Istri Terabai Tuan Sean

Istri Terabai Tuan Sean
Bab 17


__ADS_3

Sementara itu di dalam kamar Sri.


Sri duduk terdiam di tepian tempat tidurnya. Ia tidak mengerti kenapa ada rasa sakit di hatinya tatkala melihat Sean berpelukan dengan wanita lain. Rasa sakitnya sama seperti ketika dia dikhianati oleh kekasihnya sewaktu di kampung.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa hatiku sakit sekali ketika melihat Tuan Sean memeluk dan menciumi wanita itu? Padahal aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun terhadap lelaki itu," gumam Sri dalam hati.


Di ruang dapur.


Sean mencari-cari keberadaan pelayannya. Namun, ia tidak berhasil menemukan keberadaan wanita paruh baya itu.


"Bi! Bibi ...!" panggil Sean. Namun, tak ada jawaban darinya.


"Ke mana Bi Narsih?" gumam Sean sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mendengar suara panggilan dari Sean, Sri pun bergegas keluar dari dalam kamarnya untuk memberitahu kepada lelaki itu bahwa Bi Narsih sedang pergi ke pasar untuk membeli stok perlengkapan dapur yang sudah menipis.


"Bi Narsih masih di pasar. Memangnya ada apa?" tanya Sri dengan wajah datar.


Sean tampak serba salah. Ia ingin sekali membuat jus apel untuk Anya, tetapi ia tidak bisa. Ia bahkan tidak tahu apa-apa saja yang harus ia masukkan ke dalam jus tersebut.


"Hmm, Anya ingin minta buatkan jus apel. Tapi, karena bi Narsih belum juga pulang, maka aku akan membuatnya sendiri," jawab Sean dengan ragu-ragu.


Sri tersenyum sinis mendengar ucapan Sean barusan. Jangankan membuat jus apel, membuat secangkir kopi saja, Sean tidak bisa. Sri memperhatikan Sean yang kini tengah sibuk di depan lemari pendingin. Lelaki itu tampak kebingungan memilih buah apel yang akan ia gunakan untuk membuat jus apel.


Sean mengambil beberapa biji apel lalu membawanya ke meja makan. Ia juga meraih mesin juicer dan bersiap membuat jus apel tersebut. Baru saja Sean ingin memasukkan buah apel ke dalam mesin tersebut, tiba-tiba Sri kembali membuka suaranya.


"Buah apelnya tidak dicuci dulu, Tuan Sean? Apa kamu tidak takut ada bakteri yang masih menempel di sana kemudian terhisap oleh kekasihmu?"


Sean terdiam sejenak. Ia segera menghentikan aksinya. "Ah, iya! Dicuci dulu! Hampir saja aku lupa."

__ADS_1


Sean kembali membawa buah apel tersebut ke wastafel lalu membersihkannya. Tanpa mereka sadari, Anya menyusul ke ruangan itu dan ia benar-benar geram ketika melihat Sri hanya berdiri menatap Sean yang sedang sibuk membersihkan buah apel tersebut.


"Hei, kamu ini gimana, sih? Kamu itu bisa kerja atau tidak? Kenapa kamu malah berdiri di sini, sementara majikanmu sibuk membersihkan buah apel itu!" ketus Anya sambil bertolak pinggang menatap Sri.


"Maaf, saya bukan pelayan di rumah ini, Nona!" tegas Sri yang tidak mau kalah. Walaupun dari segi ukuran tubuh, Anya jauh lebih besar dari pada dirinya yang memiliki tubuh mungil. Namun, hal itu tidak membuat Sri gentar melawan Anya.


"Kalau bukan pelayan, lalu kamu siapa?!" tanya Anya dengan heran.


Sean melepaskan buah apel itu dari tangannya. Ia bergegas menghampiri Anya lalu mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka saat itu.


"Kenapa kamu di sini, Anya? Bukankah sudah kubilang, agar menungguku di ruang utama," ucap Sean sembari menarik pelan tangan Anya dan ingin menuntunnya keluar dari ruangan itu.


"Habisnya kamu lama sekali, Sean. Aku sudah haus dan terpaksa aku menyusulmu ke ruangan ini. Tapi pelayanmu itu kenapa? Kenapa kamu membiarkan dia bersikap seperti itu?" celetuk Anya lagi dengan wajah heran.


"Ehm, sudahlah. Sebaiknya kita keluar saja," sahut Sean. Sementara Sri memutarkan bola matanya. Ia benar-benar tidak suka melihat sikap wanita itu.


Sean dan Anya kembali ke ruang utama. Di mana ia kembali mendudukkan Anya di sofa lalu berkata kepada kekasihnya itu.


"Tapi, Sayang!" Anya mencoba protes.


Sean menatap Anya dengan wajah tegas dan akhirnya wanita itu pun bersedia mengikuti keinginan Sean. Anya menghembuskan napas berat sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Sementara Sean sudah kembali ke dapur, menemui Sri yang masih terdiam di ruangan itu.


"Maafkan kekasihku. Dia memang terlihat kasar, tetapi sebenarnya dia sangat baik," ucap Sean kepada Sri yang tengah duduk terdiam di meja makan seorang diri.


Ucapan Sean barusan berhasil membuat Sri tersentak kaget. Ia segera menoleh lalu menatap lelaki itu dengan tatapan kesal.


"Tidak bisakah Anda membawa wanita itu pergi dari sini? Biar bagaimanapun juga, aku tetap istri sah Anda, Tuan Sean," tegas Sri.


"Maaf?" Sean tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya. "Apa aku tidak salah dengar? Kamu memintaku mengusir Anya dari sini?"

__ADS_1


"Aku tidak memintamu mengusirnya, Tuan Sean. Aku juga masih ingat istri seperti apa aku ini di matamu. Namun, setidaknya hormatilah perasaanku! Terserah, apa pun yang ingin Anda dan wanita itu lakukan di luar sana. Aku tidak peduli, tetapi jangan lakukan di rumah ini," kesal Sri.


Sean mendengus kesal. Ia berlalu dan tidak ingin menimpali ucapan Sri lagi. Lelaki itu menghampiri meja dan kembali melanjutkan aksinya, membuat jus apel untuk kekasih tercinta. Sementara Sean tengah sibuk membuat jus untuk Anya, Sri memilih membuat minuman untuk dirinya sendiri sembari menikmati makanan kecil di atas meja makan.


Beberapa saat kemudian. Sean tersenyum lebar. Ia merasa sangat puas karena berhasil membuat jus apel untuk Anya. Dengan langkah cepat lelaki itu kembali menuju ruang utama, di mana Anya tengah menunggunya.


"Sayang, ini jus apel kesukaanmu," ucap Sean sembari menyerahkan gelas jus tersebut kepada Anya.


"Wah, terima kasih, Sayang! Bagaimana, apakah kamu sudah memarahi pelayanmu yang tidak tahu diri itu?" ucap Anya sembari meraih gelas jus tersebut. Ia tersenyum lebar dan wanita itu tampak begitu senang.


Perlahan Anya meminum jus tersebut. Memasukkan sari buah apel itu ke dalam kerongkongannya. Pada awalnya wanita itu tampak biasa-biasa saja, hingga beberapa detik kemudian raut wajahnya pun berubah.


"Ish, hambar sekali! Benar-benar, ya!" ucap Anya dengan kesal.


Anya bergegas bangkit dan tanpa menunggu persetujuan dari Sean, wanita itu melangkah menuju dapur. Berniat menemui Sri yang masih berada di ruangan itu. Menyadari hal itu, Sean pun segera menyusulnya. Ia takut Sri akan membongkar status hubungan mereka kepada Anya.


"Anya, tunggu!" panggil Sean. Namun, Anya tidak peduli. Ia terus melangkah menuju dapur sambil membawa gelas berisi jus apel tersebut di tangannya.


"Dasar aneh, cari pelayan yang tidak berguna seperti dia. Memang benar-benar harus di kasih pelajaran ini anak," gerutu Anya.


Anya yang baru tiba di ruangan itu, segera menghampiri Sri. Ia menghempaskan gelas berisi jus tersebut ke atas meja dengan kasar hingga isinya tertumpah-tumpah.


"Heh! Kamu ini bisanya apa, sih?" ucap Anya dengan kasar.


Hal itu berhasil membuat Sri terkejut. Ia menghentikan aktivitasnya lalu menatap Anya yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Apa maksudmu?"


"Coba minum jus ini! Katakan padaku apa rasanya. Sebenarnya kamu itu bisa bekerja, atau tidak sih?" celetuk Anya lagi dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


...***...


__ADS_2