
"Demi Tuhan, Lea. Malam itu aku mabuk berat. Jangankan ingin memperkosa wanita itu, untuk bergerak pun aku susah!" elak Sean, bersikeras tidak mengakui perbuatannya.
"Sudah cukup, Sean! Terserah jika kamu tidak ingin mengakuinya sekarang. Tapi ingat, aku tidak akan tinggal diam begitu saja. Aku akan ungkap masalah ini hingga selesai dan jika apa yang dikatakan oleh Sri benar, maka aku tidak akan segan-segan memberitahukan hal ini kepada tante Helena dan meminta dia agar menikahkanmu dengan Sri," geram Lea dengan setengah mengancam.
"Aduh, Lea. Kenapa mesti bawa-bawa mommy-ku, sih?" Sean mulai cemas.
"Harus, Sean. Biar tante Helena tahu bagaimana kelakuan anak lelakinya ini," kesal Lea.
Lea keluar dari kamar Sean sambil menggerutu. Ia kesal karena lelaki itu tetap bersikeras mengatakan bahwa tidak terjadi apa pun di malam itu.
"Terus saja kamu mengelak, Sean. Tapi aku yakin bahwa yang dikatakan oleh Sri itu benar dan aku akan membuktikannya," gumam Lea sembari memasuki kamarnya.
Tak terasa sore pun menjelang.
Gail yang baru saja tiba di kediaman mewahnya, segera disambut oleh Lea. Ia menarik tangan Gail, lalu mengajaknya ke kamar utama.
"Ada apa sih, Sayang? Kamu merindukan aku, ya? Sabar dulu ya, biar aku mandi dulu." Gail tersenyum genit menatap Lea yang kini membalas tatapannya dengan wajah yang serius.
"Maksudmu apa, Sayang?"
"Kamu mau mengajakku ehem-ehem, 'kan?" Lagi-lagi Gail tersenyum nakal sembari mencolek hidung Lea.
Lea menekuk wajahnya. "Ish, bukan itu, Sayang. Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu. Ini soal Sean!"
"Sean? Ada apa lagi dengan si playboy itu?" Gail menjatuhkan dirinya di tepian tempat tidur berukuran king size itu lalu mengajak Lea untuk ikut duduk di samping tubuhnya.
"Sayang, kamu tahu apa yang sudah terjadi pada Sean dan Sri pada malam pesta syukuran itu?" Lea memulai ceritanya dengan begitu menggebu-gebu.
"Apa?" Gail menggelengkan kepalanya.
"Sean sudah memperkosa Sri!" ucap Lea dengan mata membulat sempurna menatap Gail.
__ADS_1
"Apa?!" pekik Gail yang begitu terkejut mendengar penuturan dari Lea barusan. "Jangan bercanda kamu, Sayang?!"
"Aku serius, Sayang. Masa iya, aku menjadikan hal ini sebagai bahan bercandaan? Ini tidak lucu," sahut Lea, mencoba meyakinkan Gail.
"Ta-tapi bagaimana itu bisa terjadi?" Gail masih belum bisa mempercayai kata-kata Lea seratus persen.
"Mana aku tahu! Yang jelas sepupumu itu sudah merenggut kesucian Sri dan sayangnya ketika aku tanya langsung, Sean sama sekali tidak ingin mengakuinya!" geram Lea.
"Sebentar-sebentar! Siapa yang menceritakan hal itu sama kamu, Lea?" tanya Gail dengan wajah bingung.
"Sri sendiri yang menceritakannya kepadaku. Sri tidak mungkin berbohong, Sayang. Selama ia bekerja padaku, Sri adalah seorang yang sangat bertanggung jawab dan tidak pernah sekalipun ia berbohong padaku. Bahkan dalam hal kecil sekali apa pun," jelas Lea.
Gail menghembuskan napas berat. "Tapi, bagaimana jika kali ini dia berkata bohong? Mungkin saja 'kan dia hanya bercanda," ucap Gail.
"Bercanda?! Mana mungkin dia bercanda, Sayang! Coba lihat bagaimana kondisi Sri sekarang ini dan jika kamu sudah melihatnya, maka kamu pun akan yakin bahwa Sri tidak mungkin berkata bohong!"
"Tapi, rasanya tidak mungkin Sean melakukan hal menjijikan itu, Lea sayang. Ya, walaupun aku tahu sepupuku itu memang agak sedikit bajingan," ucap Gail.
"Bukan sedikit, tapi sangat! Sangat bajingan!" geram Lea. "Jadi, kamu tetap memilih mempercayai sepupumu itu dibandingkan Sri, iya?"
"Baiklah. Sebaiknya begini saja, jika benar Sean sudah melakukan hal tidak senonoh kepada Sri, maka hal itu bisa kita buktikan dengan melihat hasil rekaman CCTV di rumah ini," tutur Gail yang akhirnya berhasil membuat Lea tersenyum lebar.
"Ya Tuhan, bodohnya aku! Aku bahkan sampai lupa bahwa di rumah ini ada CCTV-nya. Baiklah, sebaiknya sekarang kita cek saja hasil rekaman CCTV itu, Sayang! Biar semuanya jelas," ucap Lea dengan begitu bersemangat.
Ia menarik tangan Gail dan berusaha mengajaknya ke ruang kontrol. Di mana terdapat simpanan rekaman CCTV yang ada di setiap sudut rumah megah itu.
Namun, belum sempat Lea melangkah, Gail sudah menahannya.
"Sabar, Sayang. Aku mau mandi dulu sebentar. Nanti, setelah selesai mandi, baru kita ke ruang kontrol," sahut Gail.
"Oh, baiklah. Maafkan aku." Saking bersemangatnya ingin mengungkapkan kejahatan yang dilakukan oleh Sean, Lea bahkan sampai lupa bahwa suaminya butuh melakukan ritual mandinya.
__ADS_1
Gail segera melakukan ritual mandinya di dalam kamar mandi. Sementara Lea dengan sabar menunggu di dalam kamarnya. Ia duduk di tepian ranjang sambil sesekali melirik daun pintu kamar mandi. Berharap Gail segera keluar dari ruangan itu.
Beberapa menit kemudian.
Gail keluar dari kamar mandi sambil mencoba mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan menggunakan sebuah handuk kecil. Lelaki itu terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya. Melihat Lea yang sudah tidak sabaran, Gail pun segera berpakaian dan merapikan rambutnya.
"Bagaimana, Mas? Sudah selesai?" tanya Lea sembari menghampiri Gail yang kini berdiri di depan cermin riasnya.
"Oke, baiklah. Aku sudah siap. Mari," ajak Gail sembari tersenyum tipis menatap Lea.
"Mari!"
Dengan begitu semangat, Lea berjalan menuju ruang kontrol bersama Gail di sampingnya. Setibanya di ruangan tersebut, Gail segera meminta bantuan salah satu petugas di sana untuk memeriksa seluruh rekaman CCTV pada malam pesta syukuran itu.
"Mulai dari Sri yang menghilang ketika aku memintanya menemui babysitter," ucap Lea kepada petugas itu.
"Baik, Nona."
Petugas itu pun segera memeriksa hasil rekaman CCTV yang merekam kegiatan Sri sewaktu diminta Lea menemui sang babysitter.
Di layar monitor berukuran besar itu tampak Sri yang sedang memasuki kediaman mewah Gail dan berjalan menelusuri ruangan demi ruangan. Hingga akhirnya Sri berpapasan dengan Sean yang sedang mabuk berat ditambah dengan reaksi pil setan yang tidak sengaja dikonsumsi olehnya.
"Lihat, itu Sean!" pekik Lea dengan mata membulat sempurna menatap layar monitor.
"Hsst! Sayang, lihatlah dulu." Gail mengelus lembut punggung Lea.
Untuk beberapa detik, tak terjadi apa pun di sana. Sri melewati Sean yang mematung di depan kamarnya dan tanpa curiga sedikit pun Sri malah melemparkan senyumnya kepada lelaki itu. Hingga terjadi sesuatu yang membuat mata Gail dan Lea membelalak. Di mana Sean dengan beringas menarik paksa Sri memasuki kamarnya.
Gail yang tadinya menganggap bahwa Sri hanya berbohong, akhirnya percaya dan yakin bahwa Sean sudah melakukan hal yang tidak senonoh kepada wanita muda tersebut.
"Sekarang kamu lihat, 'kan? Sekarang kamu tahu 'kan bagaimana kelakuan sepupumu itu?!" ucap Lea dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ya, Lea, maafkan aku karena sudah tidak mempercayai kata-katamu," sahut Gail.
...***...