
"Aku tidak mau," tolak Sri. Masih dengan wajah dingin menatap Anya.
"Heh, siapa kamu berani menolak perintahku? Aku adalah calon istri Sean dan itu artinya aku adalah majikanmu juga. Sekarang aku perintahkan padamu untuk meminum jus ini! Sekarang minum!" ucap Anya lagi dengan setengah berteriak.
"Sudahlah, Anya. Cukup," sela Sean sembari mencoba menenangkan kekasihnya itu.
"Biarkan saja! Pelayan sombong macam dia memang pantas dikasih sedikit pelajaran biar tahu sopan-santun," sahut Anya yang masih kesal.
Sri tersenyum miring. Ia bahkan tidak menghiraukan perintah dari wanita itu. Melihat reaksi Sri, Anya pun semakin meradang di buatnya.
"Ish, kamu ini, ya!"
Anya meraih gelas jus itu dan berniat menyiramkan isinya ke wajah Sri yang masih duduk di kursi. Namun, bukan Sri namanya jika ia tidak melawan. Ia menepis gelas itu dan akhirnya jus tersebut justru membasahi dress mahal Anya.
Anya menjerit-jerit. Ia tidak terima jika dress mahal kesayangannya kini kotor akibat tumpahan jus apel tersebut.
"Lihat dia, Sayang! Dia kurang ajar padaku," rengek Anya kepada Sean.
Sean hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tidak mungkin menyalahkan Sri sebab wanita itu sama sekali tidak bersalah.
"Sudah cukup, Nona Anya! Anda lah yang harusnya diajarkan bersopan santun jika bertamu ke rumah orang lain. Aku sudah cukup sabar menghadapi sikapmu. Tapi kali ini kamu benar-benar sudah keterlaluan!" geram Sri sambil menatap lekat wanita cantik itu.
__ADS_1
Anya membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tidak percaya bahwa Sri yang dianggapnya sebagai pelayan itu berani sekali memarahinya di hadapan Sean.
"Sekarang lihat ini!" Sri memperlihatkan cincin kawin yang melingkar di jari manisnya ke hadapan Anya dan hal itu berhasil membuat Anya serta Sean kelabakan.
"Aku bukanlah seorang pelayan. Aku adalah nyonya di rumah ini. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan langsung kepada kekasihmu ini!" lanjut Sri sembari menunjuk Sean yang masih syok mendengar pengakuan Sri di hadapan Anya.
"A-apa maksud wanita itu?" tanya Anya dengan terbata-bata. Ia melirik Sean yang masih terdiam di sampingnya dan menunggu penjelasan dari lelaki itu.
"Sean, wanita itu bicara apa? Aku tidak mengerti apa yang dia maksud!" Anya mengulang pertanyaan yang sama karena Sean masih belum bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
"Ehm, Anya itu ...." Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Sri sudah melenggang pergi dan kembali ke kamarnya, meninggalkan pasangan itu.
"Itu apa, Sean! Tolong, jelaskan padaku!" teriak Anya yang sudah tidak sabaran.
"Apa?!" Anya membelalakan kedua netranya. Bukan hanya matanya, mulutnya pun turut terbuka lebar setelah mendengar pengakuan Sean barusan.
"A-aku bisa jelaskan, Anya!" Sean mencoba menenangkan Anya yang kini tampak begitu syok.
Tubuh Anya bergetar dengan hebat. Wanita cantik itu memegangi dadanya dengan napas yang terengah-engah. Tampak ia tengah kesulitan untuk bernapas.
Menyaksikan hal itu, Sean pun panik. Ia segera mendudukkan Anya di kursi lalu mencoba menenangkannya kembali. Namun, baru beberapa detik setelahnya, tiba-tiba tubuh Anya ambruk ke lantai dan wanita itu tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Anya! Anya, kamu kenapa?" pekik Sean yang kemudian dengan cepat menggotong tubuh Anya yang sudah lemas tak berdaya menuju halaman rumahnya.
"Pak, cepat buka pintu mobilnya! Anya jatuh pingsan," titah Sean kepada sopir pribadi Anya yang sejak tadi menunggu di luar.
Pria paruh baya itu pun bergegas membuka pintu mobil kemudian segera membantu Sean memasukkan tubuh lunglai Anya ke dalam mobil.
"Kita kw rumah sakit," ucap Sean lagi.
"Baik, Tuan."
Pria paruh baya itu pun bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Di perjalanan, Sean terus mencoba membangunkan Anya. Namun, tak ada tanggapan sedikit pun dari wanita cantik itu. Matanya tetap terpejam dengan wajah yang tampak memucat dari sebelumnya.
"Anya, kumohon! Bangunlah," ucap Sean dengan cemas menatap wajah lemah Anya.
Selang beberapa menit kemudian.
Mobil yang ditumpangi oleh Sean pun tiba di depan rumah sakit. Beberapa orang tim medis segera menyambut kedatangan Anya dan langsung memberikan pertolongan kepada wanita itu.
Sementara itu di luar ruangan.
"Ini gara-gara gadis kampung itu! Seandainya saja ia tidak mengatakan yang sebenarnya, mungkin sampai saat ini Anya masih baik-baik saja," gumam Sean dengan wajah kesal.
__ADS_1
***