
Maaf, jika author update-nya tidak bisa teratur. Soalnya sambil momong bayi dan balita 🤧🤧🤧
"A-apa? Apa aku tidak salah dengar?" Sean mencoba meyakinkan bahwa apa yang ia dengar barusan adalah benar.
"Ya, Sean. Itu benar, Sri hamil!" lanjut Gail.
Sean tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba menepis kebenaran itu.
"Tidak! Aku yakin itu tidak benar. Kalian hanya berbohong 'kan? Kalian hanya mengada-ada agar aku membatalkan niatku menceraikan wanita ini!" Sean mencoba mengelak kebenaran itu.
"Kami sama sekali tidak bohong!" Lea benar-benar kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Sean barusan. Ia menoleh ke arah Sri lalu mengulurkan tangannya ke hadapan gadis itu.
"Mana test pack-mu, Sri. Perlihatkan kepada lelaki ini, biar dia percaya bahwa kamu benar-benar sedang hamil," ucap Lea, yang ikut geram.
Dengan ragu-ragu, Sri menyerahkan alat test kehamilan miliknya kepada Lea, yang kemudian diserahkan Lea ke tangan Sean.
"Ini, lihatlah dengan benar!" ucap Lea kemudian dengan kasar.
Sean memperhatikan alat tes kehamilan yang kini berada di tangannya dengan begitu seksama. Sejurus kemudian, Sean menggeleng-gelengkan kepala. Seolah menyangkal semua yang ia saksikan dengan kedua bola matanya.
"Tidak! Ini tidak mungkin, Gail. Kemungkinan kami memang melakukannya pada malam itu. Sebab tak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di sana. Namun, hanya sekali itu saja. Bahkan sampai sekarang aku sama sekali tidak pernah menyentuh gadis itu! Jadi, rasanya mustahil jika dia tiba-tiba hamil anakku," ucap Sean mencoba mengelak apa yang sudah terjadi padanya.
"Sudah, cukup, Sean! Jangan mencari-cari alasan lagi! Sekarang aku bertanya padamu, apakah kamu masih ingin menceraikan Sri, sementara di perutnya ada generasi penerusmu yang sedang tumbuh di dalam sana," tanya Gail dengan begitu serius.
Sean tampak begitu frustrasi. Ia mengacak rambutnya yang sudah tersisir rapi, dengan begitu kasar lalu menjatuhkan dirinya di sofa.
"Aku tidak tahu, Gail. A-aku bingung!" Sean menarik napas dalam kemudian menghempaskannya kembali.
__ADS_1
"Jangan bodoh, Sean! Apa kamu ingin menyia-nyiakan darah dagingmu sendiri?" ucap Gail dengan meradang.
"Aku memang tidak sepantasnya ikut campur dengan urusan rumah tanggamu. Namun, karena aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, maka aku merasa pantas untuk mengingatkanmu agar tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang bisa berakibat fatal. Baik untuk dirimu, maupun untuk orang lain, Sean," lanjut Gail.
Sean tidak dapat berkata apa pun lagi. Ia masih syok berat dengan kenyataan itu.
"Jika Anda memang ingin menceraikan aku, ceraikan saja. Aku tidak akan mencegah Anda untuk melakukannya, Tuan Sean. Semua keputusan ada di tangan Anda, tetapi ada satu hal yang aku inginkan," ucap Sri yang tiba-tiba berani membuka mulutnya di hadapan semua orang. Sean mengangkat kepalanya lalu menatap gadis itu dengan lekat.
"Jangan pernah mencari keberadaan anak ini lagi karena dengan menceraikanku, kuanggap Anda memang tidak pernah menginginkannya dan Anda tidak perlu merasa khawatir karena bayi ini akan tetap bahagia, meski hidup sederhana bersamaku," lanjutnya.
Sean masih terdiam dengan bibir terkunci rapat. Namun, pandangan lelaki itu masih tertuju pada Sri.
"Bagaimana, Sean? Aku harap kamu bisa memikirkannya dengan matang," ucap Gail, kembali mengingatkan.
Sean menghembuskan napas berat. "Beri aku waktu, aku akan memikirkannya lagi," jawab Sean yang mulai putus asa.
Setelah mengingatkan Sean panjang lebar, akhirnya pasangan Gail dan Lea pun kembali ke kediaman mereka. Sementara Sri dan Sean memilih istirahat di kamar mereka masing-masing.
"Apa Sean akan mendengarkan kata-kata kita, Sayang?" tanya Lea yang masih mencemaskan nasib hubungan Sean dan Sri.
"Semoga saja. Aku harap dia tidak akan mengambil keputusan yang bodoh, yang akan ia sesali seumur hidupnya," sahut Gail.
Keesokan harinya.
Hampir semalaman penuh Sean tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil selanjutnya. Sampai-sampai pelupuk mata lelaki itu membengkak dan ada lingkaran hitam yang mengelilingi kedua netra indahnya.
Setelah memikirkannya dengan cukup matang, akhirnya Sean mengambil sebuah keputusan yang begitu sulit. Bahkan ini adalah keputusan yang paling sulit, yang pernah ia ambil di sepanjang hidupnya.
__ADS_1
"Aku harus menemui Anya. Harus!" gumam Sean yang kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi lalu melakukan ritual paginya seperti biasa.
Sementara itu di dalam kamar Sri. Wanita muda itu duduk di tepian ranjang dengan tatapan kosong menerawang menatap dinding kamarnya. Tangannya tak berhenti mengelus perut, di mana sang janin tengah tumbuh di sana. Sama halnya Sean yang tidak bisa tidur tadi malam, Sri pun terus terjaga semalam suntuk, hingga pagi kembali menyapa.
"Mungkin hari ini adalah hari terakhir aku di sini. Tapi tak apa, Sayang. Kamu masih punya Ibu. Ibu berjanji akan selalu menjaga dan juga menyayangimu, hingga kamu tidak akan pernah merasakan kekurangan kasih sayang. Ibu akan menjadi ibu sekaligus ayah buatmu," gumam Sri.
Kembali ke Sean.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, lelaki itu bergegas pergi dan berniat meninggalkan kediamannya.
"Tuan Sean, Anda tidak sarapan dulu?" tanya Bi Narsih kepada Sean yang melangkah dengan terburu-buru keluar dari rumah mewahnya itu.
"Tidak usah, Bi. Aku sarapan di luar saja," jawab Sean sambil berlalu. Lelaki itu lalu memasuki mobilnya dan melaju memecah keheningan di pagi itu.
Selang beberapa saat kemudian, mobil mewah yang ia kemudikan, kini berhenti tepat di depan kediaman Anya. Anya begitu terkejut melihat kedatangan Sean yang begitu tiba-tiba. Lelaki itu bahkan tidak memberikan kabar apa pun soal kedatangannya.
Anya bergegas menyambut kedatangan Sean. "Sayang, tumben kamu ke sini tanpa bilang-bilang lebih dulu sama aku?" tanya Anya sembari melebarkan kedua tangannya ke hadapan Sean.
Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajah lelaki itu masih terlihat kusut, sekusut pikiran saat itu.
"Maafkan aku, Anya. Tapi aku harus ke sini tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Ada sesuatu yang sangat penting, yang ingin aku bicarakan sama kamu," jawab Sean.
Anya tersenyum lebar. Entah kenapa tiba-tiba terbesit di kepalanya jika kedatangan Sean kali ini adalah untuk melamar dan mempersunting dirinya.
"Benarkah? Sebaiknya kita bicara di dalam saja, Sayang!" sahut Anya dengan begitu antusias.
Sean pun mengangguk sebagai jawaban 'Ya'. Anya mengajak Sean menuju ruang utama lalu duduk di sana.
__ADS_1
...***...