Istri Terabai Tuan Sean

Istri Terabai Tuan Sean
Bab 33


__ADS_3

"Sebentar!" Nyonya Helena bergegas menuju pintu utama kemudian membukanya. Tampak seorang petugas apartemen sedang berdiri di depannya sambil tersenyum hangat.


"Ya, ada apa?" tanya wanita paruh baya itu.


"Ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda, Nyonya Helena dan sekarang sedang menunggu di lobi," jawab lelaki itu.


"Tamu? Siapa? Sean?" Rentetan pertanyaan yang meluncur di bibir wanita itu.


"Ah, tidak mungkin itu Sean. Dia sudah sering keluar masuk apartemen ini, tidak mungkin dia memilih menungguku di lobi," gumamnya, bermonolog.


"Namanya Anya Vanessa dan dia ingin membicarakan sesuatu yang sangat serius kepada Anda," sahut lelaki itu lagi.


"Anya Vanessa?" Nyonya Helena menautkan kedua alisnya heran. Ia merasa tidak pernah memiliki kenalan yang bernama Anya Vanessa.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan segera turun," ucap Nyonya Helena sembari mengangguk.


Petugas apartemen itu pun pergi dan meninggalkan Nyonya Helena di kamarnya. Sepeninggal petugas itu, ia pun segera bersiap. Merapikan pakaiannya lalu berjalan keluar menuju lobi.


"Anya Vanessa? Siapa, ya? Apakah aku pernah memiliki teman yang bernama Anya , tetapi aku melupakannya?" gumam Nyonya Helena sambil terus melangkah maju, memasuki lift dan menunggu alat itu membawanya ke lantai dasar, di mana tamunya sudah menunggu.


Tidak butuh waktu lama, Nyonya Helena pun tiba di tempat itu. Ia bergegas menghampiri petugas dan bertanya perihal tamunya.


"Di sana, Nyonya." Petugas itu pun segera menuntun Nyonya Helena menuju tempat, di mana tamunya sedang menunggu kedatangannya.


"Nyonya Helena," sapa Anya sembari bangkit kemudian mengulurkan tangannya ke hadapan Nyonya Helena.


Nyonya Helena menyambut tangan mulus wanita itu sambil mengerutkan alisnya heran. "Maaf, kamu siapa, ya?"

__ADS_1


"Aku Anya Vanessa. Teman Sean, putra Tante," jawab Anya sambil tersenyum lebar.


"Oh." Nyonya Helena mengangguk perlahan. "Ada yang bisa aku bantu?" lanjutnya sembari duduk di kursi yang ada di ruangan itu.


"Ehm, sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu yang penting sama Tante dan ini berhubungan dengan Sean, tapi ...." Anya menghentikan ucapannya lalu menatap sekeliling, seolah mengatakan bahwa ia tidak ingin pembicaraannya didengarkan oleh orang lain.


Nyonya Helena menyadari hal itu dan mengerti apa maksud dari wanita cantik yang kini berdiri di hadapannya itu.


"Ada apa dengan Sean? Sebaiknya kita bicara di kamar Tante saja. Mari," ajak Nyonya Helena kemudian sembari menuntun Anya menuju kamarnya.


Anya tersenyum semringah. Ia senang karena ternyata wanita paruh baya itu dapat menerima kehadirannya di villa tersebut.


Setelah menaiki lift, kini mereka pun tiba di lantai kamar milik Nyonya Helena. Wanita paruh baya itu mempersilakan Anya untuk masuk lalu duduk di sofa yang ada di ruang depan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku? Apa hubungannya dengan Sean?" tanya Nyonya Helena yang sudah penasaran, tanpa berbasa-basi lagi.


Belum selesai Anya bicara, Nyonya Helena tiba-tiba menyela ucapannya dengan wajah yang begitu serius.


"Apa! Pernikahan?!" Wanita paruh baya itu tersenyum sinis menatap Anya. "Heh, tidak mungkin! Aku tahu betul bagaimana Sean. Tidak mungkin dia merencanakan pernikahan tanpa sepengetahuanku. Aku yakin, kamu pasti sama seperti wanita-wanita lainnya, yang hanya menjadi cinta sesaatnya Sean."


Anya tersenyum kecut lalu mencoba membujuk wanita paruh baya itu. "Hmm, maafkan aku Tante. Tapi ... coba dengarkan dulu apa yang ingin aku katakan sama Tante. Baru setelah itu Tante bisa menyimpulkan semuanya," sahut Anya.


"Baiklah, sekarang ceritakan dengan cepat. Aku tidak punya banyak waktu untuk hal-hal omong kosong seperti ini," gerutu Nyonya Helena dengan wajah menekuk.


"Terserah Tante mau percaya atau tidak, tetapi aku serius, kami benar-benar ingin merencanakan pernikahan kami kala itu. Namun, semuanya gagal setelah Sean ...."


"Apa?! Jangan bikin aku penasaran!" gerutu Nyonya Helena lagi sambil menatap lekat wajah cantik Anya.

__ADS_1


"Dia sudah menikah, Tante. Sean sudah menikah dengan seorang wanita kampung. Dan bukan hanya itu, wanita itu saat ini tengah mengandung anaknya Sean. Calon cucu Tante," lanjut Anya sambil menyeringai licik.


"Cukup! Jangan mengada-ada kamu! Sean tidak mungkin sembarangan menikahi seorang wanita. Dia pasti akan memilih wanita yang selevel sama kami, bukan wanita sembarangan seperti yang kamu ucapkan! Apalagi wanita dari kampung! Apa-apaan itu," geram Nyonya Helena yang tidak terima mendengar pernyataan Anya barusan.


"Terserah jika Tante tidak percaya dengan ucapanku. Tetapi Tante bisa membuktikannya dengan mengunjungi kediaman Sean yang baru," jelas Anya, masih tersenyum sinis menatap Nyonya Helena.


"Akh, cukup!" Nyonya Helena yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya, segera bangkit dari posisi duduknya. Ia berdiri di hadapan Anya sambil bertolak pinggang.


"Sekarang keluar dari sini dan jangan pernah tampakkan wajahmu di sini lagi!" ucapnya dengan tegas, mengusir Anya dari kamarnya.


"Oh, baiklah, Nyonya Helena. Aku akan pergi dari sini, tapi ... jika Tante butuh bantuanku, aku siap membantu Tante kapan saja untuk menyingkirkan wanita kampung itu," jawabnya dengan seringaian licik.


Anya meletakkan sebuah kartu nama miliknya ke atas meja Nyonya Helena kemudian bergegas pergi meninggalkan wanita paruh baya itu.


Brakkk!


Nyonya Helena membanting pintu dengan keras setelah Anya keluar dari kamarnya. Ia yang kesal, terus saja menggerutu tidak karuan.


"Dasar wanita aneh! Bisa-bisanya dia bilang begitu tentang Sean," ucapnya dengan kesal.


Nyonya Helena melirik kartu nama milik Anya lalu meraihnya. Ia berniat membuang kartu nama tersebut ke dalam tempat sampah, tetapi sejurus kemudian ia pun mengurungkan niatnya dan menyimpan kartu nama tersebut ke dalam sebuah nakas.


Sementara itu.


Dengan tergesa-gesa Anya pergi meninggalkan apartemen milik Nyonya Helena. Ia takut kena amukan wanita paruh baya itu lagi untuk yang ke-dua kalinya.


"Hhh, amit-amit jabang bayi! Punya mertua kayak dia, seminggu langsung kena stroke aku," gerutu Anya sambil bergidik ngeri.

__ADS_1


...***...


__ADS_2