Istri Terabai Tuan Sean

Istri Terabai Tuan Sean
Bab 16


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


"Eh, bukannya itu mobil Sean?" gumam Anya, ketika tidak sengaja melihat mobil milik Sean memasuki sebuah kompleks perumahan elit. Kebetulan saat itu Anya ingin berkunjung ke kediaman salah satu temannya.


"Pak-Pak, tolong ikuti mobil itu!" Anya memerintahkan kepada sopir pribadinya.


"Baik, Nona."


Mereka pun segera mengikuti mobil milik Sean dari jarak yang cukup jauh. Di mana Sean sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya tengah diikuti. Sean terus memacu mobil miliknya hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan kediamannya.


"Loh, rumah siapa itu? Kenapa Sean berhenti di sana?" Anya kebingungan karena Sean tidak pernah bercerita apa pun soal rumah itu kepadanya.


Setibanya di sana, Sean lalu memarkirkan mobilnya kemudian masuk ke dalam rumah tanpa meminta izin kepada siapa pun. Anya pun semakin kebingungan melihatnya. Terlebih rumah itu seperti rumah Sean sendiri. Karena penasaran, Anya pun berniat untuk menghampiri tempat itu.


Perlahan-lahan Anya mendekat sambil memperhatikan sekeliling bangunan itu. Kini ia berdiri di depan pagar lalu dengan tidak sengaja bertemu dengan salah satu penjaga keamanan di lingkungan perumahan elit tersebut.


"Ehm, Pak, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Anya kepada lelaki itu.


"Ya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Penjaga keamanan itu mendekat lalu menatap Anya dengan lekat.


"Ehm, aku hanya ingin bertanya, siapa pemilik rumah ini?" tanya Anya, masih memperhatikan sekeliling rumah itu.


Penjaga keamanan itu tampak mengingat-ingat untuk beberapa saat. "Rumah ini milik Tuan Sean Abraham," jawab petugas keamanan itu dengan mantap.


"Sean Abraham?!" Anya memekik kaget.


Tidak menyangka bahwa rumah berukuran besar itu ternyata milik Sean. Sean bahkan tidak pernah sekalipun menyinggung soal rumah mewah itu kepadanya. Yang ia tahu, Sean hanya bolak-balik dari negara ini ke negera asal lelaki itu. Ia pun hanya tinggal di hotel dan kadang-kadang menumpang di kediaman Abigail.


"Sejak kapan Sean tinggal di sini? Dan apa Anda yakin rumah ini miliknya?" tanya Anya lagi, yang merasa semakin penasaran.


"Ya, Nona. Rumah ini milik Tuan Sean. Beliau membelinya sekitar satu bulan yang lalu."


Setelah mendengar penjelasan dari penjaga keamanan tersebut, tiba-tiba Anya menyunggingkan sebuah senyuman di wajah cantiknya.


"Sean sudah membelinya sekitar satu bulan yang lalu? Hmm, apa mungkin Sean ingin membuat kejutan untukku? Atau mungkin juga dia sengaja membeli rumah ini untuk kami tinggali setelah menikah nanti?" gumam Anya.


"Ya, sudah. Terima kasih atas informasinya," ucap Anya kepada penjaga keamanan tersebut.

__ADS_1


"Iya, Non. Sama-sama." Lelaki itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Menjaga keamanan di sekitar komplek perumahan elit tersebut.


Sepeninggal lelaki itu.


"Pak, tunggu sebentar di sini, ya."


"Baik, Non."


Tanpa ragu-ragu, Anya melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah mewah milik Sean. Ia melenggang dengan penuh percaya diri hingga berhenti tepat di depan pintu rumah lelaki itu.


Tok ... tok ... tok! Anya mengetuk pintu utama sambil memperhatikan sekeliling bangunan itu.


"Ya, sebentar!" Terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah itu dan berhasil membuat Anya mengerutkan dahinya.


"Suara siapa itu?" gumam Anya dalam hati.


Ceklek! Pintu terbuka dan tampaklah seorang gadis muda berkulit sawo matang dengan warna mata iris coklat berdiri di hadapannya sambil tersenyum. Rambutnya yang hitam panjang serta bergelombang, diikat dengan sembarang.


"Ya?"


"Di mana Sean? Katakan sama majikanmu bahwa kekasihnya sedang menunggu di sini," ucap Anya dengan penuh percaya diri.


"Tuan Sean? Kekasihnya?" Sri menatap Anya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Melihat kecantikan wanita itu, Sri menjadi yakin bahwa apa yang dikatakan oleh Anya barusan adalah benar.


"Anya?!" Tiba-tiba Sean muncul. Lelaki itu tersentak kaget ketika melihat sang kekasih sudah berdiri di ambang pintu rumahnya.


"Sean?" Anya kembali melebarkan senyum. Wanita itu menerobos masuk ke dalam rumah, melewati tubuh Sri yang masih berdiri di ambang pintu dengan raut wajah bingung.


Anya menghampiri Sean lalu memeluk tubuh kekar itu sambil bermanja-manja di dada bidangnya.


"A-Anya? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Sean yang masih syok dengan kehadiran Anya di tempat itu.


Anya kembali tersenyum. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Sayang. Apa yang kamu lakukan di sini? Dan ini rumah siapa?"


"Ehm, sebenarnya ini ...." Sean mendadak terdiam tatkala melihat Sri yang terdiam menatap kemesraan mereka berdua. Apalagi Anya tanpa segan memeluk serta menciuminya.


Menyadari Sean terdiam sambil melihat ke arah Sri, Anya pun ikut melihat ke arah wanita muda itu.

__ADS_1


"Hei, kenapa kamu masih berdiri di sini? Cepat kembali ke dapur dan buatin aku minuman dingin. Jus apel, ya!" ucap Anya tiba-tiba yang berhasil membuat Sri membulatkan matanya dengan sempurna.


"Aku—"


Belum sempat Sri membalas ucapan wanita cantik berkulit putih mulus itu, Sean sudah memberikan isyarat agar tidak membalas ucapan Anya. Sean juga meminta Sri untuk segera pergi dari ruangan itu.


Sri mendengus kesal. Dengan perasaan yang amat sangat kesal, ia meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya.


Sepeninggal Sri, Sean segera mengajak Anya untuk duduk bersantai di sofa yang ada di ruang utama.


"Sayang, kamu belum menjawab pertanyaanku." Anya mengerucutkan bibirnya ketika menatap Sean.


"Pertanyaan apa?" Sean berpura-pura lupa. Ia meraih kepala Anya yang duduk tepat di sebelahnya lalu menyandarkan kepala wanita itu ke pundak kekarnya.


"Ish, Sean! Tadi 'kan aku tanya, ini rumah siapa? Tapi kamu belum juga menjawabnya. Aku 'kan jadi penasaran."


"Kalo menurutmu?" Sean balik bertanya.


"Menurutku? Kalo menurutku, rumah ini adalah milikmu. Yang sengaja kamu beli untuk kita tinggali setelah kita menikah nanti. Benar 'kan?" sahut Anya dengan begitu percaya diri.


Sean tersenyum kecut. Ia tidak mungkin menceritakan semuanya kepada Anya. Ia tidak ingin kekasih hatinya itu marah dan kecewa kalau tahu bahwa dia sudah menikah.


"Siapa yang memberitahumu kalau sekarang aku tinggal di sini, Anya? Secara aku tidak pernah menceritakan tentang rumah ini kepada siapa pun," tanya Sean lagi.


"Bukan siapa-siapa. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat mobilmu terparkir di sini. Setelah aku tanya-tanya, ternyata benar. Ini adalah rumahmu," jawab Anya sambil mendongakkan kepalanya menatap Sean.


"Oh." Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi kepada wanita itu.


"Ish, mana pelayanmu itu, Sean? Masa bikin jus apel aja lama sekali? Aku sudah haus ini," celetuk Anya dengan wajah menekuk kesal.


Sean menarik napas dalam lalu menghembuskannya kembali. "Baiklah, tunggu di sini. Aku akan minta pelayan untuk membuatkan jus apel untukmu," ucap Sean sembari bangkit dari posisi duduknya.


"Loh, bukannya aku sudah meminta kepada pelayanmu tadi?" tanya Anya dengan wajah heran.


Namun, Sean tidak menggubris. Ia terus melangkahkan kakinya menuju ruang dapur.


...***...

__ADS_1


__ADS_2