
"Ehm, bukan apa-apa." Sri mengurungkan niatnya dan tepat di saat itu, terdengar suara seseorang memanggil nama Sean dari luar dan disertai dengan suara ketukan pada pintu rumahnya. Sean dan Sri sontak menoleh ke arah pintu.
"Siapa itu?" Sean bermonolog, lalu melangkahkan kakinya menghampiri pintu utama.
Sementara Sri masih terdiam di posisinya berdiri dengan wajah cemas. Entah mengapa ia begitu yakin, tamunya kali ini adalah Lea dan tuan Gail.
Sean tiba di depan pintu dan segera membuka pintu tersebut dengan lebar. Ia tersentak kaget ketika melihat sosok Gail berdiri di depan pintu dengan wajah begitu serius menatap dirinya. Tak jauh dari lelaki itu, tampak Lea yang juga menatapnya dengan ekspresi yang hampir sama.
"Gail?"
Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kehadiran pasangan itu membuat dadanya berdebar tak menentu. Sean yakin, kehadiran Gail dan Lea pasti ada hubungannya dengan Sri.
"Boleh kami masuk?" tanya Gail dengan wajah datar.
"Ah, tentu saja, Gail. Tanpa meminta izin pun, kalian boleh memasuki rumah ini kapanpun kalian mau. Ya, sama seperti aku yang bebas keluar masuk di rumahmu," sahut Sean sambil terkekeh lalu mempersilakan pasangan itu masuk ke dalam rumahnya.
Tanpa menimpali ucapan Sean, Gail dan Lea melangkah masuk kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Dengan ragu-ragu, Sean turut menjatuhkan diri di sofa, tak jauh dari posisi Gail dan Lea berada.
"Ada apa, Gail. Sepertinya ada yang ingin kamu katakan kepadaku," ucap Sean, memulai kembali percakapan mereka.
__ADS_1
"Aku yakin kamu tahu apa tujuanku ke sini, Sean," jelas Gail, masih dengan ekspresi wajah serius menatap lelaki itu.
Sean menghembuskan napas berat. Ia yakin bahwa Sri sudah menceritakan soal rencana perceraian mereka. Ia tidak bisa menutupi rasa kesalnya terhadap Sri yang memanfaatkan Lea dan selalu mengadukan masalah rumah mereka kepada wanita itu untuk mencari pembenaran.
"Dasar gadis kampung sialan! Aku yakin dia pasti sudah menceritakan soal perceraian itu kepada Lea. Hmm, tampak begitu polos. Namun, ternyata kamu benar-benar licik, Sri!" gerutu Sean dalam hati.
"Apa ini ada hubungannya dengan rencana perceraian kami?" Mau tidak mau, Sean pun terpaksa mengakui bahwa ia memang berniat menceraikan Sri.
Gail tersenyum sinis. "Hmm, ternyata kamu pun mengakuinya."
"Terserah kamu mau bilang apa, Gail. Tapi, yang pasti aku akan tetap teguh pada pendirianku. Aku akan menceraikan Sri dan memulai hidup baru bersama Anya!" tegas Sean tanpa berpikir panjang.
Gail refleks bangkit dari posisinya. Ia berdiri di hadapan Sean dengan tangan mengepal sempurna. "Kamu sudah gila, ya?!" pekik lelaki itu dengan mata membulat.
Tanpa sepengetahuan mereka, Sri sudah berada di ruangan itu. Ia terdiam dengan tubuh bergetar mendengar pernyataan Sean barusan. Sri sudah mencoba tegar dan mengikhlaskan semua yang terjadi padanya. Namun, entah kenapa, mendengar pernyataan Sean barusan, berhasil membuat wanita muda itu sakit hati dan rasanya seperti dicabik-cabik.
"Sri!" pekik Lea, yang kemudian segera menghampiri wanita itu.
"Aku tidak apa-apa, Mbak." Sri masih mencoba tersenyum dan berpura-pura tegar. Ia juga mencoba meyakinkan semua orang bahwa dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
Walaupun Sri mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi Lea tahu bagaimana perasaan wanita muda itu sebenarnya.
"Kemarilah," ajak Lea yang kemudian menuntun Sri ke sofa lalu mendudukkan wanita itu di sana, tepat di samping tubuhnya.
Sean memutarkan bola matanya. Ia memasang wajah malas ketika menyadari keberadaan Sri di ruangan itu. Ia juga tidak peduli bagaimana perasaan Sri soal pernyataannya barusan. Yang terpenting bagi Sean, ia sudah tenang karena sudah mengakui semuanya di hadapan Gail dan Lea.
"Kamu tidak bisa melakukannya, Sean!" protes Gail, yang tidak terima dengan keputusan Sean barusan.
"Kenapa tidak bisa, Gail? Lagian aku sudah menikahinya, bertanggungjawab atas kejadian itu dan sekarang sudah saatnya kami mengakhiri pernikahan tanpa dasar cinta ini. Bayangkan saja, Gail! Apa menurutmu kami akan bahagia? Sementara kami sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun satu sama lain," jelas Sean lagi, mencoba meyakinkan Gail.
"Tapi ini bukan masalah cinta dan tidak cinta, Sean! Ini soal —" Belum lagi Gail menyelesaikan ucapannya, Sri tiba-tiba bangkit dari posisi duduknya lalu menyela ucapan Gail barusan.
"Tuan Gail, aku mohon!" Sri mencoba mencegah Gail untuk menceritakan soal kehamilannya kepada Sean. Ia sudah mengambil keputusan bahwa ia tidak akan memberitahu lelaki itu dan membiarkan perceraian itu terjadi. Sri sudah mantap dengan keputusan untuk membesarkan bayi itu sendiri, walaupun tanpa Sean.
"Tapi, Sri. Sean harus diberitahu soal itu, biar dia tidak semena-mena kepadamu," ucap Lea, yang tidak setuju dengan keputusan Sri yang ingin menyembunyikan kehamilannya dari Sean.
"Ck! Masalah apa lagi, sih!" Sean berdecak sebal. Ia benar-benar malas karena menurutnya Sri hanya mencari alasan agar perceraian itu dibatalkan.
"Sri hamil!" seru Gail dengan begitu serius. Ia menatap kedua netra Sean lekat dan seolah mengatakan bahwa ia tidak sedang main-main dengan yang ia ucapkan barusan.
__ADS_1
"A-apa?!" pekik Sean dengan mata membulat sempurna.
...***...