
Beberapa hari kemudian.
Sri sudah kembali ke kampung halamannya. Menunggu kedatangan Sean dan keluarga untuk melamarnya sama seperti kesepakatan mereka beberapa waktu yang lalu.
"Beneran ya, Mbak? Katanya calon suami Mbak itu orang bule?" tanya salah satu sepupu Sri dengan begitu antusias.
Sri tersenyum kecut. "Ya."
"Wah, hebat, Mbak Sri! Mbak pemecah rekor di kampung kita karena berhasil mendapatkan cowok bule dan berduit pula," timpal yang lain, tak kalah antusiasnya.
"Ya, kami benar-benar bangga!"
"Kalian ini apaan, sih." Sri lagi-lagi tersenyum kecut.
"Seandainya kalian tahu apa alasan kami menikah, mungkin kalian tidak akan pernah berkata seperti itu," gumam Sri dalam hati.
"Oh ya, bagaimana di depan? Sudah siap semua?" tanya Sri kepada kedua sepupunya itu.
Kedua gadis itu pun mengangguk. "Sudah, Mbak. Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu kedatangan calon suaminya Mbak aja. Ngomong-ngomong, mereka sudah di mana?"
"Barusan Mbak Lea chat aku, katanya sudah hampir sampai," jawab Sri.
Tepat di saat itu, dua buah mobil mewah masuk ke pekarangan rumah pamannya Sri. Mobil milik Gail dan Sean. Melihat kehadiran Sean, keluarga besar Sri pun bergegas menyambutnya. Mereka menyambut kedatangan Sean dengan begitu antusias.
"Selamat datang di kampung kami, Tuan."
Sementara itu di dalam sebuah kamar berdinding anyaman bambu, di mana Sri dan kedua sepupunya tengah mengintip dari balik jendela.
"Wuoow, gila! Cakep bener," ucap salah satu sepupu Sri sambil geleng-geleng kepala.
"Loh, tapi kok ada dua? Jadi, yang mana calon suaminya Mbak?" tanya satunya lagi sembari menunjuk Gail dan Sean.
__ADS_1
"Yang itu suaminya Mbak Lea, namanya Tuan Gail. Nah, kalo yang itu Sean, calon suaminya Mbak," jelas Sri sembari menunjuk Sean yang berdiri di halaman depan rumah, tepatnya di samping Gail.
Saking bahagianya karena Sri akan segera menikah, Mang Udin–pamannya Sri, rela merogoh kocek lebih dalam demi bisa mengadakan pesta penyambutan untuk menyambut kedatangan Sean serta keluarga kecilnya.
Beberapa orang penari melenggak-lenggok di depan rumah, mengikuti alunan musik yang menggema. Para penari itu menarikan tarian tradisional khas desa tersebut. Sean tampak kebingungan menyaksikan penyambutan yang dilakukan oleh keluarga Sri. Ia tidak pernah menyangka bahwa keluarga Sri akan begitu antusias menyambut dirinya.
Setelah acara penyambutan selesai, Mang Udin pun mempersilakan para tamu istimewanya untuk masuk ke dalam rumah sederhananya.
"Mari, silakan masuk, Nak."
"Terima kasih, Pak," jawab Gail sembari mengikuti langkah pria paruh baya itu memasuki kediamannya.
Ternyata bukan hanya acara penyambutan kedatangan Sean dan keluarga, Mang Udin pun menghias rumah sederhananya secantik mungkin agar kelihatan lebih bagus dan lebih menarik di mata para tamunya.
"Silakan duduk, Nak," ucap Mang Udin yang dibalas anggukan oleh Sean dan Gail.
Tepat di saat itu, Sri pun keluar dari dalam kamar bersama dua sepupu perempuannya. Ia lalu duduk dan bergabung bersama mereka.
"Kamu cantik sekali, Sri."
"Terima kasih, Mbak."
Lea tersenyum lalu merengkuh pundak gadis itu. Sementara Sean sempat melirik Sri untuk beberapa detik dengan wajah tanpa ekspresi, kemudian kembali melemparkan pandangannya ke arah Mang Udin.
Mereka mulai berbasa-basi untuk beberapa saat di ruangan itu, hingga saatnya Gail mengutarakan niat mereka berkunjung ke kediaman Mang Udin.
"Begini, Pak. Mungkin Anda sudah tahu apa maksud kedatangan kami ke sini. Kami ingin melamar Sri Wulandari, keponakan Bapak untuk menjadi istrinya sepupu saya, Sean."
Mang Udin tersenyum semringah. Ia segera mengangguk dan menyetujui permintaan tamu istimewanya itu.
"Iya, Nak. Nak Sri sudah menceritakan semuanya sama Bapak dan Bapak pun menyetujuinya. Yang penting Sri senang dan juga bahagia bersama Nak Sean," jawab Mang Udin.
__ADS_1
"Ya, sepupu saya pasti akan membahagiakan Sri. Benar 'kan, Sean?" Gail melirik Sean dan lelaki itu pun dengan terpaksa menganggukkan kepalanya.
Gail dan Mang Udin kembali berbincang untuk memastikan hari pernikahan Sri dan Sean. Dan setelah beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya sepakat bahwa pernikahan Sri dan Sean akan dilaksanakan seminggu kemudian dengan seluruh biaya ditanggung oleh pihak Sean.
Mang Udin pun senang bukan kepalang. Setidaknya ia tidak perlu khawatir soal biaya pernikahan karena semuanya akan ditanggung oleh pihak pengantin laki-laki.
Setelah meraih kesepakatan, Gail, Sean dan Lea pun pamit. Namun, sebelum itu mereka sempat menyerahkan beberapa macam seserahan sebagai hadiah lamaran, serta cincin emas 24 karat seberat 10 gram dengan sebuah berlian sebagai hiasannya kepada Sri.
Sepeninggal Sean dan keluarganya.
Sri duduk terpaku di depan jendela kamarnya sambil menatap cincin berlian yang kini melingkar di jari manisnya sebagai tanda bahwa dirinya sekarang berstatus sebagai tunangan Sean.
Namun, bukannya tampak ceria, raut wajah Sri justru terlihat menyedihkan. Hal itu disadari oleh kedua sepupu perempuannya —anak dari Mang Udin dan sang istri. Mereka menghampiri Sri lalu duduk di sampingnya.
"Mbak kenapa murung? Seharusnya Mbak senang, kan ini hari bahagianya Mbak?" tanya salah satu gadis itu.
Sri tersenyum kecut. "Aku senang, kok."
"Senang kok wajahnya muram begitu? Ceritakan sama kami, Mbak. Sebenarnya Mbak itu kenapa?" timpal yang lain.
"Bukan apa-apa. Aku hanya sedih karena di hari bahagiaku ini, kedua orang tuaku tidak sempat menyaksikannya," ucap Sri dengan lirih. Tidak mungkin ia menceritakan hal yang sebenarnya kepada kedua sepupunya itu.
"Hmm, jangan sedih, Mbak. Kami yakin, paman dan bibi pun pasti senang karena Mbak sudah berhasil menemukan pasangan hidup," ucap salah satu dari mereka.
"Ya, semoga saja begitu," jawab Sri.
"Nah, sekarang senyum dong, Mbak. Seharusnya Mbak itu bangga karena pernikahan Mbak akan dilaksanakan dengan sangat meriah! Bahkan lebih meriah dari anaknya pak Camat!"
"Iya, Mbak. Betul itu," timpal yang satunya.
Sri hanya tersenyum tipis dengan bibir tertutup rapat.
__ADS_1
...***...