
"Ayo, Sri. Ini test pack-nya. Segera dicoba, siapa tahu kamu beneran sedang hamil," ucap Lea dengan begitu antusias menyerahkan alat tes kehamilan yang baru saja ia beli kepada Sri.
Dengan ragu-ragu, Sri meraih benda itu. "Beneran, Mbak, aku harus mencobanya?"
Lea mengangguk dengan penuh keyakinan. "Ya! Kamu harus mencobanya hari ini juga. Ayo, Sri, cepetan!"
"Ba-baik!"
Lea mendorong pelan tubuh mungil Sri masuk ke dalam kamar kecil yang ada di butik. Sri pun menurut saja dan ia segera masuk ke dalam ruangan itu lalu mencoba alat tes kehamilan tersebut.
Beberapa menit kemudian.
Sri masih gugup menunggu hasil dari alat tes tersebut. Ia terus melototi benda kecil itu, bahkan hingga tak berkedip sedikit pun. Begitu pula Lea, wanita itu dengan tidak sabar menunggu di depan pintu kamar kecil.
Garis berwarna merah yang tadinya hanya ada satu, membentang di tengah-tengah alat itu, kini tiba-tiba bertambah satu dan sekarang menjadi dua buah garis merah yang membentang di sana.
Sri yang sejak tadi sudah mengkhawatirkan masalah itu, akhirnya lunglai. Tubuhnya mendadak lemas. Apa yang ia khawatirkan, kini menjadi kenyataan. Siap atau tidak siap, ia harus siap untuk menjadi seorang ibu.
Dengan tangan gemetar, Sri membuka pintu. Tampak Lea yang menyambutnya di depan pintu dengan begitu antusias. Wanita itu tersenyum lebar sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Sri.
"Bagaimana hasilnya, Sri? Negatif atau positif?"
Perlahan Sri mengulurkan benda kecil itu ke hadapan Lea dan Lea pun bergegas menyambutnya. Lea senang bukan kepalang melihat hasil test pack yang menunjukkan bahwa saat ini Sri sedang mengandung benih dari Sean. Ia lalu memeluk Sri dan sesekali menciumi pipi wanita muda itu.
"Akhh, Sri! Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menutupi kebahagiaanku. Aku senang karena kamu benar-benar positif hamil dan itu artinya, Sean tidak akan pernah bisa melepaskanmu begitu saja," tutur Lea di sela tawa bahagianya.
Namun, beda halnya dengan Sri. Wanita muda itu tampak bersedih. Ia tidak begitu yakin bahwa kehamilannya bisa membuat Sean mengubah keputusannya untuk bercerai.
"Bagaimana jika tuan Sean tetap bersikeras menceraikan aku, Mbak?" tanya Sri dengan ragu-ragu.
"Itu artinya ia harus berhadapan denganku, Sri!" jawab Lea dengan tegas. "Dan aku yakin, Gail pun tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia juga inginkan yang terbaik untuk kalian," lanjut Lea.
Sri tertunduk lesu. Ia menatap perutnya yang masih rata kemudian mengelusnya dengan lembut.
Sementara itu.
Sean berniat menemui Ken yang tadi malam sudah bersedia mengantarkan dirinya kembali ke rumah. Ia ingin mengucapkan terima kasih, sekaligus membayar minuman yang belum sempat ia bayarkan.
Baru saja Sean tiba di garasi dan ingin meraih gagang pintu mobil, tiba-tiba benda pipih miliknya bergetar dengan hebat di dalam saku celana. Tanpa pikir panjang, Sean pun menerima panggilan itu. Terlebih, setelah ia tahu siapa yang tengah memanggil nomor ponselnya tersebut.
__ADS_1
"Ya, Mom?"
"Sean, hari ini Mommy balik. Mommy sudah kangen sama kamu, Gail dan juga si kecil Al (anak Abigail dan Lea; Alejandro Sebastian)," sahut Nyonya Helena dari seberang telepon.
Sean membuka pintu mobilnya lalu masuk dan duduk di depan kemudi. "Loh, balik lagi? Memangnya pekerjaan Mommy sudah beres?"
"Tinggal sedikit lagi dan sisanya sudah Mommy serahkan kepada asisten Mommy." Nyonya Helena menghembuskan napas berat.
"Kamu itu, ya! Seharusnya yang mengurus perusahaan peninggalan Daddy itu kamu, Sean. Bukan Mommy! Mommy itu lelah, harus bolak-balik ke sana-kemari. Mommy itu udah tua! Seharusnya Mommy itu bersantai dan menikmati masa tua Mommy. Eh, malah disibukkan dengan pekerjaan yang tiada habisnya seperti ini," gerutu Nyonya Helena.
Sean hanya tersenyum kecut sambil mengelus tengkuknya, tanpa berkeinginan menimpali ucapan sang mommy.
"Dulu kamu oke-oke aja ketika mengurus perusahaan milik Gail, tapi perusahaan sendiri kamu males. Kamu itu maunya apa sih, Sean?"
"Ehm, sudah dulu ya, Mom. Nanti kita sambung lagi. Aku sedang di perjalanan dan Mommy tidak ingin 'kan terjadi sesuatu kepadaku?" Sean mencoba menghentikan pembicaraan mereka dan tidak ingin sang Mommy berbicara panjang lebar lagi.
"Sean, sebentar! Mommy belum selesai bicara! Hallo, Sean? Sean!" Nyonya Helena berteriak kesal karena anak lelakinya itu tiba-tiba memutuskan panggilan secara sepihak.
"Dasar Sean!" umpat Nyonya Helen sembari menyimpan kembali benda pipih miliknya.
Sean melemparkan ponsel tersebut ke atas jok kosong yang ada di samping kemudian kembali fokus pada kemudinya. Mobil berwarna hitam itu kembali melaju menuju kediaman milik Ken.
Selang beberapa menit kemudian.
"Sean, tumben." Ken terkekeh lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Sean.
Sean menyambut uluran tangan lelaki itu sembari menyunggingkan sebuah senyuman hangat. "Aku ingin berterima kasih padamu, Ken. Karena kamu sudah bersedia mengantarkan aku kembali ke rumah," ucap Sean.
"Ah, tidak masalah. Mari, Sean. Sebaiknya kita ngobrol di dalam," jawab Ken.
Sean pun mengikuti langkah Ken yang menuntunnya memasuki kediaman mewah itu. Ken dan Sean menghentikan langkah mereka tepat di ruang depan. Di mana terdapat sebuah sofa mewah nan empuk menunggu untuk mereka diduduki.
"Duduklah, Sean."
"Terima kasih." Sean mendaratkan bokongnya di atas sofa sembari menyandarkan punggungnya di sandaran sofa tersebut.
"Aku pikir kamu masih bergelut dengan kasur empukmu, Sean. Secara tadi malam kamu benar-benar mabuk dan hampir tidak sadarkan diri," ucap Ken sambil terkekeh.
Sean tersenyum kecut kemudian menimpali ucapan lelaki itu. Mereka tampak asik berbincang sambil sesekali bercanda dan terdengar suara tawa renyah yang keluar dari bibir Sean maupun Ken. Pembicaraan yang terasa ringan serta santai itu tiba-tiba berubah menjadi serius tatkala Ken mengalihkan topik pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Maafkan aku jika kamu tersinggung, Sean. Tapi, kalau aku boleh jujur, istrimu benar-benar sangat cantik," ucap Ken yang tiba-tiba berhasil membuat dada Sean terasa panas dingin.
Sean tersenyum tipis. "Cantik? Cantik dari mana? Mungkin kamu salah orang, Ken."
"Tidak, Sean. Kami sempat mengobrol sebentar, sebelum aku meninggalkan kediamanmu," sahut Ken dengan mantap.
"Ah, yang benar saja, Ken. Mungkin tadi malam kamu melihatnya dari balik lubang sedotan, hingga kamu tidak bisa membedakan mana yang cantik dan mana yang tidak," balas Sean tidak mau kalah.
Ken menggelengkan kepalanya. "Standar kecantikan menurut orang itu berbeda-beda, Sean. Mungkin bagimu, Sri jelek. Akan tetapi, tidak jika menurut penilaianku. Bahkan Sri itu sangat cantik dan bisa dikatakan dia adalah tipe wanita dambaanku," jelas Ken.
Entah kenapa telinga Sean terasa panas setelah mendengar penuturan Ken barusan. Bukan hanya telinganya, bahkan dadanya pun seakan terasa terbakar.
"Kau gila, Ken!" Sean berusaha menyangkal.
"Tidak, Sean. Aku serius dan aku bersedia menunggu jandanya Sri," ucap Ken sambil terkekeh pelan. Namun, lelaki itu begitu serius mengatakannya.
Bak api disiram bensin, amarah Sean pun semakin tak terkendali. Tangannya refleks mengepal. Ia bangkit dari posisi duduknya lalu menghampiri Ken dengan kasar.
"Jangan pernah mengejekku, Ken!" ucapnya sambil mencengkram kerah kemeja yang dikenakan oleh Ken.
"Wouw! Tenang, Sean!" pekik Ken. Terkejut melihat reaksi Sean yang tak terduga.
Sean menghela napas kasar. Ia tersadar dengan reaksinya yang terlalu berlebihan. Sean melepaskan cengkeramannya lalu menjauh dari lelaki itu.
"Kenapa kamu marah, Sean? Apakah ada yang salah dengan kata-kataku barusan?" Ken kebingungan.
"Tidak! Aku tidak marah. Untuk apa aku marah," jawab Sean sembari membuang muka.
Ken tersenyum tipis. Ia melangkah menghampiri Sean yang kini berdiri dengan posisi membelakanginya. Ken menyentuh pundak sahabatnya itu lalu menepuknya dengan perlahan. "Tadi kamu marah, Sean. Kenapa? Kamu cemburu?"
Ck! Sean berdecak sebal kemudian menepis kasar tangan Ken yang masih memegangi pundaknya.
"Jauhkan tanganmu! Dan satu hal lagi, aku tidak cemburu! Buat apa aku cemburu? Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun terhadap gadis kampung itu," ucap Sean dengan tegas.
"Serius? Berarti tidak masalah jika aku berusaha mendekati Sri?" Ken melirik wajah Sean, masih dengan senyuman khasnya.
"Tentu saja tidak! Ambil saja, lagian siapa yang peduli!" sahut Sean.
"Ah, sebaiknya aku pulang saja. Mood-ku menjadi buruk setelah kamu terus-terusan membahas soal gadis kampung itu!" lanjut Sean, yang kemudian bersiap untuk pergi meninggalkan kediaman mewah Ken.
__ADS_1
Ken hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkeinginan membalas ucapan sahabatnya itu.
...***...