Istri Terabai Tuan Sean

Istri Terabai Tuan Sean
Bab 30


__ADS_3

Setelah mengantarkan Sri ke dalam kamarnya, Sean pun bergegas kembali ke kamarnya sendiri. Ia duduk di tepian ranjang sambil merenungi nasibnya. Ia berharap keputusannya kali ini adalah benar. Setidaknya ia bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk anaknya kelak.


"Maafkan aku, Anya. Aku harap kamu bahagia bersama pasangan barumu," gumam Sean lalu mengusap wajahnya.


Keesokan harinya.


"Bi, tolong panggil Sri. Biar kami bisa sarapan bareng," perintah Sean kepada Bi Narsih yang baru saja selesai menata berbagai hidangan ke atas meja makan.


Bi Narsih mengangguk paham. "Baik, Tuan."


Wanita paruh baya itu bergegas pergi, menemui Sri yang masih berada di dalam kamarnya.


"Tumben tuan Sean baik sama non Sri. Biasanya mah boro-boro ngajakin sarapan bersama, lelaki itu bahkan tidak pernah peduli dengannya. Ah, semoga saja ini adalah awalan yang baik untuk mereka, aamiin!" gumam Bi Narsih dalam hati sambil tersenyum simpul.


Setibanya di depan kamar Sri, Bi Narsih pun segera mengetuk pintunya.


"Non! Non Sri," panggil Bi Narsih di sela ketukannya.


Sri tersentak kaget. Ia segera bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri pintu.


Ceklek!


"Ya, Bi?" tanya Sri dengan menyembulkan sedikit wajahnya di sela-sela pintu.


"Tuan Sean meminta Nona untuk segera ke ruang makan. Tuan ingin sarapan bareng Non Sri, katanya," jelas Bi Narsih sambil memperhatikan wajah pucat Sri.


Sri menautkan kedua alisnya heran. "Sarapan bersama?" Ini pertama kalinya dalam sejarah hidup Sri, lelaki itu mengundangnya makan bersama.


"Serius, Bi? Kok, tumben," lanjut Sri lagi. Masih dengan raut wajah heran.


"Lah iya, Non. Bibi juga sempat berpikir seperti itu. Tumben-tumbenan tuan Sean baik dan ngajakin Non Sri sarapan bareng. Tapi, dari pada bingung, mending cepetan Non ke ruang makan dan temui tuan Sean. Bibi doa'in, semoga ini awal yang baik untuk hubungan kalian berdua," celetuk Bi Narsih pula.


Sri tersenyum kecil. "Baiklah. Aku akan segera ke sana, tapi setelah aku ganti pakaian. Tidak mungkin 'kan aku menemui tuan Sean dengan berpakaian seperti ini?"


Tampak Sri yang hanya mengenakan tank top serta celana pendek di atas lutut. Wanita muda itu tampak cantik dan kulit eksotisnya, membuat ia semakin memesona. Hanya saja Sean tidak pernah menyadari hal itu, sebab selama ini Sri selalu tampil apa adanya.


"Hehe, iya, Non. Ya, sudah. Saya duluan," ucap Bi Narsih sembari pamit dan kembali ke ruang makan, melanjutkan pekerjaannya.


Beberapa menit kemudian. Sri sudah berpakaian seperti biasa. Memakai kemeja longgar dengan celana panjang yang menutupi kaki mulusnya. Ia berjalan menuju ruang makan dan setibanya di sana, kedua matanya langsung tertuju pada sosok tampan yang tengah menghadapi sarapannya.

__ADS_1


"Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Sri yang kini berdiri tak jauh dari posisi lelaki itu berada.


Sean segera menoleh. Ia tersenyum sembari memperhatikan penampilan Sri dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.


"Duduklah, Sri. Kita sarapan bareng," ucapnya dan dengan sengaja tidak menyentuh makanannya agar bisa menikmati makanan itu bersama-sama Sri.


Sri mendaratkan bokongnya pada sebuah kursi kosong yang terletak di depan Sean.


"Serius, Anda ingin sarapan bareng saya? Apa Anda tidak takut, selera makan Anda tiba-tiba hilang setelah aku berada satu meja dengan Anda?" celetuk Sri sambil menatap Sean dengan lekat.


Sean tersenyum kecut. Ia seakan merasa tertampar dengan ucapan Sri barusan. Ya, sebelumnya Sean selalu menghindar dari Sri. Bahkan ia tidak mau makan satu meja bersama wanita itu. Namun, sekarang ia malah meminta wanita itu untuk menemaninya sarapan.


"Maafkan aku, Sri," sahutnya dengan lirih.


Sean meraih piring kosong untuk Sri dan mengisinya dengan berbagai menu hidangan sehat dan lezat tentunya. Setelah piring itu penuh, Sean pun meletakkannya kembali ke hadapan Sri.


"Ini untukmu. Makanlah yang banyak agar bayi kita tumbuh sehat," ucapnya sambil tersenyum.


Sri tersenyum kecut. Ini pertama kalinya ia melihat sosok sombong itu bersikap manis di hadapannya. Ya, walaupun Sri tahu bahwa Sean melakukan itu semua hanya demi bayi yang ada di kandungannya dan bukan karena dirinya. Akan tetapi, hal itu sudah cukup membuat Sri bahagia. Setidaknya lelaki itu bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya.


"Terima kasih, Tuan." Sri meraih sendok dan garpu lalu bersiap menikmati hidangan itu.


"Ya?" Sri mengangkat kepala lalu menatap Sean sembari memulai suapan pertamanya.


"Berhentilah menyebutku dengan sebutan Tuan. Biar bagaimanapun, saat ini aku adalah suamimu dan panggil aku dengan sebutan lain," ucap Sean kemudian.


Uhuk-uhuk!


Sri terbatuk-batuk setelah mendengar permintaan lelaki itu. Terasa seperti mimpi ketika lelaki itu mengakui bahwa mereka adalah suami dan istri.


"Sri, perlahan!" ucap Sean yang sontak berdiri lalu menghampiri Sri sambil membawa segelas air.


"Sekarang minumlah," titah Sean sembari menyodorkan minuman itu ke hadapan Sri. Sri pun segera meminumnya dan setelah agak mendingan, ia pun melepaskannya.


"Terima kasih, Tuan Sean."


"Sri," tegur Sean dengan raut wajah malas karena lagi-lagi Sri memanggilnya dengan sebutan Tuan.


"Ah, iya, maaf!"

__ADS_1


Sean kembali ke kursinya setelah memastikan bahwa Sri baik-baik saja. Sementara Sri yang masih kebingungan, menatap lelaki itu tanpa berkedip sedikit pun.


"Ada apa dengan lelaki ini? Apa jangan-jangan dia kesambet jin baik? Lalu bagaimana jika setan jahat kembali menguasai pikirannya? Hmm, paling dia akan membuangku sama seperti sebelumnya," gumam Sri dalam hati.


"Sri," panggil Sean lagi, karena Sri menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


"Jika bukan 'Tuan', trus saya harus memanggil Anda dengan sebutan apa? Mas?" Sri tiba-tiba terkekeh, membayangkan dirinya memanggil pria bule itu dengan sebutan 'Mas'.


Sean tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Boleh juga. Yang penting bukan 'Tuan'."


Mata Sri membulat sempurna. "Hah, serius Anda ingin dipanggil dengan sebutan 'Mas'?"


Sean mengangguk mantap. "Ya, itu pun jika kamu tidak keberatan."


"I-iya, baiklah. Jadi ... mulai sekarang saya akan memanggil Anda dengan sebutan Mas," ucap Sri memastikan.


"Ya," jawab Sean dengan mantap.


"Oh ya, Sri. Ngomong-ngomong, hari ini kamu mau ke mana?" tanya Sean kemudian sembari menyuap makanannya.


"Bekerja, sama seperti biasanya," sahut Sri dengan mantap.


Sean menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak-tidak! Aku tidak setuju! Mulai dari sekarang, berhentilah bekerja. Aku akan bantu bicara sama Lea dan dia pasti akan mengerti," ucap Sean dengan tegas.


"Loh, tidak bisa! Jika aku tidak bekerja, lalu aku akan dapat uang dari mana?" protes Sri dengan sedikit kesal.


"Heh, memangnya kamu pikir aku ini siapa? Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Bekerjalah padaku dan aku akan menggajimu tiga kali lipat dari Lea. Pekerjaanmu sangat mudah, hanya diam di rumah, istirahat yang cukup dan jaga bayi dalam kandunganmu, itu saja! Tidak sulit 'kan?"


Sri tertawa pelan. "Pekerjaan macam apa itu? Lagi pula Anda dapat uang dari mana? Anda saja nganggur," celetuk Sri.


"Heh! Siapa bilang aku nganggur? Aku bahkan punya perusahaan sendiri, asal kamu tahu itu!" kesal Sean.


"Dan satu lagi, hari ini kamu ikut denganku, kita ke butik dan cari pakaian yang cocok untuk ibu hamil. Aku yakin sekali, kamu tidak punya pakaian untuk ibu hamil, 'kan?" lanjutnya sambil memperhatikan penampilan Sri.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" balas Sri.


"Aku tidak terima penolakan. Sekian, terima kasih!" Sean kembali melanjutkan sarapannya dengan acuh tak acuh.


...***...

__ADS_1


__ADS_2