
"Sri," panggil Lea sambil memperhatikan Sri yang masih asik menikmati sarapan paginya.
"Ya, Mbak?" jawab Sri dengan mulut penuh sembari mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah Lea sambil tersenyum.
"Bagaimana hubunganmu dengan Sean? Apakah semuanya baik-baik saja?" Tiba-tiba Lea mempertanyakan hal itu kepadanya.
Sri tersenyum kecut sambil mengelus tengkuknya dengan lembut. "Baik-baik saja kok, Mbak."
"Ehm, baguslah kalau begitu. Aku doakan semoga hubungan kalian langgeng sampai jadi kakek dan nenek," balas Lea.
"Aamiin." Sri lalu terdiam dengan tatapan kosong menerawang ke salah satu sudut ruangan. Nasi pecel yang jadi menu sarapannya kali ini, bahkan teronggok begitu saja.
"Sri, kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" Lea kebingungan melihat reaksi Sri yang tidak seperti biasanya. Sri yang selalu ceria, kini mendadak menjadi pendiam.
Panggilan Lea barusan membuat Sri tersadar dari lamunannya. Ia tersentak kaget lalu menjawab panggilan majikannya itu.
"Ehm, maafkan aku, Mbak Lea. Entah kenapa hari ini aku kurang fokus," jawabnya sambil tersenyum.
"Sri, boleh aku bertanya lagi?"
__ADS_1
"Tanya apa, Mbak? Tanyakan saja, kenapa mesti bertanya dulu, kayak yang gak kenal aku aja," celetuk Sri sambil terkekeh pelan.
"Sudah dapet bulan ini?"
"Dapet apa, Mbak?" Sri menautkan kedua alisnya. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Lea barusan.
"Menstruasi, Sayang." Lea mengelus lembut tangan Sri dengan lembut.
"Oh." Sri mengangguk pelan tanda mengerti kemudian mulai mengingat-ingat. "Bulan kemarin sudah, Mbak. Bulan ini belum dan seharusnya sih kemarin udah dapet. Memangnya kenapa, Mbak? Kok, tanya-tanya soal itu?" tanya Sri balik.
"Maafkan aku, Sri. Tapi, sudahkah kamu beli test pack? Jika belum, sebaiknya beli sekarang, biar kita cek bersama-sama." Lea menjelaskan.
Lea tersenyum kecut. "Masalahnya, kamu itu seperti orang yang sedang ngidam, Sri. Aku dan Gail bahkan sependapat."
"Kalau soal mangga ini, memang aku sudah pengen sejak beberapa minggu yang lalu, Mbak. Soalnya, hanya mangga di kebun milik tuan Gail yang berbuah dengan sangat lebat, sementara mangga orang lain belum ada yang berbuah," jelas Sri, masih mencoba mengelak.
Lea kembali tersenyum kecut. "Yakin, Sri?"
"Iya, Mbak. Aku yakin seratus persen!" jawab Sri dengan mantap.
__ADS_1
Sri kembali terdiam untuk beberapa saat dan kali ini raut wajahnya menjadi murung.
"Aku tidak mau, Mbak. Semoga tidak terjadi apa-apa padaku. Apa yang harus aku lakukan jika yang aku takutkan menjadi kenyataan? Sementara tuan Sean sebentar lagi akan ...." Sri menghentikan ucapannya sembari menundukkan kepala menghadap lantai.
"Ada apa dengan Sean, Sri? Ceritakan lah kepadaku. Siapa tahu dengan begitu, bebanmu bisa sedikit berkurang," bujuk Lea.
Tiba-tiba Sri terisak. Nasi pecal yang masih tinggal separuh itu pun tidak tersentuh lagi.
"Jangan sampai itu terjadi, Mbak. Karena sebentar lagi tuan Sean akan menceraikan aku," ucapnya dengan lirih.
"Apa, Sri? Bercerai?" pekik Lea dengan mata membulat sempurna.
"Kurang ajar si Sean. Bisa-bisa dia berpikir seperti itu," geram Lea.
Lea meraih tangan Sri lalu kembali menggenggamnya. "Aku akan membelikan alat tes kehamilan untukmu. Aku berdoa semoga saja kamu benar-benar hamil, Sri. Biar Sean tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya kepadamu," lanjut Lea.
"Jangan, Mbak. Kumohon, jangan berdoa seperti itu. Tuan Sean tidak pernah mencintaiku. Dia sudah memiliki kekasih dan mereka sudah berencana untuk menikah. Bayangkan jika benar saat ini aku hamil. Tuan Sean mungkin akan semakin membenci aku dan bayiku karena sudah merusak rencana pernikahan mereka," tutur Sri dengan air mata berderai.
Lea menelan salivanya dengan susah payah. Ia kemudian memeluk Sri dengan begitu erat. "Aku berjanji tidak akan pernah membiarkan Sean melakukan hal yang tidak adil kepadamu, Sri. Percayalah padaku," ucap Lea dengan begitu serius.
__ADS_1
...***...