
Keesokan harinya.
Sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit, Sean mencoba bangkit dari ranjang empuk berukuran king size tersebut. Dengan tertatih-tatih, Sean menuju kamar mandi lalu melakukan ritual mandinya di sana.
Beberapa menit kemudian.
"Ya Tuhan, kepalaku! Entah sebanyak apa aku menenggak minuman memabukkan itu? Aku benar-benar sudah lupa," gumamnya sambil memijit lembut kedua pelipisnya.
Sean keluar dari kamar mandi kemudian berjalan menghampiri lemari pakaian. Lelaki itu meraih selembar kemeja berwarna hitam serta celana jeans warna navy, favoritnya. Setelah selesai mengenakan kemeja serta celana pilihannya, Sean pun bergegas pergi menuju dapur. Di mana sarapan paginya sudah disiapkan oleh Bi Narsih.
Setibanya di ruangan itu.
Tampak Sri sedang asik menyeruput secangkir teh hangat buatan Bi Narsih. Namun, ketika ia menyadari kehadiran Sean di ruangan itu, Sri pun bergegas bangkit dari posisinya dengan membawa serta cangkir teh tersebut. Sri sadar bahwa lelaki itu sama sekali tidak ingin berada di satu ruangan dengannya, apalagi harus berada di satu meja.
"Sri, sebentar!"
Sri yang sudah siap untuk melenggang pergi, tiba-tiba menghentikan langkahnya setelah mendengar suara Sean yang memanggil namanya. Sri menoleh lalu menatap lelaki itu dengan lekat.
"Ya?"
"Duduklah lagi. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu," tutur Sean sembari melangkah mendekat ke arah meja makan.
Setelah Sean duduk di salah satu kursi, Sri pun kembali menjatuhkan diri di posisi sebelumnya.
"Ehm, begini, Sri."
Sean menarik napas dalam lalu menghembuskannya kembali dengan begitu berat. Ia sempat terdiam beberapa saat dengan raut wajah sedih menatap Sri, lalu kembali melanjutkan ucapannya.
"Sri, aku ingin kita bercerai."
Sri tersentak kaget. Namun, sebisa mungkin ia mencoba untuk tetap tenang dan bersikap biasa-biasa saja di hadapan Sean.
"Bercerai?"
Sri menyunggingkan sebuah senyuman kecil, walaupun saat itu hatinya terasa dicabik-cabik. Dadanya panas dan sesak. Bahkan, untuk menarik napas pun terasa sangat sulit. Rasanya tercekat hingga sebatas kerongkongan.
"Maafkan aku, Sri. Aku tidak bisa mempertahankan rumah tangga ini. Aku tidak bisa memenuhi janjiku kepada mamangmu. Keputusan ini sengaja kuambil demi kebaikan kita berdua. Aku dengan pilihanku dan kamu bisa meraih kembali mimpi-mimpimu yang sempat tertunda gara-gara pernikahan ini," tutur Sean yang berhasil membuat Sri semakin sedih.
Sri menelan salivanya dengan susah payah. Tatapannya masih tertuju pada pria bermata indah tersebut sambil terus menyunggingkan sebuah senyuman.
__ADS_1
"Tidak, Tuan Sean. Anda salah! Mimpiku saat ini hanya satu, mempertahankan pernikahan ini sembari menunggu sebuah keajaiban dari Tuhan yang bisa membolak-balikkan hati dan menyatukan perasaan kita berdua agar menjadi sebuah keluarga yang utuh. Namun, sepertinya itu tidak mungkin. Anda pasti akan tetap pada keputusan Anda saat ini, yaitu bercerai," ucap Sri dalam hati.
"Bagaimana, Sri? Kamu setuju 'kan?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Sean barusan menyadarkan Sri dari lamunannya.
"Apa yang bisa aku lakukan, Tuan Sean? Aku menolak pun, Anda pasti tetap kekeh pada keputusan Anda, bukan?" jawab Sri, masih mencoba untuk tenang. Padahal tangan Sri sudah bergetar dengan sangat hebat saat itu. Terlihat dari teh yang bergerak tak beraturan di dalam gelas.
"Maafkan aku," ucap Sean dengan lirih.
"Masih ada yang ingin Anda bicarakan kepadaku, Tuan? Jika sudah tidak ada, maka aku akan pergi sekarang. Aku takut terlambat," sahut Sri sembari melirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oh ya, Sri. Kamu bisa tinggal di sini untuk sementara. Nanti setelah kita resmi bercerai, aku akan memberikan tempat tinggal yang layak untukmu."
"Ada yang lainnya lagi?" Sri benar-benar lelah membicarakan masalah itu.
Sean menggelengkan kepalanya perlahan. "Kamu bisa pergi sekarang," sahutnya.
Tanpa berpikir panjang, Sri pun segera melangkah pergi. Meninggalkan Sean yang masih terdiam di ruangan itu dengan raut wajah sedih.
"Maafkan aku, Sri."
"Silakan, Tuan."
"Terima kasih, Bi."
Baru saja Bi Narsih ingin pergi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Sean kembali memanggilnya.
"Oh ya, Bi Narsih."
"Ya, Tuan?"
"Apakah Sri sudah sarapan?" tanya Sean sembari meraih peralatan makannya.
Bi Narsih menggelengkan kepalanya. "Belum, Tuan. Non Sri tidak pernah sarapan di rumah."
Sean menghentikan aksinya lalu menatap Bi Narsih dengan alis yang saling bertaut. "Benarkah?"
"Ya, Tuan. Kata non Sri, dia beli sarapan di jalan lalu dibawa ke tempat kerja. Selama tinggal di sini, setiap hari nona sarapan di tempat kerjanya," jelas Bi Narsih.
__ADS_1
"Oh." Sean hanya ber'oh' ria, tanpa peduli kenapa Sri melakukan hal itu.
Karena sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan oleh sang majikan, Bi Narsih pun kembali melanjutkan aktivitas kesehariannya. Sementara Sean mulai asik menikmati sarapan paginya.
Sementara itu.
Sri sedang di perjalanan menuju butik milik Lea dengan menggunakan motor matic yang baru-baru ini ia beli dengan uang hasil tabungannya. Seperti yang dikatakan oleh Bi Narsih, Sri sempat membeli sarapan di warung pinggir jalan kemudian membawanya ke tempat kerja.
"Oke, Sri! Semangat! Kamu pasti bisa melewati masa-masa ini. Kuat! Kamu pasti kuat!" Sri mencoba menyemangati diri sendiri sambil terus fokus pada jalan di depannya.
Setelah beberapa saat kemudian, Sri pun tiba di depan butik milik Lea. Seperti biasa, ia oranga pertama yang membuka pintu butik tersebut. Sementara Lea masih berada di kediaman mewahnya.
Sri membersihkan tempat itu lalu menyiapkan pekerjaan mereka. Setelah semuanya selesai, Sri pun segera duduk di salah satu sudut ruangan sambil menenteng nasi pecel yang ia beli sebelumnya.
"Oke, Sri, life must go on! Lupakan masalah perceraian itu sejenak dan fokuslah pada rejeki yang ada di hadapanmu pagi ini," ucap Sri yang kemudian berdoa sebelum memulai sarapannya. Setelah selesai membaca doa, Sri lalu bersiap untuk memasukkan suapan pertamanya.
"Hmm, wangi sekali! Dari aromanya aku tahu, pasti nasi pecel!" ucap Lea yang baru saja tiba di tempat itu. Ia berjalan menghampiri Sri lalu duduk di samping wanita muda itu.
"Mbak mau?" tanya Sri.
Lea menggeleng pelan. "Tidak, terima kasih. Aku sudah kenyang," jawab Lea.
Lea membuka tasnya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tersebut. "Masih ingat dengan ini? Sesuatu yang membuat kamu sampai ileran beberapa hari yang lalu," ucap Lea sambil tersenyum menatap Sri.
Sri yang tadinya sedang asik menikmati nasi pecel miliknya, segera menghentikan aksinya. Ia tersenyum lebar menatap Lea kemudian segera meraih benda itu dari tangan Lea.
"Wah, ini untukku?" tanya Sri dengan begitu antusias.
"Eh, siapa bilang! Ini punyaku," sahut Lea, yang kemudian ingin mencoba meraih kembali buah itu dari tangan Sri. Namun, ditepis oleh Sri dengan begitu cepat.
"Ish, Mbak! Ini buatku saja, ya! Please," ucapnya sambil memasang wajah memelas.
Lea terkekeh pelan lalu menepuk pundak wanita muda itu dengan lembut. "Itu memang untukmu. Ambil saja," jawab Lea.
"Wah, terima kasih banyak, Mbak! Love you full pokoknya," ucap Sri yang begitu bahagia.
"Sama-sama."
***
__ADS_1
Maaf, slow update 🤧🤧🤧 sekarang author sibuk momong. Sulit nyari waktu buat ngetik 🙏🙏😓