
Sean mengikuti saran dari Tatiana, mengajak Sri ke salon langganan wanita itu untuk me-make over Sri agar terlihat lebih cantik dan lebih segar dari sebelumnya. Sudah berjam-jam Sean berada di tempat itu dan sekarang saatnya untuk melihat hasil make over Sri.
"Bagaimana, apakah Anda sudah siap melihat hasil make-overnya?" tanya pemilik salon besar itu.
Sean tersenyum. "Tentu saja. Aku sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya," jawab Sean.
"Baiklah. Kalau begitu, ikuti saya," ucapnya sembari berjalan melenggak-lenggok, mendahului Sean.
Laki-laki bertulang lunak itu menuntunnya memasuki sebuah ruangan. Di mana Sri sudah duduk di sana menunggu kedatangan Sean. Setibanya di sana, Sean semakin dibuat penasaran dengan sebuah tirai yang menjadi penghalang untuknya dan Sri.
"Siap?"
Sean mengangguk dan perlahan tirai pun mulai terbuka, sedikit demi sedikit hingga tampaklah Sri dengan penampilan barunya, berdiri di hadapan Sean.
"Wow!" Sean memekik kagum sambil geleng-geleng kepala. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya.
"Bagaimana, Tuan Sean? Cantik?" tanya lelaki bertulang lunak tersebut sambil tersenyum bangga karena sudah berhasil mengubah Sri yang sederhana dan apa adanya, sekarang tampil begitu cantik dan juga elegan.
"Perfect!"
Sean masih geleng-geleng kepala, takjub melihat kecantikan Sri yang benar-benar di luar ekspektasinya, yang menurutnya akan terlihat biasa-biasa saja. Tetapi ternyata hasilnya sungguh benar-benar luas biasa.
"Nah, benarkan! Saya bilang juga apa, Anda pasti akan menyukainya," ucap lelaki bertulang lunak itu sambil tersenyum puas.
"Bukan hanya suka, tapi aku benar-benar puas dengan hasilnya! Terima kasih," ucap Sean sembari menepuk pelan pundak lelaki bertulang lunak tersebut.
Dengan dress selutut berwarna cream, rambut hitam panjang yang kini tergerai dengan indah, sentuhan make up natural, membuat Sri semakin cantik membahana. Sri menghampiri Sean yang masih terpaku menatapnya. Kemudian berdiri di samping lelaki itu.
"Jangan lihat aku seperti itu, Mas Sean. Ini bukan aku yang sebenarnya. Ini hanya karena sentuhan make up saja. Aku yang asli, adalah aku yang selalu kamu lihat selama ini," ucap Sri sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
Sean membalas senyuman Sri. "Tidak masalah. Aku tidak peduli baik karena make up atau pun karena pakaian yang kamu kenakan saat ini. Yang jelas saat ini kamu sangat cantik. Sudah, itu saja," jawabnya.
Sri hanya bisa tersenyum tanpa berkeinginan menimpali ucapan Sean barusan. Sri kembali menatap bayangannya di cermin dan terdiam di sana untuk beberapa saat.
"Sebenarnya, semua wanita itu cantik di mata lelaki yang tepat. Tidak peduli kulitnya hitam, putih, sawo matang maupun kuning langsat," gumam Sri dalam hati.
Beberapa menit kemudian.
Setelah selesai berkunjung di salon tersebut, kini Sean kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju butik milik Lea. Di mana Lea tengah disibukkan dengan pekerjaannya.
Setibanya di butik.
Lea menghentikan pekerjaannya ketika melihat sebuah mobil mewah yang tak asing, berhenti dan masuk ke halaman butik miliknya. Ia berjalan menghampiri pintu butik lalu berdiri di sana sambil menunggu seseorang yang berada di dalam mobil tersebut keluar.
"Sean?"
Lea mengernyitkan dahinya ketika melihat Sean keluar dari mobil mewah itu lalu membukakan pintu untuk seorang wanita cantik. Raut wajah Lea mendadak berubah. Ia benar-benar kesal ketika melihat Sean membawa wanita lain ke hadapannya.
"Bagus ya, Sean! Sekarang kamu sudah berani membawa wanita ke sini! Sebenarnya apa maumu? Mau kasih tau aku, kalau kamu itu hebat, iya?!" gerutu Lea sambil menatap Sean.
Sean tidak ingin menimpali. Ia terus melakukan aktivitasnya tanpa peduli dengan ocehan istri dari sepupunya itu. Setelah berhasil membuka pintu, ia pun mulai menuntun wanita cantik tersebut keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri Lea.
Lea mulai memperhatikan wanita itu dengan seksama dan setelah sadar siapa wanita itu, ia pun berteriak histeris sembari berjalan menghampiri mereka.
"Ya ampun, Sri! Ohoho," ucap Lea sambil tersenyum puas.
"Bagaimana penampilan terbaruku, Mbak? Apakah aku berhasil membuat tak mengenaliku?" celetuk Sri sembari memutar-mutar tubuh mungilnya di hadapan Lea.
"Ya ampun, Sri!" Tak hentinya Lea berdecak kagum melihat penampilan Sri. Ya, sebelumnya Sri memang pernah tampil cantik di hari pernikahannya bersama Sean. Namun, kali ini penampilan Sri benar-benar membuat Lea takjub dan tak percaya dibuatnya.
__ADS_1
"Dia cantik ya, Lea?" Sean berdiri di samping Lea lalu ikut memperhatikan penampilan istrinya itu.
Plak! Satu buah tamparan cukup keras mendarat di lengan kekar Sean.
"Dasar bodoh! Kenapa kamu baru sadar sekarang, ha?" ucap Lea sambil tersenyum lebar.
Sean hanya bisa tersenyum kecut sambil mengelus lengannya yang terasa sakit karena pukulan Lea.
"Apa kamu tahu, Sean? Berlian di lumpur juga butuh sedikit polesan. Setelah dipoles, maka kamu akan tahu betapa berharganya dia," ucap Lea dengan setengah berbisik di samping Sean.
"Kalian bicara apa, sih?" ucap Sri yang sama sekali tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh Sean dan Lea.
"Bukan apa-apa, Sri. Yang pasti kami berdua takjub dengan penampilanmu kali ini," sahut Lea yang kemudian menuntun Sri memasuki butik miliknya.
Lea mendudukkan Sri ke sofa yang ada di salah satu pojok ruangan kemudian disusul olehnya dan juga Sean.
"Ada apa? Sepertinya aku punya firasat buruk tentang kedatangan kalian kali ini," ucap Lea kepada pasangan itu.
Sean terkekeh karena ternyata Lea sudah punya firasat soal kedatangan mereka. "Begini, Lea. Mulai hari ini, Sri akan berhenti bekerja di sini. Aku tidak ingin dia berisitirahat dan mulai fokus pada kehamilannya," ucap Sean.
Lea tersenyum lebar. "Wah, kali ini aku setuju padamu, Sean. Ya, walaupun aku harus legowo karena kehilangan karyawan terbaikku," sahut Lea yang kemudian memasang wajah masam karena harus berpisah dengan Sri.
"Terima kasih atas pengertiannya, Lea."
"Itu artinya aku harus cari karyawan baru dan hal itu sangatlah sulit bagiku. Secara .... Ah, sudahlah," gumam Lea sambil geleng-geleng kepala.
"Bagaimana jika ku ajukan salah satu sepupuku di kampung, Mbak. Kebetulan dia juga butuh pekerjaan," ucap Sri memberi saran. "Tapi ya itu, Mbak harus mulai dari nol lagi," lanjutnya sambil tersenyum kecil.
"Ya, masalahnya memang itu, Sri. Hmmm ...." Lagi-lagi Lea menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah puas berbincang dan bersenda gurau, Sean dan Sri pun pamit pulang.
...***...