Istri Terabai Tuan Sean

Istri Terabai Tuan Sean
Bab 19


__ADS_3

"Bagaimana kondisi kekasih saya, Dok? Apa dia baik-baik saja?" Sean yang sejak tadi sudah tidak sabar ingin mengetahui bagaimana kabar Anya, segera menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruang perawatan, di mana Anya masih terbaring lemah.


"Pasien sudah sadar dan sudah bisa ditemui. Beruntung Anda cepat membawanya ke rumah sakit dan pasien cepat mendapatkan penanganan. Jika terlambat sedikit saja, pasien bisa saja kehilangan nyawanya," jelas Dokter itu.


"Ya Tuhan, separah itu?" pekik Sean sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Memangnya penyakit apa yang diderita oleh Anya selama ini, Dok? Anya bahkan tidak pernah menceritakan tentang penyakitnya kepadaku," lanjut Sean dengan wajah cemas.


"Pasien memang sudah lama mengidap penyakit paru akut dan kebetulan nona Anya adalah pasien saya sejak beberapa tahun yang lalu," jawab Dokter itu.


"Benarkah?" Sean terdiam sejenak. Ia memalingkan wajahnya yang murung ke arah lain. "Kenapa Anya tidak pernah bercerita tentang penyakitnya ini kepadaku?" gumam Sean dalam hati.


"Ehm, saya permisi dulu, Tuan Sean." Karena merasa tak ada lagi yang harus dibicarakan, Dokter itu pun pamit dan kembali melanjutkan tugasnya.


Sepeninggal Dokter, Sean pun bergegas masuk untuk menemui Anya di ruangan itu. Dengan langkah cepat, Sean menghampiri bed pasien lalu berdiri di sampingnya.


"A-Anya, bagaimana kabarmu?" tanya Sean dengan terbata-bata.


Sean menyunggingkan sebuah senyuman walaupun saat itu Anya menatapnya dengan wajah menekuk kesal. Sean merasa sangat bersalah. Ia pikir, apa yang terjadi pada Anya adalah akibat perbuatannya. Seandainya ia tidak mengakui pernikahannya bersama Sri, mungkin Anya akan baik-baik saja hingga saat ini.


"Seharusnya kamu tidak perlu membawaku ke tempat ini, Sean. Seharusnya kamu biarkan saja aku mati karena kehabisan napas. Bukankah memang itu yang kamu inginkan?" balas Anya sambil membuang muka.


"Anya, please! Jangan berkata seperti itu. Kumohon, untuk kali ini saja, Anya, dengarkan penjelasanku," ucap Sean dengan lirih.


Lelaki itu menangkupkan kedua tangannya ke dada sambil memasang wajah memelas. Memohon kepada Anya agar memberi dirinya sedikit kesempatan untuk menjelaskan semua yang telah terjadi antara dirinya dan Sri.


"Untuk apa? Untuk menyakitiku lebih dalam lagi?" Anya masih membuang muka.

__ADS_1


"Tidak, Anya. Please ...."


Anya menelan salivanya dengan susah payah. Bibirnya terkunci rapat dan tak ingin menimpali ucapan Sean barusan.


"Kejadian itu terjadi saat Gail mengadakan acara selamatan di kediamannya. Malam itu aku mabuk, Anya, dan secara tidak sadar telah meniduri gadis itu. Dengan dibantu oleh Gail serta Lea, Sri mengancam akan melaporkan perbuatanku jika aku tidak bertanggung jawab kepadanya. So, mau tidak mau aku harus menikahinya," tutur Sean dengan lirih.


Anya benar-benar meradang setelah mendengar pengakuan Sean barusan. Ia refleks menoleh lalu mendaratkan sebuah tamparan keras di wajah tampan lelaki itu.


Plakkk!


"Dasar sialan! Jadi, kamu sudah menyentuh wanita jelek itu, Sean?" tanya Anya dengan napas tersengal-sengal.


Sean mengangguk pelan sambil menahan rasa sakit akibat tamparan keras Anya di wajahnya. Bahkan tampak jejak tangan wanita itu di pipi kanan Sean.


"Ya, Anya. Maafkan aku," sahut Sean.


Sean menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Sumpah demi Tuhan, Anya. Aku berkata jujur padamu."


"Sekarang pergilah, Sean! Dan jangan kembali sebelum aku yang memintamu untuk kembali," ucap Anya dengan tegas.


"Ta-tapi, Anya!" Sean mencoba menolak dan tidak ingin pergi dari tempat itu.


"Pergi atau aku akan berteriak! Biar para perawat mengusirmu dari sini," ucap Anya lagi dengan setengah mengancam.


"Anya, please!" Lagi-lagi Sean memelas, berharap Anya dapat mengubah keputusannya.

__ADS_1


"Pergi!!!" Anya berteriak dengan sekuat tenaga hingga beberapa orang perawat yang sedang berjaga, mendengar teriakannya. Para perawat itu pun berlarian menyusul ke ruang kamar Anya lalu mencoba menenangkan wanita cantik itu.


"Tenang, Nona Anya."


"Usir lelaki ini, Sus! Usir dia," kesal Anya.


"Baiklah, aku akan pergi." Sean pun akhirnya mengalah. Ia pergi meninggalkan Anya di ruangan itu bersama para perawat.


Setelah beberapa jam kemudian.


Sean tidak punya pilihan lain selain kembali ke kediamannya. Setibanya di sana, Sean pun bergegas masuk ke dalam rumah dan melangkah gontai menuju kamarnya. Ketika di perjalanan menuju kamar utama, Sean sempat berpapasan dengan Sri yang kebetulan ingin pergi ke luar.


"Aku ingin bicara denganmu, Sri!" tegas Sean dengan wajah memerah menatap gadis itu.


Sri menghentikan langkahnya lalu berbalik dan menatap Sean dengan malas. "Apa?"


"Apa kamu tahu? Anya masuk rumah sakit karena perbuatanmu. Sedikit saja aku terlambat mengantar Anya ke rumah sakit, maka nyawa wanita itu tidak akan tertolong. Ingat, Sri. Berdoalah agar Anya baik-baik saja karena jika terjadi sesuatu kepadanya, maka aku tidak akan segan-segan memberikan perhitungan denganmu!" ancam Sean dengan begitu serius.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" tantang Sri, tanpa merasa gentar sedikit pun.


Sean refleks menghampiri Sri lalu mencengkram wajah wanita itu dengan begitu erat. "Aku tidak sedang main-main, Sri!" tegasnya dengan penuh penekanan.


Sri yang tidak pernah menyangka bahwa Sean akan bersikap begitu kasar kepadanya, akhirnya terdiam dengan mata membulat. Sean melepaskan cengkeramannya dengan kasar lalu pergi meninggalkan ruangan itu dan melanjutkan perjalanannya menuju kamar utama.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah salah jika aku ingin mempertahankan rumah tanggaku yang aneh ini?" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2