, kok. Sebentar lagi dia pasti akan datang," ucap Lea mencoba menenangkan.
"Semoga saja begitu, Mbak. Jujur, aku sangat takut," sahut Sri dengan mata berkaca-kaca menatap Lea.
Setelah selesai berdandan, Sri pun segera keluar dari ruangan sempit itu lalu berjalan menuju pelaminan bersama Lea dan dua sepupunya. Lea menuntun Sri hingga duduk di atas singgasana megahnya.
Waktu terus berlalu dan kediaman Mang Udin semakin ramai saja dengan para tamu undangan yang hadir secara silih berganti. Namun, hingga saat itu, Sean masih belum juga kelihatan batang hidungnya. Semua orang mulai bertanya-tanya, di mana sebenarnya calon mempelai pria berada.
Bukan hanya para tamu undangan, Sri pun ikut bertanya-tanya di mana sebenarnya calon suaminya itu berada. Sri tampak cemas. Ia takut calon suaminya itu mendadak kabur dan meninggalkannya.
"Di mana tuan Sean? Kenapa sampai sekarang ia belum juga tiba?" gumam Sri sambil menatap ke arah jalan. Berharap lelaki berdarah campuran itu tiba di sana.
__ADS_1
Ternyata Lea menyadari kegundahan Sri. Ia kembali menghampiri lalu mencoba menenangkan gadis itu.
"Dia pasti akan datang, Sri."
"Tapi ini sudah berjam-jam, Mbak. Kenapa tuan Sean masih belum juga tiba. Apakah terjadi sesuatu kepadanya? Atau dia memang sengaja me—"
"Hush, jangan bilang begitu, Sri. Berpikir positif dan jangan berpikiran yang aneh-aneh," sela Lea, mencoba meyakinkan.
Pun dengan Pak Penghulu yang sejak tadi sudah siap untuk menikahkan mereka. Lelaki paruh baya itu sudah berkali-kali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Jadi, di mana calon mempelai prianya?" tanya Pak Penghulu dengan setengah berbisik kepada Mang Udin yang duduk tak jauh darinya.
"Ehm, masih di jalan, Pak. Mungkin sebentar lagi dia akan tiba," sahut Mang Udin dengan ragu-ragu. Ia pun tampak cemas karena Sean belum juga kelihatan batang hidungnya.
"Baiklah, akan saya tunggu. Tapi ... jika dalam satu jam lagi calon pengantin pria masih belum hadir, maka saya harus pergi. Saya punya janji kepada warga desa sebelah untuk menikahkan anaknya pada hari ini," ucap Pak Penghulu.
"I-iya, Pak. Baiklah," sahut Mang Udin dengan wajah yang semakin cemas.
"Nak, di mana sepupumu? Kenapa sampai sekarang ia belum juga tiba?"
Gail tampak cemas. "Ehm, sebentar, Pak. Biar saya hubungi nomornya. Saya takut terjadi apa-apa sama dia di jalan," jawab Gail kemudian segera bangkit dan menjauh dari tempat itu.
Sementara itu di tempat lain.
Sean masih bersandar di samping mobilnya sambil menghisap sebilah rokok. Tatapannya kosong, menuju pegunungan nan menghijau di kejauhan. Sean kembali diserang rasa bimbang, hingga ia tidak sadar sudah berapa lama ia terdiam di sana sambil termenung.
Dreett ... dreeettt!
Benda pipih milik Sean bergetar dan berhasil membuyarkan lamunannya. Sean bergegas meraih ponselnya lalu menerima panggilan itu.
"Ya?"
__ADS_1
"Sayang, kamu di mana? Aku barusan mengunjungi kediaman sepupumu dan kata security di sana, katanya kamu dan sepupumu sudah pergi. Pergi ke mana, Sean?"
Sean terdiam sejenak. Pikirannya semakin kacau setelah mendapatkan panggilan dari kekasihnya itu. Sean menarik napas panjang lalu menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh Anya barusan.
"Bukankah aku sudah bilang sama kamu beberapa waktu yang lalu, Anya. Bahwa aku akan kembali ke negaraku untuk beberapa hari. Dan sekarang aku sedang berada di bandara, menunggu pesawat yang akan mengantarkanku," jawabnya.
"Loh, jadi hari ini? Kenapa kamu tidak bilang sama aku, Sayang? Aku 'kan bisa ikut mengantarkanmu. Baiklah kalau begitu, aku akan segera menyusulmu ke sana," ucap Anya yang bersiap memutuskan panggilannya.
"Sebentar, Anya! Kamu tidak perlu menyusulku ke bandara karena aku sudah berjalan menuju pesawat dan sebentar lagi kami akan berangkat," sahut Sean lagi dengan panik.
"Hmm!" Anya mencebikkan bibirnya. Ia benar-benar kecewa karena tidak bisa menemui kekasihnya itu. "Baiklah kalau begitu."
Anya segera memutuskan panggilannya dan kini tinggallah Sean yang masih menatap layar ponselnya dengan tatapan sedih.
"Maafkan aku, Anya!"
Tepat di saat itu, panggilan dari Gail masuk ke nomor ponselnya. Sean masih menatap layar benda pipih itu tanpa berkeinginan menerima panggilan dari Gail. Ia menghembuskan napas berat lalu menyimpan benda itu ke dalam saku celananya.
Sementara itu.
"Sean! Ayo, angkat!" gumam Gail dengan geram. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi Sean. Namun, lelaki itu tetap tidak menerima panggilannya.
"Ada apa denganmu, Sean! Apa kamu ingin mempermalukan kami di sini?" geram Gail lagi.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Lea yang datang menghampiri Gail dengan wajah cemas.
"Dia tidak mau mengangkatnya. Sialan! Apa mau Sean sebenarnya? Mempermalukan kita di hadapan keluarga Sri?"
Lea menyentuh pundak Gail lalu mengelusnya dengan lembut. "Semoga saja tidak, Sayang. Yang aku khawatirkan bukanlah kita, tetapi Sri. Lihatlah, bagaimana raut wajahnya saat ini. Aku benar-benar tidak tega melihatnya," ucap Lea sembari melihat ke arah pelaminan, di mana Sri duduk di sana dengan raut wajah cemas.
"Ya, Tuhan!" Gail mengacak rambutnya dengan kasar dan dia benar-benar frustrasi saat itu.
__ADS_1
...***...